
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Bahkan penyesalan itu akan lebih sakit dan menyakitkan saat cinta turut ambil peran dalam situasi. Seperti menabur garam dalam luka yang menganga lebar.
Saat kebahagiaan semu mampu membuatnya melayang terbang hampir mengapai surga. Tapi nyatanya ia lupa bahwa di bawah, Neraka dengan api yang menyulut panas menunggunya dengan suka rela.
Setidaknya itulah gambaran tentang kehidupan seorang wanita yang berdiri di depan air yang terhampar luas dengan bertemankan kesendirian yang menyiksa. Perlahan tapi pasti Alana merasakan luka tak kasat mata di hatinya.
Alana benar benar merasa terpuruk saat ini. Wanita itu terlihat rapuh, seolah bongkahan tebing itu jatuh menimpa tengkuknya. Alana merasa dunia begitu kejam padanya.
Ia benar benar merasa sendiri di dunia ini. Bagaimana tidak?
Ia berada di negara yang tidak ia kenali.
Tidak tahu akan kemana?
Yang ada disana hanya kesunyian yang mencengkram. Suara ombak dan angin yang seolah bersepakat menemani Alana.
Sekuat apa pun Alana mencoba menahan air matanya. Nyatanya air mata itu terus mengancam merembes keluar. Saat air matanya hampir saja jatuh dan saat itu juga mata indah itu menangkap sebuah Mobil mazzanti evantra berwarna putih berhenti tak jauh dari depan alana.
Alana bingung mobil siapa itu? Selama yang ia tahu, Elroy tak memiliki mobil seperti itu. Lalu matanya dengan lancang melihat plat mobil itu X A V I E R. Alana mulai mengerti tanpa sadar ia menghela nafas lega karena Xavier adalah salah satu teman Elroy yang memiliki senyum menawan dan yang paling penting adalah dia bukan pria yang suka tebar pesona.
Mobil itu berhenti tanpa melakukan apa apa. Dan si empunya mobil pun seolah enggan keluar dari mobil mewah itu. Dan saat itu juga kaki Alana terasa gatal untuk menghampirinya. Tapi langkahnya terhenti. Karena kali ini mobil itu mulai bergerak sendiri untuk membuka semua pintu dan kap.
Mata alana membulat saat kap mobil itu terbuka kedepan. bukan karena takjub tapi matanya menangkap 1 kata. Kata itu jelas dengan goresan tinta pilok berwarna biru di gores dengan indah di kap mobil. dengan menampilkan tulisan "WILL"
Lalu pemuda tampan terlihat keluar dari dalam mobil, menutup mobil dan bersandar pada body mobil dengan senyumannya yang khas.
Alana tersenyum membalas senyuman Xavier. Bukan karena tulisan itu, setidaknya ia sadar bahwa kehidupan tak lagi meninggalkannya dalam jurang kesakitan. Ia ingin menghampiri Xavier dan bertanya dimana Elroy. Karena kakinya sudah tak sabar untuk menyiksa pria itu.
Kali ini kakinya kembali terhenti karena terlihat sebuah mobil ferrari laferrari berwarna hitam berhenti tepat di sebelah mobil sport putih milik Xavier.
Tak lama seperti Xavier. Mobil hitam metalic itu kini sedang terlihat membuka atap mobil dengan otomatis. lalu seorang pria dengan wajah kaku itu telihat berdiri di dalam mobil dengan memegang sebuah kertas besar berwarna putih dengan tulisan "YOU"

Dia matthew atau yang lebih Alana kenal sebagai tangan kanan elroy di kantor.
Alana tercekat, ia bingung dengan apa yang sedang terjadi ini. Karena yang ada di kepalanya saat ini adalah Elroy.
Elroy
Elroy
Dan Elroy
Hanya Elroy!
Seolah tak di beri kesempatan untuk memikirkan apa yang sedang terjadi. lagi lagi matanya melihat sebuah supercar berwarna merah metalic kembali bergerak mendekat dan berhenti melintang tepat di depan mobil xavier dan matthew.
Alana tahu siapa itu. Dia adalah Evan walaupun sekali bertemu, Alana cukup bisa mengingat pria yang kini sedang tersenyum padanya. Well.. siapa yang bisa dengan mudah melupakan pria tampan dengan kesempurnaan melekat bak belahan jiwa?
