
"Awas...!!!" Teriakan seorang gadis remaja saat seorang pria dewasa hendak memukul pundak vianno dengan balok kayu besar. Tapi untunglah saat itu juga Maxim Altha Orlando menendang pria bertato berwajah sangar itu.
Vianno melihat ke belakang
"Kau baik baik saja?" Setelah memeriksa keadaan saudaranya. Lelaki tinggi bermata biru itu membuang secara asal tasnya. Dan segera menerjang tubuh besar pereman itu. Tak lupa juga bogem mentah ia hadiahkan untuk pria kerempeng di sebelahnya.
Bagi maxim mereka bukan tandinganya apa lagi, Tadi Vianno telah membuat mereka tak berdaya. Setelah kedua preman pemalak itu pergi. Maxim mengambil tasnya dan menghampiri Vianno.
"Tetap waspada jika menghadapi orang 'buangan' seperti itu," ucap maxim datar tanpa melihat wanita di sebelah Vianno "mereka memiliki berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bahkan dengan hal yang paling hina"
Ya.. Tadi vianno menolong gadis ini dari para preman pemalak itu. Tapi setelah mereka kalah. mereka memakai cara licik. Yang tak pernah terfikirkan oleh vianno.
"Terima kasih" ucap gadis yang di sebelah vianno.
"Ibu mu pasti membunuhmu" Max mengabaikan gadis itu. Ia malah fokus pada seragam putih vianno yang kotor dan sedikit terkena darah dari bibirnya yg sedikit robek.
"Dimana rumahmu?"
"Aku akan kedepan lalu naik angkutan umum" ucap gadis itu menunduk. Karena tatap vianno membuat siapa saja terpukau belum lagi bahasanya yang terdengar sangat lembut.
Vianno melihat kearah yang di tujuk gadis kecil berseragam itu. Melihat maxim lalu mengangguk paham.
"Pergilah... aku akan melihat dari sini"
"Terima kasih kakak" ucap gadis manis itu bersemu merah lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Maxim juga melihat kepergian gadis itu.
"Aku tak mengerti kenapa begitu banyak orang jahat" vianno memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana seraya melihat gadis itu berlalu.
"Karena banyak manusia tak seberuntung kita" ucap maxim enteng.
"Lalu apakah mereka tega menyakiti gadis kecil itu?"
"Kita tumbuh di keluarga dan kehidupan yang berbeda... bagi mereka yang terbiasa memiliki banyak gadis... mereka tidak akan bisa menghargai apa yang mereka miliki"
"Sepertimu... kau memiliki mobil, supir pribadi tapi kau malah memilih ingin berjalan kaki denganku"
Vianno melirik acuh pada maxim "ku mohon Tuan orlando. Seharusnya kau banyak banyak berkaca"
Setelah gadis tadi berbelok menghilang dari pandangan mereka, vianno mulai berbalik arah dan mengikuti langkah kaki maxim.
"Mulai besok jangan mengikuti jalan hidupku. Kau akan aman jika kau hidup seperti andry"
Vianno mendengus tak suka. Dibandingkan hidup seperti tawanan sperti itu. Ia lebih menyukai kehidupan seperti maxim. Bebas!
"Aku mengiginkanya"
πββοΈπββοΈπββοΈ
Vianno melangkahkan kakinya memasuki pintu tinggi dan besar ini. Di bandingkan jalan dari sekolah menuju rumah. Mungkin lebih jauh jarak antara gerbang menuju mansionya. Vianno bahkan heran kenapa Elroy memiliki rumah seluas ini hanya untuk mereka berempat.
Yah.. berempat
Bukanya pelayan tidak termasuk keluarga mereka?
Vianno meletakan tas sekolahnya di atas nakas. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size yang di dominasi warna grey.
Matanya menatap lekat di langit langit kamar yang di lengkapi beberapa lampu besar. Ini belum genap sebulan ia mengikuti hidup seperti maxim. Ternyata memang banyak hal di luar mansion yang tak begitu ia pahami.
