
Elroy duduk di lantai di antara kursi besi yang bersisian. Pria itu terlihat begitu hancur dengan kemeja yang terlihat sedikit lusuh dan rambut yang mencuat keatas mungkin sedari tadi ia *** rambutnya karena frustasi.
Punggungnya yang kokoh bersender dengan pasti di dinding dingin di rumah sakit itu. Mata itu tertunduk lesu menatap lantai. Kedua tanganya bersanggah pasrah di atas kedua tekukan kakinya.
Elroy tak pernah berfikir kalau ia harus kembali menghadapi situasi ini. Duduk berdiam diri di depan ruang operasi tanpa berbuat apa apa. Selain berdoa kepada tuhan untuk keselamatan Alana. Elroy butuh Alana.
Hanya Alana!
Egois bukan? Bukan karena ia tak menantikan kedua anaknya tapi baginya Alana saja sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Menemani keseharianya sampai waktu 'itu' tiba.
Bahkan Elroy telah berjanji dalam dirinya setelah ini jika tuhan masi berbaik hati untuk memberikan mereka kesempatan. Ia akan tak ingin membuat Alana menderita sperti ini.
Derap langkah kaki berlarian perlahan mendekat, namun Elroy tetap tak memperdulikannya. Itu Lauro ia bergegas berlari dari ruangan operasi di gedung lain di rumah sakit ini. Setelah mendapat kabar bahwa Alana dalam kondisi kritis dan sekarang sedang tergeletak di atas meja operasi.
Dan itu terlihat jelas dengan stelan yang ia gunakan saat ini. Baju hijau khas dokter bedah.
Melihat kondisi Elroy saat ini. Ia ingat situasi ini pernah terjadi, dulu, Saat Ev 'pergi' Elroy begitu terpukul di depan ruang jenazah. Lauro memilih berjalan pelan menghampiri Elroy dan duduk di kursi tak jauh dari Elroy. Pria itu memilih diam dan tak membuat banyak pertanyaan apa lagi sok menjadi pahlawan penenang. Karena menurutnya orang yang dalam keadaan seperti itu hanya butuh ketenangan.
Elroy menaikan kepala lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Siapa pun tahu pria itu sekarang sedang menangis. Khawatir, takut, panik, gelisah semuanya datang menghatam kepala Elroy saat bersamaan.
"Al ku mohon maafkan aku" suara lirih Elroy nyaris tak terdengar. Elroy mengingat bagaimana kejamnya ia merampas kebahagiaan Alana. Bahkan hidup wanita itu kini masuk dalam aturanya.
Cinta memang tidak bisa di atur. Kita tidak punya kekuatan untuk mengatur kemana hati ini akan berlabuh tapi ego Elroy memberikan banyak kesakitan pada Alana. Karena nyatanya, bahkan sejak awal pertemuan mereka semuanya hanya kesalahan dan tuhan sudah pernah memisahkan mereka. Tapi lagi lagi ego Elroy yang membuatnya semua menjadi kenyataan.
Sayup sayup suara cemas Angel terdengar. Tapi menyadari keadaan Elroy, micel memilih menarik angel pergi dari sana dan memberikan tatapan peringatan padanya. Untuk mengerti keadaan bahwa yang terluka saat ini bukan hanya dia.
Pangilan Lauro menyadarkan kegundahan Elroy. Bahwa saat ini operasi telah selesai dan dokter sebentar lagi akan keluar.
Saat Elroy berdiri pintu ruangan operasi terbuka yang keluar ternyata hanya seorang suster dan dua box bayi. Suster itu berlalu Elroy tak sedikit pun menoleh kearah bayi itu. Ia hanya fokus menunggu dokter.
"Bagaimana keadaan istriku?"
Dokter yang baru saja melepaskan maskernya terdiam. Lalu mengambil nafas pelan.
"Selamat anda telah menjadi seorang Ayah dengan dua bayi laki laki yang super tampan"
Bukan itu yang ingin Elroy dengar!
"Bagaimana keadaan ISTRIKU?!"
Elroy menekan kata di akhir kalimat. Ia begitu tak sabar dan ia sangat benci orang yang betele tele.
"Istri anda baik baik saja. Kondisinya stabil ia masih dalam pengaruh obat" mengabaikan kalimat akhir dokter itu. Karena yang ia butuhkan hanya pujaan hatinya baik baik saja. Elroy langsung masuk ke dalam ruanga operasi.. melewati lorong kaca dan akhirnya di sana, ruangan yang hanya terhalang kaca ini. Wanitanya terbaring tak sadarkan diri. Dengan beberapa perawat dan dokter yang sedang melakukan tahap akhir dari pembedahan.
"Syukurlah kau baik baik saja sayang" elroy menyentuh kaca itu seolah sekarang ia sedang menyentuh Alana. Sangat lembut.
