It'S A Sweet Trap

It'S A Sweet Trap
chapter 08



"Maaf"


hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir tipis Elroy. Ia memang bukan pria romantis, Bahkan Elroy tak tahu cara memenangkan hati seorang wanita. Bagaimana pun rasa sayangnya pada mendiang Evgania. Ia tak pernah menunjukan rasa sayangnya itu, Bukan tak pernah hanya saja ia tak tahu caranya, Baginya rasa sayang tak perlu di umbar. Elroy selalu memperhatikan Evgania dalam diam.


Perkataan Elroy spontan membuat Alana menoleh kearahnya. Ada rasa kesal tapi ia juga bersalah dalam hal ini. Takdir mereka memang kejam, Kesialan datang tanpa permisi terlebih dahulu. Kini Elroy menatap Alana dalam-dalam dengan rasa penyesalan yang terpancar dari matanya.


"Aku Elroy dan kau pasti Alanakan. Maafkan aku. Aku tahu kata maaf bahkan tak cocok mengingat dosa besar yang ku lakukan padamu. Kau boleh menghukum ku. Pukulah aku" Elroy menarik kedua tangan Alana, menuntun tangan mungil itu untuk memukul wajahnya. Alana yang tersadar berusaha keras menahan tanganya.


"Berhenti!" teriak Alana.


"Kau memang brengsek... Kau bejat... Kau ******** tapi percuma aku menghukumu itu takan merubah apa pun. Aku juga bersalah dalam hal ini. Jika saja aku tidak ceroboh aku pasti tak akan mengalami hal sial itu" Alana menangis menutupi wajah dengan kedua tanganya.


Elroy menghela nafas pelan. Ia benar-benar merasa sudah menghacurkan gadis di depanya ini. Elroy mengalihkan pandangan menatap keadaan luar. Dia tak sanggup melihat wanita itu menangis terlebih dialah penyebabnya. Sesaat isakan itu perlahan menghilang. Elroy mencoba mecari maaf dari wanita yang sekarang sedang sesegukan di sampingnya.


"Apakah kau hamil?" Kata Elroy lirih dan perkataan itu membuat Alana kembali mendidih. berhasil membuat Elroy mendapat lirikan tajam dari Alana.


Gadis itu benar-benar kesal di saat dia ingin melupakan kejadian terkelam dalam hidupnya. Tapi pria di depanya selalu mengungkit kejadian itu. Ingin sekali Alana mencakar wajah tampan nan rupawan ini sekarang.


"Aku tidak hamil!... Kau aman!.... Jika itu yang kau takutkan!. Jika pun aku hamil kau tak berhak membunuh anakku!!! Kau bebas aku takan meminta pertanggung jawabanmu!" bentak Alana dengan kekesalnya yang memuncak.


Demi Tuhan perkataan menohok itu membuat dada Elroy sesak. Ia bahkan tak pernah memikirkan untuk membunuh anaknya sendiri. Bahkan membayangkannya saja tidak.


Jujur Ada rasa kecewa karena wanita itu tidak megandung anaknya. Entah apa yang ada di pikiran Elroy saat ini. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Elroy menatap Alana yang menangis dengan mengalihkan wajahnya melihat keadaan luar. Bahkan dengan air mata dan kekesalan yang memuncak tak mengurangi kecantikan gadis itu.


"Maukah kau menikah denganku?"


Deg!!


Sepontan perkataan Elroy membuat Alana tercekat. Bagaimana tidak? Bahkan ia tak pernah memikirkan pria yang kini berada di sampingnya akan bertanggung jawab.


Jelas sekali pria ini Terlihat tampan dan mapan. Ia memakai pakaian mahal dan paling penting pria itu tidak asli warga Indonesia, walaupun ia fasih berbahasa Indonesia dan logat asing masi kental dalam setiap ucapanya. Lucu bukan? Ia akan  menikahi seorang gadis, bahkan sekali pun tak pernah merasakan bahagia.


