Kenzou

Kenzou
Rengekan Dasha



"Ra... Aku benar-benar tidak tahu kalau Mama dan Papa bisa setega itu dengan membunuh Om dan Tante... Jadi tolong bujuk Kak Zou untuk tidak menghukumku..." pinta Dasha memelas sambil berlinangan air mata


"Kamu seharusnya bersyukur, Cha.. Karena Kak Zou hanya menghukummu untuk membantu pekerjaan rumah saja." balas Tiara sambil mengarahkan matanya ke seluruh kamar yang dulu menjadi kamar kedua orang tuanya itu.


"Tapi, Ra..."


"Percuma kamu merengek seperti itu, Cha. Kak Zou tidak akan merubah keputusannya itu!" potong Tiara tajam.


Tiara mendesah pelan sebelum menambahkan,


Ia sudah lelah karena sejak ia kembali dari rumah sakit, Dasha selalu saja merengek padanya. Memohon memintanya untuk membatalkan hukuman yang sudah diberikan Kenzou padanya itu.


"Sudah untung aku dapat membujuknya untuk tidak mengusirmu dari rumah ini. Kamu tahu sendiri perbuatanmu dulu padaku, Cha... Seharusnya aku dendam padamu, tapi ternyata tidak. Aku tidak memiliki rasa dendam itu, mungkin karena kamu adalah saudaraku, sepupuku."


"Setidaknya minta pada Kak Zou, untuk membiarkanku tidur di kamar lain selain kamar pembantu..." rengek Dasha lagi.


"Apa kamu mau saya pindahkan ke balik jeruji penjara, dan tidur di sana?!" tanya suara dingin dari ambang pintu, membuat Tiara dan Dasha langsung tersentak kaget.


"Setidaknya milikilah rasa malu meski hanya sedikit, setelah apa yang pernah kamu lakukan padanya!"


Tiara tersenyum lebar melihat kedatangan kekasihnya itu, yang seperti biasa, terlihat tampan dengan pakaian apapun yang ia kenakan, seperti saat ini Kenzou terlihat santai dengan kaos dan celana jeansnya itu.


Meski begitu, tetap saja aura berkuasa memancar dari pembawaannya yang santai itu.


"Kak Zou... Sejak kapan kamu datang?" tanya Tiara sambil menghambur ke dalam pelukan Kenzou.


Kenzou melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Tiara, lalu menariknya hingga tubuh mereka saling menempel erat,


"Sejak sepupumu itu memintamu membujukku untuk membatalkan keputusanku itu..." jawabnya.


Lalu tiba-tiba Dasha sudah berada di samping mereka, dan kini tengah memegang bahu Kenzou.


"Kak... Tolong jangan membuatku seperti itu. Aku tidak akan sanggup, Kak." pintanya.


"Jauhkan tanganmu dariku!!" desis Kenzou dan Dasha langsung menjauhkan tangannya itu.


Tiara melepaskan pelukannya, lalu menatap tajam Dasha yang sudah berani menyentuh Kenzounya.


"Lebih baik kamu membantu Mba Tini, Cha... Singkirkan barang-barang Om Danu dan Tante Risya dari kamar ini!" seru Tiara.


"Tapi Ra..."


"Apa kau berani membantah Tiara?!!" potong Kenzou tajam, Dasha langsung menundukkan kepalanya.


"Tidak..."


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat lakukan apa yang wanitaku itu perintahkan tadi!"


"Baik, Kak."


Setelah melirik kesal Tiara, Dasha melangkah ke arah lemari, dimana mbak Tini sedang mengeluarkan semua pakaian Om Danu dan Tante Risya.


Kenzou kembali membalik badan Tiara ke arahnya, lalu menyelipkan rambutnya ke balik telinganya. Ia tersenyum lembut sebelum berkata,


"Aku senang, kamu sudah mulai bersikap tegas padanya..."


Tiara mendesah pelan sebelum menjawab, "Aku hanya lelah saja dengan segala rajukannya itu... Dasha tidak berhenti memohon padaku sejak aku kembali ke rumah ini."


"Apa kamu mau aku memindahkannya ke tempat lain?" tanya Kenzou.


"Ke mana?"


"Kemanapun kamu mau aku akan mengirimnya, meski ke ujung benua sekalipun."


Tiara kembali memeluk erat Kenzou, "Itu tidak perlu, aku masih bisa mengatasinya."


"Kalau memang itu maumu, gadis kecilku..."


