
*Setelah memeriksakan kandungan Alana. Elroy dan Alana sepakat akan menghabiskan akhir pekan ini di mall yang bersebrangan tak jauh dari rumah sakit tempat ia di priksa.
Alana dan Elroy telah sampai di dalam lift, saat Elroy hendak menekan tombol lantai dasar. Alana langsung menahan tangan kekar Elroy.
"Aku ingin berjalan kaki.. ku lihat cuaca hari ini sangat indah"
"Tapi Al.."
"Tidak ada tapi tapi mister Elroy. Apa kau lupa jika aku sudah harus banyak bergerak?"
Ya... usia kandungan alana sudah menjalani trimestri terakhir. Menurut prediksi dokter dua minggu lagi mereka akan segera bertemu dengan kedua bayi mungil mereka.
"Oke... kau tidak boleh jauh dariku... apa pun yang terjadi!"
"Siap bos" Alana memberikan hormat pada Elroy layaknya seorang tentara yang memberi hormat pada atasanya.
Lalu tanpa memberi aba aba Elroy pun langsung mendekap tubuh bagian samping alana.
Kedua pasangan itu tertawa berjalan melewati banyak pasang mata di lantai satu. Alana yang mengenakan dress selutut motif bunga dengan kombinasi warna putih sebagai warna dasar. Terlihat sepadan dengan elroy yang kini tengah mengenakan pakaian formalnya.
Setelah sampai di luar rumah sakit tiba - tiba ponsel yang berdalam dalam saku jasnya bergetar. Awalnya Elroy mengabaikan telfon itu tapi alana yang merasakan hal yang sama pada pundaknya karena posisi elroy yang berjalan sambil mendekap alana.
Seketika Alana menghentikan langkah kakinya dan melirik tajam ke arah Elroy.
Elroy yang mengerti tatapan arti tatapan tajam Alana hanya mengangkat kedua tanganya seolah menyerah, sembari memberikan senyum. Terbaik yang pernah ia punya.
"Angkat telfonmu!"
"Ini tidak penting sayang" Elroy berkata sedatar yang ia bisa.
"Ohya tuan. Apa kau ini sejenis cenayan atau malaikat yang tidak berguna?"
"Oke oke" Elroy menyerah
Hal yang paling Elroy hindari di muka bumi ini adalah kebangkrutan, kehilangan Alana dan berdebat dengan duplikat nenek sihir ini.
Menurutnya kehilangan satu proyek lebih baik dari pada harus berhadapan dengan kemarahan wanita di depanya ini. Satu perkataanya akan di balas ribuan kalimat dari istrinya. Mungkin jika di tulis di dalam buku semua kalimat itu bisa menciptkan novel thriller.
Akhirnya Elroy mengangkat telfon itu.
"Ya..."
"Siapa?" Elroy mengetatkan rahangnya. seolah telfon itu memberikan kabar buruk. Elroy memberikan kode pada tangan dan mulutnya tanpa mengeluarkan suara pada Alana untuk tetap di sini. Karena setelah memberikan perintah itu Elroy berjalan sedikit menjauh dari Alana.
Pria dengan rahang kokoh yang kini sedikit di hiasi jambang halus pada wajahnya menambahkan khas maskulinya. Elroy tampak berteriak pada pria yang berada di line telfon.
Alana yang melihat Elroy dari jauh hanya mengangkat kedua bahunya dengan tangan masih membelai perut buncitnya. Seolah ia tak peduli pada masalah Elroy.
Alana berjalan sedikit kedepan kakinya yang terlapis sepatu kets putih yang senada dengan warna gaunya. Wanita itu berjalan menuruni tangga teras rumah sakit.
Tiba tiba dari arah kanan sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menyenggol tubuh Alana hingga terkejut dan terjatuh.
Elroy yang mendengar suara teriakan Alana dan suara beberapa orang di sana. Ponsel yang sedari tadi berada pada telinganya kini telah jatuh ke lantai. Gerakan reflek yang Elroy lakukan adalah berlari secepat yang ia bisa untuk menangkap istrinya.
"Aaaaaaal... !!!" Elroy berusaha berteriak memanggil alana nyatanya suara itu tak bisa keluar sekeras yang ia mau.
Mata Elroy menatap tubuh Alana. Gaun dan sepatu yang sedari tadi berwarna putih kini berubah menjadi merah darah.
Elroy yang kini tengah mendekap tubuh Alana merasa seketika dunianya hancur berantakan.
"Al..."
"Alana... ALANAAAAAAAAAAAA*!!!!!!"
Elroy membuka matanya saat mimpi buruk datang menghampirinya. Nafasnya terasa tercekat saat membayangkan mimpi buruk itu. Mengusap dahi yang ternyata berpeluh dan melepaskan kaos yang lembab karena keringat menunjukan otot otot perutnya yang bekilat basah.
Merasakan gerakan Elroy di sampingnya. Membuat Alana yang baru saja terlelap kini terjaga dan mencoba mendudukan tubuhnya.
"Kau... kau baik baik saja sayang?" Alana menutup mulutnya yang menguap tapi tiba tiba Alana terkejut saat tangan kokoh suaminya memeluk tubuh munggilnya.
"Kau baik baik saja sayang?" Elroy memeluk alana sangat erat dan berkali kali mencium rambut alana.
Tapi berbeda dengan Elroy, Alana malah mati matian memukul tubuh belakang Elroy dan berteriak supaya elroy melepaskanya.
"Lepaskan aku El!!! Apa kau berniat membunuhku? Huk huk huk"
Elroy melepaskan pelukanya dan mencengkram kedua bahu alana. Melihat perut alana, kiri kanan tubuh alana. Menyibak selimut putih itu dan memeluk Alana kembali.
"Syukurlah sayang!"
