
Elroy terlihat pulas di atas ranjang lembut yang dominasi warna hitam. Sudah tiga hari sejak peristiwa naas di mansion mewah ayahnya.
Hubungan Michel dan Elroy berangsur membaik walaupun lebih sering dihiasi rasa canggung bagi keduanya. Karena terkadang sifat beruang kutub Elroy kambuh. Baginya itu 'penyakit' yang tak bisa di hilangkan.
"Apa kau tetap tidak ke kantor hari ini El?" Suara lembut itu sepertinya cukup memenuhi ruang kamar.
Terlihat seorang wanita membuka pintu kamar Elroy, siapa lagi jika bukan Alana. Seolah larut dalam mimpinya Elroy tak bergerak sedikitpun. Apa lagi kali ini telinganya tertutup oleh hansfree.
Alana menghela nafas pelan dan berjalan menuju ranjang. Tangan kurus itu mulai menarik tangan El yang memeluk erat bantalnya. Sepertinya Elroy serius dengan tidurnya. Bahkan tarikan itu tak membuatnya bergerak sedikitpun.
"Sayang"
Mendengar perkataan Alana, Elroy langsung membuka matanya. Seolah kantuknya pergi lenyap di telan waktu. Sebenarnya dia mendengar teriakan cempreng Alana yang menodai telinganya. Hanya saja dia ingin bermanja manja dengan alana. Karena sejak Elroy sakit wanita bar bar itu berubah menjadi peri pelindung.
Ck! Alana? Tentu saja
"Katakan sekali lagi sayang"
Elroy menarik hansfree itu dan mendudukan dirinya di tepi ranjang bersisian dengan Alana. Pria itu terlihat memeluk tubuh Alana yang berdiri di tepi ranjang. Dan tanpa sungkan El menempelkan pipinya di perut ramping alana.
"Memangnya aku mengatakan apa tadi?"
"Sayang" kata Elroy yang mendongak dan tersenyum mengoda, ia yakin sebentar lagi macan betina itu akan segera menerkamnya.
"Jadi kau dengar! lalu kenapa kau mengabaikan kata kataku barusan?!"
see?... Baru saja di katakan. Macan betina itu sudah mengeluarkan jurus andalanya. Elroy hanya terkekeh geli menerima pukulan beruntun dari alana yang memukul punggungnya.
"Aku mendengarnya sayang. Aku baru akan menjawabnya sekarang" kata Elroy setelah berhasil menangkap kedua tangan Alana. Karena jika tidak di hentikan mungkin pukulan itu mampu meretak tulang Elroy. Berlebihan
"Terlambat!"
"Aku mulai bekerja besok. Aku juga sudah membicarakan pada Daddy. Dan aku juga ingin dad mengetahui bahwa Teman temanya itu sampah yang menikam perusahan dari dalam" jelas elroy seraya menghentikan ucapanya.
"Hari ini kita akan ke party dan sebelum itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat"
"Party? Ah tidak! aku tidak mau. Apa kau tidak malu membawaku? spanyol gudangnya wanita cantik"
Alana mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca yang memperlihatkan cahaya matahari mengintip malu malu di balik awan.
"Malu?" Elroy tersenyum manis
"Justru aku akan menunjukan pada dunia bahwa kau adalah miliku. Hanya miliku, spanyol memang gudangnya wanita cantik. Tapi Aku tak suka barang gudang"
"Tidak el!"
"Apakah ada hati pria yang sedang kau jaga Al? Kenapa kau tidak ingin hubungan kita di ketahui public"
nada bicara Elroy tetap sama tapi cukup membuat Alana tercekat. Pasalnya senyum itu lenyap tak bersisa. Yang kini menatapnya hanyalah seorang pria yang selalu bersikap bossy pada karyawanya.
Alana menatap Elroy lalu menghela nafas pelan "Baiklah"
Baginya berdebat dengan Elroy akan memperpendek sisa umur Alana. Belum lagi Alana akan menghabiskan tenaganya untuk menghajar wajah tampan elroy.
"morning kiss" Elroy memajukan bibirnya seolah bersiap menerima ciuman dari sang gadis.
"In your dreams" sentak Alana melepaskan pelukan Elroy lalu berjalan meninggalkan pria gila yang mengubah hidupnya itu.
Elroy hanya terkekeh geli melihat punggung Alana yang menghilang di balik pintu. Ya alana memang telah menerimanya, hanya saja hubungan mereka tak berjalan mulus seperti hubungan sepasang kekasih waras lainya. Tapi el menyukai setiap pretengkaran itu. Pertengkaran yang takan pernah memisahkan mereka.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Alana tercekat melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ya pria itu sedikit terlihat berbeda dari biasanya. Ah ralat bukan sedikit malah sangat berbeda. Elroy terlihat mengenakan jaket levis dengan dalaman berwarna putih. Kaca mata hitam dan rambut acak acakanya meninggalkan kesal bad boy.
Elroy melihat Alana terdiam hanya tersenyum dan menyenderkan kepalanya pada pintu dan memetik jarinya.
"Apa kau sudah mengakui ketampanan calon suamimu ini al?"
