
Mata Nia terpaku pada tulisan dengan tinta emas yang tergores pada kertas putih itu.
"Elroy christian Mclan, CEO Mclan Internasional Group" Nia membaca kartu putih itu.
Lalu matanya menatap Elroy yang kini menatapnya dengan senyuman. Siapa pun tahu senyuman itu adalah senyuman mengejek. Karena terlihat jelas di wajah Elroy bawah pria itu memang menunggu saat ini.
Sontak nia merasa ada yang salah pada dirinya. Sesuatu yang aneh membuatnya ingin menangis saat ini juga. Seharusnya ia bisa mengatakan bahwa Elroy berbohong. Tapi entah kenapa lidah Nia mendadak menjadi kelu. Tidak selancar tadi dia berbicara.
Apa lagi kartu itu benar terlihat berbeda dengan kartu nama pada umumnya. Itu telihat mahal dan mewah. Dan nia baru menyadari bahwa pria yang kini duduk dengan menumpukan kedua sikunya di atas meja untuk menumpu dagunya itu kini menatapnya dengan tatapan tajam.
Keterdiaman Nia membuat Alana khawatir. Wanita itu beringsut mengeser kursi untuk mendekati wanita paruh baya yang terpaku menatap Elroy.
"Ta.. tante baik baik saja?" Alana menyentuh tangan nia yang masih memegang kertas putih itu. Jika di perhatikan, jelas sekali tangan itu kini bergetar samar.
Seolah nia menatap wujud Elroy adalah sosok yang menakutkan atau sejenis kembaran iblis sekarang.
"Hemm.." seolah tersadar dari fokusnya. Nia menatap Alana dan melepaskan sentuhan Alana pelan. Bisa di katakan tatapan Nia ke Alana kali ini adalah tatapan memohon Keampunan.
"Ta... tante baik baik saja. Tante ada urusan mendadak sayang" nia buru buru beranjak dan menenteng tasnya.
"Sa.. saya permisi dulu Tuan" pamit nia pada Elroy. Seolah Elroy kini berubah menjadi sosok Tuhan yang ia takuti. Tak ada lagi nada tegas, 'Kau' kalimat sarkas, semuanya berubah seketika.
Mendapatkan perlakuan berubah drastis dari Nia membuat Elroy mencebikan bibir tak peduli dan kembali mengambil pisau dan garpu yang sudah ada di atas piring.
"Tante pulang dulu" merasa terabaikan oleh Elroy. Nia kembali pamit ke pada Alana dengan nada yang sangat lembut.
Ia berharap Alana akan membantunya. Karena calvin dan perusahaannya berada di ujung tanduk saat ini. Karena bagi Elroy memecat dan menghancurkan perusahaan keluarga Nia bukanlah suatu hal yang sulit.
Apa lagi harga 1 butik elroy setara dengan harga perusahaan yang sekarang sedang di rintis oleh anak sulung dan suaminya itu. Dari sana kita sudah tau sekaya apa Elroy jika di bandingan dengan Nia.
Kini Nia sadar, ia terbenam kedasar oleh kesombongannya sendiri. ya tak ada yang akan kau dapatkan dari kesombongan. Karena di atas langit masih ada langit. Jadi jangan mengatakan kau adalah segalanya. Bahkan jika Tuhan telah mencabut nyawamu. Kau tak lagi memiliki apa apa.
Nia berharap Tuhan masih berpihak padanya. Sepanjang jalan setelah meninggalkan Alana dan Elroy ia merutuk dirinya sendiri.
Alana menatap tajam pada Elroy yang kini malah asyik menyantap makananya. Seolah barusan tidak terjadi apa apa.
Alana sadar Elroy pasti sengaja melakukan ini. Pria itu pasti sengaja merendah lalu dengan mudah dia menarik Nia dan menjatuhkannya kedasar.
Menyadari tatapan Alana Elroy mendesah pelan dan mengambil minum di sampingnya "Kau bisa menusuku dengan tatapan itu al" kata elroy melirik alana dengan masih meminum minumanya.
"Kau pasti sengaja!" Alana bergeser mencondongkan tubuhnya seolah ia sekarang sedang mengintimidasi Elroy.
"Apa?"
"Itu tadi? Kau mempermalukan Tante Nia. Kau pasti sengajakan? Iyakan?" Kini posisi Alana lebih tinggi dan wajahnya lebih dekat di wajah Elroy.
Elroy meraup wajah alana dengan satu tangan dan mendorong wanita itu untuk kembali duduk di posisi asalnya.
