Kenzou

Kenzou
Aku Akan Selalu Ada Untukmu



Keizaa menyeringai lebar sebelum kembali menggoda Tiara,  "Sudah pasti kamu melting... Aku saja tidak menyangka Kakakku yang paling dingin dan kaku itu bisa mengeluarkan kata-kata manis seperti itu... Dan kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu?"


"Aku malu..."


"Malu sama aku? Astaga, Ra... Kamu lucu sekali sih...." kekeh Keizaa.


Melihat pria yang sangat ia cintai itu sedang tersenyum menggoda ke arahnya, membuat wajah Tiara semakin merona merah, dan ia langsung menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"Kenapa kamu sudah kembali ke sini lagi, Kak? Apa kamu hanya mandi koboi di rumah?" tanya Keizaa dongkol, karena kedatangan tiba-tiba kakaknya itu.


Kenzou mengangkat bahunya, "Aku belum mandi..." jawabnya santai.


"Tadi katanya Kakak mau pulang dulu, mau mandi?"


"Aku memang mau mandi, tapi bukan di rumah... Aku pulang hanya mengambil pakaianku saja, dan aku akan mandi di sini. Aku tidak mau meninggalkan kekasihku terlalu lama."


Keizaa memutar kedua bola matanya,  "Astaga... Kakakku ini sudah gila rupanya..."


"Sudah jangan banyak protes... Ada Al di luar sedang menunggumu... Apa kamu akan membiarkan suamimu itu menunggu lama?!"


"Benarkah?" tanya Keizaa, dan tanpa menunggu jawaban dari Kenzou ia langsung berdiri dan bergegas ke luar kamar, lupa sudah ia dengan sahabatnya itu, Tiara.


Setelah Keizaaa menutup pintu kembali, Kenzou menarik turun selimut Tiara, tapi Tiara menahannya.


"Kenapa menutupi wajahmu?" tanya Kenzou dengan nada geli.


"Kenapa Kakak tiba-tiba datang?"


"Buka dulu selimutnya, baru aku jawab."


Tiara semakin erat mencengkram selimutnya itu,  "Aku tidak mau... Aku malu..."


"Kenapa malu? Apa yang menyebabkan kamu malu gadis kecilku?" tanya Kenzou lagi.


"Kamu pasti sudah mendengar semuanya yaa?"


"Mendengar apa? Aku datang bertepatan dengan kamu menutup wajahmu itu, dan mengatakan kalau kamu malu... Sekarang katakan padaku, apa yang menyebabkan kamu malu?"


Tiara menurunkan sedikit selimutnya, cukup untuk mengintip Kenzou yang sedang tersenyum lembut padanya, membuat jantungnya kembali berdetak cepat, dan ia menutupi kembali wajahnya dengan selimut itu.


Ya Tuhan... Pria itu terlalu tampan untuk dimiliki... Tapi aku juga tidak mau melepaskannya...


Tidak mau memaksakan Tiara untuk mengakuinya, Kenzou mengusap lembut puncak kepala gadis kecilnya itu,


"Ya sudah kalau kamu tidak mau membicarakannya juga tidak apa-apa... Aku mandi dulu yaaa," ujarnya.


Setelah mendengar pintu kamar mandi yang terkunci, Tiara langsung menurunkan selimutnya, dan bisa bernafas dengan lega, seolah-olah sejak tadi ia sudah menahan nafasnya.


Siapa yang tidak akan grogi jika berhadapan langsung dengan pria maskulin itu, terutama jika pria yang sangat luar biasa itu mencintaimu.


Bahkan pria itu sampai mandi di rumah sakit, karena tidak mau meninggalkan Tiara sendirian. Dan itu semakin membuat hati Tiara berbunga-bunga.


Kenzou adalah pria pertama yang lebih memilih Tiara alih-alih Dasha, juga pria pertama yang membuatnya jatuh cinta setengah mati, pria pertama yang mencuri ciuman pertama darinya.


Membayangkan saat pertama kali Kenzou menciumnya membuat bibir Tiara menyunggingkan senyum, dan Tiara menyusuri jemarinya di bibirnya itu, yang kini terasa pecah-pecah akibat dari panas tingginya itu.


Tiara menjauhkan tangannya dari bibirnya ketika pintu masuk mengayun terbuka, lalu terlihat Keizaa dan Alson yang melangkah masuk ke dalam kamar.


"Di mana Kak Zou?" tanya Keizaa setelah sampai di samping Tiara.