Alana merasa tidak yakin. Mungkin pria ini bercanda mengingat pria ini adalah pria player. Itu mengingatkan Alana pada sosok Sondy. Baginya jika pria suka bermain perempuan itu takan pernah berubah.


Karena wanita di luar sana banyak yang lebih bisa memuaskanya. Ia tak ingin mengulang rasa sakit yang di alami ibunya. Dan yang terpenting adalah Alana tak ingin menjadi ibunya yang kedua. Menyesal! dalam pernikahan dan berakhir meninggalkan anaknya.


"Menikahlah denganku. Maka aku akan jadikan kau ratuku. Hanya kau" kata Elroy yang mengerti dengan kebungkaman Alana.


"A..ku"


"Kau boleh memikirkanya. Aku takan memaksa. Kau berhak memilih jalan hidupmu"


Dan kau harus menjawab IYA. Kau milikku ... hanya aku.batin Elroy


Kruuuukkk !!!


Sontak Suara perut ini membuat suasana yang tadi haru menjadi hening. Alana menyadari dari mana suara itu berasal dan begerak cepat menutup perutnya. Ia sangat malu. Bahkan Alana rela saat ini ia harus di benamkan di laut yang banyak hiunya.


"Maaf.. aku haru---" kata Alana sembari buru-buru akan membuka pintu mobil. Namun pergerakan dan perkataannya terhenti saat Elroy mencengkal tanganya.


"Mau kemana?" Tanya Elroy dengan mengernyitkan dahi. Sebenarnya Elroy ingin meledakan tawanya tapi ia sadar dengan tingkah gadis di sampingnya yang sedang mati-matian menahan malu.


"Pulang"


"Kau lapar? Kita makan dulu. Aku juga ingin mengenalmu lebih dekat"


Deg!!! Deg!!! Deg!!


Perkataan lembut itu membuat jantung Alana berdetak tak beraturan. Alana benar-benar gugup Ia mencoba menetralkan rasa gugupnya. Tapi rasa gugupnya bertambah saat Elroy mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mulai terpangkas habis. Deg deg deg. Jantung itu berdetak sangat kuat seolah akan keluar dari rongganya. entah mendapat bisikan dari mana Alana malah menutup kedua matanya.


Bukk!!!


Suara itu menghentikan pikiran erotis yang kini menghiasi kepala cantik Alana. Ternyata Elroy mendekatinya hanya untuk menutup pintu mobil yang tadi sempat di buka oleh Alana. Elroy tersenyum geli melihat kepolosan gadis di depanya.


Sedangkan Alana. Ia merasa wajahnya memanas menahan malu. Mungkin wajah Alana kini sudah semerah tomat. Ia benar-benar ingin menengelamkan tubuhnya di dasar lautan agar tak bertemu lagi pada pria yang sedang berada di sampingnya ini.


Alana kian larut dalam pikiranya hingga tak sadar saat mobil yang ia naiki telah berjalan. Alana terkejut langsung memukul mukul kaca mobil. Berbalik arah mencoba mengoncangkan tubuh kekar Elroy.


"Hey bang. Berhenti. Motorku ketinggalan!!!" kata Alana seolah tak ada lagi kecanggungan di antara mereka.


Elroy hanya tersenyum dan tak memperdulikan goncangan Alana. Sejujurnya Elroy sedang menikmati sentuhan wanita ini pada tubuhnya. Ia fokus memutar stir mobil karena ingin kluar dari perkarangan cafe itu.


"Hey. Berhenti... motorku ketinggalan sir!" Alana sangat panik dengan sesekali melihat kaca belakang mobil. Seolah ada anaknya sedang tertinggal di sana.


"Aku punya nama nona" Elroy mulai lelah dengan rengekan Alana yang tak jelas. Baginya kepanikan Alana tak beralasan.


"Siapa namamu tadi. Roy? Hey Hentikan mobilmu ini. Motorku ketinggalan!" mendengar kata Roy membuat Elroy mendidih.


