
Happy reading...
πππππ
Alana tersadar dan mengerakan tangan seraya meregangkan ototnya karena telah lelah semalaman terlelap di bawah hangatnya selimut. Namun tiba-tiba Tangannya menyentuh sesuatu seperti perut ah iya perut Alana membuka matanya dan mendongak.
Terlihat pria tampan duduk di sebelahnya dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"What are u doing here!" Alana berusaha mendudukan diri diranjang dan menatap Elroy dengan tatapan yang mematikan.
"Sedang melihat gadis pemalas" balas Elroy sekenannya.
What dia mengatakan Alana pemalas. Sepertinya pria ini sudah bosan hidup.
"Aku tidur larut malam. Apa yang kau lakukan disini?!" ketus Alana.
"Ini kamarku" Elroy menatap sekeliling kamar, Untuk mengecek sekali lagi jika ia tidak salah kamar.
"Kalau begitu antar aku pulang!"
"Pulang? ini rumahmu" jawab Elroy terlalu santai untuk menanggapi emosi Alana saat ini.
"Aku ingin pulang ke Indonesia. Dengar ya I N D O N E S I A ... Aku bisa mati jika disini terus" Alana bertambah kesal.
"Itu pintu, pergilah" Elroy menunjuk pintu kamar dengan wajah tak bersalah.
Sementara Alana hanya menatap Elroy dengan kesal. Dia ingin sekali melempar pria ini kepulau komodo. Dia akan tertawa keras saat pria ini di cabik-cabik oleh para komodo. Memangnya Jakarta dan Madrid jaraknya hanya beberapa meter? Sinting!
"Bersiaplah, kita akan keluar" Elroy berdiri dan memasukan kedua tangan kedalam saku celana lalu pria itu melangkahkan kaki menuju pintu.
"pakailah baju yang ada di paper bag itu. Dan Jangan lupa mandi.... Kau sangat ....bau" Elroy tersenyum tipis dan pergi keluar tanpa menunggu respon dari Alana.
Bisa di katakan Elroy sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Alana bertambah kesal melepar bantal dengan sekuat tenaganya pada Elroy tapi sayang Elroy sudah duluan menutup pintu dari luar.
Mungkin sudah menjadi hobby baru Elroy membuat Alana kesal. Baginya kecantikan Alana meningkat seratus persen saat sedang kesal. Sementara dia di depan pintu hanya tersenyum menggeleng mendengar teriakan kesal Alana dari dalam kamar.
"Aku akan membuatmu mencintaiku hingga kau takan sanggup berpisah dariku walau sedetik saja" Elroy berjalan meninggalkan kamar alana.
Sementara di dalam kamar. Alana seperti orang kerasukan menahan amarahnya. Pagi pagi sudah bikin tensi alana naik.
"Bau?!!! Siapa suruh kau mendatangiku pagi pagi! Argh jika aku bau lepaskan aku. Kembalikan aku ke negaraku! Aku akan hidup tenang disana! Disini!!! jika saja pelayan itu tidak bisa bahasa inggris aku pasti sudah mati! Melihat orang orang berbahasa spanyol saja aku merasa lidahku yang keseleo!!!" Alana bangkit dan menuju kamar mandi. Tapi kakinya mengenai bantal yang tadi di lemparkanya pada elroy.
"Kau juga kenapa disini! Apa kau juga ingin menaikan tensiku! Pergi sana!!!" ketus alana yang berbicara pada sebuah bantal. Omegod
πππππ
Elroy duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Pandanganya teralih saat mendengar suara kaki berjalan menuruni tangga. Matanya seakan terpaku melihat seorang wanita yang turun. Sangat cantik bahkan tanpa makeup.
Alana melihat Elroy sedikit risih dengan tatapanya,bagaimana tidak? Ia merasa sangat tak pantas saat ini berjalan berama elroy yang terlihat tampan dengan balutan pakaian casualnya. Ah apa pria itu tidak bisa tidak tampan sehari saja.
Alana berhenti di depan Elroy tapi pria itu masih menatap alana datar. Alana yang kurang nyaman menyentuh lehernya dan berusaha tersenyum. Lagi lagi tak ada reaksi dari Elroy .
"Hem" hanya itu yang bisa Alana keluarkan dari bibirnya.
"Seingatku. Aku memesan dress bukannya jaket"
Apa dia marah? Wah dia marah makanya dia menatap Alana sperti itu.
"Kau lihat di luar sana!" Alana menujuk Langit cerah di temani matahari di balik dinding kaca dan Elroy juga melihat arah tangan Alana.
"Dengan matahari sesempurna itu kau menyuruhku memakai dress? Kau berniat membuatku menghitam?"
Elroy mengernyit tanda tak mengerti. Alana duduk di samping Elroy dan membuka lengan jaketnya. lalu menunjuk kulit putihnya.
