
"Di mana wanita itu?!" tanya Kenzou dengan raut wajah dingin kepada salah satu bodyguardnya.
"Di sebelah sana, Tuan," jawab bodyguard itu sambil menunjuk sel kedua di ruang bawah tanah itu.
Setelah menepuk pundak bodyguardnya itu, Kenzou melangkah cepat ke kamar itu, dan kedua penjaga yang berdiri di depannya segera membukakan pintu itu untuknya.
"Waahh ... Ada malaikat turun ke bumi ... " gumam Dasha sambil menatap penuh kagum ke arah Kenzou yang baru saja memasuki ruangan itu.
Kenzou memberikan tatapan menusuknya pada wanita itu, sebelum beralih ke asisten pribadinya, Ariel.
"Dia masih terus melanjutkan aktingnya?" tanyanya.
"Ya, Tuan. Sejak tadi wanita itu terus saja asik mengoceh sendiri," jawab Ariel.
Kenzou melepas jas hitamnya dan melemparnya asal, Ariel bergegas mengambil jas itu dan melampirkannya di lengannya,
"Jadi kau sudah kehilangan akal sehat ya?" tanyanya sambil menggulung lengan kemejanya dan mendekati tempat tidur Dasha dimana kedua tangan dan kakinya dirantai.
""Pria tampan, apa kamu mau menyelamatkanku? Mereka bohong! Katanya mau mengajak aku ke pantai tapi malah membawaku ke rumah jelek ini!!" sungut Dasha sambil memberengut lalu secara tiba-tiba tawanya pecah.
"Tapi gapapa mereka tidak jadi membawaku ke pantai, karena ada malaikat tampan di sini."
Kenzou menatap tajam Dasha, terlihat raut jijik di wajah tampannya. Ia tahu wanita di depannya itu tengah berakting.
"Bawa ember itu ke sini, Riel!" perintahnya sambil duduk di kursi samping tempat tidur.
"Apa kamu mau memandikanku? Sudah lama aku tidak mandi! hmm sudah tiga tahun!" celoteh Dasha sebelum kembali tertawa geli.
"Apa kau pikir kau bisa mengelabuiku?!" tanya Kenzou, suaranya sama dinginnya dengan wajahnya.
"Abu? pik abu? apa aku pik abu? aku cinderella?" racau Dasha lagi, lalu menyeringai lebar sebelum melanjutkan,
"Kalau begitu kamu bukan malaikat, tapi pangeran tampan yang mau menyelamatkanku! Aku benar kan?"
Sejurus kemudian Ariel sudah kembali dengan menenteng satu ember air beserta gayung kecil di atasnya, lalu meletakkannya di bawah kaki Kenzou.
"Aku hanya memberimu satu kesempatan saja untuk mengakhiri kepura-puraanmu ini! Atau kau akan menyesali akibatnya!" ancam Kenzou.
Dasha mengerjapkan kedua matanya,
"Aku tidak mau mandi, aku sudah wangi."
Rahang Kenzou mengencang, ia mengambil satu gayung itu dan baru akan menyiramnya ke wajah Dasha tapi Ariel menahan tangannya,
"Biar saya saja, Tuan."
Kenzou membiarkan Ariel mengambil gayung itu, ia langsung berdiri dan memanggil bodyguardnya.
"Guard!"
Kedua bodyguard yang tadi berjaga di depan pintu langsung memasuki ruangan itu,
"Ya, Tuan."
'Tengadahkan wajahnya!" perintahnya dan kedua bodyguard itu langsung menegadahkan wajah Dasha.
"Kalian mau apa? Aku tidak mau mandi!" protes Dasha.
"Tuang air itu pelan-pelan, Riel!"
Setelah mengangguk, Ariel menuang air dari gayung itu ke hidung Dasha dengan pelan dan tanpa terputus, membuat wanita itu terseda.
Dan entah sudah berapa banyak air yang masuk ke lubang hidungnya itu, hingga wanita itu terbatuk-batuk dan bersin secara bergantian. Kedua tangan dan kakinya yang terikat mencoba berontak meski sia-sia.