"Awalnya tidak"
Elroy mengelap bibir tipisnya dengan tisu dan melemparkan tisu itu ke tas meja. Lalu duduk bergeser dan duduk menghadap Alana
"Awalnya Aku hanya ingin menujukan bahwa kau bahagia bersamaku. Karena Ku lihat dia menyayangimu"
"Tapi ck! Dia benar benar sombong. Aku tak pernah bertemu orang sesombong dia selama ini. Bahkan daddy dan grandpa yang memiliki kuasa tak seseombong dia" kini Elroy tergelak samar. Seolah tadi dia baru menemukan salah satu keajaiban dunia.
Memangnya siapa yang berani sombong itu pada Elroy? Mengingat pria itu mempunyai segalanya. Kasta dan rupa jangan pernah remehkan seorang elroy. Bahkan kau tak memilik celah untuk mengatakan hal buruk tentangnya.
Dingin? Pria akan lebih menarik saat ia cuek bukan?
Alana sadar, Elroy benar. Walau bagaimana pun seharusnya Nia tak perlu merendahkan Elroy.
Elroy mengambil ponselnya yang berada di dalam saku "Siapa nama lengkap Calvin?" Kata Elroy yang kini fokus pada ponselnya
Damn! Benar saja pria ini pasti akan langsung memecat calvin. Mengingat bertapa tajamnya sindiran Nia padanya.
Alana yang menyadari itu langsung mengenggam tangan kiri Elroy dengan kedua tanganya. Elroy yang terkejut langsung mengalihkan pandanganya dari ponsel untuk menatap alana. Kali ini wanita itu memasang wajah super duper memelas.
"Hentikan wajah jelekmu itu al!"
"Jangan!" suara alana lirih dengan masih wajah memelasnya.
"Apa kau masih mengharapkan pria jelek itu?" Elroy menatap tak percaya pada alana.
"Bukan"
"Hmm... Aku minta maaf atas nama tante nia. Benar! dia benar benar keterlaluan tapi bukankah calvin tak bersalah?. Jangan jadikan dia korban atas kata kasar tante Nia padamu" pinta alana
"Kau masih mencintainya?" Elroy benar benar penasaran.
Wajah tak suka tecetak jelas di sana. Ia benar benar marah jika sampai Alana mengatakan iya. Dari membanting meja itu dan mengobrak abrik restoran itu telah tersusun di kepalanya.
"Aku tidak bodoh el" Alana melepaskan gengaman tangan dari tangan pria itu
"Mana mungkin aku meninggalkan berlian hanya untuk imitasi"
Mendengar kalimat dominan matre dari Alana membuat Elroy tersenyum puas. Bagi elroy tak masalah jika Alana matre. jadi ada orang yang akan membantunya menghabiskan uang. Tapi ayolah... apa wanita itu harus sejujur ini?
"Aku hanya ingin kau bersikap prefisional el"
"Ck! Kau kira aku akan memecat pria jelek itu hanya karena ibunya? Aku tidak sepicik itu al"
"Aku hanya ingin mengecek kerjaannya saja. kenapa Mclan Italy bisa menerima pria bodoh itu. Menjaga berlian saja tidak bisa apa lagi menjalankan bisnis. Konyol" jelas elroy panjang lebar.
"Cowok itu ganteng banget! Anjir"
"Bule tapi lancar bet bahasa indonya yakan?"
"Tau gak cocok banget. Njir gua foto ah itu cowok"
Alana menoleh kesamping, disana ada dua orang wanita duduk di meja sebelah dan mereka membicarakan Elroy dari tadi Alana menatap wanita itu tajam.
"Gua calon istrinya. Kenapa dia milih gua? karena jelas gua lebih cantik dari elu bedua. Cakep kagak! gatel iya!" kalimat sarkas plus tatapan mautnya bagai bom yang ia lemparkan pada dua gadis itu.
Elroy yang menyadari kekesalan Alana hanya menangkup pipi Alana dengan lembut. Pria itu langsung mematikan ponselnya karena ia tak mau macan betinanya ini akan menerkam kedua wanita itu atau lebih parah Alana mengambil alih pekerjaan setan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Elroy terlihat sibuk berbicara pada seseorang di seberang line telfon, walaupun begitu tangan kirinya tak henti hentinya mengandeng tangan Alana. Sedari tadi seolah jika di lepas Alana akan di curi oleh orang lain.
Jika orang lain melihat? jelas saja pria dingin itu sangat posesif pada pasanganya. Ya Elroy tak terlalu pandai bersikap romantis seperti layaknya pria pada umumnya. mengingat Alana adalah cinta pertamanya.
Tapi siapa pun yang berada di posisi Alana akan merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Karena Alana berada pada cinta seorang Elroy. Pria tampan dengan segudang kemulian dunia padanya. Memang pria itu tak pandai berkata romantis tapi ia menjelaskan dengan sikapnya.
Seperti tadi dan seperti saat alana kesal dengan kedua gadis di restoran. Elroy dengan sengaja memperlihatkan kemesraan mereka pada kedua gadis itu.
