INCUBUS SNARES

INCUBUS SNARES
HAMPIR SAJA !



Dev menghentikan motornya dan menunggu Angela turun dari motornya. Gadis itu menarik tangan Dev dan memintanya untuk segera mengikutinya turun. Tanpa memikirkan apapun Dev mengikuti Angela yang duduk di rerumputan dan berbaring di sana. Dev duduk di sebelahnya dengan tangan menopang di lututnya. Mereka berdua memandangi danau yang berada tepat di depan mereka. Tampak sekali airnya berkilauan karena terkena pantulan sinar matahari. Di pinggirnya tampak beberapa ekor bebek sedang berenang bersama anak-anaknya. Angela melihat ke arah Dev dan ia juga masih mencium bau makhluk darinya.


"Sekarang, apa aku boleh tahu. Siapa kamu sebenarnya." tanya Angela tenang.


"Kenapa masih mempertanyakan hal itu." ucap Dev membuang muka.


"Kau tahu, aku merasa kau itu berbeda dari yang lain." ucap Angela sambil meraih tangan Dev.


"Tentang apa? Apa aku terlalu tampan?" Dev mencoba mengalihkan perhatian.


Angela tertawa cekikikan mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan Dev kepadanya. Ia tidak menyangka, pria dingin itu bisa juga bercanda. Angela memutari punggung Dev dan meledeknya.


"Apa itu barusan sebuah penguakuan?" tanya Angela tertawa lagi sehingga membuat Dev tersipu.



"Kenapa? Apa aku tidak tampan?" tanya Dev membuat Angela berhenti tertawa dan memandanginya.


"Kau,, em,,kau tampan." ucap Angela mengakuinya.


"Sudah kuduga. Aku memang sudah tampan dari lahir." jawab Dev dengan angkuhnya.


"Apa? Dari lahir?" Angela mulai tertawa lagi.


Keduanya tampak semakin akrab dalam waktu dekat. Selama ini Dev tidak pernah merasakan hal seperti itu bersama manusia. Ia hanya menyerupai manusia tetapi tidak demikian dengan kehidupannya yang selama ini selalu menyendiri. Sebenarnya kadang-kadang ia merasa jenuh dengan tujuan hidupnya. Saat Angela tertawa mengejeknya, ia merasakan ada suatu kesegaran yang seolah menyirami hatinya. Dev memperhatikan wajah gadis itu yang begitu ceria dan menjadi tersenyum melihatnya.


"Kau suka bercanda juga ya? Apa memang kau seperti ini jika bersama wanita." Angela mencoba mencari tahu.


"Jujur. Baru kali ini aku bisa tertawa bersama seseorang." jawab Dev mengakui kesendiriannya.


"Benarkah?" seketika Angela merasa ada sesuatu yang aneh dihatinya.


...----------------...


Dev mengantarkan Angela sampai di depan rumahnya. Sebenarnya ia khawatir jika nanti bertemu dengan pemburu yang satunya. Namun saat gadis itu bilang bahwa ayahnya sedang bekerja dan pulang petang nanti, Dev menjadi sedikit tenang. Begitu pula saat Angela mengajaknya untuk mampir masuk sebentar. Walaupun Dev tidak khawatir akan kedatangan ayah Angela, ia menolak untuk mampir. Entah mengapa kali ini ia tidak menggunakan kesempatan untuk mendekati gadis itu. Tetapi Angela memaksanya.


"Masuk dulu Dev, aku buatkan teh untukmu" ajak Angela.


"Ayo sini." ucap Angela menarik tangan Dev masuk ke ruang tamunya.


Dev akhirnya menuruti gadis itu untuk duduk di kursi ruang tamunya. Saat Angela pergi ke dapur, Dev melihat di ruangan itu ada simbol dinding sebagai perlindungan diri dari gangguan iblis. Pantas saja saat Dev melangkah masuk kedalam, ia merasa tubuhnya sedikit terbakar dan lama-kelamaan semakin merasa kepanasan berada di ruangan itu. Keringat sebesar jagung bercucuran dari dahinya dan membuat bajunya mulai basah. Di dapur, Angela sudah selesai membuat minuman. Namun ia masuk ke kamar ayahnya untuk meminjam cermin mata dewa. Cermin yang bisa melihat sosok iblis yang ada dibalik sosok manusianya. Ia berencana akan melihat sosok Dev yang sebenarnya dari sana. Namun ketika ia sampai diruang tamu, ia tidak melihat Dev disana. Ia memanggil-manggil Dev tetapi motor pria itu juga sudah tidak ada di halaman depan rumahnya.


