
Pagi hari ini Dev berangkat kuliah lebih awal. Ia naik motor melewati pohon dimana Brielle menjadi korbannya semalam. Ia melihat jasad wanita itu masih ada disana. Rupa-rupanya para pemburu belum menemukan wanita itu. Akhirnya Dev mempunyai pikiran untuk menjadikannya pelayan dirumahnya. Dev mendekati pohon besar itu dan memarkirkan motor dibawahnya. Dengan sekali lompat ia berhasil bertengger di atas dahannya. Ia mengangkat jasad Brielle dan terbang ke awan menuju rumahnya.
Sampai di rumah bawah tanah, ia memanggil para pelayannya. Dan datanglah mereka semua menghadap.
"Rendam mayat pemburu ini. Aku ingin besok malam dia sudah bisa melayaniku." ucap Dev.
"Baik tuan."
"Jika dia sudah siap, bawalah ke kamarku dan tidurkan dia di batu milikku. Jangan lupa untuk merantai kedua tangan serta kakinya lebar-lebar. Mengerti kalian?"
"Baik tuan. Kami mengerti."
Dev pergi meninggalkan tempat itu dan kembali pada motornya yang terparkir di bawah pohon. Ia kembali mengendarainya menuju kampus tempatnya belajar. Ketika ia sampai di parkiran kendaraan, Angela memanggilnya.
"Hay Dev !" Angela sedikit berlari mendekati Dev.
"Hay,,,kau sudah datang? Kelas kita belum mulai pelajaran."
"Aku tahu, kau sendiri kenapa datang sepagi ini."
"Aku ingin memastikan situasi disini. Aku khawatir Feldor akan menunggu dan berusaha menculikmu kembali." jawab Dev.
"Apakah itu artinya aku tidak aman jika berkeliaran sendiri." tanya Angela merasa ketakutan.
"Tidak, tidak apa. Kemanapun kau pergi, aku akan berusaha melindungimu." ucapnya.
Angela meraih tangan Dev dan menggenggamnya erat. "Lebih baik begini bukan?" tanya Angela tersenyum.
Dev melihat kepada gadis yang ada didepannya, ia tampak manis sekali hari ini.
"Apa kau percaya padaku bahwa aku bisa menjagamu?" tanya Dev menatap Angela.
"Aku percaya padamu sepenuhnya." jawab Angela.
"Tetapi, kau tahu. Aku sendiri adalah iblis yang pernah melakukan itu padamu." kata Dev sedikit ragu.
"Aku tahu. Tetapi kau belum melakukan sesuatu. Bahkan setelah kau mendapat kesempatan, kau tidak melakukan itu padaku." ucap Angela.
Dev menundukkan kepalanya. Ia merasa Angela begitu naif. Ia begitu besar menaruh kepercayaan pada iblis sepertinya.
"Tetapi, aku ingin kau tahu. Sampai detik ini, aku masih melakukan itu pada gadis-gadis lain." Dev meremas-remas jemari Angela. "Apa kau tetap,,,,." Dev belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika jari telunjuk Angela menempel dibibirnya.
"Aku yakin, kau bisa menguranginya sedikit demi sedikit." jawab Angela dengan manis. "Baiklah, ayo kita masuk kelas."
...----------------...
Hari itu kebetulan ada pelajaran dari Mr. Brian. Selama Mr.Brian (Feldor) mengajar, Dev tidak henti-hentinya menatap tajam kepadanya. Ia selalu waspada jika tiba-tiba saja Feldor mendekati Angela. Teman-teman yang lain tidak ada yang melihat bahwa ada api di kedua mata mereka yang siap untuk saling9 menyerang. Namun sampai kelas mereka usai, Feldor tidak melakukan apa-apa. Ia hanya tersenyum menyeringai menampakkan betapa jahatnya dia.
Dev berjalan mendampingi Angela dengan mata yang selalu waspada. Sampai di motornya, Dev segera menyuruh Angela membonceng dan berpegangan kuat padanya.
"Naik dan berpeganganlah yang kuat." ucap Dev.
NGEEEENGG,,,,,
Motor Dev melaju kencang di jalanan melawan angin. Mereka berdua sampai dirumah Angela tepat pada pukul 15.03. Saat itu Johny belum pulang kerja, Dev mampir sebentar disana. Ketika memasuki ruang tamu rumah Angela, Dev sedikit khawatir jika dirinya akan merasa terbakar seperti waktu itu. Tetapi sudah berapa menit ia duduk disana, ia tidak merasakan apapun. Padahal Dev melihat simbol pelindung itu masih terpajang di dinding menghadapnya.
