
Ruangan kamar yang di dominansi dengan warna putih dan silver itu terasa sangat nyaman. Apa lagi di tambah cahaya yang masuk dari berbagai arah dinding kaca. Dan memperlihatkan keindah alam yang terbentang luas. Memanjakan mata siapa saja saat melihatnya.
Terlihat seorang gadis bolak balik mematut diri di depan kaca hanya untuk sekedar memperbaiki dandananya. Lalu ia kembali ke depan pintu kamar, seolah sedang menunggu kedatangan seseorang.
Ya Alana merasa sedikit deg degkan karena sebentar lagi, elroy pasti akan mengetuk pintu untuk memberikan gelang kaki yang dengan 'sengaja' ia tinggalkan di atas tangga tadi.
Lalu kesempatan itu pasti akan alana gunakan untuk memperbaiki keadaan . Ia ingin memulai semuanya dari awal. Ia yakin jika mereka bersama kebiasaan buruk elroy perlahan akan hilang. Dan bisa di katakan bahwa ia telah memaafkan perbuatan elroy yang menghabisi ayah tirinya.
Bukankah semua orang berhak untuk mendapatkan pengampunan?
Dan jujur alana merindukan sosok elroy, hanya saja ia cukup gengsi untuk memecahkan kecanggungan di antara mereka. Entah sudah berapa kali alana kembali untuk mematut diri di depan kaca untuk melihat penampilanya.
Seolah ia tidak ingin elroy merasa ilfil pada pertemuan pertama mereka setelah perang dingin itu.
45 menit sudah berlalu ternyata pintu kamarnya tak kunjung di ketuk. Alana memutuskan untuk membuka pintu kamar. Lalu Gadis itu mengintip dari balik pintu dan terdengar pintu kamar yang tertutup.
Pintu mana lagi selain pintu kamar elroy. Mengingat hanya mereka berdua yang mengisi penthouse tersebut.
Alana menghela nafas pelan dan matanya tertunduk lalu matanya menatap gangang pintu. Elroy meletakan gelang kaki milik alana disana.
Elroy tetap menjaga kata katanya untuk tidak menganggu hidup alana lagi. Pria itu ingin alana benar benar sembuh dari lukanya. Sehingga waktu bisa mengembalikan keadaan mereka.
Dia tak tega menyakiti alana lagi. sudah cukup keegoisanya untuk mengurung alana di negaranya. Bahkan di hidupnya. Mungkin dengan kata lain elroy meregut seluruh kehidupan alana. Jadi setidaknya ia tak mengatur jiwa alana setelah memenjarakan raga itu.
Alana mengambil gelang itu dan menutup pintu kamar dengan keras. Gadis itu begitu kesal sampai rasanya ia ingin memaki elroy saat ini juga. Beruntung ruangan di penthouse itu kedap suara jadi elroy tak mendengar suara sumpah serapah yang alana lontarkan. Khusus buat pria yang kini mengambil hatinya.
Alana tak bisa tidur malam ini. Ia terus memikirkan cara apa lagi agar elroy mau menyapanya duluan, argh... ia benar benar merasa frustasi. Saat jam menujukan angka 4 pagi matanya juga terasa enggan tertutup.
"Kau harus menyapanya duluan besok. Kau juga salah. Buang rasa egomu al" kata alana lirih dengan menutup wajahnya dengan selimut putih tebal.
alana mengernyit saat membuka matanya. Sinar matahari seakan menusuk bola matanya. Karena alana semalam tak menutup tirai karena sibuk memikirkan elroy. Jadi matahari dengan leluasa memasuki kamar. Mengingat kamar itu terbuat dari dinding kaca.
Alana melirik nakas jam menujukan pukul 8 pagi. Ia langsung bergegas kekamar mandi. Alana membulatkan tekatnya masalah perang dingin ini harus selesai ia tak ingin menunda lagi ia harus secepatnya berbaikan pada elroy.
Dan syukurlah Ini belum waktunya el kekantor. Saat ia membuka kamar elroy kamar itu terlihat sepi seolah tuannya sudah lama meninggalkanya.