Wanita itu terus terbatuk ketika air di gayung habis, untuk sesaat ia nampak kesulitan bernapas. Dan saat sudah dapat mengendalikan dirinya kembali, ia kemudian menggerutu,
"Sudah aku bilang aku tidak mau mandi!"
Ia terus melakukan itu hingga pada akhirnya Dasha menyerah juga,
"Stop!' pintanya ditengah batuk hebatnya,
Setelah melihat Kenzou menganggukkan kepalanya, Ariel berhenti menuang air ke wajah Dasha, dan kedua bodyguard tadi bergerak menjauh dari Dasha.
Kenzou kembali duduk di kursinya, ia menekan kuat-kuat rahang Dasha,
"Sekarang katakan padaku, kenapa kau berniat membunuh Tiara?" tanyanya dengan wajah bengis.
Dasha berusaha menjawab, tapi tertahan oleh batuknya, wanita itu terlihat begitu kesulitan bernapas dan tersiksa karenanya, tapi ia tidak peduli.
"Jawab!!" teriak Kenzou dengan tidak sabar.
"I ... Itu kecelakaan, Kak Zou," elaknya sebelum terbatuk lagi.
"Oh, jadi masih belum mau mengaku. Baiklah kalau itu memang pilihanmu, lanjutkan lagi, Riel!"
Ariel sudah bersiap menuang air itu ke wajah Dasha kembali, tapi wanita itu mencegahnya,
"Tunggu! Jangan lakukan itu lagi aku mohon, aku bisa mati!"
"Cepat lakukan, Riel!!" geram Kenzou lalu beralih ke kedua bodyguard tadi,
"Dan kalian, tengadahkan lagi wajahnya!"
"Tunggu Kak Zou ... " desah Dasha, wanita itu sudah setengah sadar karena kurangnya oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya,
"Aku bicara jujur, Kak. Itu hanya kecelakaan," akunya sebelum tidak sadarkan diri.
"Bangunkan dia dengan cara apapun, saya tidak mau membuang waktu saya lebih lama lagi!"
Ariel mengangkat ember itu, dan menyiram seluruh isinya ke wajah Dasha, dan wanita itu siuman lalu kembali terbatuk-batuk dengan lebih parah dari sebelumnya.
"Isi penuh lagi!" perintah Ariel pada salah satu bodyguard sambil menyerahkan ember kosong itu padanya.
"Masih mau terus menyangkal?" tanya Kenzou tanpa belas kasih.
"Aku akan menuntutmu karena telah menahan dan menyiksaku!" geram Dasha.
Kenzou kembali menekan kedua pipi Dasha dengan tangan kanannya,
"Silahkan, itupun kalau kau bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan utuh dan bernyawa!"
"A ... Apa maksudmu?"
Kenzou mencondongkan sedikit badannya ke arah Dasha, suaranya sama mematikannya dengan tatapan tajamnya itu,
"Pertama! Aku akan mengirim irisan telinga kananmu kepada Papamu! Kedua, aku akan mengirim telinga kirimu ke Mamamu! Mereka pasti mengenali anting-antingmu itu, ya kan?"
"Kau ... "
"Ketiga!" potong Kenzou tajam,
"Aku akan mencongkel kedua bola matamu dan mengawetkannya di sana!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah sebuah rak yang terdapat beberapa pasang bola mata yang mengambang di dalam toples transparan.
Terlihat begitu menjijikkan hingga Dasha harus menahan muntahnya, atau ia akan mati dengan berkubang muntahannya sendiri.
Kenzou tersenyum sinis sebelum kembali menjelaskan, "Dan selanjutnya, aku akan mencincangmu dan memberikannya pada anj1ng jalanan!!"
Wajah Dasha kembali memucat, ia berusaha keras menelan ludahnya, Sekujur tubuhnya gemetar hebat.
Pria ini benar-benar menyeramkan. Lebih kejam dari yang aku dengar dari perkataan orang-orang.