
Dev menatap gadis yang ada didepannya. Matanya terlihat jujur dan benar-benar sedang mengkhawatirkannya. Ia melihat bahwa Angela tampak mulai menyukainya.
"Aku tidak bisa melakukannya. Karena aku bertahan hidup selama ini dengan energi dari wanita-wanita itu." ucap Dev tenang.
"Jangan gegabah Dev. Mereka semua sedang memburumu sekarang. Seandainya saja kau menampakkan diri didepan mereka, maka kejadian seperti satu minggu yang lalu dapat saja terulang kembali." ucap Angela mendesak Dev.
"Apa kau takut jika aku mati?" tanya Dev pada Angela.
"Tentu saja. Apa kau tidak tahu juga?" jawab Angela lirih.
"Sudah sudah, sebaiknya kau tenangkan pikiranmu. Dengar, aku akan baik-baik saja." ucap Dev sambil berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Angela takut jika Dev keluar rumah lagi.
"Malam sudah semakin larut, sebaiknya kau menginap dirumahku. Aku akan menyiapkan kamar untukmu." ucap Dev.
Angela bangun dan mengikuti langkah Dev. Ia memandangi punggung pria itu dari belakang. Ia ingat betul bagaimana luka Dev saat jatuh kerumahnya satu minggu yang lalu. Daging punggung dan perutnya tergerai menampakkan urat halus yang hampir menonjolkan tulang. Ia merasa konyol. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada makhluk semacam Dev. Makhluk yang berwujud mengerikan dan suka meniduri para wanita. Dev mmbuka pintu kamar yang ia bangun hanya sebagai hiasan saja dirumah itu. Karena ia hanya tidur di satu kamar saja. Dikamar lain yang ada diseberang kamar tersebut.
"Kau bisa tidur disini. Aku tidak akan mengganggumu. Kau boleh menggunakan kalung pelindungmu jika aku mengingkari ucapanku dan diam-diam mendekatimu." ucap Dev sambil menekan saklar lampu.
Tampaklah ruangan kamar yang rapi dengan seprei berwarna biru laut dengan hiasan dinding patung-patung keramik berbagai ukuran. Angela melangkah masuk dan mencoba duduk di atas kasurnya. Ia meraba-raba kain seprei yang sedang ia duduki. Begitu lembut dan terasa teduh dimata.
"Apa kau yang memilih semua perabotan dan perlengkapan kamar ini?" tanya Angela penasaran karena ini pilihan yang bagus dengan penataan yang sempurna.
"Ya, aku membelinya sendiri waktu itu." jawab Dev mengingat saat ia harus meluangkan waktu berburu perabotan rumah. "Baiklah, istirahatlah. Kamarku ada di seberang. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan panggil saja namaku. Aku akan datang." ucapnya tersenyum pada Angela.
"Terima kasih. Selamat malam Dev." uvap Angela.
...----------------...
Mata Angela belum bisa terpejam. Sudah satu setengah jam lebih ia berada di kamar tersebut. Dan berbaring di tempat tidurnya. Ia masih saja merasa cemas dengan para pemburu itu. Karena salah satu dari mereka adalah ayahnya. Jika para pemburu di kota ini bersatu, maka akan ada pertarungan antara dua pihak yang sama kuat. Antara kelompok ayahnya dan kelompok Dev. Mereka berdua adalah orang-orang yang ia cintai dan sedikitpun ia tak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Jika ada pertarungan untuk saling menghancurkan, maka akan ada salah satunya yang terluka. Bahkan bisa saja semua pihak mengalami kehancuran. Angela menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia memeluk bantalnya dan mulai menguap. Baru saja ia tertidur, ia langsung bermimpi buruk tentang Dev. Para pemburu itu kembali berhasil menangkap dan melukai Dev dengan anak panah dan tombak. Mereka membantai Dev dengan beramai-ramai.
"Dev !!" teriak Angela ketika bangun dari mimpinya. Ia mengatur nafasnya dan duduk bersandar.
Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya diketuk seseorang. "Apa kau baik-baik saja Ela?" tanya Dev yang mendengar namanya dipanggil.
