
"Maafkan aku, Kak..." hanya itu yang keluar dari mulutnya, memangnya ia harus berkata apa lagi? membela diri? Kenyataannya memang ia yang salah, ia yang telah mengkhianati kepercayaan Kenzou padanya.
"Aku kecewa padamu, Ra!" nada dingin di dalam suara Kenzou seperti memalunya, membuat dada Tiara terasa semakin sesak, hingga ia tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Maafkan aku..." isaknya, ia takut kalau pria itu tidak mau memaafkannya, dan pergi dari hidupnya.
"Kamu tahu kan tujuan Papi tidak mengizinkan mereka untuk campur terlebih dahulu? Semua demi kebaikan Adikku itu juga! Sekarang setelah Zaa hamil, bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dengan kuliah Al? Mereka masih hidup terpisah jauh Ra! Apa kamu tidak memikirkan itu?" cecar Kenzou.
"Tapi kasihan mereka, Kak. Mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi masih harus menjalani hidup terpisah. Bagaimana mereka bisa menahan hasrat mereka? Bagaimana aku bisa tega menolak permohonan Zaa?"
"Kamu hanya perlu ingat kalau aku sudah mempercayakan Zaa padamu! Cukup ingat itu saja, Ra!"
"Aku tidak tega, Kak."
Kenzou mengusap kasar wajahnya, sebelum kembali menatap tajam Tiara, kedua mata tajamnya itu seolah-olah mampu menembus masuk hingga ke dalam pikiran Tiara, ke dalam jiwanya.
"Apa kejadiannya di malam itu? Malam saat aku menenangkanmu karena kamu takut pada kilat dan petir itu?" tanyanya, nada dingin di dalam suaranya itu membuat Tiara semakin begidik ngeri,
"Iya...." jawabnya lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi kamu hanya berpura-pura takut saja malam itu?" tukasnya.
Tiara segera mengangkat wajahnya sambil menggeleng keras,
"Tidak, aku tidak sedang berpura-pura malam itu! Aku benar-benar ketakutan saat itu. Aku sungguh-sungguh takut pada kilat dan petir."
Penjelasan Tiara itu tidak sedikitpun membuat perubahan pada diri Kenzou. Pria itu masih tetap bersikap dingin dengan wajahnya yang terlihat tanpa ekspresi itu.
"Apa aku harus mempercayainya? Apakah aku harus menganggap itu hanyalah sebuah kebetulan belaka?"
"Tapi aku memang tidak sedang berpura-pura, Kak."
"Simpan penjelasanmu itu untuk dirimu sendiri, Ra! Yang aku ingat saat aku ingin melihat ke kamar kalian, kamu langsung mengalihkan perhatianku! Apa kamu lupa, hah? Apa tujuanmu menahanku selain untuk melindungi mereka?!"
"Kak, aku...."
"Apa kamu sengaja menciumku supaya aku lengah dan lupa pada tujuan awalku untuk mengecek kamar Zaa? Yang ternyata memang aku teralihkan dan pada akhirnya lupa pada tujuan awalku itu! Benarkah itu tujuanmu, Ra?!
Tiara hanya terdiam, kepalanya tertunduk sangat rendah, hingga nyaris mencapai dadanya. Ia bingung harus menjawab apa, kalau jujur Kenzou pasti akan marah dan kembali kecewa padanya. Tapi kalau berbohong, pria itu akan jauh lebih marah dan kecewa lagi.
"Tidak perlu menjawabnya, Ra. Diammu sudah merupakan jawaban untukku." tebak Kenzou dengan suara yang teramat sangat dingin.
Isakan Tiara semakin kencang, sementara kedua tangannya yang menyatu di atas pangkuannya itu terlihat gemetar hebat, ia belum pernah mendengar nada suara Kenzou yang seperti itu, ia benar-benar takut mendengarnya, ia takut pria itu terlalu kecewa hingga akan meninggalkannya.
Ia begitu mencintai Kenzou, ia tidak mau kehilangan pria itu, ia bisa gila.
Kenzou tidak tahan melihat Tiara nangis, dan terlihat ketakutan seperti itu. Ingin rasanya ia meraih dan memeluk gadis kecilnya itu, tapi kemarahan yang masih menguasai dirinya saat ini melarangnya.
Sambil mengumpat pelan, ia segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang tamu rumah Tiara itu, lebih baik untuk sementara waktu ia menghindari Tiara terlebih dahulu, sampai ia bisa menenangkan dirinya dan menghilangkan rasa kesalnya pada wanita itu.