"Syukurlah kau baik baik"
"Ia tadinya aku baik baik saja tapi sebentar lagi ku kira aku akan mati karena kau!!!"
Elroy melepaskan pelukanya dan menatap heran pada Alana. Sedangkan Alana menatap Elroy dengan laser panas seolah tatapan Alana sekarang mampu melubangi kepala Elroy.
"KAU GILA!" Alana langsung turun dari tempat tidur untuk mengambil air di atas nakas. Ia harus bergerak sedikit mengingat ia tak bisa selincah dulu karena kehamilanya.
Elroy mendengus pelan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Ayolah... apa macan betina ini tidak bisa sedikit lebih lembut padanya. Mengingat bertapa ketakutanya Elroy karena mimpinya barusan.
Elroy tak sanggup.
Elroy tak bisa
Elroy tak akan pernah bisa menghadapi situasi yang sama untuk kedua kalinya. Dimana saat itu Alana yang belum resmi menjadi istrinya harus berlumuran darah dan berakhir dengan mereka kehilangan anak mereka.
"Minumlah!" Alana memberikan air minum itu dan kembali duduk di samping Elroy. Wanita itu kembali memeluk perutnya dan mengambil gelas yang tadi ia berikan pada Elroy. Tapi sayang terhenti karena elroy langsung menaruhkam gelas itu pada nakas.
"Maafkan aku " satu kalimat dua kata yang menjadi andalan elroy beberapa hari terakhir. Sudah tiga hari terakhir Elroy selalu bermipi buruk tapi ini adalah mimpi yang paling elroy takuti.
"Katakan"
"Aku bermimpi aku hampir kehilangan kau dan..." terserah pada mereka yang mengatakan Elroy cengeng. Karena nyatanya Elroy tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.
Alana yang mengerti hanya memeluk elroy dengan lembut. Jika tadi Alana memukul pundak Elroy kini ibu hamil ini hanya menepuk nepuk pelan pundah Elroy. Seolah itu adalah obat mujarap untuk menenangkan elroy.
"Aku tak akan meninggalkanmu, akukan selalu berhati hati untuk menjaga mereka" alana melepaskan pelukanya dan membawa tangan elroy untuk menyentuh perutnya.
Elroy merasa hangat karena disana ia merasakan respon dari anak anaknya. Beberapa kali gerakan pada perut alana membuat wajah elroy yang sedari tadi ketakutan kini menjadi damai.
"Tenanglah"
Elroy melihat perut alana dan kini menatapa wajah alana. Ia merasa menjadi pria paling di dunia.
"Mereka memberimu semangat sayang"
Elroy mengeser sedikit posisinya sedikit membungkuk dan memberikan kecupan dua kali pada perut alana dan berakhir dengan memeluk alana.
"Terimakasih karena selalu mengerti aku"
😏😏😏
Pagi ini sama dengan pagi sebelumnya. Matahari masih bersinar cerah. Alana sudah rapi dengan gaun putih kesukaanya. Entah kenapa akhir akhir ini alana sangat suka mengenakan dress putih
"El.. bangun" alana menepuk pelan lengan elroy.
Elroy yang merasa terusik membuka matanya dan meregangkan ototnya. Elroy melirik tipis kearah alana sembari tersenyum.
"Morning bebe"
"Morning, ayo bersiap tuan ini sudah jam 6.30 kau ada metting bersama Mr.Taka jam 8.00"
Seketika Elroy mendengus. Apa selain menjadi istri sekarang Alana bertindak menjadi seketaris pribadinya. Mungkin setelah masalah perusahaanya selesai elroy harus memecat Matthew karena pria dengan mata hijau itu telah berani menyeret istrinya untuk bekerja tanpa di bayar. Tch.. yang benar saja.
"Plak..." alana memukul paha Elroy sedikit lebih keras
"Bangun tuan! Kau bisa terlambat!!!"
"Oh tuhan.. Alana bisakah aku melaporkanmu kehomnas perlindungan suami?"
"Jangan becanda ayo cepat bangun... atau aku memecatmu sebagai suamiku"
Mendengar ancaman andalan alana itu elroy langsung berdiri di atas kasur dan berlari ke kamar mandi.
Tapi sebelum memasuki kamar mandi dengan pintu berwana putih terkesan mewah itu. Elroy berhenti ia menyentuh bibirnya dan berbalik melihat alana yang kini telah duduk di atas ranjang dengan posisi kaki di lantai
Alana yang merasa heran dengan tatapan elroy bertanya "Ada apa?" Wanita itu melihat tubuhnya untuk melihat apa yang salah
Elroy seperti mengingat sesuatu dengan masih menyentuh bibirnya. Oh my lord... meski dengan 'muka bantalnya' Elroy masih terlihat tampan. apa pria ini tidak bisa mengurangi kadar seksinya sedikit saja?
Masih dengan imajinasi liarnya tiba tiba suara bariton elroy membuyarkan lamunan alana. Retak! Hancur! Sketika!
Dengan nada bicara yang paling datar dan ekspresi tanpa dosa elroy berkata "Ganti baju mu!" Lalu setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi.
Alana yang tadinya keheranan kini berubah menjadi kesal. Apa salah bajunya?
Seharusnya Alana maklum bukankah Elroy memang devil yang bersembunyi di balik tubuh malaikat? Tapi ternyata otak alana sampai saat ini masih sering melupakan hal yang sudah seharusnya ia ingat sebagai pedoman khusus untuk bisa menjadi pendamping Elroy Christian Mclan.
to be continiued 😘...
4 chapter ini
ini kenapa sih noveltoon kok lama bgt up punya ay
jan lupa komen ya syg 2 chpter plus 1 extra part story ini tamat.
extra part mau di up juga gak 🤣🤣