Kenzou

Kenzou
Apa Kamu Senang?



Tiara menatap Kenzou dengan tatapan tidak percaya, saat itu mereka belum terlalu dekat, tapi pria itu sudah memberinya sebuah gaun.


Seolah mendengar kata hati Tiara itu, Kenzou kembali berkata,


"Aku mendengar percakapanmu dengan Zaa saat kamu bilang kamu tidak memiliki gaun berwarna hitam. Jadi aku langsung membelinya untukmu."


"Kenapa Kakak membelinya untukku? Bukankah saat itu Kakak sedang mendekati Dasha?" tanya Tiara.


"Bukankah aku sudah pernah menjelaskannya padamu kalau aku mendekati Dasha hanya untuk..."


"Iya, aku tahu." potong Tiara, ia masih merasa salah tingkah kalau Kenzou menyatakan perasaannya.


Ia belum terbiasa dicintai...


"Bagaimana dengan gaun-gaun ini kamu suka? Aku yang memilihkannya sendiri untukmu," tanya Kenzou dan Tiara mengangguk, ia segera mendekati Kenzou dan memeluknya.


"Terima kasih Kak Zou," ucapnya lembut.


Kenzou membalas pelukan Tiara dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung mungil wanita itu. Dengan isyarat matanya, ia meminta anak buahnya untuk membawa gaun-gaun itu ke kamar Tiara.


Melihat anak buah Kenzou sibuk membawa gaun-gaunnya, Tiara melepaskan diri dari pelukan Kenzou, ia ingin membantu mereka tapi Kenzou melarangnya.


"Biarkan mereka yang mengurusnya, sekarang ikut aku!" seru Kenzou sambil menarik lengan Tiara ke arah dapur.


Kenzou mendudukkan Tiara di kursi makan, lalu menyerahkan semangkuk bubur ke arah Tiara,


"Makanlah!"


"Tapi, aku tidak lapar, Kak."


Kenzou menarik kembali mangkok itu ke arahnya, lalu menyendok penuh bubur itu sebelum mengarahkannya ke mulut Tiara,


"Buka mulutmu!" serunya.


Mau tidak mau Tiara membuka mulutnya, seketika matanya membelalak lebar saat lidahnya mengecap rasa bubur itu.


"Enak sekali, Kak!"


Kenzou terkekeh pelan sebelum menjawab, "Sudah pasti enak, ini buatan Mamiku."


"Tante Kei yang membuatnya sendiri?" tanya Tiara sambil membuka lagi mulutnya saat Kenzou kembali menyuapinya.


"Ya, khusus untukmu," jawab Kenzou sambil tersenyum lembut, lalu menyendok bubur itu lagi dan menyuapi kekasihnya itu.


"Tante Kei pintar masak juga ya ternyata!"


"Ya, dulu Mami bercita-cita ingin menjadi seorang chef."


"Kata Zaa Tante Kei memiliki kafe di X Mall, dan kalau mau Zaa bisa mengajakku ke kafe itu dan makan masakan Tante Kei langsung."


"Aku bisa mengantarmu ke Kafe Mami, tidak perlu tunggu Zaa yang mengajakmu!"


Tiara terlihat sumringah, "Jadi, kapan kamu akan mengajakku ke sana?"


"Astaga, Ra. Aku baru saja menawarimu tapi kamu sudah menodongku seperti itu. Sabar yaa, My litle girl. Sekarang makan yang banyak supaya lekas sembuh."


"Setelah itu?" pancing Tiara sambil terus tersenyum lebar.


"Aku akan menikahimu!" balas Kenzou yang langsung mendapatkan pukulan gemas Tiara di bahunya.


"Jangan konyol! Aku baru mulai kuliah!" sungutnya.


"Apa kamu tidak mau seperti Zaa dan Al yang menikah muda?" tanya Kenzou sambil tersenyum menggoda.


"Lalu memiliki beberapa anak dan kita akan menjadi Papi dan Mami muda?" lanjutnya.


Wajah Tiara seketika merona merah, bagaimana tidak, saat Kenzou membahas masalah anak, pikiran Tiara traveling ke proses pembuatan anak itu.


"Kenapa pipimu jadi semerah tomat matang? Jangan bilang kalau kamu sedang membayangkan membuat anak denganku,"


Kenzou terus saja menggoda Tiara, hingga Tiara rasa ia tidak sanggup lagi menerimanya, karena jantungnya terasa mau meledak saat ini.