"Dia baik baik saja... sebentar lagi ia akan di pindahkan ke kamarnya. Bagaimana sekarang kita melihat jagoan kita?"
"Jagoan?"
Hell.. jangan bilang kau lupa kenapa Alana berada disana El!
Pertanyaan apa itu? Lauro mendengus pelan dan bersedekap lalu berseder di depan dinding kaca.
"Apa kau lupa? Hari ini anakmu LAHIR!"
"Lahir? MEREKA JUGA SELAMAT?"
Elroy terlihat antusias mendengar kalimat itu.
Lauro menaikan satu alisnya. Ia tak mengerti kenapa Elroy bisa sebodoh ini. Atau memang sebenarnya ia sebodoh ini? Lalu kenapa Mclan bisa bediri saat ini di bawah naungannya?
Ayah macam apa yang mengharapkan anaknya tiada?
Lauro memiting leher Elroy walaupun Elroy sedikit lebih tinggi darinya tapi nyatanya saat ini elroy tak begitu sulit untuk mengimbanginya.
"Apa yang.. uhuk coba ka..u lakukan L"
"Mari kita lihat keturunan morales"
"ITU ANAKKU" Bantah Elroy tak terima
"Bukankah kau tak menginginkan mereka?"
Dengan sekali sentap Elroy terlepas dari pitingan tangan Lauro.
"Wah.. kau begitu kuat? Atau karena aku yang kelelahan?" balas lauro yang sedikit mengosok tanganya yang ia rasa sedikit sakit.
"Dimana ruangan mereka?"
"Owh anakku? Ayo" lauro tersenyum lalu berjalan mundur lalu menujukan arah
"L" elroy menatap Lauro dengan tatapan penuh peringatan. Memangnya siapa yang bisa mengambil milik Elroy?
See.. dia mulai dengan sifat arogan, egois dan posesifnya. Memangnya Elroy bisa hidup tanpa sifat itu semua? Jika iya mungkin dia sudah Harus gantiย nama.
Saat Elroy dan lauro memasuki ruangan besar yang cukup hangat dengan lusinan atau lebih box bayi.
Entah kenapa dadanya terasa hangat. Elroy belum pernah merasakan ini sebelumnya. Lalu seorang perawat wanita menutun elroy untuk mendatangi 2 buah box bayi.
Disana ada junior christian Mclan. Sebutir kristal bening dengan lancang membasahi pipinya.
Suster itu mengendong seorang bayi laki laki dan memberikanya pada Elroy. Suster itu seakan tau apa yang seharunya ia lakukan.
Tak ada sepatah kata pun yang kluar dari bibir Elroy. Wajahnya cukup menyiratkan bahwa ia benar benar bahagia. Pasalnya senyuman haru itu tak pernah lepas dari wajahnya
Elroy merunduk dan mecium lembut bayi mungil itu. Lalu ia melihat kearah Lauro dengan tangis bahagianya. seolah memamerkan ini adalah hartanya yang paling berharga. Lauro hanya tersenyum melihatnya.
Lalu bergantian dengan bayi laki laki satu lagi. Melakukan hal yang sama. Saat keduanya telah berada dalam box bayi yang berdampingan.
"Selamat datang jagoan daddy... kalian hebat! Maafkan daddy nak"
Elroy menjelaskan pada kedua bayi itu dengan suara lirih seolah itu adalah rahasia mereka bertiga.
Bahwa Elroy bukan tidak menginginkan keberadaan mereka. Malah Elroy berharap amat sangat hari ini cepat datang. Hanya saja Elroy tak ingin bersikap serakah di hadapan tuhan. Karena dia bukan manusia baik, apakah ia tak terlalu keterlaluan? Meminta banyak hal?
Dan karena rasa bersalah Elroy yang merampas kehidupan Alana. Tujuannya kini hanya ingin membahagia wanita itu.
Tapi rencana Tuhan lebih baik dari yang mereka kira. Elroy di berikan Alana dan dua jagoanya oleh yang maha kuasa.
"Setelah kalian dewasa daddy pasti akan menceritakannya lagi. Sehingga terserah kalian menilai daddy seperti apa"
Elroy sedikit meringis mengingat sikapnya hari ini. Dia bukan hanya lelaki tak baik ternyata ia juga bukan suami dan ayah yang baik. Tapi ia akan berusaha menjadi manusia yang baik untuk keluarganya. Ia ingin mendapatkan gelar suami dan ayah dengan sikapnya sendiri
๐ถ๐ถ
Alana terbaring di kasur dengan perasaan hangat. Kini ia telah berganti status dari istri menjadi seorang ibu dengan dua bayi laki laki super duper tampan.