Lalu pria itu menunjuk body mobilnya . Karena mata Alana hanya terfokus padanya. Mata Alana membulat sempurna karena sadar akan kalimat itu. "MARRY" satu kalimat itu mampu menjelaskan seluruh pertanyaan Alana dari tadi
Seolah tak juga di izinkan untuk mengembalikan kesadaranya.
Kali ini kembali di kejutkan dengan pergerakan motor besar berwarna biru bergerak dengan cepat mengelilinginya dengan 3 kali putaran.
Sebelum berhenti tepat di kanan Alana, pria itu terlihat membuka helm hitamnya. Di lihat dari motornya saja Alana sudah cukup mengetahui siapa pria itu. Dokter muda yang terkubur masa lalu. Tapi nyatanya pria itu tetap menampilkan senyum terbaik di setiap kesempatan.
Alana sedikit mengenyit karena tak mengerti. Ia tak peduli dengan pria tampan dan mapan yang kini sedang berada di depanya. Dengan senyum dan reaksi kaku seolah itu reaksi yang selalu Elroy tunjukan. Tetap saja ia lagi lagi ia mencari elroy.
sampai Lauro berjalan mendekatinya dan memutar tubuh Alana untuk melihat kebelakang. Alana menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. Air matanya sukses lolos begitu saja saat melihat seorang pria yang berdiri di depan mobil sedikit jauh darinya.
Pria itu terlihat memegang sebuah kertas besar bertulisan "ME" di tangan kanan dan mawar merah di tangan kiri. Kemudian pria itu merentangkan tangannya. Seolah memberikan isyarat pada Alana untuk berlari menghampirinya. Tak menunggu lama Alana berlari sekuat tenaga dan menerjang tubuh pria tampan itu dengan pelukan.
Pelukan yang sangat erat.
Alana menangis di dalam pelukan Elroy. Ya pria tampan itu adalah Elroy. Sebuah kejutan manis buat Alana. Memang sudah ia persiapkan dari awal.
Kejutan itu begitu manis di tambah cahaya kekuningan yang sangat indah. Pertanda matahari akan masuk ke peraduannya. Sinar matahari yang mengintip malu malu di balik awan seolah ia juga ingin menyaksikan kejutan manis dari pria kaku seperti Elroy
Elroy sebenarnya sedikit benci dengan isakan tangis Alana. Niatnya melakukan ini adalah untuk membuat Alana bahagia bukan malah sebaliknya.
"Aku mencintaimu" hanya itu yang keluar dari mulut Alana. Sebelum wanita itu melepaskan pelukanya. Dan menatap elroy dengan tajam .
"Kau!!!" Alana memukul dada bidang elroy dengan buku tanganya.
"Aku kira kau meninggalkan aku!" Alana kembali memukul dada bidang Elroy dengan pelan dan bruntun.
aku kira --"
Perkataan Alana terhenti saat Elroy membungkam bibir alana dengan bibirnya.
Ciuman itu menjadi lumatan, alana yang mulai terbiasa kini membalas ciuman Elroy.
Matthew , xavier , evan dan lauro telihat saling menatap dan tersenyum bahagia.
"Apa kau mencintaiku?" kata Elroy dengan seksi setelah melepaskan pangutanya. Dengan kening yang menempel di kening alana.
"Yes" kata alana singkat dengan senyum bahagianya. Dan wanita itu berteriak saat Elroy mengendong tubuhnya dan memutar. Pria itu terlihat sangat bahagia. Elroy menurunkan alana, mencium bibir alana sekilas dan memeluk tubuh alana.
"Terimakasih sayang, terimakasih" Mereka terlihat bahagia sampai senyum alana hilang saat mendengar suara hellikopter yang mendekat.
Alana dan elroy sama sama mendongak ke arah helikopter yang kini berjarak cukup dekat.
"Ayo kita pergi sepertinya helikopter itu akan mendarat di sini"
"NO! Lihatlah sayang" kata elroy yang tersenyum
Tiba tiba saja spanduk yang tergulung di bawah badan helikopter terbuka. Dan alana terperangah saat melihat kata kata yang merangkai sebuah kalimat yang tertera pada spanduk besar tersebut "I PROMISE TO LOVE U ALWAYS AND FOREVER ALANA CHRISDELSA"
Karena terperangah dengan helikopter itu Alana tak menyadari saat ini Elroy telah bertekuk lutut dengan memegang sebuah kotak yang terbuka dan terdapat cincin berlian dengan batu permata biru safir.
