
Dev tidak mempermasalahkan hal itu. Karena bagaimanapun, makhluk itu sudah lenyap. Ia duduk dan meraih Angela kemudian memeluknya. Ia berdiri dan mencoba merubah dirinya menjadi iblis incubi. Tetapi ia tidak juga berubah. Tika ia kembali menjadi manusia, sayapnya menghilang. Namun saat ia kembali mencoba menjadi incubi, tidak ada perubahan. Hanya sepasang sayap yang keluar dari tubuhnya. Berulang kali ia lakukan hal tersebut, hasilnya tetap sama. Akhirya Dev mengetahui bahwa dirinya kini bukanlah iblis merah lagi.
Ia meminta waktu untuk istirahat sebentar dikamarnya. Tanpa Angela ataupun Casandra dan Violet. Selama didalam kamar, ia memikirkan soal perubahannya. Ia mencatat semua yang ia alami disebuah buku catatan. Ia juga membaca kelanjutan dari catatan Maladrey. Disana ia menemukan bahwa ayahnya juga kembali menjadi malaikat langit karena dosanya diampuni setelah ia menyelamatkan nyawa manusia. Ia menjadi manusia tetapi ia mendapatkan sayapnya kembali. Sehingga ia bisa turun ke bumi untuk melihat keadaan istri dan putranya.
Namun semakin lama, ayah Dev tidak lagi muncul. Walaupun mereka menunggu bertahun-tahun. Hingga seorang raja mempersunting Maladrey dan mengangkat Devian sebagai putra mahkotanya. Kemudian sampailah pada saat dimana hari kematian Maladrey, rahasia itu tetap tersimpan rapi dalam buku catatan tersebut. Maladrey mengubur buku catatannya didalam sebuah kotak dan meninggalkan kalung berbandul kunci peti rahasianya kepada putranya. Kisah dari buku catatan itu akhirnya selesai. Dan beberapa tahun setelahnya Devian tidak sengaja menemukan tempat dimana peti itu terkubur.
Dev menahan nafas. Ia harus menjadi manusia. Tiba-tiba ia teringat bahwa di rumah bawah tanahnya, ada beberapa pelayan. Mereka adalah mayat hidup. Dan Dev berencana akan membebaskan mereka semua. Maka ia segera menemui mereka diruang bawah tanah.
"Panggil semua pelayan kemari. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Dev pada Brigetta.
"Baik tuan."
Beberapa menit kemudian, semua pelayan berkumpul. Keenam pelayan itu merasa amat penasaran. Saat Dev mengatakan bahwa ia akan melepaskan mereka, keenam pelayan itu sangat terkejut. Mereka tidak tahu harus bagaimana.
"Aku tidak lagi menjadi iblis merah. Dengan berat hati aku akan melepaskan kalian. Bukankah selama ini kalian ingin bebas dariku? Setelah bebas, kalian akan mendapat tempat yang semestinya di atas sana." ucap Dev.
"Tapi tuan, bagaimana setelah itu. Apa kami masih akan hidup." tanya Levi. "Jika aku memilih pergi, aku tidak bisa bertemu ayahku lagi."
"Setelah kalian pergi ke atas sana, kalian akan menemukan jalan hidup kalian yang sesungguhnya. Maafkan aku sebelumnya. Telah menjadikan kalian pelayanku disini."
Semua pelayan diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sebagian dari mereka menyetujui keinginan Dev dan sebagian merasa tidak bisa meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak ingin pergi." ucap Levi.
"Kenapa? Aku tidak bisa mengurusmu lagi." kata Dev.
"Aku ingin disini. Ini duniaku." ucapnya.
"Levi, dengarlah. Jika kau tak pergi, maka kau akan mati sia-sia disini. Karena aku tidak bisa lagi mengurusmu. Tidak akan ada makanan ataupun perlindungan. Kau harus pergi, temukanlah tempatmu diatas sana." Dev mulai sesak nafas.
Ketika Dev merasa mulai sesak nafas dan pucat, ia mempercepat ucapannya. Pelayan-pelayan itupun tahu bahwa tuannya juga tidak bisa berlama-lama ditempat itu sekarang.
"Kalian harus pergi. Aku akan mengantarkan kalian sampai langit pertama." ucapnya.
"Baiklah. Kami akan pergi." ucap Clara.
"Mungkin itu jalan terbaik kita." sambung Bianca.
...----------------...