Ini hari minggu berarti sudah hari ketiga setelah Alana melahirkan dua bayi kembar ini. Elroy yang duduk di sofa tak jauh dari Alana melihat tab di atas nakas dengan tangan kiri yang tak hentinya mengengam tangan kiri Alana.
Ada beberapa file yang harus ia cek Dan ia harus mengecek tugas seorang pria yang tempo hari mengantarkannya kerumah sakit.ย Ya.. Elroy merekrut pria itu untuk bekerja di perusahaannya. Sebelum mengangkat pria itu menjadi karyawan. Come on dude ini bukan perusahaan amal Elroy juga harus mempertimbangkan seseorang layak atau tidak untuk jadi bagian kantor.
Di sana juga ada micel dan angel. Di sofa tengah bermain dengan kedua bayi kembar mereka Vianno fransco Mclan dan Viandry fransco Mclan.
"Oke... bawalah dia masuk!" Ucap elroy dengan pria di seberang telfon.
"Aku ada hadiah untukmu sayang. Ayo duduk dulu" Elroy membantu Alana untuk duduk.
"Apa?"
Tak lama kemudian pintu kamar Alana terbuka. Namun bukan suara pintu terbuka yang mengalihkan perhatian Micel dan Angel tapi karena suara Alana.
"Ibu...?!"
Wanita yang tadi tersenyum saat masuk mendadak membatu tak jauh dari pintu. Secepat yang ia bisa wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya. Ia memastikan apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat adalah kenyataan.
Setelah beberapa detik menangkap apa yang terjadi saat ini. Wanita itu tersadar dan berbalik meninggalkan ruangan. bahkan halangan para pria yang mengantarnya tadi tak ia gubris. Yang tertinggal hanya teriakan pilu menyayat hati dari Alana.
"Ibu!!!.." tak keberdayaanya karena kondisi fisiknya yang masi lemah karena pasca operasi membuatnya tak bisa berbuat banyak. Elroy mencoba menenangkan Alana.
Bahkan Angel yang dari tadi sibuk menggendong Vianno kini meletakan kembali bayi itu dalam box. Lalu secepatnya berlari ketempat Alana untuk menenangkan wanita itu.
"Mom jaga Alana, aku ingin berbicara pada Wanita itu" raut wajah murka yang kini di tampilkan oleh Elroy.
Angel mengangguk sambil mencoba memeluk Alana. Seolah wanita paruh baya itu yang notabene adalah mertuanya. Kini betindak sebagi ibu kandungnya.
"Tunggu!!!"
"Aku bilang berhenti!!!"
Cuma Elroy yang bisa berbicara selantang itu di dalam Rumah sakit besar ini. Para pria berjas hitam itu memegangi wanita itu secara paksa bahkan teriakan dari wanita itu tak di hiraukan. tidak ada yang berani mengunakan kekerasan pada wanita ini. Karena para pria itu sadar, Wanita ini kini telah masuk menjadi salah satu keluarga Mclan.
Di sini di koridor sepi ini. Hanya ada Elroy dan maya-- ibu kandung alana.
Elroy menatap keluar gedung kaca melihat pemandangan langit dengan awan yang berteman baik.
"Kenapa?"
Elroy berbalik dan melirik wanita yang berdiri di belakangnya. Elroy menaikan satu alis seolah ia tak sabar ingin mengetahui apa yang ingin di sampaikan wanita ini.
"Siapa kau?"
"Saya adalah suami Alana. Anak KANDUNG ANDA!" Ucap elroy dalam bahasa indonesia. Dengan nada yang terdengar cukup mengerikan.
Maya cukup terkejut mendengarnya. Pasalnya di lihat dari pakaian bagus Elroy pria ini cukup termasuk pria berpengaruh. Apakah benar Alana menikah dengan orang kaya?
"Kenapa kau membawaku kesini tanpa memberi tahukan kebenaranya! Kenapa kau mempertemukan aku kembali dengan dia?"
Elroy cukup terkejut dengan ucapan yang terlontar dari bibir maya. Benarkah wanita seperti ini yang melahirkan istrinya?
Bagaimana sakitnya Alana mendengarkan ucapan wanita ini?
Wanita yang ia kagumi sampai saat ini.
Wanita yang mebuat Alana kuat untuk menerima bebagai cobaan.
Elroy trus bertanya dalam hatinya. Kenapa Alana harus menjalani kehidupan pahit tanpa batas?
"Karena ku fikir anda manusia" cuma Elroy yang berbicara setenang itu tapi terdengar mengerikan oleh lawanya.
"Karena ku fikir istriku benar... bahwa ibunya adalah manusia yang baik"
Maya terdiam seribu bahasa
"Ternyata aku salah!"
Satu kalimat itu menjadi tamparan kuat bagi maya.
