Kenzou

Kenzou
Tiara Sadar



"Ra, hukum aku. Kamu harus bangun untuk menghukumku. Tinggal aku saja yang belum mendapatkan hukuman atas kesalahanku itu padamu, Ra. Tolong bangunlah dan hukum aku!"


"Aku tidak akan membuatmu kecewa lagi, Ra. Aku janji dengan sepenuh hatiku aku tidak akan pernah menyakitimu lagi! Aku akan selalu percaya padamu, apapun yang kamu katakan aku akan selalu mempercayainya. Bangun, Ra Dan tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku ... "


"Ra, kandungan Keizaa sekarang sudah berjalan empat bulan. Apa kamu tidak mau melihat kebahagiaan sahabatmu itu? Setiap hari Zaa selalu datang dan menangisimu, begitu juga dengan aku dan mbak Tini. Banyak yang menyayangimu, Ra ... Bangunlah, dan jangan terlalu larut ke dalam lubang kegelapan itu. Raih tanganku dan aku akan menarikmu keluar!"


"Apa kamu tidak mau bahagia seperti yang di rasakan Zaa dan juga Alson? Apa kamu tidak mau menikah dan mengandung anakku, Ra? Aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu kalau kamu juga menginginkan itu, Ra."


"Aku janji aku akan selalu membahagiakanmu, memberikan apapun yang kamu mau, dan aku akan melanjutkan pasca sarjanaku disini saja, aku tidak mau jauh darimu lagi. Aku terlalu mencintaimu hingga rasanya sakit, Ra. Sakit melihatmu seperti ini, dan lebih sakit lagi karena akulah yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini ... "


"Hukuman apapun darimu akan aku terima, Ra. Jadi tolong bangunlah dan lihat aku. Lihat betapa aku sangat menyesali semua ini. Betapa aku begitu tersiksa karena rasa bersalah ini, betapa aku mengharapkanmu untuk menghukumku untuk menenangkan diriku."


Kenzou tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membuat Tiara bangun dari komanya. Ia bukanlah pria yang pintar merangkai kata-kata. Ia termasuk buruk dalam hal merayu wanita, karena satu-satunya wanita yang pernah ia rayu hanyalah Tiara.


Tapi di dalam hatinya, ada ribuan kata yang terpendam yang terasa sulit untuk ia tuangkan, untuk ia jadikan sebuah kalimat.


Jadi ia hanya membiiarkan kesedihan menguasainya, membiarkan dirinya terisak dengan tangisannya. Tangisan yang selama dua bulan lebih ini ia tahan, ia pendam seorang diri. Kini semua tidak dapat ia bendung lagi, mengalir dengan derasnya hingga wajah Tiara terlihat kabur karena tertutup air matanya.


"Maafkan aku, Ra ... Maafkan aku ... " isaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku benar-benar bodoh! Aku memang bodoh!" lanjutnya lagi.


"Aku harus apa untuk membuatmu bangun, Ra? Haruskah aku mati untuk menggantikanmu? Aku rela, Ra ... Aku rela menukar nyawaku dengan nyawamu ... " isaknya lirih lalu menyandarkan kepalanya pada telapak tangan Tiara, yang dalam waktu singkat sudah basah oleh air matanya.


Lama Kenzou larut dalam tangisannya, hingga ia merasa jemari Tiara di pipinya bergerak. Tangisan Kenzou terhenti, bahkan napasnya juga terhenti sesaat hanya untuk memfokuskan dirinya pada pergerakan di pipinya itu.


Dan saat jemari itu bergerak lagi, Kenzou langsung mengangkat kepalanya, dan langsung menatap kedua mata Tiara yang mulai terbuka, meski belum sepenuhnya.


"Kak ... " sapanya dengan suara serak sebelum memejamkan kedua matanya lagi.


Kenzou segera menyondongkan badannya untuk menangkup wajah gadis kecilnya itu,


"Ra! Kamu sudah sadar, Ra!" serunya.


Masih dengan kedua mata yang terpejam, Tiara mengangguk pelan, badannya masih terasa lemah, bahkan untuk sekedar membuka kedua matanya saja butuh mengerahkan hampir seluruh tenaganya.


Kenzou segera menekan tombol, agar dokter datang dan memeriksa Tiara.


"Ha ... Us ... " ucap Tiara pelan nyaris tidak terdengar.


Kenzou nyaris terantuk kakinya sendiri saat ia dengan tergopoh-gopoh mengambilkan segelas air untuk Tiara. Ia tengah mengangkat kepala Tiara untuk membantunya minum ketika pintu terbuka, diikuti dengan masuknya dokter Sam dan beberapa dokter lainnya beserta para perawat.


"Tiara sudah sadar. Om!" seru Kenzou.


"Bisa minggir sebentar, Zou? Biar kami bisa melihat kondisi Tiara?" tanya dokter Sam.


Dengan enggan Kenzou bergeser, tapi tidak terlalu jauh dan masih bisa melihat gadis kecilnya itu.


"Bisa gerakkan kakimu, Ra?" tanya dokter Sam dengan lembut.


Tiara berusaha mengangkat kakinya, tapi ia tidak memiliki tenaga untuk itu. Badannya benar-benar lemah hingga ia menggelengkan kepalanya dengan frustasi.


"Apa ada masalah dengan kakinya, Om?" tanya Kenzou khawatir.


"Bisa kita bicara sebentar, Zou?" tanya balik dokter Sam dan Kenzou mengangguk.


Mereka melangkah menjauh dari pendengaran Tiara.


"Pemulihan kesadaran pada penderita koma memang bertahap, Zou. Ada sebagian penderita yang bisa sembuh total darai koma tanpa cacat sedikitpun, ada juga yang sadar tetapi fungsi otak atau tubuhnya mengalami penurunan bahkan kelumpuhan," jelas dokter Sam.


"Jadi maksud Om Tiara lumpuh?" tanya Kenzou lebih khawatir lagi.


"Kami akan melakukan pemeriksaan lagi secara menyeluruh. Karena proses kesembuhan otak setiap manusia itu berbeda-beda, dan harus ditangani lebih lanjut dengan beragam terapi, seperti fisioterapi, psikoterapi, dan lainnya. Semoga saja Tiara akan segera pulih dan kembali normal." jawab dokter Sam.


"Tapi untuk saat ini, dorong terus semangatnya untuk tetap sembuh. Memang ada beberapa bagian tubuh yang belum bisa digerakkan, tapi itu masih bisa di manage dengan berbagai terapi. Kesabaran adalah kunci dari semuanya. Jadi tolong untuk terus memberikan semangat pada wanitamu itu, ok?"


"Ya, Om."


"Tadi Tiara bisa bicara kan?"


"Ya, meski suaranya masih terdengar serak."


Dokter Sam menepuk-nepuk pundak Kenzou,


"Itu awal yang bagus untuk pasien yang baru sadar dari komanya, Zou. Semoga saja keadaannya terus membaik," ujarnya.