"Kulitku bisa terbakar, maaf juga karena aku memakai jaketmu, aku menemukan ruangan di dalam kamar yang penuh dengan pakaian dan aksesorismu" kata alana polos
"Kampungan" Elroy beranjak sambil memasukan tangan kanannya ke saku celana.
"Jika aku kampungan! Lepaskan aku!!! Kembalikan aku ke negaraku!"
"Karena aku tertarik dengan yang udik" kata Elroy dengan wajah yak bersalah.
"Itu tidak sebanding dengan sakit hatiku saat ini" Alana beranjak menuju kamar.
"Kau ini seperti macan betina saja. Hey... Kau mau kemana?"
"Otw neraka" Alana mulai menaikan kakinya ke atas tangga. Namun dengan cepat elroy mengendong tubuh mungil alana ke atas pundaknya.
"Hey... gila lepaskan aku...brengsek!" Alana terus terus memukul punggung kokoh Elroy.
Ting!!!
Pintu lift terbuka, beruntung lift itu khusus untuk elroy. Jika tidak bisa di pastikan elroy pria tampan nan dingin itu di cap sedang menculik seorang gadis. Well bukankah itu benar.
Hanya elroy yang menganggap hal itu wajar. Elroy menuju mobilnya yang di parkiran khusus. Membuka pintu dan melemparkan gadis itu kekursi penumpang menutup dengan keras. Pria itu terlihat berjalan setengah memutar mobil sportnya.
"Kau kira aku menaiki apa? Sampai kulitmu bisa terbakar" kata Elroy yang kini sedang menghidupkan mesin mobil.
Ohya Alana lupa. Ternyata dia bukan gadis miskin saat berada di Indonesia. Lihat saja mobil yang ia naiki saat ini. Mobil sport keluaran terbaru.
"Kalau begitu biarkan aku ganti baju" alana hampir membuka pintu mobil. Sial lagi lagi pintu itu di kunci.
Apa orang kaya selalu bertindak semaunya? Alana terus merutuk dalam hatinya
"Kau cantik" Elroy langung menacap gas.
Alana menatap kaca jendela mobil yang gelap. Ia melihat kota Madrid sepanjang jalan. Seakan tidak puas gadis itu menurunkan kaca mobil. Semilir angin menerpa wajah lembutnya. Matahari pun turut ikut andil menerpa wajah gadis itu saat ia mengeluarkan kepalanya sedikit telihat begitu cantik.
Mata Alana tepana saat melihat kota Madrid masih begitu kental ornamen klasik abad pertengahan. Alana tak menyangka ia benar melihat itu dengan matanya sendiri. Elroy sesekali melirik Alana dengan wajah datar terkadang ia tersenyum melihat wajah polos Alana.
"Kota ini sangat indah" gumam Alana
"Termasuk prianya"
"Iya" Alana menatap pria pria tampan yang berjalan di pinggir jalan. Ah mungkin spanyol adalah gudangnya pria tampan.
"Aku Alana" Elroy menarik alana jaket belakang Alana untuk kembali ketempat duduknya agar bisa melihat wajahnya.
"Kau tampan? Heh.. kau terlalu banyak berhayal" kata Alana tentu dengan berbohong.
Baginya pria yang sedang menyetir mobil saat ini. Adalah pria tertampan yang pernah ia lihat dengan matanya sendiri.
"Damn, seperti apa standar ketampananmu Al. Apa calvin? Pria sperti kotoran itu? Heh... Jujur saja kau orang pertama yang tidak mengakui ketampananku. Aku ragu apa matamu bermasalah al"
Ini tidak biasa, Elroy saat ini butuh pengakuan? Biasanya, Pria itu benci di anggap tampan. Tapi ia tak terima jika alana menganggap ada yang lebih tampan darinya.
"Kau terlalu percaya diri Tuan"
" yes i'm"
Alana yang menyadari mobil ini telah berjalan dari tadi tapi tak juga menemukan titik temu "Kita mau kemana?"
"...." tak ada jawaban. Elroy fokus pada stir mobilnya.
"Apa kau mau menculikku?"
"Bukankah dari kemarin sudahku lakukan?" kata Elroy tanpa menatapnya.
"Lalu ini apa? Apa kau... kau berniat membunuhku?"
Elroy hanya mengeleng dan tersenyum geli "pertanyaan macam apa itu? Mana mungkin aku membunuh calon istri dan calon ibu untuk anak anaku" katanya tulus.
Sementara Alana hanya tercekat mendengar perkataan Elroy barusan. Antara percaya dan tidak dengan pendengaranya.
Tbc
Terima kasih untuk tidak jadi siders profesional πππ spam coment cuy buat tglin jejak.
Thanks banget buat yang udah mau baca, comen apa lagi vote.
Jangan lupa share ke temannya ya bebe.
Biar kek novel novel lain π€£
#penulisgaktaudiri