"Kenapa Kakak sudah ke sini lagi? Baru saja tadi pagi Kakak mengantarku pulang..."


"Ya Tuhan, Kak... Baru hitungan jam kita berpisah dan Kakak sudah mulai kangen padaku."


"Sepertinya aku harus segera menikahimu... Supaya kita tidak terpisah seperti ini lagi." tekad Kenzou, membuat Tiara langsung menjauhkan sedikit badannya dari pria itu.


"Aku belum mau menikah... Aku masih mau terus kuliah..."


"Keizaa sudah menikah, tapi tetap bisa melanjutkan studynya, Ra... Kamu pun bisa seperti itu." bujuk Kenzou.


"Tapi..."


"Tapi apa lagi?" tanya Kenzou dengan nada geli.


"Tapi aku belum siap menikah...." jawab Tiara dengan wajah yang mulai merona merah.


"Menunggumu siap? Mungkin hingga kepalaku dipenuhi uban baru kamu akan siap, Ra..." kekeh Kenzou, rona di wajah putih Tiara semakin terlihat jelas.


Tiara memberengut kesal, "Tidak akan selama itu... Satu tahun? Bagaimana kalau kamu memberiku waktu selama satu tahu?"


Kenzou mengelus-elus dagunya, seolah-olah terdampat janggut panjang di sana.


"Hmmm satu tahun yaa... Tapi aku sudah tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya, Ra..."


"Kak..."


"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu satu tahun, dan tidak akan ada lagi penolakan, Ok?"


Tiara mengangguk penuh semangat, "Ok!"


"Sekarang ikut aku!" seru Kenzou sambil menarik tangan Tiara.


"Ke mana?" tanya Tiara.


"Kamu akan tahu setelah sampai di bawah," jawab Kenzou.


Sambil tersenyum lebar, Tiara terus mengikuti langkah kaki Kenzou. jemari tangan mereka saling terkait, dan Kenzou menggenggamnya dengan erat.


"Ya Tuhan!" pekik Tiara saat melihat ruang tamunya dipenuhi dengan gaun-gaun indah.


"Hadiah dariku untuk kesembuhanmu..." ujar Kenzou, ia tersenyum lembut pada kekasihnya itu.


"Apa ini tidak terlalu banyak, Kak? Lemari pakaianku tidak akan cukup menampung semuanya...."


"Kalau tidak cukup, aku akan membelikan lemari pakaian baru untukmu," jawab Kenzou santai.


Lalu mata Tiara tertuju pada satu gaun, yang ia kenali sebelumnya. Tapi saat ini berada di tangan Dasha, setelah Om Danu memintanya untuk menyerahkan gaun pemberian Keizaa itu pada sepupunya itu.


Tiara menyusuri gaun itu, ia sangat menyukainya, dan hatinya terasa sakit saat harus menyerahkannya pada Dasha. Dan gaun ini, mirip sekali dengan gaun pemberian Keizaa itu.


"Kamu masih ingat gaun itu?" tanya Kenzou lembut sambil melingkarkan lengannya di pinggang Tiara.


"Maksud Kakak? Jangan bilang kalau gaun ini..."


"Ya, gaun ini adalah gaun yang sama dengan yang Dasha rebut darimu," Kenzou meneruskan kata-kata Tiara yang terputus itu.


Wanita itu langsung menangkup mulutnya, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke gaun itu lagi.


"Aku merasa tidak enak hati pada Zaa, saat menghadiri pesta ulang tahunnya tanpa mengenakan gaun yang ia berikan padaku," desah Tiara.


"Memang Zaa tidak membahasnya, tapi tetap saja aku merasa tidak enak hati saat itu," lanjutnya.


"Ara... Gaun itu adalah pemberian dariku, bukan dari Keizaa. Jadi wajar kalau Zaa tidak mengungkitnya, karena dia memang tidak tahu-menahu mengenai gaun itu. Tapi aku, aku yang merasa dongkol saat itu, karena kamu tidak mengenakan gaun yang aku pilih sendiri untukmu itu."


Tiara menatap Kenzou dengan tatapan tidak percaya, saat itu mereka belum terlalu dekat, tapi pria itu sudah memberinya sebuah gaun.


Seolah mendengar kata hati Tiara itu, Kenzou kembali berkata,


"Aku mendengar percakapanmu dengan Zaa saat kamu bilang kamu tidak memiliki gaun berwarna hitam. Jadi aku langsung membelinya untukmu."