Angela datang membawa minuman kopi dengan es batu yang tampak segar. Bunyi gemelinting es batunya menambah kesegaran minuman tersebut. Saat ia hendak memberikan kopi dingin itu pada Dev, kakinya tersandung karpet sehingga minuman itu menumpahi baju Dev. Karena merasakan dingin di dadanya, Dev sedikit tersentak kaget. Ia melepas jasnya. Angela merasa bersalah karena bersikap ceroboh.
"Aahh !" pekik Dev keras.
Dev menangkap pergelangan tangan Angela. "Tidak perlu, aku bisa atasi ini." ucapnya.
Tetapi Angela tetap bersikukuh akan membersihkan bekas kopi di pakaian Dev. Ia masuk kembali ke belakang mencari lap bersih. Tetapi lama sekali ia tidak segera kembali. Akhirnya Dev masuk kedalam untuk mencari Angela. Ternyata gadis itu sedang duduk dibawah karena gelas yang ia bawa tadi jatuh dan pecah. Potongan kecil kacanya mengenai jemarinya. Melihat hal itu Dev segera mendekati Angela. Sambil membantu membersihkan pecahan gelas yang berserakan, ia mengatakan sesuatu pada gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja? Kau ini, ceroboh sekali."
Dev selesai membersihkan pecahan kaca. Kemudian ia memeriksa jemari Angela dan mengeluarkan pecahan kaca yang menempel di jari gadis itu dengan pelan.
"A,,auw,,,," Angela menjerit tertahan.
Dev mencari kotak P3k dilemari dapur dan menemukan plester beserta obat merah anti infeksinya. Ia membalut luka kecil di jari manis tangan kiri Angela dengan plester. Saat itu ia tidak menyadari bahwa gadis itu sedang menatapnya sambil tersipu. Ketika Dev mengangkat kepala dan memberinya nasehat, Angela berpura-pura menunduk. Gadis itu berpikir jika Dev tidak melihat bahwa sedari tadi ia memperhatikannya. Namun nyatanya Dev melihat itu semua.
Dan pada saat mata mereka bertemu, jantung Angela berdegup kencang. Rasa-rasanya jantungnya ingin melompat dan berdansa karenannya. Dev merasa ada sesuatu yang bergejolak didalam dirinya. Ia mendekati gadis itu dan mengecup bibirnya dengan mesra.
9k
Tanpa paksaan dan tanpa kekerasan, Angela menerima ciuman Dev. Bahkan ia membalas dan menikmati setiap sentuhan lidah pria yang ia cintai itu.
"Eemmm,,"
Dev mengakhiri ciumannya dengan pelan. Saat ia membuka mata dan melepaskan bibir Angela, tiba-tiba saja gadis itu menarik kepalanya dan kembali mencium bibir Dev. Angela menggigit dan menarik bibir bawah Dev lumayan keras sehingga Dev berteriak.
"Aaaargh !"
Seketika darah segar keluar dari bekas gigitan Angela. Darah Dev nampak berwarna hitam. Saat Angela menyentuhnya, ia mengusap-usap darah itu dijarinya. Tampak ada warna kemerahan di dalam warna hitam darah Dev.
"Gadis nakal." ucap Dev menatap Angela.
"Apa kau suka?"
"Tidak terlalu buruk." ucap Dev duduk dan mengusap bibirnya.
"Dev?" Angela memanggil nama Dev lirih.
Dev menatap Angela heran. "Ada apa?" tanyanya.
"Apa selama kau melakukan hubungan dengan gadis-gadis lain itu, kau merasa senang?" tanya Angela tiba-tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?" ucap Dev.
"Apakah kau melakukan itu dengan lembut?"
Dev terdiam dan bingung harus mengatakan apa pada Angela. Ia tahu, gadis yang ada didepannya itu sudah masuk dalam buaiannya. Sehingga apapun yang akan ia lakukan, gadis itu tidak akan menolaknya. Namun Dev tidak ingin berbuat kasar pada Angela. Karena ia benar-benar mencintainya.
"Tidak. Hanya kau satu-satunya wanita yang kuperlakukan dengan baik." ucapnya jujur.
.
.
.
...----------------...
๐Lanjut episode 25 ya,,,, ๐
...----------------...