"Kemana dia?" Angela merasa heran. Ia duduk ditempat Dev dan melihat ada sedikit cairan seperti minyak disana. "Apa ini? Minyak?" Angela merasa heran dan mencium aroma cairan itu. Baunya seperti aroma makhluk yang sama seperti aroma dari tubuh Dev. Sambil mencium-cium aroma itu dahinya mengkerut memikirkan sesuatu.


...----------------...


Hari itu, Dev tidak tampak di kelasnya dan membuat Angela merasa ada sesuatu yang kurang disana. Ia bertanya pada teman-teman yang pernah berbicara dengan Dev perihal alamat rumahnya. Namun semua mengatakan tidak ada satupun yang tahu dimana rumahnya. Angela merasa putus asa, hingga ia mendengar dari Jane bahwa ia pernah melihat Dev masuk kerumah mewah di dekat hutan Neverland.


"Selama ini, kami semua tidak pernah tahu dimana rumah Dev. Tetapi suatu hari, aku pernah melihatnya keluar dari rumah mewah di dekat hutan Neverland. Karena aku juga tinggal didekat sana, aku mencoba mencari tahu. Dan aku yakin, dia tinggal disana. Mungkin dia hanya tidak ingin orang lain mengetahui bahwa sebenarnya dia orang yang kaya." ucap Jane berbisik di telinga Angela.


"Benarkah itu? Iya, dia selalu terlihat sederhana dan tidak menampakkan kekayaannya." ucap Angela.


"Benar kan?" Jane membenarkan penilaiannya selama ini.


Sepulang dari kuliahnya ia bergegas menuju rumah mewah dekat hutan Neverland. Tak lupa juga ia membawa cermin mata dewa di dalam tasnya. Dengan sepatu rodanya, Angela melaju dengan cepat menuju lokasi Neverland. Ia melaju dengan ayunan kaki yang tampak sudah sangat menguasai sepatu rodanya. Setelah beberapa menit melewati lika-liku jalanan, akhirnya Angela sampai didepan rumah mewah dengan gerbang yang menjulang tinggi. Saat melangkah memasuki gerbang yang tidak dikunci itu, ia merasakan bau makhluk yang sangat kuat dari dalamnya. Ia juga melihat asap hitam menyelimuti rumah tersebut.


Angela melangkah menuju pintu utama dan mencoba membukanya. Dengan mata terbelalak ia mengamati apa yang ia lihat didepannya. Rumah itu gelap gulita dengan bau makhluk yang semakin kuat ia rasakan. Ia mencoba meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Setelah lampu menyala ia melihat rumah yang sebenarnya sangat modern. Namun sangat sepi dengan suasana yang sedikit menyeramkan. Angela melangkah lagi dan menemukan sebuah tangga yang menuju ke atas. Ia pun naik ke atas dan melihat sebuah kamar yang terasa amat sangat berkabut. Ia membuka pintunya dengan sangat pelan dan di dalam kegelapan, samar-samar ia melihat Dev tergeletak di lantai dengan mata terbuka. Ia segera mengeluarkan cermin mata dewanya dan melihat Dev dari balik cermin tersebut.



Tiba-tiba ada sekelebat bayangan seperti makhluk kelelawar berekor panjang dengan kuku-kuku tajam yang menyambar cermin mata dewanya. Makhluk itu membawanya pergi dan menghilang, Angela mencoba mengejarnya tetapi tidak bisa menemukannya. Makhluk kelelawar itu terbang menuju ruang bawah tanah milik Dev dan meletakkan cermin mata dewa di meja singgasana. Kemudian seketika kelelawar itu berubah menjadi iblis Dev. Ia keluar dari inangnya karena melihat Angela datang memasuki rumahnya.


Angela mendekati Dev manusia yang tergeletak di lantai marmer. Tubuh pria itu dingin sekali bahkan nafasnya pun tidak ada. Mengetahui hal itu Angela panik dan berpikir bahwa Dev sudah tiada. Sebenarnya, tubuh itu adalah tubuh milik Dev dulu sebelum akhirnya ia hidup menjadi iblis. Namun saat ini roh iblisnya sedang tidak berada di dalamnya.


...----------------...


πŸ‘‰ Lanjut baca episode 9 ya πŸ˜„


Jika suka tinggalkan likeπŸ‘ dan rate🌟....😘


.