
Elroy pov
```
Aku tidak hamil!... Kau aman! Jika itu yang kau takutkan. Jika pun aku hamil kau tak berhak membunuh anakku!!! Kau bebas aku takan meminta pertanggung jawabanmu
Saya mengerti apa yang bapak rasakan. Tapi tenanglah. Istri anda berhasil melewati masa kristisnya. Tapi Tuhan berkehendak lain dan Istri anda mengalami keguguran. Janin itu baru berusia 2 minggu. Dan karena benturan yang keras pada istri anda. Membuat janin itu tak mampu bertahan.
```
Perkataan Alana dan Dokter itu terus bermain di kepalaku . Bagaimana bisa Alana keguguran sementara Alana mengatakan dia tidak hamil. Aku benar-benar merasa jatuh dalam lubang paling dalam semua terasa sesak dan menyakitkan.
Apa yang telah kau lakukan El!, Kau membunuh anakmu sendiri. Jika saja kau tak meninggalkan Alana maka semua ini takan pernah terjadi. Kau memang brengsek El, dasar Brengsek keparat.
Aku benar-benar telah menghancurkan Alana sampai menjadi debu. Menghancurkan hidupnya dan membuatnya kehilangan anaknya. Anakku, anak kami. Oh Tuhan. haruskah selengkap ini kau berikan penderitaan baru padaku??
Aku mengambil ponsel di dalam jaketku. Mengaktifkanya lagi lalu Aku menerima beberapa pesan dari mom, dad dan Kenzo.
Kenzo? Tentu dengan sumpah serapanya. Karena aku mengabaikan panggilanya. Dan malah menonaktifkan ponselku. Ku akui Kenzo selalu ada disaat aku ada masalah. Ia seperti punya kontak batin denganku. Ck! Lucu bukan.
Tapi Kenzo kurang waras dalam menyampaikan nasehatnya walaupun apa yang di katakanya benar. tapi selalu saja menaikan emosi terlebih dahulu. Aku tak ingin membuat suasana hatiku yang buruk menjadi lebih buruk. Aku mengabaikan mereka dan Aku menelfon orang kepercayaanku di Indoensia.
Tentu bukan orang sembarangan. Orang yang berkualitas tinggi yang melakukan pekerjaan di dunia hitam. Yang kejam namun siap bermain cantik. Sehingga tidak meninggalkan jejak. Polisi ingusan takkan pernah bisa melacak kami.
"Hallo.. kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"...."
"Apa?!... sial!"
"...."
"Kenapa kau lakukan brengsek?!"
"..."
"Oh begitu. Baiklah. Padahal aku belum puas menyiksanya, bereskan dia. Aku tak mau ini menjadi masalah di kemudian hari"
Aku kesal karena Sondy telah tiada. Aku fikir orang orangku yang menghabisinya. Ternyata ia tewas karena terlalu lemah hanya karena ku hajar sedikir saja?, bagimana dia bisa mati dengan sangat mudah? setelah dia menghancurkan hidupku, hidup Alana? bahkan anakku yang tak berdosa harus terampas hidupnya sebelum bermula.
seharusnya dia mati setelah nanti, setelah aku puas memberikan siksaan padaanya. sampai akhirnya dia akan memohon padaku untuk mati saat itu juga. manusia sampah seperti Dia tak pantas hidup bahkan mati sekalipun mereka harus merasakan hal yang sangat pedih.
ππππππ
Elroy pov
"Baiklah dad"
Aku menatap tubuh Alana yang terbaring lemah di ranjang president suit rumah sakit besar di Jakarta ini.
Rasa sakit dan sesak menghiasi dadaku melihat gadisku hanya bisa terbaring lemah. Jarum infus dan selang oksigen menghiasi tangan dan wajahnya. Belum lagi perban yang menghiasi kepalanya.
Aku menatap perut ramping Alana. Disana, belum lama ini bersemayam anakku. Seseorang yang tak pernah ku duga kehadiranya tapi sudah berhasil mengusik perasaanku, kenapa aku benar-benar merasa kehilangan. Padahal sebelumnya aku tak pernah menginginkan kehadiran seorang bayi dalam hidupku.
"Aku baru menemukanmu. Dan aku harus menelan pahitnya kahidupan dengan kehilangan anak kita. aku mohon Ikutlah bersamaku. Aku berjanji hanya kau wanitaku. Aku bersumpah akan membahagiakanmu" Ucap Elroy lirih.
Aku tak bisa membayangkan wajah kecewa Alana nantinya, Jika tahu anak kami telah tiada. Dia sempat melarangku membuang anaknya bukankah itu berarti dia sama denganku, Sangat mengharapkan anak itu.
Aku tak peduli dengan penolakanya. Dia harus menjadi miliku. Karena tak ada yang sanggup menjaganya sebaik aku. Aku takan mengulang kesalahan untuk hampir kehilangannya untuk ke tiga kalinya.
Aku mengambil kursi dan duduk tepat di tepi ranjang Alana. Wajah itu benar benar pucat tak berdaya Mata itu tertutup dengan setia. Aku mengenggam erat tangannya yang sedingin es. Lalu sesekali mengelus perut rata itu. Pernah ada anakku disana yang kini telah tenang di surga. Aku tak kuasa menahan tangisku. Wanita ini berhasil menghancurkan pertahananku.
"Aku tak tahu apakah masih pantas aku mendapatkan maaf. Aku menyakitimu... kini aku gagal menjagamu dan calon bayi kita"
"Apa maksudmu"
Deg!!!
Aku melihat wajah Alana. Mata itu telah terbuka. Dan entah dari kapan mata itu memperhatikanku. Ia terlihat sangat terkejut dan yang lebih parah air matanya lebih dulu mengambil posisi.
