
"Alana?" Satu kata yang terlontar dari bibir Noah merengut seluruh perhatian yang ada di sana. Tak hanya Elroy seluruh yang ada disana sontak menatap Alana.
"Kau Alanakan?" Tanya Noah mencoba memastikan apa yang di tangkap oleh kornea matanya.
Alana sedikit mengernyit mencoba mengingat siapa pria itu. Noah hampir berjalan mendekati Alana yang duduk tepat di sebelah sofia. Tentu pergerakan Noah di tahan oleh Evan dan Elroy.
"Selagi aku mengatakan dengan baik! Pergilah!" Nada bicaranya mulia murka. Terlihat jelas dengan mengerasnya rahang Elroy.
"Mr.Noah?" Kata alana yang kini berdiri dan mendekati Elroy.
Elroy sedikit mengeram saat Alana menyebut nama Noah. Alana mengetahui perubahan sikap Elroy menyentuh dada pria itu. Seolah itu adalah cara menenangkan seorang Elroy dan Memberi pengertian bahwa dia mengenal Noah.
Alana menjelaskan bahwa Noah adalah satu satunya pria bule yang ia kenal dulu. Jauh sebelum ia mengenal Elroy. sehingga Evan memilih untuk duduk dengan tatapan masih tajam menatap Noah.
Sedangkan Elroy masih dengan posisinya seperti seorang ayah yang menjaga anak perempuan bertemu pacarnya.
Shit! Dia kekasihku!!!
Elroy membatasi jarak calon istrinya dengan musuh bebuyutanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Noah terlihat bingung dengan kehadiran Alana disana. Yang Noah tahu Alana adalah gadis yang sederhana. Lalu matanya melirik Elroy yang berada di samping Alana dengan wajah yang bersiap untuk membunuh Noah.
"A... aku?" Alana sedikit bingung untuk memberikan jawaban.
Benar hatinya mencintai Elroy hanya saja ia sedikit ragu akan cinta Elroy. Meski pun ia mendapatkan lamaran yang indah seperti tadi. Ini dunia nyata guys bukan novel dan sejenisnya. Mana mungkin seorang yang memiliki segalanya benar benar menyukai gadis miskin. Apa lagi alana jauh dari sifat lembut.
"Dia calon istriku!" sambar Elroy.
Noah sedikit tercengang lalu matanya menatap Elroy dan Alana secara bergantian. Ia bahkan tak percaya bahwa Elroy bisa jatuh pada wanita, apa lagi gadis seperti Alana. Noah menilik Alana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Noah sadar bahwa kalimat yang terlontar barusan adalah benar.
Alana sekarang benar benar menjelma bagai gadis sosialita. Gaunya saja Noah tahu itu adalah koleksi terbaik dari Mclan.
"JAGA MATAMU!!!" ketus Lauro yang menyadari mata Noah menilik tubuh Alana.
Noah Mengabaikan bentakan Lauro
"Aku mencarimu saat aku berada di indonesia. Ternyata kau di sini. Oh ya aku turut berduka cita ya" Noah tampak tulus mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Kenapa?" Alana lagi lagi di buat bingung
"Atas kepergian ayahmu"
"Ayah? Ayah sondy?" Alana sedikit berdebar mengatakan kalimat itu. Bukan berdebar karena jatuh cinta. Melainkan kini rasa takut merayap ke seluruh tubuhnya
"Tentu! Memangnya ayahmu ada berapa?" Noah menaikan satu alis dengan tangan yang ingin mengapai lengan Alana. Tentu saja di tepis dengan telak oleh Elroy.
Melihat kondisi itu Elroy dengan cepat merangkul Alana. Mendapat tatapan membunuh dari Elroy, dan ke empat temanya membuat Noah memilih pergi dari sana.
Tanpa sadar tapi pasti sepertinya kristal bening itu mengancam keluar. Mata alana sudah terlihat berkaca kaca. Bagaimana pun sondylah yang 'menjaga'nya saat ibunya lari.
Elroy mendekap Alana. Ia mendekap wajah Alana di dada bidangnya.
"Syuut.. tenang sayang dia pantas mendapatkannya" tanpa sadar, Elroy mengucapkan sesuatu yang membuat Alana meradang.
"Apa maksudmu?!" Bentak Alana.
"Apa?"
Evan ingin melerai pertengkaran pasangan kekasih itu. Sontak tanganya di cekal oleh Matthew. Ada banyak hal yang tak perlu penengah. Terkadang pertengkaran memang di perlukan untuk mendapatkan penjelasan. Dan itu juga dibenarkan oleh Lauro dan Xavier dengan tatapan yang mereka berikan.