Alana yang sadar mendadak salah tingkah dan mendorong Elroy agar memberinya jalan. Sepertinya wanita itu harus menenangkan detak jantungnya. Selain merengut hidup Alana seolah elroy kini juga sedang mengatur detak jantung Alana?
"Ada dua hal yang tak bisa di pungkiri di dunia yang pertama rasa kecewa yang kedua rasa cinta. Aku tahu aku ini tampan"
Alana berbalik dan menatap elroy dengan tatapan kesalnya.
"Tadi katanya mau ke party dan kau memakai pakaian itu? Memangnya kita ke acara apa?" Kata alana sebelum pergi meninggalkan elroy. Tentu itu hanya alibi alana untuk menutupi kegugupanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Alana hanya diam seraya menatap keluar melalui kaca mobil Elroy yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara Elroy terlihat sedang fokus pada stiran mobil.
Setelah pertengkaran kecil mereka. Mereka sepertinya memilih untuk larut dalam lamunanya masing masing. Elroy memutar music player pada mobil untuk menghentikan keheningan itu.
Dan piliha elroy jatuh pada lagu Loco enamorando menjadi tembang pengisi udara mobil di perjalanan mereka.
Elroy terlihat lihai dengan menyanyikan setiap lirik lagu itu. Lagu yang berentak cepat itu sempat membuat Alana merasa linu saat Elroy menyanyikan dengan pas. Karena bahasa spain sangat sulit menurut Alana. Namun lama lama alana juga ikut menyukai lagu itu. Walaupun dia tak tahu apa arti lagu itu.
"Apa artinya?" Tanya alana pernasaran
Elroy hanya mengernyitkan dahi. Tumben Alana suka dengan lagunya.
"Apa aku harus mengartikan satu lagu itu al?"
"Apa judulnya?"
"Loco enamorado"
"Dari?"
"Abraham matteo"
Alana langsung mengambil ponselnya dan mencari nama abraham matteo. Lalu senyumnya merekah melihat foto pria tampan yang tersaji di layar ponsel.
"Tampan" tanpa sadar 1 kata itu terlontar dari bibir sensual Alana. Dan perkataan singkat itu sukses membuat Elroy mencengkram stil mobil dengan kuat.
"Apa kau sedang memuji pria lain di depanku al?" Kata elroy yang menatap alana.
"Awas depan!" Alana menyadarkan Elroy Untuk terus fokus pada mobil.
"Jika kau ingin mati jangan bawa aku. Memang kenyataannya dia tampan. Tapi lebih tampan dirimu. Apa kau puas el?!"
Senyum indah mulai menghiasi bibir tipis elroy. Elroy berubah 180 derjat pada Alana. Dulu ia benci di bilang tampan. Dan sekarang Elroy selalu mengemis di akui tampan oleh gadis itu.
Alana sedikit mengantuk saat lagu mobil kini berganti menjadi lagu slow dan sukses membuat Alana hampir tertidur. Karena jalan yang tak berujung, tapi Alana rasa kantuk alana hilang saat mobil itu behenti di di depan sebuah gerbang tinggi dan kokoh terkesan mewah.
Tunggu ini bukan gerbang mansion michel. Gerbang itu terbuka otomatis dan Elroy terlihat tenang dengan kembali menjalankan mobilnya. Alana melihat keluar jendela telihat pepohonan tertata dengan rapi.
Sebuah taman yang sangat indah tempat itu sangat bersih. Sampai mata Alana melihat sebuah mansion mewah mungkin lebih besar dari mansion michel. Mobil Elroy berhenti tepat di depan tangga utama yang di apit sebuah kolam air mancur yang sangat luas.
"Bukankah partynya ada di pantai?"
Bukannya menjawab elroy hanya tersenyum dan keluar dari mobil dengan berjalan setengah memutari mobil. alana hanya melihat elroy dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"El, kita ada dimana?" Kata alana begitu elroy membuka pintu mobilnya.
"Mansion kita" Elroy mengulurkan tangannya untuk membawa alana keluar dari mobil.
"What? Kita" Alana takut dia salah dengar.
Tapi bukan menjawab Elroy malah menarik Alana untuk berjalan dan menaiki tangga. Alana terpesona dengan keindahan mansion tersebut. Saat Elroy dan Alana memasuki pintu utama terlihat 10, ah tidak mungkin lebih dari 20 pelayan yang berdiri menyambut kedatangan mereka. Dengan seragam khususnya. Itu terlihat jelas dengan simbol MC di bagian dada baju seragam para pelayan tersebut.
Pelayan pelayan itu terlihat memberi hormat pada Elroy dan Alana. Elroy bersikap tak peduli pada pelayan. Dan itu tak terjadi pada Alana. Gadis itu sedikit gugup dengan situasi ini. Walaupun ia sudah pernah merasakan itu saat berada di mansion michel tetap saja ia merasa tak pantas.
"Dia adalah Alana calon istriku, layani dia seperti kalian melayaniku" seperti biasa Elroy dengan sikap bossynya. Sementara Alana hanya tersenyum kikuk menyapa para pelayan.
TBC