"Alana"
Alana menoleh ke arah suara. Alana lagi lagi terperangah mendapatkan kejutan itu. Wanita itu benar benar tidak bisa menyembunyikan kesenanganya.
Bukan karen cincin tapi karena keromantisan pria menyebalkan itu. Alana bahkan tak pernah bermimpi untuk di lamar seperti ini. Di tempat yang indah. Di bantu oleh pria pria tampan berkasta tinggi.
Oh god ... apa kau tak terlalu berlebihan? Dengan memberikan situasi ini
Di lamar oleh pria yang bahkan tak pernah di hayalkan oleh Alana. Pria super tampan seolah setara dengan seorang pangeran di dongeng cinderella.
"Alana"
"Aku tahu ini terlalu cepat. Bahkan aku menarikmu dalam pelukan ku dengan cara yang salah"
"Tapi izinkan aku mencintai dan membahagiakanmu dengan cara yang benar"
"Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya"
"Ratuku"
"istriku"
"temanku"
"Ibu untuk anak anaku nanti. Izinkan aku menganti luka mu, tangismu dengan tawa bahagia. Hanya aku.. hanya aku yang mampu membahagiakanmu"
"Izinkan aku membawamu ke dalam ikatan pernikahan yang suci. Maaf jika lamaran ku ini tak seromantis yang kau harapkan. Aku bahkan tak pernah berfikir untuk melamar seseorang" kekehan geli keluar dari bibir tipis elroy
"Kau wanita yang mampu membuatku melakukan ini semua"
Tulus dan tak ada keraguan dari kalimat panjang dan beruntun yang Elroy ucapkan.
"El" alana tak kuasa menahan air mata bahagianya.
"Will u marry me?" Elroy bertanya dengan sedikit ragu. Karena mustahil Alana akan melabuhkan hati dan hidupnya untuk dirinya. Atau Elroy kembali harus mengikat Alana jika jawabanya tidak.
Karena melepaskan bukan gaya Elroy.
"Yes..." jawab alana dengan mantab.
Senyum ragu itu sirna. Elroy terlihat mengambil cincin yang ada di kotak lalu menyematkan cincin cantik itu di jari manis alana.
Elroy tak henti hentinya tersenyum dan elroy membuang kotak cincin itu sembarangan. Kemudian mengendong Alana dan berputar. Elroy berteriak kesenangan karena alana menerimanya.
"Aku bahagiaaaaaaa... aaaaaal.. aku bahagiaaaaaaa.
"Woooooo... hahahaha.... hay dia menerimaku" pekik Elroy.
Alana yang dalam gendonganya juga tertawa bahagia. Teman Elroy saling menatap dan tersenyum tipis. Memang itu yang mereka pikirkan. Memang siapa yang bisa menolah pesona Elroy?
Ke empat temanya terlihat membuka pakaian atasnya dan berlari kearah Alana dan elroy. Elroy menurunkan Alana sampai keempat temanya menubruk tubuh Elroy hinga jatuh ke pasir pantai.
Air yang sudah mulai naik juga membuat mereka basah. Alana hanya tertawa senang melihat ke akraban ke lima sahabat itu. Dan ke empat teman elroy juga memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini.
Mereka menemukan kembali elroy yang lama. Elroy 18 tahun yang lalu sebelum beban berat harus Elroy tahan. Elroy yang penuh keceriaan. Elroy yang tak pernah memiliki beban. Elroy yang tanpa dendam. Ya elroy benar kembali karena Alana.
Kelima sahabat itu terlihat bergelut dan saling menengelamkan sesama ke air laut. Tawa dan candaan bahagia sepertinya sedikit sulit mengambarkan perasaan mereka.
Pria pria dewasa itu terlihat sperti anak anak. Elroy dan matthew yang dingin kini wajahnya di penuhi oleh senyum bahagia. Elroy bergerak meminta pertolongan pada Alana. Tapi sia sia saat xavier dan evan menariknya kembali ke air. kini Alana juga ikut masuk ke air karena matthew mengangkat tubuhnya. Sedangkan evan langsung menyipratkan air pada wajah Alana.
Tbc
wkwkwk mana suara tim nunggu di lamar?🤣🤣🤣🤣