INCUBUS SNARES

INCUBUS SNARES
KALUNG EZRA



SRAK ! KRASAKK !


Tubuh Dev mendarat di hutan belakang rumahnya dengan keras karena ia tak bisa mengimbangi beban tubuhnya lagi. Ia terluka parah pada dada dan lengan kirinya. Panah penghancur iblis itu membakar dagingnya dan membuat bagian yang terkena panah menjadi hangus. Selama panah itu masih menancap di tubuhnya, ia akan terus menggelepar kesakitan. Ekornya menggeliat kesana kemari memangkas semak-semak yang ada di dekatnya. Tubuhnya pun berangsur berubah ke wujud Dev manusia. Dengan amat tersiksa ia mencoba mencabut panah penghancur itu dari tubuhnya. Perlahan namun pasti, ia menarik panah itu keluar dari dagingnya. Setelah panah terlepas, keluarlah darah yang banyak sekali dari bekas luka panahnya. Darah yang berwarna hitam.


Dev bersandar di sebuah pohon yang lumayan rimbun. Dengan nafasnya yang tersengal ia mulai berdiri dan melangkah mendekati pohon besar yang usianya sudah sangat tua. Di antara kulit kayunya, ada sebuah pintu rahasia yang terhubung dengan rumah bawah tanah miliknya. Ia masuk kesana dan seketika menghilang dari pandangan. Dev melangkah masuk ke dalam rumah bawah tanahnya dan langsung menuju kolam api dengan batu-batuan yang meletup-letup karena mendidih. Ia menceburkan diri kesana untuk penyembuhan lukanya. Luka-luka bekas terkena senjata penghancur iblis tidaklah bisa dihilangkan sepenuhnya. Walaupun bisa sembuh, setiap luka akan meninggalkan simbol-simbol tertentu. Seperti halnya tubuh Dev yang dipenuhi simbol bekas luka dari jaman sebelum masehi sampai jaman sesudahnya. Tanda ia sudah pernah melalui semua rasa sakit yang tercipta dari senjata para pemburu sejak dari masa lalu.


...----------------...


Tik ! Tik !


Pagi datang dengan rintikan hujan yang tidak begitu deras. Kelas Dev masih ada praktek pembimbingan jurusan dari Mr. Lee dosen yang menguasai ilmu teknologi. Ia sedang menerangkan tentang perangkat cangih abad 2075 yang sedang mereka kembangkan. Sebenarnya Dev tidak terlalu suka dengan pelajaran-pelajaran di bumi. Tetapi ia mencoba menyukai dan memahami semuanya. Dalam kuliah hari ini, ada praktek dimana dua orang saling dipasangkan untuk membuat suatu ide penemuan. Dan kebetulan Dev dipasangkan dengan Angela. Setiap gerakan dari Dev menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak nyaman bersama dengan gadis pemburu itu.


Namun Dev mencoba bersikap normal. Dan terus menatap Angela dari mata sampingnya. Ia melihat gadis itu baik-baik saja, bahkan ia bisa tersenyum-senyum mencuri pandang kepadanya. Selama bekerja sama dengan Angela, Dev berpura-pura tidak melihatnya. Ia sibuk mengotak-atik beberapa elemen yang dibutuhkan untuk membuat sebuah alat pengendali jarak jauh. Saat mereka sedang fokus pada pekerjaan mereka, tanpa sengaja tangan Dev menyentuh tangan Angela yang sama-sama hendak mengambil komponen kawat tembaga.


"Ah? Kau duluan saja." ucap Angela melirik Dev.


Dengan santainya Dev mengambil kawat tersebut tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angela. Ia tetap serius menekuni tugasnya dan memilin-milin kawat tersebut untuk dikaitkan ke media prakteknya. Melihat hal itu, Angela merasa kesal karena sikap Dev yang terlalu dingin kepadanya. Ia ikut memilin-milin kawat sambil menanyakan sesuatu pada Dev.


"Apa kau membenciku? Kenapa kau tidak mau berbicara sedikitpun kepadaku?" tanya Angela.


Dev masih saja diam tak memperdulikan pertanyaan Angela. Hal itu semakin membuat Angela kesal. "Apa kau benar-benar tidak bisa bicara sepatah katapun?" Angela kesal dan menatap tajam ke arah Dev. "Hey? Apa kau tidak mendengar bahwa aku sedang berbicara kepadamu?!" Angela mulai naik darah.