"Dia pantas mendapatkannya. Dia menyakitimu dan membunuh anak kita" . Sontak kalimat Elroy membuah ke empat temanya terkejut.
"KAU JAHAT!!!" Alana menutup matanya dan sukses membuat air matanya merembes. Alana mendorong Elroy dan berlari keluar.
Sakit! Alana merasa sakit di hatinya. Ribuan pisau tak kasat mata menusuk hatinya. Ia ingin pergi jauh. Tak perduli kemana kakinya melangkah. Ia ingin menghilang.
Tentu Elroy mengejar Alana. Suara dentuman musik kembali terdengar memekan telinga saat pintu ruangan itu terbuka. Banyak tatapan menatap heran pada Alana yang berlari sambil menangis.
"Al tunggu!" pekik Elroy yang kini telah berada di halaman parkir.
"Masuk kedalam mobil al!" pekik Elroy yang berdiri di depan mobilnya.
"Masuk kedalam mobil al!" lagi kata Elroy dengan kuat. Tapi Alana seperti tuli gadis itu terus berlari sambil menangis
"MASUK KE DALAM MOBIL AL!!!" bentak Elroy dengan seluruh ke frustasianya. Dan memukul kap mobilnya. saking kuatnya Elroy memukul sampai alram mobil jadi berbunyi.
Alana yang tak pernah di bentak oleh Elroy tercekat dan secara sepontan kakinya berhenti. Alana berhenti dengan takutnya. Gadis itu terlihat menunduk dan berjalan berbalik arah untuk masuk dalam mobil.
Perjalanan menuju mansion terlihat hening. Tak ada yang membuka suara. Elroy maupun Alana terlihat larut pada fikiranya masing masing.
Sampai mobil berhenti tepat di depan tangga utama mansion. Alana langsung membuka pintu mobil saat hendak turun. Tangan kanannya di cekal oleh elroy.
"I ... i'am so sorry" ucap Elroy dengan wajah penuh penyesalan.
"Bukan maksudku untuk membentakmu!"
What? Alana marah bukan karena di bentak. Alana marah karena Elroy menganggap kematian sondy adalah hal yang pantas. Apa pria ini tak punya hati sedikit saja?
"Aku tidak masalah kau membentakku. Apa kau tidak punya hati? Ayahku meninggal tapi kau malah breaksi sperti itu"
"Itu pantas al!"
Inilah kekurangan Elroy. Ia bukan pria munafik atau pria yang selalu cuci tangan atas setiap situasi.
"Kau!" Desis alana. Dengan menahan tangannya untuk tak segera menampar wajah Elroy.
"Dia hampir membunuhmu dan dia telah membunuh anak kita!. Jadi tak salah jika dia mati di tangganku" kata elroy dengan rahang mengetat.
Ucapan yang tak pernah di bayangkan oleh Alana. Alana sukses membulatkan matanya dengan pernyataan Elroy.
Alana membuka pintu mobil dan melepaskan cekalan Elroy. Alana berlari kearah tangga. Tapi lagi lagi langkahnya terhenti saat Elroy mencekal tanganya.
"KAU IBLIS!!! KAU MEMBUNUH AYAHKU. KEMBALIKAN AKU KE NEGARAKU. AKU MEMBENCIMU" teriakan alana histeris.
"No!. Kau milikku!. Selamanya akan begitu!" kata Elroy dengan Segala keegoisanya.
"KAU GILA!!!. Aku membencimu. Sungguh! Rasa cintaku adalah kesalahan besar yang pernahku lakukan!"
Alana melepaskan cekalan tangan Elroy dan berlari ke arah mansion masuk dengan tangisan yang menggema di mansion mewah itu.
Para pelayan yang masih terjaga terlihat bingung dengan kehadiran Alana. Bukankah sebelumnya pasangan kekasih itu bagaikan romeo dan juliet versi masa kini?.
Alana menangis dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang untuk melepaskan segala kekecewaanya. Ia kecewa sangat kecewa pada sosok elroy. Baru tadi ia merasakan bahagia tapi dengan cepat kebahagian itu terganti oleh luka yang teramat perih.
Sementara elroy di waktu yang bersamaan tercekat. Ia tercekat karena alana mengatakan bahwa mencintainya adalah kesalahan. Ia tak menyangka kalimat itu yang akan terlontar. Disaat ia mulai mencintai tapi kenapa mencintainya adalah penyesalan yang terbesar?
