
"Ikut aku!!" seru Dasha sambil menarik tangan Tiara sesampainya Tiara di rumah.
"Aaww lepaskan tanganku, Cha! Sakit!!" pekik Tiara, tapi Dasha tetap menariknya, lalu mendorong Tiara masuk ke kamarnya.
"Jangan mentang-mentang ada keluarga Kak Zou yang mendukungmu hingga kamu jadi besar kepala seperti itu ya!!" geram Dasha.
"Cha, ini ada apa sih?" tanya Tiara bingung sambil mengelus tangannya tempat tangan Dasha mencengkramnya tadi.
Dan tanpa bisa dihindari lagi, tamparan Dasha mendarat di pipi Tiara dengan keras, "Arrgghh!!" pekik Tiara kesakitan sambil memegang pipinya.
"Apa kamu bilang ke Catherine? Aku memang lebih cantik dari kamu tapi Kak Zou lebih memilih kamu? apa maksudmu itu, Hah?!! Sudah besar kepala kamu sekarang ya!!"
Tiara tidak menjawab, itu memang yang ia katakan pada Catherine, dan Tiara tidak menyangka Catherine akan langsung menyampaikannya pada Dasha.
"Kenapa diam saja?!"
"Iya, aku memang mengatakan itu..." aku Tiara pelan, dan sekali lagi tangan Dasha mendarat di pipinya.
"Bangga kamu yaa sudah jadi pacar Kak Zou?! Gara-gara kamu kafe Catherine di tutup permanen!! Apa itu juga atas permintaanmu pada Kak Zou?" tanya Dasha.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya tante Risya yang turut masuk ke kamar Dasha.
"Tiara, Ma... Dia berani menyombongkan diri di depan Catherine dengan menghinaku, karena Kak Zou lebih memilih dia dibanding aku!" jawab Dasha dengan suara manjanya, membuat Tiara mendapatkan tatapan tajam tante Risya.
"Benar itu, Ara?" tanyanya.
"Iya, Tan..." jawab Tiara sambil menundukkan kepalanya.
"Apa karena kamu sudah menjadi pacar Kenzou hingga kamu bisa menginjak-nginjak harga diri sepupumu?"
"Tidak, Tan... Aku tidak bermaksud begitu... Aku hanya kesal pada Catherine, itu saja."
"Ma! Tiara bahkan meminta Kak Zou untuk menutup Kafe Catherine selamanya... Jahat sekali dia, Ma! Catherine sampai stress dan di rawat di rumah sakit..." tukas Dasha.
Tiara... Malam ini kamu tidur di gudang!!" geram tante Risya.
"Tapi, Tan... Aku tidak menyuruh Kak Zou menutup Kafe Catherine... Aku sungguh-sungguh tidak melakukan itu, Tan..." sanggah Tiara sambil meraih tangan tante Risya, tapi tante Risya menepisnya dengan kasar.
"Ke gudang sekarang atau Tante sendiri yang akan menyeretmu!!"
"Kamu bahkan bilang ke Keizaa kalau Kafe Catherine terlihat biasa saja, ya kan?!" cecar Dasha.
"Astaga... Keizaa yang mengatakan itu, bukan aku Cha..." sanggah Tiara lagi, tapi Dasha seperti tidak mengindahkan penjelasannya, atau memang sepupunya itu sengaja melakukan itu agar tante Risya menghukumnya?
"Sudah jangan banyak alasan... Segera ke gudang sekarang juga!" seru tante Risya dengan tidak sabar.
Dengan langkah pelan, Tiara melangkah ke arah gudang, tempat ia biasa menerima hukuman. Sejak kecil ia sudah terbiasa berada di gudang itu, karena tante Risya sering mengurungnya di sana tiap kali ia membuat Dasha kesal.
Tiara membuka pintu gudang itu, baru saja Tiara melangkah masuk ketika seseorang mendorongnya, dan mengunci pintunya dari luar.
Tiara hanya bisa menghela nafas panjang sambil melihat ke arah pintu yang sudah terkunci itu, bisa dipastikan besoj Tiara baru bisa melihat matahari lagi, atau lusa, tergantung suasana hati tante Risya.