Ting!!
Saat pintu lift terbuka, mereka sampai pada lantai hotel khusus untuk kamar club and executive. lantai ini terletak pada puncak gedung mewah itu. yang tak bisa di kunjungi oleh pengunjung biasa, hanya pelangan VIP saja yang menerima fasilitas mewah itu.
Elroy terlihat menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Aku akan kebawah sebentar. Ada rekan bisnisku" kata Elroy seolah meminta persetujuan pada alana.
"Ini card kamarmu, jangan kemana mana mengerti?" Elroy mencuri kecupan ringan pada kening alana.
tanpa menunggu persetujuan dari alana. Elroy kembali masuk kedalam lift dan tersenyum sampai pintu lift itu tertutup
Alana hanya mengeleng melihat Elroy. Seperti biasa elroy bersikap seenaknya. Sikap menyebalkan itu seolah menjadi jati diri Elroy yang sebenarnya. Alana melangkah gontai melewati koridor luas nan mewah itu untuk menuju kamarnya.
" Ini bukan kunci kamarku!" gerutu Alana.
Alana sudah terlalu capek untuk menyusul Elroy kebawah. Mengingat seharian ini dia dan Elroy hampir saja mengelilingi kota jakarta. Alana memilih untuk berjalan menuju pintu kamar Elroy yang berada di depan pintu kamarnya. Karena card yang elroy kasih memang kunci pintu kamarnya.
Alana menatap kamar itu ya memang tak jauh berbeda dengan kamarnya. Desain kamar hotel selalu sama bukan? Jelas semua barang di kamar itu terlihat mahal mengingat kamar ini bernilai fantastis permalam.
Wangi maskulin Elroy tercetak jelas di ruangan ini meski sudah hampir seharian pria itu meninggalkan ruangan mewah ini.
Alana berjalan ke arah sofa berwarna cream. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Alana menghela nafas kasar dan menatap langit langit kamar melihat chandelier yang mewah.
Lalu dia membuka tas selempang miliknya untuk mengambil ponsel. Gadis itu menuliskan sesuatu pada layar ponsel itu.
Alana
Aku di kamarmu. Apakah masih lama? Aku lelah. Aku juga belum mandi 😤😥😥😥😥😥
Elroy
Sorry bebe. Aku akan ke atas sekarang 😘
Alana
Jangan! Apakah masih lama? 🤔 Selesaikan dulu urusanmu. Aku juga sudah nyaman di sofa ini.
Elroy
Sekitar 20 menit lagi bebe. Istirahatlah dulu. Nanti aku akan membangunkanmu 👄
Alana
Mana bisa aku istirahat. Bagaimana kau masuk? Jika aku tertidur?
Elroy
Bukan hal yang sulit bebe. Apa kau lupa siapa calon suami mu ini. Tidurlah bebe 👄
Setelah membaca chat terakhir dari Elroy, Alana meletakan ponselnya di atas sofa. Matanya masih menatap langit langit kamar. Dia benar benar bahagia berada di sini apa lgi di tambah wangi tubuh Elroy.
Lalu tatapannya tertuju pada sebuah botol kaca berbentuk oval dengan cairan hijau di dalamnya. Mata Alana seakan tertarik pada botol itu. Alana bangkit dan mengambil botol itu
"Abshinthe" Alana membaca tulisan pada botol
"Apakah ini alkohol? Tidak mungkin, Alkohol biasanya berwarna coklat teh atau seperti anggur"
Alana semakin penasaran dan membuka botol. Baru saja penutup botol itu terlepas Alana langsung mengernyit.
"Seperti bau prementasi? Apa benar ini alkohol?"
"Mungkin jika sedikit saja takan membuatku mabuk. X dan Evan jika mabuk terlihat lucu" kata Alana seolah mengingat kedua sahabat kekasihnya itu
Alana mengambil gelas super kecil yang ada di atas meja. Dan menuangkan cairan hijau itu di dalam gelas. Alana langsung meneguk seluruh isi gelas. Ia mencoba mempraktekan cara orang orang meminum alkohol di club malam.
Meskipun segelas tetapi cairan itu sangatlah sedikit. Mengingat gelas itu berukuran kecil. Hal pertama yang Alana rasakan adalah rasa pahit dan rasa fermentasi menyengat seakan membakar lidahnya. Alana menjulurkan lidahnya dan memicingkan matanya seakan menetralisikan rasa minuman itu pada dirinya. Namun sesaat Alana merasa kepalanya seperti di hantam sesuatu.
Bersambung
hiya hiya 🤣 abis ini mo ada apa lgi nih 🤣🤣🤣
trima kasih buat komentar kocaknya 🤣 ay senyum2 sndiri kalo baca 🤣
mo nanya dong yang bikin kalian sedih itu apa sih? selain g punya duit ya wkwk