"Apa maksudmu Tuan?" pertanya menuntut itu membuatku semakin gugup. Aku tak tahu harus mejawab apa.
"Apakah aku hamil?"
Alana mencoba bangun namun, seketika seluruh kesakitan menyerbu dan itu terlihat jelas dari wajahnya.
"Istirahatlah kau sangat lemah" aku mencoba menenangkannya.
"Iya. Tapi anak kita telah tiada. Kau keguguran" sepontan perkataanku membuatnya menangis dan histeris. Ia begitu terpukul. Aku terpaksa memangil dokter.
πππππππ
Alana pov
Hidupku seperti berjalan di atas bara. Luka dan air mata selalu memainkan peranya dengan apik. Apakah aku tak pantas bahagia?.
Kenapa takdir begitu kejam padaku?
Aku tak tahu kenapa aku begitu sedih. Keguguran! Aku tak tahu kenapa aku sedih karena hal itu. Aku memang belum mengharapakanya hadir dalam hidupku. Karena aku belum pernah menikah.
Tapi rasanya luka itu terus menganga. Aku merasa menjadu ibu yang sangat tak berguna. Ia hadir tapi aku tak mengetahuinya dan Dia tidak bersalah tapi, Kenapa ia harus pergi secepat itu. Dan dengan cara yang semenyakitakan itu? Oh anakku yang malang.
Sudah 2 hari aku berada di rumah sakit ini. Tempat ini terlihat mahal. Aku sudah meminta untuk pulang tapi dokter dan Elroy belum memperbolehkanku pulang.
Aku tak tahu apa maksud pria di depanku ini. Sudah dua hari ini ia selalu menemaniku. Ia terlihat begitu khawatir padaku, untuk apa? bukankah ia bisa bermain dengan ribuan gadis di luar sana?, lalu buat apa dia bersusah payah memperdulikan aku?
cinta?
oh Al!!! buang jauh-jauh pikiran bodohmu itu, mana mungkin pria sesempurna dia? Dan yang jelas dia Ladykiller, Calvin dan Ayah sudah menjadi contohnya. sadar Al! itu bagai pungguk merindukan bulan.
"Aku akan keluar sebentar, untuk menemui Dokter. istirahatlah" Ucap Elroy padaku dan ku lihat dia begitu perhatian. Apa dia tidak punya pekerjaan? Pasalnya dari semalam ia tak pernah meninggalkanku sendiri.
Aku sedikit takut pulang kerumah. Biasanya ayah tak menyiksaku sekejam ini, Tapi? apakah dia ada masalah di luar? bagaimana jika suasana hatinya masih seperti tadi kemarin?
Oh Tuhan, kenapa hidupku harus serumit ini?
Aku harus kemana? aku harus bagaimana? mungkin setelah ini aku harus menyewa sebuah kost-kostan. semoga gajiku cukup untuk memulai kehidupan baru setelah ini.
Aku tak ingin berlama-lama dengan pria seperti Elroy. sungguh! Aku tak mengerti apa maksudnya baik padaku. Aku takut semakin lama aku bersamanya. Aku akan jatuh pada permainanya. aku ini normal, biasanya wanita akan memaafkan kesalahan fatal pria asalkan dia Tampan, kaya dan modus, ku rasa Elroy memiliki segalanya.
Jujur! Aku baru pertama kali melihat pria setampan dia dengan mataku secara langsung. Sayang sekali hatinya tak seindah parasnya. Dia suka bermain peremuan. Pasti saat itu ia menyangka aku adalah PSK yang akan melayaninya.
Setelah sekian menit berlalu masuklah Elroy dengan wajahnya semakin tampan dengan senyumanya. Bagaimana aku bisa bertahan jika wajah dan kebaikanya menguji imanku. Wajahnya asli tapi kebaikanya? Aku tak yakin.
"Aku punya dua kabar. Kabar buruk dan kabar gembira, kau mau yang mana dulu?" kata Elroy yang kini duduk di kursi di sebelah ranjangku.
Karena hidupku sudah terlalu buruk setidaknya biarlah aku mendengar kabar gembira itu dulu. Aku memintanya untuk memberitahu kabar gembira itu dulu.
"Hari ini kau sudah bisa keluar dari sini. Bukankah kau tak betah disini" sebenarnya kabar itu tak terlalu bahagia buatku.
Bagaimana tidak? aku harus pulang kerumah lamaku terlebih dahulu sebelum aku mengambil gajiku. Mencari kost juga butuh waktu. Aku benar-benar ingin mati dengan situasi ini. Sepertinya aku tak perlu mendengar kabar buruk lagi. Jika kabar gembiranya saja membuatku hampir gila.
"Apa kau tak mau dengar kabar buruknya?" kata Elroy
"Tidak" balasku singkat.
"Baiklah. Kau takan pulang kerumah itu lagi" katanya
Kata kata itu sedikit membuatku tenang. Tapi bagaimana bisa? Aku harus kemana? Kerumahnya? Sama saja menyerahkan tubuhku pada singa yang sedang kelaparan. Aku hanya mengernyitkan dahi sebagai tanda ia harus menjelaskan kebingunganku ini.
"Kau akan ikut denganku, kau akan pindah ke Madrid" jawabnya enteng
"APA!"
Sepontan perkataanya bagai bom waktu buatku. Selain wajah yang tidak sopan apa pria di depanku ini tak tahu caranya untuk berdiskusi?? Tanpa bisa seenaknya saja?
Aku punya hak atas hidupku sendiri brengsek!!!
.
TBC
Give me vote and comentnya bebe
Lohkan π₯Ί bg El g bisa bawa ay aja??
Thanks banget buat yang udah mau vote. Tulungin juga coment spamnya ya bebe π€£
Biar kek novel novel lain π€£
#penulisgaktaudiri