Kenzou

Kenzou
Aliana Menghilang



Kenzou menatap penuh cinta ke wajah Tiara yang wajahnya masih terlihat memerah karena barusan Kenzou menggodanya,


"Jadi bagaimana? Bersedia menikah denganku akhir bulan ini?" tanya Kenzou lagi.


Ini sudah yang ketiga kalinya pria itu mengajukan pertanyaan yang sama pada Tiara, dan wanita itu masih saja menggantungnya,


Meski dua bulan lalu wanita itu mengatakan sendiri tidak sabar untuk menikah dengannya, tapi semakin mendekati hari H, wanita itu semakin terlihat ragu-ragu. Jadi Kenzou memastikannya kembali.


"Umm ... Kenapa harus terburu-buru?" tanyanya sambil mengalihkan perhatiannya ke Kenzou,


"Aku masih ingin menikmati waktuku sendiri, rasanya jauh lebih nyaman ... " lanjutnya, membuat Kenzou mendesah pelan,


"Jadi kamu merasa tidak nhyaman padaku?" tanyanya.


"Bukan, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ... Ya, selama ini kau tahu sendiri kan kalau aku nyaris tidak menikmati keberadaanku di rumah ini karena Om, Tante dan Dasha yang tidak bisa melihatku santai sebentar. Selalu saja ada yang mereka minta untuk aku lakukan," jawab Tiara.


Kenzou menutup jarak di antara mereka, ia turut berdiri di samping pagar balkon sambil merangkul pinggang Tiara,


"Justru kalau kita sudah menikah nanti itu lebih bagus lagi gadis kecilku ... Aku bisa menemanimu saat bersantai, atau membuatkan secangkir teh untukmu. Jika kamu lelah aku bisa memijatmu juga," bujuknya.


"Umm ... Kedengarannya boleh juga," gumam Tiara, Kedua tangan Kenzou bergerak ke atas pundak Tiara dan meremasnya dengan lembut saat bertanya,


"Jadi?"


Tiara menundukkan wajahnya saat menjawab dengan malu-malu,


"Ya, aku mau ... "


Mendengar jawaban yang sangat dinanti-nantinya itu membuat Kenzou memekik senang. Ia mengangkat Tiara dan langsung memutarnya, kini gantian wanita itulah yang memekik pelan,


"Kak, turunkan aku! Aku takut jatuh!"


Sambil menyeringai lebar Kenzou menurunkan Tiara, dan tetap merangkulnya hingga wanita itu dapat berdiri sepenuhnya,


"Kenapa bersikap kekanak-kanakan seperti itu sih? Lagipula kamu kan sudah menentukan tanggalnya kenapa harus bertanya lagi?!" sungut Tiara sambil memberengut, membuat Kenozu semakin gemas padanya.


"Aku harus terus memastikannya, aku takut kamu akan melarikan diri di hari pernikahan kita," elak Kenzou.


"Aku tidak mau mendengar pertanyaan itu lagi. Hampir tiap minggu kamu selalu menanyakan petanyaan yang sama, lama-lama aku beneran kabur dari pernikahanku!"


Kenzou memeluk erat Tiara, ia benar-benar takut kehilangan wanita itu,


"Ya, maaf. Aku tidak akan menanyakan pertanyaan itu lagi."


Tiara membalas pelukannya, ia menghirup dalam-dalam aroma memabukkan dari pria yang sangat ia cintai itu,


"Jangan jadi suami yang terlalu posesif, aku akan kembali terkekang nantinya ... " desahnya.


"Tentu saja tidak, aku akan membebaskanmu kemana saja, selama kamu membiarkan dua orang pengawal untuk menemanimu," ujar Kenzou.


"Kamu janji tidak akan melaranku bertemu dengan teman-temanku?!"


Kenzou menjauhkan sedikit badannya untuk melihat Tiara, ia tersenyum geli saat berkata,


"Teman-teman? Kamu tidak memiliki teman, Sayang."


"Enak saja, Zaa, Clarissa, Aliana, mereka semua teman-temanku!" sungut Tiara kesal dan Kenzou tergelak, membuat Tiara semakin memberengut karenanya,


"Ya Tuhan ... Kalau hanya mendatangi mereka kamu tidak perlu izin padaku, Sayang ... Lagipula rumah mereka hanya selemparan batu dari rumahku, kamu hanya perlu membuka pintu ajaib itu dan sudah sampai ke tempat Aliana dan Clarissa, juga adikku Zaa," kekehnya.


"Tetap saja aku harus izin padamu, kamu suamiku ... "


"Angkat dulu, aku tahu itu nada dering dari keluargamu!" seru Tiara sambil terkikik geli.


Setelah mendesah pelan Kenzou menerima panggilan yang ternyata dari papi Hardhan,


"Kamu di mana?!" tanya papi Hardhan. Dari nada suaranya Kenzou sudah bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu pada keluarganya,


"Di rumah Tiara, ada apa Dad?"


"Aliana menghilang, tolong bantu cari dia!"


"Ana hilang? Bukankah kita tinggal mencari posisinya saja lewat jam tangan yang dikenakannhya?" tanya Kenzou dengan kening berkerut.


"Kalau Ana mengenakan jam tangan itu, Papi dan Om Alex tidak akan kelimpungan seperti ini! Bahkan Damar dan Erkam kehilangan jejaknya lagi!" jawab papi Hardhan.


"Baiklah aku akan turut serta mencarinya!"


"Bagus! Datangi setiap tempat yang biasa Ana datangi, dan ajak Tiara juga, mungkin dia tahu tempat mereka biasa berkumpul!"


"Baik, Pi."


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Kenzou kembali menatap Tiara yang kini terlihat khawatir,


"Ana hilang? Kok bisa?" tanyanya, dan Kenzou kembali mendesah pelan,


"Aliana meloloskan diri lagi dari para bodyguardnya. Apa kamu tahu di mana tempat yang biasa Aliana datangi?"


Tiara mengangguk meski tidak sepenuhnya yakin,


"Meski belum telum tentu juga Aliana ke sana, tidak ada salahnya kita mendatangi tempat-tempat itu."


Dan mereka pun mulai mencarinya. Tapi di setiap tempat yang Tiara arahkan,Aliana tidak berada di sana, entah di mana wanita itu berada.


HIngga hari menjelang malam Aliana belum juga ditemukan, Kenzou memutuskan untuk mengantarkan Tiara kembali ke rumahnya terlebih dahulu,


"Jadi kamu mau kembali mencari Aliana setelah mengantarku pulang?" tanya Tiara.


"Iya, kemungkinan aku akan bersama-sama dengan Kenzie dan Alson untuk mencari di tempat lain atau mendatangi satu-persatu rumah teman satu kampusnya itu," jawab Kenzou, wajahnya sudah terlihat lelah.


"Aku sangat mengkhawatirkannya ... " desah Tiara.


"Tenanglah, Sayang. Kami akan menemukannya, sekarang kamu masuklah, aku akan mengabarimu saat sudah menemukan Aliana nanti," ujar Kenzou lembut, ia mencium kening Tiara sebelum wanita itu turun dari mobilnya.