"Sedang mandi," jawab Tiara, lalu mengalihkan perhatiannya ke Alson, "Hai Kak..." sapanya.


"Hai juga, Ra... Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?" tanya Alson sambil tersenyum lembut.


"Sudah, Kak... Apa Clarissa tidak ikut?"


"Romonya sedang datang berkunjung, jadi Clarissa tidak dapat meninggalkannya. Dia titip salam untukmu, semoga lekas sembuh katanya...."


"Ya, akan aku sampaikan... Snow sepertinya Zou masih lama... Kita mau langsung pulang saja atau menunggu Zou selesai mandi?"


"Langsung pulang saja, Oppa..."


Keizaa mendekatkan dirinya pada Tiara, lalu berbisik di telinganya,


"Kami mau mencuri kesempatan lagi..." bisiknya sambil menyeringai lebar.


"Dasar... Ya sudah sana kalian pulang, nanti aku akan sampaikan ke Kak Zou kalau kalian sudah pamit..."


Keizaa tersenyum lebar sebelum membalas, "Terima kasih kakak ipar..."


"Kalau begitu kami permisi dulu," ujara Kenzou sambil merangkul pinggang Keizaa.


"Bye, Ra... Semoga besok kamu sudah boleh pulang yaa..."


"Iya..."


Bertepatan dengan pintu masuk tertutup, pintu kamar mandi mengayun terbuka, Kenzou keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dan luar biasa tampan.


Kenzou terkekeh pelan melihat Tiara yang terus saja memandangnya,


"Sudah tidak malu lagi?" tanyanya.


Tiara mengerjapkan kedua matanya, "Eh, apa?"


Sambil tersenyum menggoda, Kenzou mendekati tempat tidur Tiara, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Kamu sudah tidak merasa malu lagi padaku seperti saat aku datang tadi?" tanya Kenzou lagi.


Diingatkan dengan kejadian sebelumnya membuat wajah Tiara kembali merona merah. Refleks ia menarik selimutnya tapi dengan sigap Kenzou menahannya.


"Jangan tutupi wajahmu lagi... Aku senang melihat wajahmu yang merona seperti ini..." ujar Kenzou,


Senyum menggoda tidak pernah terlepas dari bibirnya, membuat Tiara berkali-kali menahan nafasnya karena pesona yang ditimbulkan pria itu.


"Tapi aku tidak, Kak... Aku malu..." aku Tiara dengan polosnya.


Kenzou menekan kedua tangannya di samping pinggang Tiara, mengungkung wanita itu di bawahnya.


"Aku akan membuatmu terbiasa dengan ini, hingga kamu tidak akan pernah merasa malu lagi padaku..." ujarnya lembut.


"Kak... Nanti ada yang masuk..."


"Memangnya kenapa? Semua sudah tahu kalau kamu adalah calon istriku sekarang... Jadi wajar kan kalau aku terlihat bermesraan dengan kekasihku yang cantik ini?" godanya.


Tiara kembali merasakan darah mengumpul di pipinya, yang berarti kedua pipinya itu kini memerah.


"Kamu mudah sekali tersipu seperti ini, My litle girl... Tapi aku suka melihatmu yang seperti ini... Begitu muda dan polos..." gumam Kenzou.


"A... Apa Kakak tidak berangkat kuliah? Atau kerja?" tanya Tiara.


Ia mengalihkan arah pembicaraan mereka, karena sudah tidak sanggup lagi menerima godaan pria itu.


"Dengan kondisimu yang seperti ini? Tidak... Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada saat kamu membutuhkan sesuatu, jadi aku akan tetap berada di sini, di sampingmu..." jawab Kenzou.


Tiara menghela nafas pelan, pria itu pasti akan bersikeras untuk tetap berada di sini, jadi ia tidak melanjutkan lagi pertanyaannya tadi.


Dan ia terharu, karena untuk pertama kalinya ada yang begitu perhatian padanya ketika ia sakit, selain mba Tina tentunya.


Kenyataan kalau orang itu adalah Kenzou, pria yang sangat ia cintai, membuat air mata Tiara kembali mengalir deras.


Ia tahu ia bukanlah wanita yang mudah menitikkan air matanya, kepahitan hidupnya telah membuat air mata terasa kering di kedua matanya itu.


Tapi entah kenapa bersama dengan Kenzou, membuatnya terlihat ringkih seperti ini. Dan ia mendapati dirinya ingin dicintai dan direngkuh pria itu ke dalam pelukannya.