INCUBUS SNARES

INCUBUS SNARES
MULAI WASPADA



Karena Dev tidak mempunyai rencana menemui wanita dalam daftarnya, ia pergi ke rumah orang lain yang tidak masuk ke dalam daftar nama-nama korbannya. Ia terbang melintasi kawat-kawat listrik dan bertengger di atap salah satu rumah yang tampak baeraroma sedap. Ia masuk kedalamnya dan melihat seorang gadis tidur dengan hanya mengenakan selimut tanpa pakaian selembarpun. Dengan langkah pelan Dev menghembuskan asapnya dan mulai merasuki alam mimpi gadis itu. Di dalam mimpi, rupanya gadis itu begitu agresif dan membuat Dev semakin mudah untuk mengganggunya. Dan energi yang ada pada wanita itu begitu besar, Dev tidsk bisa menahan keinginannya untuk menghisap semua energi itu hingga habis. Akhirnya wanita itu tewas di tangan Dev dengan tubuh yang menjadi sangat pucat dan berdarah-darah. Setelah Dev puas dengan makanannya malam itu, ia pergi dengan membawa jasad gadis itu ikut bersamanya. Di istananya nanti, ia bisa membuat gadis itu hidup sebagai pelayannya.



Dev terbang secepat kilat menuju istana bawah tanahnya. Ia menyerahkan jasad gadis itu pada pelayan lamanya. Meski sudah lama menjadi pelayan di rumah bawah tanah yang berapi, pelayan-pelayan itu masih saja takut pada iblis Dev karena tuannya itu tidak akan mengampuni mereka jika mereka tidak bisa melayani dan memberikan kepuasan untuknya. Sekali saja mereka melakukan kesalahan atau membuat Dev kecewa, mereka akan dilemparkan ke kolam api sehingga tubuh yang memang sudah menjadi mayat itu akan hangus dan hancur berkeping-keping hilang ditelan api yang mendidih.


...----------------...


Saat itu, Dev sedang berada di kantin bersama beberapa temannya. Mereka mengobrol tentang kecelakaan kemarin malam yang terjadi di dekat kampus mereka. Pihak kepolisian tidak menemukan penyebab terjadinya kecelakaan. Dari CCTV yang terpasang di depan kampus pun tidak terlihat apapun yang menghantam truk. Yang terekam justru seperti sosok perempuan yang berjalan hendak menyeberangi jalan, namun sekejap saja wanita itu hilang dari pandangan dan kemudian hanya terlihat asap yang membumbung tinggi. Dev hanya menyimak obrolan teman-temannya. Saat teman-temannya bertanya bagaimana pendapatnya, Dev hanya menjawab tidak tahu dan bukan urusannya. Ia berpura-pura menampakkan wajah polosnya.


Akan tetapi, dari kejauhan Angela mengamati Dev dengan seksama. Ia merasa heran, bagaimana bisa CCTV tidak merekam keberadaan Dev disana sesaat sebelum terjadi tabrakan? Seharusnya, Dev terekam disana. Mengapa hanya ada dirinya yang terlihat menyeberang dan kemudian menghilang begitu saja dari pandangan seolah ada sesuatu yang menutupi dan melindungi tubuhnya.


"Apa artinya ini." Angela menarik nafas dengan gemetar.


Kemudian ia melihat Dev berlalu dari kumpulan teman-temannya dan pergi menuju perpustakaan. Dengan segera Angela mengikutinya. Ia membawa kaca kecil tanpa bingkai di sakunya. Yang rencananya akan ia gunakan untuk sedikit melukai Dev dan melihat apakah darah yang keluar dari tubuh Dev normal seperti darah manusia biasa atau justru berwarna hitam. Angela berjalan dengan perasaan deg-degan. Ia berdoa semoga rencananya itu berjalan lancar.


Sampai di perpustakaan, ia menunjukkan kartu keanggotaan kepada petugas lalu segera mencari keberadaan Dev. Dan ia menemukan pria itu sedang membaca buku dengan tenang.



Angela datang menyapa dan duduk di sebelah Dev. Ia membawa buku sejarah ditangannya.


"Hay, boleh aku duduk disini?" tanya Angela sedikit berbisik.


Tanpa menoleh ke arah Angela, Dev menjawab pertanyaan Angela dengan cepat. "Ya, silahkan saja." ucapnya sambil tetap membaca bukunya.