Pada malam sunyi tanpa sinar bulan, Dev sedang bersiap dikamarnya. Ia mengambangkan sayapnya dan menggerak-gerakkannya. Malam itu ia memimpin perjalanan enam pelayannya yang bersayap terbang menuju gerbang langit pertama. Ia menemui mereka di ruang bawah tanah, dan semuanya sudah siap di depan pintu. Mereka terbang beriringan melewati hutan pinus dan naik ke atas awan. Cukup lama bagi mereka menuju langit pertama. Di perbatasan langit yang gelap, mereka bertemu penjaga perahu. Penjaga itulah yang akan mengantar mereka ke gerbang utama. Tetapi penjaga perahu yang sebenarnya adalah malaikat maut itu tidak bersedia mengantar keenam wanita itu.
"Wahai manusia bersayap. Ada apa gerangan kau datang kemari. Aku ingat, kau sudah pernah melewati tempat ini. Bukankah Tuhan sudah memberimu kesempatan hidup sekali lagi. Untuk apa kau kembali kemari?" suara itu menggelegar terdengar mengerikan.
"Kali ini aku datang untuk mengantar kawanku. Mereka hendak melewati gerbang pertama diseberang. Apakah kau bersedia mengantar mereka semua?"
"Baiklah. Aku punya tiket untuk mereka." Dev memberikan tiket itu pada penjaga. "Apa itu cukup?"
Dengan tengkorak tangannya, penjaga maut itu menerima tiket koin dari tangan Dev. Setelah melihat jumlah tiketnya, akhirnya penjaga maut it mau mengantar mereka sampai gerbang perbatasan.
"Naiklah." ucapnya.
Mendengar perintah dari penjaga perahu, Dev menyuruh keenam succubi sera menaiki perahu. Dev mengantar mereka sampai perbatasan itu saja. Ia tidak bisa pergi terlalu jauh. Ketika perahu mulai menyusuri langit gelap, mereka melambaikan tangan pada Dev dan mengucapkan salam perpisahan. Perlahan namun pasti, perahu yang mereka tumpangi menjauh.
"KLETEK ! KLETEK ! KLETEK !"
Suara gemeretak tengkorak yang terpasang di sekeliling perahu menambah suasana seram penampakan sekitar. Perahu itu mulai menghilang dari hadapannya. Suara gemeretak tengkorak pada perahu pun sudah tidak terdengar lagi.
...----------------...
Dev terbang kembali menuju kota Neverland. Ia melewati awan hitam yang tebal dengan beberapa kali letupan petir yang menyambar-nyambar di sisinya. Dibelakang Dev, sebuah bola mata besar memandanginya terbang turun ke bumi. Namun Dev tidak melihatnya. Ia tetap fokus terbang dengan cepat dan menukik turun kebawah sambil menghindari percikan api dari kilatan petir.
Sampai di atas balkon rumahnya, Dev menyimpan kembali sayapnya dan berjalan memasuki ruangan santainya. Ia sengaja mematikan lampu ruangan tersebut sebelum ia pergi tadi. Ketika ia hendak melangkah menuju kamarnya, Dev terkejut karena melihat Casandra duduk disofa sudut itu.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Casandra.
"Astaga. Kau mengagetkanku saja. Ya. Mereka sudah aku antar menuju gerbang perbatasan." jawab Dev sambil duduk disebelah Casandra.
"Menurutmu, apa mereka akan hidup bahagia?" Casandra merasa ragu.
"Entahlah. Aku rasa, sebelum akhirnya tiada ditanganku mereka adalah manusia yang baik. Mungkin saja Tuhan akan mengampuni mereka." ucap Dev.
"Ya, semoga saja begitu."
Dev menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia memejamkan matanya masih mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Ia berharap, keenam pelayannya itu mendapat keberuntungan di langit sana. Tiba-tiba Violet datang dan ikut mengobrol.
"Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan menikah dengan kekasihmu?" tanyanya.
"Menikah?"
"Ya, Dev. Manusia akan menikah dan berkeluarga. Karena kau sudah menjadi manusia, sebaiknya kau segera menikahinya." ucap Casandra.
"Kami akan pergi dari sini setelah kau menikahinya. Kau tidak keberatan bukan jika rumah bawah tanahmu kami ambil alih?" Violet menyibak rambutnya yang panjang. "Tentu saja kau masih bisa datang sesuka hatimu. Kami akan mengurus tempat itu untukmu." lanjutnya.
...----------------...
👉 Lanjut episode 38 😄