"Kak!" panggil Tiara dan Kenzou mengabaikannya, pria itu tetap melangkah cepat ke arah mobilnya.
Tiara terus menatap nanar mobil yang Kenzou kendarai itu, hingga mobil itu keluar dari halaman rumahnya, dan penjaga yang ditugaskan Kenzou untuk menjaga rumah Tiara menutup pagar rumahnya.
Ia segera berbalik saat terdengar suara tepuk tangan seseorang di belakangnya yang ternyata adalah Dasha,
"Untuk keluarga Adipramana, keluarga mereka berada di atas segalanya, sudah pasti Kak Zou marah kalau kamu mengecewakannya apalagi mengecewakan orang tuanya," lanjutnya sebelum tertawa penuh kemenangan.
"Ini hanya salah paham saja, dan bukan urusanmu."
Tiara baru saja melangkah tapi Dasha menghalangi jalannya. Ia sangat membenci sepupunya itu, luar biasa benci. Karena dirinya mama dan papanya kini mendekam di penjara.
Sementara Dasha harus menjadi pembantu di rumah sepupunya itu. Meski hanya untuk satu tahun saja, dan hanya tersisa satu minggu dari masa hukumannya itu. Tapi tiada malam yang ia lewati tanpa menyusun rencana balas dendam pada sepupunya itu.
"Mau kamu sebenarnya apa Cha? Aku sedang tidak ingin ribut!"
Sambil tersenyum sinis, Dasha melipat kedua tangannya, ia masih tetap berdiri di ambang pintu untuk menghalangi langkah Tiara yang akan masuk ke dalam rumahnya.
Dari sudut matanya ia melihat Kenzou yang kembali memasuki halaman rumah dengan berjalan kaki, dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dasha tahu apa niat awal Tiara mendekati Kenzou, dan ia akan membuat wanita itu mengakuinya di depan Kenzou.
"Jangan berpura-pura sedih seperti itu, Ra! Aku tahu kamu hanya memanfaatkan Kak Zou untuk memudahkan kamu dalam mengambil alih hartamu lagi, ya kan?"
Tiara tidak menjawab, ia menatap tidak percaya pada Dasha, darimana sepupunya itu tahu kalau memang itulah niat awalnya mendekati Kenzou.
Tapi memang itulah perjanjiannya dengan Kenzou saat berpura-pura pacaran, dengan tujuan masing-masing. Kenzou akan membantunya mengembalikan lagi seluruh harta Tiara padanya, sementara tujuan Kenzou untuk membuat Dasah cemburu, atau setidaknya itulah tujuan awal yang Kenzou jelaskan padanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kaget karena aku mengetahuinya? Aku juga tahu tujuanmu menerima cinta Kak Zou semata-mata hanyalah untuk membalaskan dendammu padaku! Karena selama ini aku selalu merebut priamu, dan kini saatnya kamu membalas dengan merebut pria yang aku cintai, ya kan? Sebenarnya kamu tidak pernah mencintainya kan, itu makanya kamu selalu mengulur-ulur waktu saat Kak Zou memintamu untuk menikah dengannya!" cecar Dasha.
Ia melihat Kenzou yang awalnya mendekati mereka, kini terlihat menghentikan langkahnya, dan menatap tidak percaya ke arah Tiara.
"Kalau iya, kenapa? Akhirnya kamu bisa merasakan juga kan bagaimana rasanya pria yang sedang kamu dekati beralih mencintai aku? Itu namanya karma, Cha! Dan kamu layak mendapatkannya!" balas Tiara tanpa menyadari niat buruk sepupunya itu.
"Kamu sengaja membiarkanku terus tinggal di sini supaya kamu bisa memperlihatkan kemesraanmu dengan Kak Zou kan? Supaya kamu membuatku semakin patah hati, dan kamu merasa senang karena telah berhasil balas dendam padaku, ya kan?" tanya Dasha lagi.
Tiara menghela nafas pelan sambil melipat kedua tangannya sebelum menjawab,
"Ya, benar. Kenapa? Masalah?"
"Benarkah?!" terdengar suara dingin di belakangnya, suara yang teramat sangat Tiara kenal.
Refleks Tiara balik badan, dan mendapati sorot mata dingin Kenzou padanya,
"Kak...." suaranya terhenti saat melihat pria itu balik badan dan melangkah pergi. Kali ini pria itu pasti membencinya.