
Kenzou duduk gelisah di sofanya sambil terus menatap ke arah tempat tidur, tempat mbak Tini tengah membersihkan Tiara.
Karena kebaikan dan kesetiaannya pada Tiara. Kini mbak Tini tidak menjadi asisten rumah tangga di rumah Tiara lagi, tapi sebagai keluarga baru Tiara. Ia tidak perlu bekerja lagi di rumah itu, dan tugasnya hanyalah menjaga Tiara dengan sebaik mungkin.
Yang dengan senang hati mbak Tini menerimanya, karena sejak dulu ia selalu menganggap Tiara sebagai putri kandungnya.
Sejak Dasha dihukum sebagai asisten rumah tangga, mbak Tini tidak sekalipun berhenti mengawasi wanita itu. Dan lebih dari sekali ia mendapati Dasha tengah memasukkan sesuatu ke dalam makanan Tiara.
Dan sejak saat itu, ia selalu mewanti-wanti Tiara untuk tidak makan apapun pemberian sepupunya itu, dan untungnya Tiara menurutinya. Itulah yang sedikit banyaknya menyelamatkan nyawa Tiara.
Andai saja tidak ada mbak Tini di rumah itu, dengan keadaan Tiara yang seperti sekarang ini, jika ternyata sudah banyak racun yang mengendap di dalam tubuhnya, mungkin saja Tiara tidak akan bisa tertolong lagi.
Kenzou mendesah pelan, Tiara wanita yang sangat baik. Saking baiknya ia tidak tega mengusir sepupunya keluar dari rumahnya, bahkan saat tahu sepupunya itu berusaha untuk meracuninya.
Dan wajar saja kalau ia mendapatkan mbak Tini yang selalu setia padanya. Itulah kebaikan Tuhan pada Tiara, untuk membalas segala kebaikannya pada orang lain, bahkan pada musuhnya sekalipun.
"Apa kakak sudah menyesal sekarang?" tanya Keizaa yang sudah tidak fokus lagi pada tugas kuliahnya.
"Lebih dari menyesal ... " jawab Kenzou lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita yang masih terkulai lemah di atas tempat tidurnya.
Keizaa merenggangkan badannya, lalu memekik pelan membuat Kenzou dengan panik mengalihkan perhatiannyapafda adiknya itu,
"Ada apa?" tanyanya.
Alih-alih menjawab, adiknya itu malah asik mengelus perutnya yang meski sudah hamil empat bulan tapi masih belum terlihat membuncit itu.
"Zaa ... " Kenzou mulai tidak sabar.
"Tadi aku merasa seperti ada gerakan di perutku ... Tapi kenapa sekarang tidak ada lagi yaa?" tanyanya lebih pada dirinya sendiri.
"Apakah perut Nona terasa geli?" tanya mbak Tini sambil terus membersihkan tubuh Tiara.
"Iya, tapi seperti ada yang bergerak juga, Mbak. Apa itu normal?"
Mbak Tini terkekeh pelan sebelum menjawab,
"Mbak memang belum pernah hamil dan melahirkan, tapi mbak tahu kalau usia empat bulan itu janinnya sudah mulai aktif bergerak. Apa dokter kandungan Nona tidak memberitahu Nona tentang itu?"
"Terakhir kali aku konsul, belum ada pergerakan, baru saja hari ini mulai terasa."
"Tidak apa-apa, iktu normal, Nona. Jangan lupa memberitahu Den Alson berita bahagia ini," saran mbak Tini.
Keizaa terlihat riang saat berkata, "Alson Oppa sebentar lagi sampai, aku pasti akan langsung memberitahunya."
Dan sepertinya Alson akan panjang umur, karena baru saja namanya disebut, dia sudah terlihat di ambang pintu,
"Mau pulang sekarang, Snow?" tanyanya.
"Oppa ... Ke sini sebentar ada yang ingin aku tunjukkan padamu!" seru Keizaa.
Alson melangkah masuk, ia menepuk pundak Kenzou sebelum duduk di samping istrinya itu,
"Kamu mau menunjukkan apa, Snow?" tanyanya dengan lembut.
"Iya, aku tahu perutmu sudah mulai membesar," ujarnya.
"Bukan itu, coba rasakan ada pergerakan atau tidak?"
Cukup lama Alson terdiam sambil memfokuskan matanya ke perut Keizaa, dan sambil tersenyum lebar, Keizaa menunggu jawaban Alson.
"Tidak ada," jawab suaminya itu, dan Keizaa langsung menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Payah ... Tangannya sama tidak pekanya sama orangnya!" keluhnya.
"Memangnya gerakan apa? Ususmu?" tanya Alson bingung.
Keizaa memutar kedua bola matanya dengan dongkol,
"Bayimu ... Bayi kita, Oppa!"
"Ha? Sudah bisa bergerak?"
"Tidak tahu!! Sudah ayo pulang sekarang!" sungut Keizaa sambil memberengut dan menutup laptopnya.
"Jangan memberengut seperti itu dong, Snow. Aku buta sama sekali tentang kehamilan," desah Alson.
Tapi Keizaa mengacuhkannya, ia memasukkan semua peralatannya ke dalam tas sebelum diri dan keluar dari ruangan itu, Alson segera mengekor di belakangnya, dan Kenzou menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka.
"Saya sudah selesai, Den. Boleh saya pulang dulu untuk membawa pakaian kotor Non Tiara dan membawakannhya yang baru?" tanya mbak Tini.
"Oh iya, Mbak. Silahkan ... Saya akan menjaga Tiara," jawab Kenzou sambil tersenyum lembut.
Setelah mbak Tini keluar, Kenzou duduk di kursi yang biasa ia duduki saat menemani Tiara. Wanita itu terlihat hanya sedang tertidur pulas saja.
"Tiara ... Bangunlah, Sayang. Sampai kapan kamu akan terus menghukumku seperti ini? Sudah dua bulan kamu seperti ini ... " ujar Kenzou lirih untuk yang keratusan kalinya.
Ia selalu menggumamkan kata-kata itu tiap kali menemani Tiara di rumah sakit.
"Tiara ... Bangun ... Aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Bangun dan lihatlah aku sudah menghukum semua yang menyakitimu, mereka tidak ada di dunia ini lagi untuk mengusikmu. Sekarang bangunlah ... Tinggal aku yang belum kamu hukum ... "
Kenzou meraih telapak tangan Tiara, sambil menatap sendu wanitanya iktu, Kenzou menempelkan telapak tangan Tiara ke pipinya,
"Ra, hukum aku. Kamu harus bangun untuk menghukumku. Tinggal aku saja yang belum mendapatkan hukuman atas kesalahanku itu padamu, Ra. Tolong bangunlah dan hukum aku!"
"Aku tidak akan membuatmu kecewa lagi, Ra. Aku janji dengan sepenuh hatiku aku tidak akan pernah menyakitimu lagi! Aku akan selalu percaya padamu, apapun yang kamu katakan aku akan selalu mempercayainya. Bangun, Ra Dan tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku ... "