
"Aku percaya, Kak... Jadi apa kita sudah menjadi sepasang kekasih sekarang? Tidak sedang bersandiwara?" tanya Tiara lagi sambil tersenyum lebar.
"Ya, kamu kekasihku sekarang...." jawab Kenzou.
Matanya bergerak turun dari mata Tiara ke bibir ranumnya, dan berhenti cukup lama di sana sebelum menunduk dan mel*matnya.
Kenzou melepas pang*tan bibirnya hanya untuk mengatakan, "Aku mencintaimu, Ara... Aku menyayangimu..." akunya sebelum kembali mel*mat bibir Tiara lagi.
Ya Tuhan... Hentikan waktu please... Aku ingin berlama-lama seperti ini.
Kenzou semakin merapatkan dirinya ke Tiara, siku kanannya menekan kasur disisi kiri pinggang Tiara, untuk menahan berat badannya.
Sementara jemari tangan kirinya membelai lembut pipi Tiara.
"Pengacaraku dan juga pengacaramu, mereka bekerjasama untuk mengembalikan lagi semua aset yang seharusnya menjadi milikmu..." ujarnya sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih, Kak... Aku... Aku tidak tahu harus dengan apa aku membalas kebaikan Kakak... Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikan Kakak?" tanya Tiara.
"Menjadi istriku...." jawab Kenzou santai, tapi matanya memancarkan keseriusan dan juga kelembutan.
"Kakak dikelilingi banyak wanita, dan banyak juga wanita yang ingin menjadi kekasih Kakak... Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan para model dan artis papan atas dari mancanegara... Kenapa Kakak memilihku?"
"Kamu mau tahu alasannya?" tanya Kenzou.
Tiara mengangguk, mata mereka saling terkunci, dan Tiara melihat senyum yang tadi tersungging di bibir Kenzou, kini perlahan memudar.
Keseriusan nampak di wajah Kenzou, saat pria tampan nan menawan itu berkata,
"Karena dua belas tahun yang lalu... Kamu telah menawan hatiku. Kamu menawan seluruh hatiku hingga tidak ada celah lagi untuk wanita lain..."
Tiara mengerutkan keningnya dengan bingung, apa Kenzou salah mengenali seseorang?
"Apa maksud Kakak? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya.
Raut wajah Kenzou terlihat semakin serius, membuat jantung Tiara berdebar dengan sangat cepat, saat menunggu jawaban dari pria itu.
"Ya, kita bertemu pertama kali dua belas tahun yang lalu... Saat itu kamu berusia lima tahun, siswa taman kanak-kanak yang terlihat berbeda dengan anak-anak lainnya... Saat anak lainnya sedang bermanja-manja dengan Mamanya, kamu hanya duduk termenung saja, memandang mereka dengan tatapan nanar, sampai kamu melihatku...."
"Dan aku langsung menghampirimu... Kamu kah anak lelaki yang sombong dan ketus itu, Kak?" tanya Tiara menyambung penjelasan Kenzou, bersamaan dengan air matanya yang mengalir keluar.
Jemari Kenzou segera menghapus air mata di pipi gadis kecilnya itu.
"Ya, sejak dulu aku memang tidak menyukai orang asing yang mendekatiku, bahkan anak kecil sekalipun... Aku rasa itu karena akibat penculikan yang pernah aku alami, asal kamu tahu saat kecil aku, Zie dan Al pernah diculik... Zaa dan Ana pun nyaris diculik juga, tapi untungnya mereka dapat menyelamatkan diri mereka. Itulah penjelasanku atas sikap burukku padamu saat itu..."
"Please... Izinkan aku melanjutkan penjelasanku terlebih dahulu..." ujarnya dan Tiarapun mengangguk.
Tiara menahan dirinya untuk tidak memekik saat Kenzou merebahkan diri di sampingnya. Seketika jantungnya kembali berdetak cepat, ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan seorang pria.
Tidak tahu kalau wanita di sebelahnya itu sedang mati-matian menenangkan denyut nadinya, Kenzou menyatukan kedua tangannya di belakang kepalanya, menjadi bantalan untuk kepalanya, sementara matanya menatap langit-langit kamar itu.