"Kenapa Kakak mau menikahiku?" tanya Tiara.


"Kenapa? Ya karena kamu adalah kekasihku. Dan seperti yang sudah kamu ketahui sebelumnya, aku sudah menyimpan rasa padamu sejak masih menjadi bocah ingusan," jawab Kenzou lugas.


Tiara terkekeh pelan, saat membayangkan Kenzou jadi bocah ingusan. Yang ia rasa itu tidak akan pernah terjadi, mengingat betapa perfeksionisnya pria itu.


"Kamu membayangkan bocah ingusan itu ya? Bagaimana? Aku tetap terlihat tampan kan?"


Tiara mendengus pelan sebelum menjawab, "Cih, narsis."


Ia kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan terakhir bubur itu.


Kenzou menyingkirkan mangkok di depannya itu, lalu meletakkan tangan kirinya di atas meja untuk menopang kepalanya.


Senyum menggoda tidak pernah terlepas dari wajahnya, saat pria itu menatap penuh wajah Tiara.


"Aku ingin melakukan ini setiap hari. Duduk bersamamu di ruang makan, menyuapi dan merawatmu tiap kali kamu sakit. Berbincang-bincang seperti ini setiap kali kita selesai makan. Aku sangat menginginkan itu."


"Kak, apa Kakak yakin dengan perasaan Kakak itu? Aku takut nanti Kakak akan kecewa padaku," desah Tiara pelan.


Kenzou menaikkan sebelah alisnya, "Apa kamu tidak mau menikah denganku?"


"Tentu saja aku mau, Kak. Tapi tidak sekarang. Seperti yang aku sudah pernah bilang ke Kakak, berikan aku waktu satu tahun untuk memikirkannya. Sekaligus Kakak bisa meyakinkan diri Kakak lagi, benarkah aku yang ingin Kakak nikahi," jelas Tiara.


Ia menatap lekat-lekat mata Kenzou, supaya pria itu dapat melihat kesungguhan di dalam matanya itu.


Kenzou mengacak-ngacak puncak kepala Tiara sambil berkata,


"Memangnya aku bisa apalagi kalau kamu memang belum siap? Baiklah, tapi izinkan aku mengantar dan menjemputmu setiap hari ke kampus!" pinta Kenzou.


Untuk saat ini ia memilih menyerah pada gadis kecilnya itu. Tapi nanti setelah satu tahun berlalu, ia sendiri yang akan menyeret wanita itu ke dalam pernikahan.


Apa gunanya menjadi pria yang paling diidamkan se Asia, kalau wanita yang ingin aku nikahi menolak untuk menikah denganku?!


Kenzou terus merutuki dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Apa kamu merasa senang sekarang karena sudah bisa menempati kamar orang tuamu?"


Tiara menganggukkan kepalanya, "Ya, aku senang sekali. Aku masih meminta mba Tini untuk membongkar gudang, untuk mencari foto Mama dan Papaku. Semoga saja Tante Risya hanya menyimpannya di sana, dan tidak membuang semuanya."


"Apa kamu mau aku menyuruh anak buahku untuk membantumu mencari foto-foto itu? Dengan melibatkan banyak orang pencarian akan menjadi lebih mudah,"


"Bisakah?"


"Tentu saja bisa, apa sih yang tidak bisa aku lakukan untukmu, Ra? Kecuali kamu memintaku untuk mati, aku tidak akan mau mengabulkannya. Karena aku masih ingin hidup, dan mencintaimu sepenuh hatiku!"


Tiara kembali terkekeh pelan, "Siapa juga yang mau kamu mati, memangnya kamu kira kalau kamu mati aku masih bisa hidup di dunia ini?"


Kenzou tersenyum lembut, ia terus saja tersenyum hingga membuat Tiara menjadi salah tingkah,


"Kenapa terus tersenyum seperti itu?" tanyanya.


"Aku masih tidak menyangka, kalau pada akhirnya aku bisa menemui gadis kecilku itu lagi," jawab Kenzou


Dear Readers....


Setelah satu minggu lebih tidak Up, hari ini Nice bisa Up babang Zou juga...


Siap-siap hari ini crazy up yaa, sebagai permintaan maaf Nice pada readers semua, karena babang Zou and Neng Aranya terabaikan selama ini 😁🙏


Happy reading and have a nice day