Lalu ia sadar mungkin memang sebagian manusia beruntung terlahir dengan materi bercukupan. Tapi sebagian anak lagi beruntung memiliki tulang dan hati yang kuat untuk berusaha sendiri.
Lalu suara pintu kamar terbuka membuyarkan lamunannya
"Sayang"
Suara lembut itu datang dari wanita tercantik yang pernah ia lihat, siapa lagi jika bukan Alana ibunda tersayang. Tapi suara lembut itu berubah menjadi suara panik. Tak kala sang ibu melihat luka kecil di bibir putranya.
"Kenapa sayang? Siapa yang menyakitimu? Apa..." gapaian tangan Alana saat menyentuh bibir vianno terhenti. Saat tangan kokoh mulai beranjak dewasa itu, Menahan dengan pelan.
Vianno tersenyum, "Aku baik baik saja mom, ini cuma luka kecil saat aku membantu seorang gadis di jalan"
"Bukankah kau bersama max? Lalu bagaimana dia?"
"Dia baik baik saja. Dia yang membantuku"
"Mom"
"Hmm"
"Bagaimana hidupmu?"
"Maksudnya?"
"Bagaimana hidupmu sebelum bertemu daddy? Apa kau termasuk wanita yang memiliki materi atau wanita berhati baja?"
"Hay son"
Vianno menoleh, disana ayahnya dengan senyum penuh arti menghampirinya. Dia Elroy, walaupun pria itu kini memasuki umur setengah abad tapi ternyata ketampanan enggan pergi meninggalknnya.
"Hey dadd"
"Kau sudah pulang?"
"Seperti yang kau lihat"
Lalu mata Elroy menangkap hal yang membuatnya geram. Bibir anak kesayanganya terluka.
"Waw son kau telah dewasa" Elroy tergelak, berbeda dengan tanggapan Alana. Pria ini malah menyembunyikan kekhawatiranya "siapa yang berani melakukannya padamu?" Pertanyaanya dan raut wajahnya saat ini sungguh bertolak belakang.
Pertanyaanya seperti orang ingin membalasakan dendam, sementara raut wajah dan nada bicara seperti seseorang yang sedang bercanda.
"Owh.. ini" vianno menyentuh bibirnya " aku menolong seorang gadis yang di ganggu preman ta--"
"Dimana?"
Alana yang menyadari arah pembicaraan itu memilih menarik Elroy untuk keluar kamar. Alana tak mungkin membiarkan pria tua ini memasuki sarang preman.
"Mom"
"Berkemaslah... mommy menunggumu di bawah" ucap Alana sebelum menutup pintu kamar.
πββοΈπββοΈπββοΈ
"Mom bolehkan aku bertemu jade. Aku terlalu merindukan gadis mungil itu" ucap andry setelah mengelap bibirnya dengan tisu
Jika anak remaja pada umumnya bermain di jalan sebelah atau paling jauh kluar kota. Berbeda dengan anak bilioner satu ini. Setiap akhir pekan ia akan merengek pergi keluar negeri.
Alana menjeling, "again?" Bahkan dia baru tiga hari berada di sini karena beberapa hari yang laluΒ ia mengambil cuti. Hanya karena alasan jade terserang flu.
"No!"
"Come on mom" viandry melirik vianno seolah mencari pertolongan tapi pria di seberang meja makan hanya mengindikan bahunya, Seolah ia tak begitu peduli.
Lalu matanya mencari pertolongan pada Elroy. Sang ayah hanya berpura pura tak melihat dan melanjutkan makanya.
Apakah dia lupa. Di atas langit masi ada Alana chrisdelsa Mclan? Memang siapa yang ingin berdebat dengan wanita duplikat nenek sihir itu.
Viandry benar benar menyayangi jade feodora orlando, putri bungsu kenzo. Hanya jade kluarga perempuan di keluarga ini. Jadi tak mustahil jika gadis kecil ini begitu di sayangi seluruh anggota kluarga. Hanya saja viandry yang terobsesi memiliki adik perempuan.
Ingat janji Elroy? Pria itu menepatinya. Karena kondisi fisik Alana yang tak memungkinkan, penyebab keguguranya tempo hari. Dan Elroy juga tak ingin menempatkan Alana di semua rasa sakit itu lagi.