Aroma Kenzou yang memabukkan langsung menyeruak masuk ke dalam lubang hidung Tiara, membuat detak jantung wanita itu semakin meningkat dan gelisah.
"Saat aku mengusirmu untuk mengganggu mamamu saja jangan menggangguku, dan kamu bilang Mamamu sudah meninghal... Saat itulah aku ditikam dengan perasaan bersalah..."
"Keesokan harinya aku melihatmu lagi, di tempat yang sama dengan kondisi yang sama... Menatap kosong ke anak-anak lain yang sedang bermain, atau bergelayutan manja pada orang tua mereka. Saat itu kamu seperti raga tanpa jiwa..."
Sambil terus cerita, Kenzou merasa seakan-akan mereka kembali ke masa itu, mereka kembali ke masa kanak-kanak mereka.
Pun demikian dengan Tiara, ia seperti berada di sana saat ini, bersama dengan Kenzou kecil yang angkuh dan tak tersentuh.
"Kamu tahu apa yang membuatku semakin menyesali sikap kasarku itu padamu?" tanya Kenzou.
"Apa?" jawab Tiara lirih, ia mencoba menahan air matanya yang mulai tergenanh lagi di kedua matanya.
"Saat kamu melihatku, kamu tidak lagi tersenyum padaku... Kamu melihatku seperti halnya kamu melihat anak-anak lainnya, kamu melihatku dengan tatapan kosong, dan itu membuat hatiku terasa sakit... Sepertinya aku telah menambah kesedihan di hatimu..."
"Seminggu kemudian kamu pindah sekolah, dan aku merasakan kehilangan gadis kecilku itu... Seorang gadis yang mampu menggugahku sampai ke dasar jiwaku... Gadis kecil itu tidak ada lagi di sana... Dia sudah pergi menjauh dari hidupku, bersama dengan hatiku yang telah ia curi tanpa ia sadari, bahkan tanpa aku sadari juga...."
air mata yang sedari tadi Tiara tahan akhirnya tidak bisa terbendung lagi, ia terisak sambil menghapus air matanya. Ia tidak menyangka kalau Kenzou sudah mencintainya selama itu.
Kenzou berbaring miring sambil menyanggah kepalanya dengan tangan kirinya, ia menatap penuh kasih ke Tiara, jemari tangan kanannya turut serta menghapus air mata kekasihnya itu.
"Saat tahun ajaran baru, aku kembali melihatmu di kampus... Atau setidaknya saat itu aku mengira aku sudah menemukanmu kembali, ternyata aku salah... Wanita itu bukanlah gadis kecilku, tapi Dasha... Kalian memiliki beberapa kemiripan hingga aku salah mengenalinya sebagai kamu." lanjutnya.
"Dan aku baru tahu kalau gadis kecilku itu adalah kamu, saat pertama kalinya aku ke rumahmu, dan melihat foto masa kecilmu di sana... Betapa senangnya aku saat itu karena telah berhasil menemukanmu... Meski kesenanganku menghilang saat melihat memar di pipimu... Apa mereka menamparmu? Jangan bohong, aku sudah tanya Zaa dan bukan bola basketlah penyebab memarmu itu."
Tiara tidak mampu menjawab karena tangisan yang tertahan di tenggorokannya, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Kenzou membelai lembut puncak kepala Tiara, sebelum menariknya ke dalam pelukannya, dan tangis Tiara langsung pecah.
Kesedihannya akibat kematian kedua orang tuanya, sakit hatinya, penyiksaan lahir dan batin yang selama ini ia rasakan seketika keluar semuanya secara bersamaan... Menjadi potongan-potongan ingatan yang menyakitkan.
Tapi pelukan hangat Kenzou, sentuhan lembut tangannya di punggungnya, serta suara lembutnya yang menenangkan Tiara, semuanya menjadi obat untuknya.
"Gadis kecilku yang malang... Tenang saja aku sudah membalas semua perbuatan mereka padamu... Mulai sekarang aku akan selalu melindungimu... Aku sudah menempatkan empat bodyguard di rumahmu, untuk selalu menjagamu saat aku tidak ada di dekatmu..."