Ia benci dengan sebutan itu. Roy? Yang benar saja. Nama itu membuatnya mengingat luka lama. Elroy menghentikan mobilnya dan dengan cepat Alana ingin membuka pintu mobil. Tapi sialnya Pintu mobil itu di kunci oleh Elroy dengan otomatis.


"Hey Roy.. buka pintunya" Alana masih tak menyadari dengan keenganan Alana. Elroy menghela nafas kasar. Mencoba mengontrol emosinya yang baru tercipta Ia benar-benar kesal sekarang. Tapi ia tak ingin menyakiti wanita yang saat ini sedang bersamanya.


"Just El our Elroy, Oke" Ucap Elroy dengan emosinya yang sedikit mengurang.


Alana sedikit menaikan satu alis, gadis itu terlihat bingung. Come on bambang, memangnya Apa bedanya dengan kata El, Roy dan Elroy. Bukankah itu namanya. Alana lebih memilih tak  begitu memikirkanya. Baginya yang paling penting adalah motor kesayanganya. woy! biar ronsokan itu masih mahal jika di jual.


"Oke El. Aku tadi kesana membawa motor. Dan motorku sekarang ketinggalan. Kita harus kembali. Ini sudah terlalu jauh kau membawaku" Alana menjelaskan detailanya berharap pria ini mengerti.


Emosi Elroy menghilang seketika. Ia terpesona oleh kecantikan alami wanita yang berada di sampingnya ini. Dengan meletakan tangan di stir mobil yang bertugas menompang wajahnya. Ia menatap Alana dalam dalam.


"Hey. Apa kau budek?!" Alana mencoba menyadarkan Elroy yang mulai kehilangan akal sehatnya


"Kau sangat cantik, tapi terlalu berisik" kata Elroy masih dengan senyuman manisnya. Alana sendiri heran itu barusan apa? Pujian atau hinaan? Atau campuran keduanya?


"Terserah. Ayo kita kembali aku butuh motorku!"


"Apa benda itu bisa di sebut kendaraan? Tenanglah aku sudah menyiapkan mobil berserta supir untukmu" kata El yang kini mulai menjalankan mobilnya.


"Tidak. Aku tidak butuh El. Aku hanya ingin motorku kembali. El ku mohon" Alana kini terlihat memohon. Sepertinya motor rongsokan itu adalah sebagian dari nyawanya dan sangat berarti untuknya.


"Tenanglah. Supir ku sudah mengurusnya. Pemilik cafe itu pasti marah dengan adanya benda itu disana. Siapa yang takan marah saat kau meletakan sampah sembarangan" ucap Elroy datar dengan wajah tak bersalah dan masih di hiasi senyuman tipis lalu fokus menatap jalan di kota Jakarta


"Jangan menghina motorku, ayo kita kembali. Kuncinya ada bersamaku. Bagaimana paman itu bisa membawanya" Alana kini kembali mengoncang tubuh Elroy.


"Itu bukan masalah. Bahkan supirku tak akan mau mengendarai benda itu. Ia lebih sayang nyawanya. Kau tinggal beritahu aku dimana alamat rumahmu. Dan benda itu akan sampai disana. Sekarang diamlah. Atau kau ingin aku menutup mulutmu dengan ciuman panas kita" balas Elroy dengan sebuah ancaman a.k.a Ancaman yang manis.


Alana lantas langsung menutup bibirnya. Ia tak ingin mengambil resiko berhadapan dengan pria gila yang sedang bersamanya. Lagi lagi jantung Alana seperti lari marathon. Tangan kanannya menyentuh dada yang sedang berdetak menggila dan mengalihkan tatapanya. Ia memilih untuk Menikmati pemandangan malam kota Jakarta.


.


.


.


.


.


Tbc


Give me vote and comentnya bebe


Thanks banget buat yang udah mau vote. Tulungin juga coment spamnya ya bebe 🤣


Biar kek novel novel lain 🤣


#penulisgaktaudiri


jangan lupa share keteman kamu ya. love u 😘