"Kau bisa kesana lagi saat nilai mu bagus. Jade tak mungkin melupakanmu seperti dulu. Dia sudah tumbuh dewasa sayang" Alana tahu betul kenapa viandry ingin selaly bersama adik kesayanganya. Karena ia takut di lupakan karena dulu jade sempat menghindar karena sudah lumayan lama viandry tak mengunjunginya.
"Mom.. bagaimana dengan pertanyaan ku tadi sore?"
"Vianno!"
Elroy menghentikan makannya. Bagi Elroy itu sebuah luka yang tak ingin ia bagikan pada siapa pun. Ia bersusah payah membahagiakan Alana sehingga istrinya lupa ia pernah melewati semua rasa sakit itu. Malah kini kebangganya mengupas kembali luka yanh Elroy yakini hampir sembuh. Tapi sentuhan lembut dari Alana membuat Elroy menoleh ke arah istrinya.
"Mommy memiliki keduanya... mommy memiliki materi dan hati yang kuat," Alana tersenyum "hanya saja situasi membuat semuanya berubah"
"Kau pasti bertanya kemana orang tua mommy... kenapa kalian tak pernah bertemu bukan?"
"Ayah mommy telah lama meninggal dan ibu mommy tlah menemukan kebahagianya. Jika berbicara tentang materi. Itu tidak bisa di ukur. Karena kita memiliki titik kepuasan masing masing. Saat kau punya dan kau syukuri. Kau pasti akan merasa cukup,"
Elroy meletakan tangannya di atas meja makan untuk menyanggah pipinya. Lalu wajahnya menghadap ke arah Alana. Ia jatuh cinta lagi pada wanita dewasa ini.
Elroy tak menyangka jika Alana tlah lama memaafkan masa lalunya.
"Aku tau kau sekarang sedang mencari jati dirimu. Kau tak perlu merasakan semua kesakitan untuk belajar dari pengalaman. Kau tak punya cukup waktu untuk itu. Cukup perhatikan sekelilingmu. Jangan percaya sepenuhnya pada mereka sehingga kau bisa menilai dia... karena bibir bisa saja berdusta"
Alana sadar meski mereka kembar identik. Tapi pola fikir mereka berbeda. Jika Viandry begitu bangga menikmati kekayaan ayahnya berbeda dengan Vianno. Lelaki itu lebih memiliki insting tau menjalankan kehidupan yang sebenarnya.
"Lalu bagaimana kalian bisa bertemu bukankah kalian berbeda negara?" Tanya vianndry tiba tiba.
"Mommy mu --"
Alana langsung menyenggol kaki Elroy untuk menghentikan karangan bebasnya. Alana yakin yang keluar dari bibi Elroy adalah ia tergila gila padanya dan mengejarnya sampai ke negara ini. Enak saja dia menjatuhkan harga dirinya di depan anak anaknya. Never! Itu tak akan pernah terjadi.
"Itu akan mommy ceritakan nanti... saat kalian telah tumbuh menjadi pria yang mengagumkan" ucap Alana penuh arti.
Jangan lupa jejak yak
salam sayang dari penulis amatir yang lagi makan pempek π€£ π
mungkin Lauro akan up secepatnya atau mungkin awal bulan π€£π€£π€£ akhir bln ini si doi ngajakin liburan takutnya ay g bisa fokus ama noveltoon..
ay emng butuh bgt jalan2 kluar kota π sangkin jenuhnya ay g bisa bedain titik ama koma skrg π€£ typo mulu.. semuanya terasa datar dan hambar wkwkw tiap hari ngobrol ama tembok rasanya nyakitin π€£
sampai jumpa di work baru ay syg π
makasih semuanya udh nemenin ay π
serius ay ngakak ada bbrpa readrs yg punya tingkat kepo ampe ke langit ngambil jalan pintas wkwkw π€£π ayo dong baca ksini lagi syg π€£
story ini story lama udh dari 2018 jdi untuk slnjutnya ay up di sini aja ah biar yg di sna nyusul wkwkw π€£π€£π
syg ama kalian ππππ