"Aku sudah memiliki kluarga baru. Suami dan anak yang begitu menyayangiku. Tindakan bodoh ini hanya akan membuat banyak hati terluka"
Elroy mengepal tangan. Ia ingin menghajar siapa pun untuk melepaskan amarahnya tapi kali ini ia berusaha mati matian untuk menenggelamkan emosinya.
"Lalu kau biarkan hati Alana terluka? Kau biarkan dia menunggumu? Seharusnya ia tahu siapa dirimu sehingga dia cukup menghentikan rasa kagumnya padamu"
"Itu hanya hatinya? Jika semua terbongkar bukan cuma hatinya yang terluka. Tapi suami dan kedua anak ku akan hancur karena kebohonganku" maya mengatakan sambil menangis. Benar itu adalah ketakutanya. Memangnya manusia mana yang akan menerima manusia spertinya?
Seorang ibu yang meninggalkan anak perempuannya dalam bahaya. Lalu menikah dan hidup bahagia?
Hanya?
Bagi Elroy Alana adalah segalanya. Bisanya manusia ini menganggap Alana hanya manusia buangan. Bahkan untuk mengeluarkan amarahnya Elroy tak sanggup. Mengingat bagaimana hidup yang Alana jalani hanya untuk bertemu dengan ibunya. masi ingat bukan Alasan Alana tak pergi dari rumah ayah tirinya, hanya berharap ibunya kembali.
Semuanya membuat dada Elroy terasa nyeri.
"Tck, aku membawamu kesini bukan untuk merusak hubunganmu. Aku hanya ingin Alana tahu bahwa ibunya adalah makhluk sperti ini. Aku tidak memintamu untuk membawanya. Aku hanya mencarimu untuk kebahagiaan istriku"
Elroy melangkah pergi tapi sebelum itu ia berkata "Temui istriku. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana tanpa membuatnya terluka. Lalu aku akan mengantarmu ketempat asalmu. Jika tidak aku akan memgambil alih supermarket kecil suamimu dan menghancurkanya".
๐ถ๐ถ
beberapa bulan kemudian...
"Max... iya?? Kita akan bertemu max sayang, apa kau sudah tak sabar?" Ucapan elroy pada vianno yang berada dalam gendonganya.
Sementara vianno seperti tak suka. Bayi mungil itu hanya fokus melihat saudara kembarnya yang terlihat girang dalam gendongan Alana.
Menyadari tatapan kesal vianno Alana mengelus pelan pipi gembul bayinya yang ada di gendongan Elroy.
"Nanti sama mami lagi ya? Sekarang giliran adikmu"
Sontak bayi mungil itu hanya memberikan senyum tipis lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Elroy. Keduanya berjalan memasuki taman hiburan untuk membawa putranya jalan jalan di akhir pekan. Di sana sudah menunggu keyra dan kenzo dengan max kecil di gendonganya. Jangan lupakan beberapa pengawal yang bersiaga menjaga pasangan itu.
Tsk. Dasar boss selalu bersikap penting dimana pun ia berada
Keyra yang melihat dari jauh. Wanita itu terlihat senang dan bahagia menyambut kehadiran mereka.
Alana cukup bahagia dengan semua yang ia dapati sekarang. Walaupun hatinya sedikit merasa hancur karena ucapan maya tempo hari.
Maya menginginkan mereka menjalankan kehidupanya mereka masing masing. Toh sekarang Alana sudah aman, ada seorang pria bak hero di dunia novel menjadi kekasih hatinya.
Tapi Alana sadar ia tak boleh serakah. Semua yang ia inginkan tak mungkin jadi kenyataan tapi apa yang ia butuhkan selalu tuhan berikan walaupun dalam cara yang sedikit pelik.
Bukankah percintaan mereka ini kisah cinta luar biasa? Yang berawal dari kesalahan, kejahatan dan berakhir dengan manis. Alana bersyukur setiap rasa sakit yang ia Alami menjadikanya kuat jika saja ia menyerah pasti saat ini ia tak bisa menikmati hari indah ini.
TAMAT
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG HEBAT MAU MENUNGGU STORY INI SAMPAI AKHIR ๐๐๐ BIG LOVE DAN TERIMA KASIH
MAKASIH BANGET BUAT WAKTUNYA UNTUK BACA DAN NGETIK KOMENTAR... GAK MASALAH DENGAN KOMENTAR 'LANJUT' AY UDAH SENENG BGT ๐ MAKASIH UDAH NEMENI AY SI REMAHAN ROTI INI DARI CHAPTER 1 AMPE 61 ๐คฃ๐คฃ๐คฃ KALIAN ISTIMEWA ๐ MARI KITA BERPELUKAN WKWKWK
Bonus pict...
Ough suami orang ๐ kenapa kau terlalu mengoda ๐คฃ