Sambil mendesah pelan, Tiara melihat ke sekeliling gudang itu, Mba Tina selalu membersihkan dan merapikan gudang ini hingga layak di tempati, karena Mba Tina tahu, Tiara sering dihukum di gudang ini, bahkan bisa berhari-hari.
Tiara duduk sambil bersandar pada dinding, lalu menekuk ke dua kakinya hingga ia dapat memeluk lututnya,
Yaa Tuhan... Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Kapan Tante Risya membuka hatinya untukku, dan menyayangiku seperti ia menyayangi Dasha?
Mama... Aku selalu melihat sosok Mama di dalam diri Tante Dasha... Aku ingin memeluk Mama melalui Tante Dasha... Aku ingin melepas kerinduanku pada Mama dengan menatap wajah Tante Dasha... Tapi jangankan melakukan itu, mendekatpun jarang... Tante Dasha selalu menghindari bertatap muka langsung padaku... Aku seperti tidak terlihat olehnya.
Tiara menghapus air matanya, lalu merebahkan dirinya di lantai gudang, lalu berbaring miring dengan tangan kanannya yang di jadikan bantalan kepalanya.
Apa aku bicara terus terang saja yaa pada Dasha, kalau aku hanya pacar pura-puranya Kak Zou? Dan Kak Zou melakukan itu hanya karena ingin membuat Dasha cemburu...
Aku harus melakukan itu supaya Dasha tidak cemburu lagi padaku, supaya kedua orang yang saling mencintai itu bisa bersatu, supaya tidak ada lagi sandiwara antara aku dan Kak Zou.
Dan aku bisa segera memutuskan hubunganku dengan Kak Zou... Karena aku tidak bisa terus bersamanya, karena semakin lama aku dekat dengannya, aku akan semakin mencintainya... Dan itu sangat menyedihkan, karena aku hanya bisa mencintainya dalam diam, karena Kak Zou telah memilih cinta yang lain...
Ya Tuhan... Bahkan dalam masalah percintaan saja Dasha masih lebih beruntung dibanding aku...
Merasa lelah yang teramat sangat, Tiara akhirnya tertidur, dan entah berapa lama ia tertidur ketika terbangun karena suara ketukan pelan di pintu gudang.
"Siapa?" tanya Tiara sambil menguap lebar, dan merenggangkan badannya yang terasa pegal akibat tidur di lantai yang keras.
"Saya, Non..." jawab mba Tina, "Saya masuk yaa..." lanjutnya.
Tiara langsung duduk dan bersandar pada dinding gudang, "Iya, Mba..."
Tidak lama kemudian anak kunci kembali berputar,dan mba Tina masuk dengan nampan makanan di tangannya,
"Makan dulu, Non..." ujar mba Tina, lalu menatap nanar ke Tiara, "Mereka masih berani mengurungmu di sini Non... Padahal sudah ada keluarga paling berkuasa yang siap melindungimu..." desahnya lirih lalu duduk di samping Tiara dan memeluknya erat.
"Mba Tina kan tahu sendiri kalau aku dan Kak Zou hanya berpura-pura pacaran... Dasha lah yang sebenarnya di cintai Kak Zou, bukan aku..."
"Tapi Non Tiara benar-benar mencintai pria itu... Ya kan?"
"Cinta bertepuk sebelah tangan, Mba... Dan aku berniat melupakannya." tegas Tiara.
Mba Tina menjauhkan sedikit badannya untuk melihat wajah Tiara, kedua pipinya masih terlihat memar, dan ada darah yang sudah mengering di sudut bibirnya.
"Sampai kapan kamu akan bertahan seperti ini, Non? Lebih baik ikut Mba saja yuk... Mba Tina akan dengan senang hati merawat Non Tiara di kampung..." ujar mba Tina sambil mengelus lembut kedua pipi Tiara.
Ia sering menawarkan diri untuk membawa Tiara ke kampungnya, supaya Tiara tidak terus tersiksa di sini.
"Aku tidak bisa, Mba..." desah Tiara lirih.
"Kenapa? Karena rumah ini? karena menunggu harta warisan dari orang tua Nona Tiara? Untuk apa itu semua kalau Nona tidak bisa hidup dengan tenang? Kalau Nona selalu saja menderita akibat perbuatan mereka?" tanya Mba Tina.
"Karena hanya itulah yang tersisa dari orang tuaku, Mba..." jawab Tiara.