Angela membuka pintu dan melihat pria itu tengah berdiri di seberang. Ia tidak bisa tenang karena takut Dev akan pergi menyelinap keluar untuk mencari mangsa. Iapun meminta Dev untuk masuk menemaninya.
"Masuklah Dev. Aku takut kau akan menyelinap keluar dan bertemu dengan para pemburu." ucap Angela.
Dev masih berdiri dan bersandar di dinding seberang. Ia bertanya pada Angela apakah dia benar-benar mengkhawatirkannya. Karena menurut Dev, Angela sebaiknya mengkhawatirkan diri sendiri yang saat ini tengah berada di tempat kekuasaannya.
Angela meneguk ludahnya karena ia benar-benar lebih khawatir jika Dev keluar bertemu pemburu. "Aku,,,,tidak peduli dengan diriku. Aku lebih takut jika harus kehilanganmu." ucap Angela jujur dari dalam hati.
Dev masuk ke kamar Angela dan mendekati gadis itu. Ia memeluk dan meletakkan dagunya di atas kepala Angela. "Tenanglah. Kau tidak perlu mencemaskan diriku. Kali ini aku akan baik-baik saja." ucapnya.
Mereka beranjak mendekati tempat tidur yang ada disana. Dev mengajak Angela berbaring disisinya. Angela menurutinya dan berbaring disisi Dev. Ia tidur dengan posisi membelakangi pria itu. Sudah setengah jam lebih Dev merasakan bahwa Angela belum memejamkan mata. Ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk gadis itu dari belakang. Mencoba memberikan energi ketenangan untuknya. Entah mengapa, Angela benar-benar nyaman tidur di dalam pelukan Dev. Ia tahu, apa saja resiko yang bisa ia terima jika bersama Incubi. Tetapi ia sudah tidak peduli. Ia harus menahan Dev supaya tidak bertemu dengan ayahnya dan membuat mereka saling menyakiti satu sama lain.
"Tidurlah." bisik Dev sambil meraih tangan Angela dan menggenggamnya erat.
Malam itu, mereka berdua tidur bersama. Namun Dev tidak melakukan apa-apa. Ia benar-benar menjaga gadis itu dalam pelukannya hingga gadis itu benar-benar tidur dengan nyenyak. Walaupun sebenarnya, Dev mencium bau daging segar dari tubuh Angela. Akan tetapi ia mencoba menahan laparnya. Ia menghargai wanita yang memberinya kesempatan untuk tetap hidup pada malam itu. Beberapa menit berlalu, suasana pun menjadi hening. Ketika malam kian larut, terdengar suara-suara kelelawar berterbangan di luar jendela.
Dev merasakan perubahan udara seakan mendekat ke tempat mereka berdua. Ia mencium bau pemburu semakin mendekat. Dengan perlahan ia bangkit dan berjalan ke arah jendela. Lalu mengintip ke arah luar dari celah tirai yang ia buka sedikit. Kini ia bisa melihat jelas dari kejauhan, datanglah beberapa pemburu yang membawa senjata sedang berpatroli dan akan melewati jalan depan rumahnya. Dev mengucapkan sesuatu sehingga ia membuat perisai untuk semua sisi rumahnya. Perisai yang berfungsi sebagai pelindung rumahnya untuk mengelabui mata para pemburu. Sehingga mereka tidak akan melihat ataupun merasakan keberadaan makhluk di tempat itu. Dev masih mengawasi pemburu-pemburu itu dan menemukan salah satunya sebagai ayah Angela.
Ia sekarang tahu, mengapa gadis itu tidak ingin ia berkeliaran diluar. Selain gadis itu tidak ingin Dev membahayakan dirinya, ia juga tidak bisa membahayakan ayahnya. Dev melihat para pemburu sudah berlalu dari depan rumahnya. Mereka berjalan menuju ujung anakan sungai dan hilang dari pandangannya disana. Dengan perlahan Dev kembali berbaring di sebelah Angela. Gadis itu masih pada posisinya semula dan tampak tidur dengan nyenyak.
...----------------...
.
.
.
.
Hay pembaca setia,,,
Lanjutkan baca episode 16 ya. 😄
.
.
.
.
.