Alana berjalan keruangan santai, mini bar, box room dan tempat lain yang ada di lantai 2 ini ternyata nihil. Gadis itu tak menemukan sosok yang ia rindukan.
Kaki jenjangnya menyusuri tangga melihat ruang musik, ruang keluarga, taman luar penthouse. tak juga ia menemukan siapapun, sampai seseorang menegurnya.
"Kau butuh sesuatu nona?" Kata seorang pelayan
"Apa kau melihat el?"
"Tuan el sepertinya keluar negeri nona"
"What? Tanpa memberitahukan aku?!" Alana terlihat berang. Mungkin tingkat kemarahanya pada elroy berada di angka 7. Jika skala kemarahan itu berada dari 1 sampai 10.
"tuan el keluar negeri nona. Di kulkas ia menempelkan memo ini" kata seorang pelayan dari arah dapur.
aku pergi ke marseille, perancis.
Mungkin 2 hari aku disana.
Jaga kesehatanmu
Te amo bebe
E.C.M
Alana mengambil memo itu dan berlari kearah kamar dengan keadaan kecewa.
"Apakah ini isyarat tuhan? Bahwa hubungan ini takan berjalan dengan lancar?"
"Apa aku harus melupakanmu el?"
"Kenapa takdir begitu kejam pada kita el? Di saat aku ingin memulai pasti ada saja cara takdir memisahkan kita"
Alana terlihat terduduk di kasur dengan sesekali menangis meratapi kisah cintanya yang tak berjalan dengan mulus. Bak novel novel yang sering ia baca.
🍁🍁🍁🍁
Siang ini alana duduk di salah satu restoran mewah di mall bersama sofia. Bisa di katakan mereka berteman makin dekat karena xavier meminta sofia untuk selalu menemani alana. Agar alana mulai terbiasa dengan negara mereka ini.
"Aku punya kabar bahagia!" kata sofia dengan meminum coffenya
"Apa?" alana juga seolah ikut tertular senyum bahagia sofia.
Sofia mengambil tas mewah berwarna cream yang ada di kursi samping dan mengeluarkan sebuah foto. Alana sedikit tak mengerti dengan foto itu. Jelas alana tahu itu foto apa.
USG
"Aku hamil!" Seru sofia dengan girangnya.
"Wah.. kau serius?" alana juga ikut tersenyum lebar dengan melihat foto usg dan perut datar sofia bergantian
Kedua wanita itu terlihat tertawa bahagia. Namun seketika senyuman alana luntur di wajahnya. Mengingat bagaiamana rumitnya hubungan yang ia jalana.
"Maaf" sofia sedikit merasa bersalah.
Ya tak seharusnya ia berbagi kesenangan pada seseorang yang sedang patah hati.
"Kau berlebihan, jujur aku cukup senang dengan berita itu. Kau sangat beruntung fi. Semoga cinta kalian abadi" kata alana tersenyum dengan mengegam jemari sofia. Seolah itu adalah isyarat bahwa ia baik baik saja
"Semoga kau juga cepat menemukan cinta sejatimu"
"Amin"
"Apa masih seperti itu?" Sofia merasa sedikit takut menanyakan masalah hati sahabat barunya itu.
"Aku juga tak mengerti. Saat aku mengalah dia malah pergi meninggalkan aku. Aku sendiri ragu apakah benar dia mencintaiku atau tidak" alana menatap dinding kaca melihat kearah bawah. Disana telihat banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang.
"Bukankah besok seharunya ia pulang?"
"Ya" jawab alana singkat, seolah tak peduli
Sofia juga menghela nafas pelan, sungguh hubungan Elroy dan alana sedikit pelik menurutnya. Sampai ketenangan itu terusik akibat kedatangan evan.
Dengan nafas sedikit terengah engah pria dengan dominan wajah dingin itu menarik tangan alana. Entah dari mana pria itu berasal, sehingga kedua wanita itu terkejut dengan kedatanganya yang sangat mendadak.