Angela memperhatikan tubuh Dev yang benar-benar nyata sebagai manusia. Ia berpikir, apakah dirinya saja yang berlebihan menganggap Dev sebagai makhluk. Setelah beberapa menit disana, Angela mengeluarkan kacanya dan berpura-pura memberi olesan lips balm dibibirnya. Dev melihat perbuatan gadis itu yang sedikit aneh. Tiba-tiba saja Angela bergerak dan berpura-pura hendak melakukan apa dan membuat sisi kasar dari kacanya menggores tangan Dev. Seketika darah keluar dari luka sayatan itu. Def sangat terkejut dan segera menyembunyikan tangannya yang terluka di dalam baju.


"Apa yang kau lakukan? Kacamu mengenai tanganku." ucapnya kesal.


"Ma,,maafkan aku, mari aku bantu membersihkan lukamu." ucap Angela mencoba meraih tangan Dev yang terluka.


Namun Dev menjauhkan tangannya yang terluka dari sentuhan tangan Angela. Dev tahu apa maksud Angela, dan ia tidak akan membiarkan gadis itu melihat darahnya. Saat Dev berdiri untuk meninggalkan tempat itu, tangan Angela menggenggam erat baju yang dipakai Dev. Karena membuatnya terdesak, Dev menghempaskan tangan Angela dengan kasar dan berlalu dari hadapannya. Ia tidak bisa membiarkan Angela mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.


...----------------...


Dev berjalan ke lorong kelas dan mengambil pakaian cadangannya di loker. Kemudian ia bergegas masuk ke toilet. Ia bersembunyi dari manusia lain dan menjilati tangannya yang berdarah dengan lidahnya yang panjang. Ia membasahi semua bagian yang keluar darahnya. Sedikit demi sedikit, luka sayatan itu menghilang dan tak berbekas. Dev merasa lega sekarang, kemudian ia kembali ke kelasnya dan mendapati Angela sudah duduk disana. Saat Dev melewatinya, mata Angela melihat tangan Dev yang tadi terluka kini sudah sembuh total tanpa ada bekas sedikitpun. Angela merasa itu sebuah keajaiban yang ganjil. Ia juga melihat baju Dev yang tadi dipakainya sudah berganti dengan kaos putih biasa dengan sebuah jaket biru.


"Kau? Kenapa mengikutiku?" tanya Dev.


"Katakan padaku siapa dirimu." tanya Angela


"Apa maksudmu?" jawab Dev santai.


"Aku merasa kau itu aneh. Apa perasaanku ini berlebihan?" Angela mengamati muka Dev yang tidak berubah ekspresinya.


"Tergantung. Kenapa kau menganggapnaku aneh?" tanya Dev lagi.


"Kenapa tadi kau tidak mengijinkanku membersihkan lukamu. Apa kau masih terganggu dengan aroma tubuhku?" tanya Angela sambil mencium bau makhluk dari tubuh Dev.


"Aku hanya tidak biasa diperlakukan seperti itu." ucap Dev sambil menyalakan motornya. "Sekarang kau mau turun atau aku akan membawamu pergi." Dev mencoba menggertak Angela.


"Baiklah, bawa aku pergi."


"Apa?" sebuah jawaban yang membuat Dev terkejut.


Dev heran dengan gadis satu ini, jika dia telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, seharusnya dia berusaha untuk melenyapkannya dari muka bumi ini. Tetapi mengapa gadis itu tidak melakukan apa-apa padanya. Apa dia belum tahu tentang dirinya? Dev semakin pusing dibuatnya. Iapun menyalakan motornya dan melaju di jalanan raya dengan cepat.


"Dimana rumahmu?" Dev berpura-pura belum tahu.


"Untuk apa?" seru Angela.


"Aku akan mengantarmu pulang." jawab Dev cepat. "Memangnya kau mau kemana lagi kalau bukan pulang kerumahmu." lanjut Dev.


"Bisakah kita berhenti disana?" tanya Angela. Gadis itu menunjuk sebuah tanah lapang dengan rumput hijau yang terbentang luas. Ia ingin dudukan sebentar disana dan membicarakam beberapa hal dengan Dev.


...----------------...


Baca kelanjutannya di episode 8 ya..😄


Jangan lupa like & rate jika suka😘


.