Elroy terlihat berlari kearah pos penjaga dan mengambil motor penjaga tanpa kata. Ia membawa motor itu dengan kecepatan tinggi. Raut kesakitan jelas terpatri di wajah tampannya.
πππππππ
Alana mengernyit saat sinar matahari masuk dari jendela besar di kamar. Terlihat dua orang pelayan wanita berdiri di sisian ranjang. Menunggunya bangun.
"Selamat pagi nona" kata dua pelayan itu serentak dengan senyum tulus.
"Pa.. pagi" kata alana sedikit bingung.
Karena ini adalah pagi pertama ia berada di mansion mewah itu. Alana menyentuh kepalanya. Ia merasa memimpikan sesuatu tadi malam, ada seseorang mencium kening dan bibirnya saat tidur dengan air mata yang menetes mengenai pipi alana. Alana mengelengkan kepalanya mencoba membuyarkan lamunan itu.
"Air mandinya telah saya siapkan nona"
"Pakaian anda juga sudah saya siapkan nona. Saya letakan di meja walk in closet"
"Terimakasih. Kalian bisa keluar?" Oke, alana mulai risih dengan sistem pelayanan ini.
Kedua pelayan itu tersenyum dan pamit undur diri. Alana menyibak selimutnya lalu menurunkan kaki jenjangnya tapi, Matanya terkunci pada sesuatu yang ada di atas nakas. Sebuah kertas putih yang terlipat dengan mawar putih di atasnya
Dear my love
Maaf atas luka yang ku berikan. Maaf atas keegoisan cintaku.
Maaf semua yang ku lakukan.
Mungkin kata maaf tak pantas untuk pria seperti aku.
Aku berharap waktu akan mengobati lukamu.
Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu untuk mengembalikanmu ke negara asalmu.
Ya aku egois.
Bisakah aku memberi alasan karena aku tak bisa jauh darimu?
Atau bisakah rasa cintaku ini yang memenjarakmu?
Sebagai gantinya mansion ini adalah milikmu. Aku tidak akan tinggal disini.
Kau bebas
Bila sesekali aku merindukanmu. Izinkan Aku untuk datang kesini. Aku berjanji kehadiranku hanya bayangan untukmu.
Aku takan meganggu mu lagi.
Aku mencintaimu al. Sangat
E.C.M
Alana merasa sedikit sedih dengan kalimat kalimat yang tergores pada surat itu.
Kapan e
Elroy memberi surat ini?
Apa selamanya dia akan menjadi tawanan Elroy?
Alana terlihat frustasi dan *** kertas tersebut. Menangis adalah kegiatan yang ia lakukan selanjutnya.
Apa mencintai harus sesakit ini?
Apa tak ada cinta yang sesimpel cintanya cinderella?
Rasa kecewa masih menguasai hatinya. Ia tak menyangka kondisi ini akan ia alami. Perjalanan hidup memang tak mulus. Apa alana tak berhak untuk bahagia. Mencinta seseorang yang sewajarnya?
Hari berganti hari, keadaan hati alana masih seperti itu. Terkadang Xavier dan sofia datang mengunjungi alana. Dan membawa gadis itu berkeliling madrid.
Matthew, evan dan lauro turut hadir sesekali untuk menyapa alana. Mereka tahu kondisi hubungan alana dan elroy yang rumit. Dan mereka juga paham kenapa alana semarah itu.
Alana juga hampir setiap hari melihat elroy memperhatikanya dari jauh. Saat alana menyadarinya pria itu memilih pergi. Elroy memang hidup bagai bayangan di hidup alana.
Elroy bagai seorang pria yang mengawasi pacarnya dan bila larut malam ia akan kembali ke penthousenya. Sampai alana hapal waktu waktu elroy datang.
Semakin hari alana semakin jenuh dengan kehidupan yang seperti ini. Alana benar benar merindukan indonesia. Walaupun hidup di madrid nyaman. Tapi tak ada yang senyaman bila kau tinggal di rumah dan negara sendiri. Alana bertekat akan pulang ke indonesia.
Terkadang alana berfikir untuk meminta tolong pada teman teman elroy. Meminjam uang untuk pulang ke indonesia. Mengingat elroy pernah memberikanya kartu identitas.
Tapi niat itu urung ia lakukan. Mana mungkin mereka mau membantu alana disaat elroy dengan gigih mengikatnya sampai alana merasa ikatan itu membuatnya putus asa
TBC
wkwkw g beratkan konfliknya π€£π€£π€£π€£