"Al, kau harus ikut aku!" Evan menarik tangan alana. Alana sampai hampir sempat terjatuh jika saja evan tak dengan sigap mengapai tubuh alana.
"Kau kenapa?!" Sofia telihat berang pada evan, karena hampir saja pria itu mencelakai sahabatnya.
"Kalian berdua harus ikut aku. El dia--"
"Sudahlah evan, aku menyerah! sepertinya hubungan kami memang seharusnya berakhir begini" alana yang memotong ucapan evan. Ia menyentak tangannya untuk melepaskan cekalan tangan evan dan kembali duduk di kursinya.
"Simpan kekecewamu untuk nanti al, setidaknya kau maafkan dia untuk terakhir kalinya" evan terlihat serius dengan ucapanya
"Ku mohon temui dia untuk terkahir kalinya di sisa hidupnya"
Jika di lihat dengan jelas. Benar tak ada kebohongan di mata evan. Bahkan jika di teliti siapa pun tahu bahwa Pria itu habis menangis terlihat dari mata dan hidungnya yang sedikit memerah.
"Apa makasudmu?" Rasa takut merayap di tubuh alana. Tak bisa di elakkan lagi ketakutan itu bertambah banyak setiap detiknya.
"ELROY KECELAKAAN DAN MOBILNYA RUSAK PARAH AL" mungkin evan sudah tak bisa membendung emosi, sedih dan rasa kecewanya lagi. Bukankah pria itu adalah sosok pria yang begitu mencintai sahabat sahabatnya.
"Kau bercanda? elroy masih perancis!" sofia mencoba menengahi.
"DIAM!" Bentak evan pada sofia. Jika disana ada Xavier tentu wajah tampan evan sudah memerah saat ini.
"Ikut aku atau kau akan menyesal selamanya" evan menatap alana dengan tajam, oke ini peringatan keras.
Alana menangis dan terus berlari cepat mengikuti Evan dan Sofia. Alana benar benar telihat panik. Di dalam mobil tak henti hentinya sofia mencoba menenangkan sahabat barunya itu.
Sementara evan hanya terlihat datar dan fokus pada stir mobil, evan yang biasanya suka bercanda kini terlihat diam seribu bahasa. Mungkin ini adalah ciri khas pria ini saat di bendung masalah.
Alana menangis dalam diam, siapapun akan tahu jika wanita itu benar benar hancur saat ini. Seolah tak sanggup mengekspresikan rasa sakitnya. Diam dan air mata memperjelas suasana hati gadis itu.
Mobil sport evan berhenti di pintu utama rumah sakit besar, alana membuka pintu mobil dan cepat berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit. Tanpa memperdulikan sofia dan Evan.
Matanya terkunci pada sesosok pria berjas putih khas dokter dengan wajah tertunduk lesu, dan beberapa perawat mendorong sebuah bed ranjang pasien dengan sesorang terbaring kaku di sana. Seluruh kain putih menutup tubuh seseorang di atas ranjang itu.
Alana kenal betul pria yang memakai jas dokter tersebut. Pria itu adalah Lauro Morales, sahabat karib Elroy Christian Mclan.
Dan terlihat seorang pria terduduk lesu di kursi tunggu. Pria itu matthew, di raut wajahnya juga terlihat bahwa ada sedih yang mendalam yang kini menguasai hati pria itu.
Bukankah ini terlalu sempurna jika di katakan sebuah akting? Karena matthew bukanlah pria yang mudah untuk di ajak kompromi untuk melakukan seseuatu. Apa lagi mempermainkan hati wanita. Pria itu terlalu baik untuk di sandingkan dengan lauro dan Evan yang notabene adalah bajingan tampan.
Seketika detik itu juga alana merasa tersambar arus listrik tegangan tinggi. Bahkan rasa sakitnya lebih dari itu.
TBC
.
.
.
.
Apakah elroy benar tiada?
Siapakah yang mengantikan elroy??
Apa yang kaliam fikirkan?
🤣🤣🤣🤣