"Tidak. Aku tidak membencimu." ucap Dev akhirnya membuka suara dan hendak berdiri. Namun Angela meraih tangan Dev dan menahannya. "Apa kau akan terus menghindar jika aku mengajakmu bicara? Sebenarnya apa salahku padamu. Katakanlah." tanya Angela kehabisan kesabaran.


Dev melepas pegangan tangan Angela dan beranjak pergi ke meja belakangnya. Karena kesal sekali, Angela mencengkeram lengan kiri Dev untuk menghentikan langkahnya. Gadis itu tidak mengira kalau Dev akan merasa sangat kesakitan karena sentuhan tangannya.



"Apa? Ja,,jadi karena aroma tubuhku mengganggumu begitu maksudmu?" tanya Angela terkejut dan ingin menangis.


Dev memandangi gadis yang beranjak pergi dari bangkunya. Angela tampak menangis dan pergi ke toilet. Ia sangat terkejut dengan pengakuan Dev bahwa aroma tubuhnya sangat mengganggu laki-laki itu. Angela menatap kaca dan menatap dirinya. Ia tak menyangka bahwa Dev mudah sekali menyakiti hati seorang wanita. Saat Angela masih meratapi kata-kata yang dilontarkan Dev kepadanya, dari belakang datanglah Dev yang menghilang dari pandangan. Ia berdiri di belakang Angela dan diam-diam mengamatinya. Merasa ada sesuatu di belakangnya, Angela langsung menoleh kebelakang. Namun ia tidak menjumpai seseorang pun disana.


Suasana di toilet sedikit membuat Angela merinding. Karena ia sedikit mencium bau makhluk dari dalam tempat ia berada. Hal itu membuat Angela buru-buru melangkah keluar, tetapi kakinya keseleo dan membuatnya hampir terjatuh. Seketika ia merasa sangat heran dan menjadi takut. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang memegangi dan menahan punggungnya sehingga kepalanya tidak jadi membentur bak cuci. Angela melihat ke kanan dan ke kiri tempatnya duduk. Bau makhluk itu seperti ada di dekatnya. Seketika keringat bercucuran dari dahinya dan ia pun merasa ada sesuatu yang masih memegangi lengannya.


Entah mengapa Dev secepat kilat menahan punggung Angela supaya kepala gadis itu tidak jatuh membentur washtafle yang ada di dekatnya. Ia juga masih memegangi lengan Angela berusaha membantu gadis itu berdiri. Padahal ia tidak kuat menahan aroma tubuh Angela yang membuatnya pusing. Namun kemudian, ia menyadari bahwa ia sedang tidak terlihat. Oleh karena itu ia segera melepaskan pegangannya dari kedua lengan gadis itu.


"Si,,siapa kau? Jangan ganggu aku. Atau aku akan melenyapkanmu." Angela berpura-pura tidak takut.


Dev menyeringai mendengar ucapan gadis itu. Ia merasa gadis kecil pemburu iblis itu tidak begitu menakutkan seperti pemburu yang satunya. Yaitu ayahnya Angela. Timbul pikiran jahil di dalam otak Dev. Ia membuat gerakan angin dari arah depan tubuh Angela. Sehingga rok yang dipakai Angela sedikit terbuka karenanya. Angela juga merasakan ada sesuatu yang menyentuh dadanya.


"Hey kau iblis mesum ! Keluarlah dan hadapi aku !" ucapnya merasa di lecehkan.


Angela tidak menduga sama sekali bahwa tiba-tiba saja ia akan melihat iblis yang menakutkan dengan gigi taring yang tajam dan tanduk di kepalanya yang sedang berada tepat di depannya. Dialah Dev yang menunjukkan rupa iblisnya. Angela menjerit sangat kencang dan langsung mengeluarkan kalung pelindungnya serta merapalkan mantra pelindung. Seketika kalung pelindung bersinar dan sinarnya memancar ke seluruh ruangan toilet. Dev kembali merasakan tubuhnya lemah dan merasa perih terkena sorotan sinar tersebut. Ia bersembunyi dengan cepat ke bilik-bilik kamar mandi yang tersedia disana. Rupanya walau gadis itu tidak sekuat ayahnya, ia tidak bisa meremehkannya. Karena ia dijaga oleh kalung pelindung peninggalan dari pemburu yang sangat melegenda. Yaitu kalung Ezra.


...----------------...


Baca kelanjutannya ya di episode 6,,, 😉


Jika suka jangan lupa tinggalkan like dan rate..👍


.