
Angela mengerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi. Ia takut tetapi juga begitu penasaran dibuatnya. Dengan sangat berhati-hati Angela kembali melongokkan kepalanya mengintip apa yang ada dibalik dinding tempatnya berdiri. Matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Di balik dinding, Dev sedang berusaha kembali mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Sedikit demi sedikit, ekor dan sayapnya seolah masuk kedalam tubuhnya. Sambil bergetar hebat karena lukanya yang terlihat sangat parah, Dev mengerang kesakitan. Perut dan punggungnya mengeluarkan darah banyak. Tentunya darah yang berwarna hitam. Dari balik dinding lainnya, Angela menutup mulut karena masih belum percaya.
"Astaga,,, dia benar-benar Incubi itu. Tampaknya dia sedang terluka parah. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Angela bicara dalam hati.
"Aarrghh,,aahh,," suara Dev berusaha untuk bangun dan beranjak dari tempatnya, namun ia tidak kuasa menahan sakit pada lukanya.
Dev terbatuk-batuk dan darah mengalir keluar dari mulutnya. Tampaknya ia mengalami luka yang serius. Ia berdiri dengan lutut dan menghadap dinding dengan tangan menyangga kepalanya disana. Sambil menahan rasa sakitnya, ia menggeliat kesana kemari. Tiba-tiba saja Dev mendengar suara Angela.
"Dev,,,,kau terluka,,," Angela datang memandangi luka menganga di punggung dan perut Dev.
Dev terkejut dan tidak bisa mengelak lagi. Angela melihat dirinya dalam keadaan seperti itu. "Sejak kapan kau disana? Uhuk,,uhuk." Dev merasa tubuhnya semakin lemah.
"Apa kau makhluk yang pernah datang ke kamarku? Katakan yang sejujurnya padaku Dev." tanya Angela mengenali sosok makhluknya.
"Benar." jawab Dev jujur sambil terengah-engah.
"Jadi, benar kau Incubi itu?" Angela teringat bahwa malam itu Dev sempat berada di atas tubuhnya dengan wujud iblis bergigi tajam dengan lidah yang panjang.
Dev tidak bisa memberikan jawaban karena ia mulai menggelepar dan meringkuk di tanah. Sebenarnya saat ini, ia butuh berendam di api keabadian miliknya. Dimana api itu menyala-nyala dan mendidih dengan uap panasnya yang tak ada satupun makhluk bisa bertahan didalamnya kecuali dirinya. Akan tetapi Dev tidak sanggup lagi untuk terbang kesana karena sayapnya juga terluka parah. Melihat Dev meringkuk kesakitan, Angela merasa kasihan melihatnya. Entah mengapa walaupun ia sudah melihat rupa asli iblis pria itu, ia tidak merasa takut lagi. Dengan perlahan tangannya mengusap punggung Dev yang terlihat menganga dengan luka bakar. Ia juga melihat bagian luar perut Dev juga berterbangan bagai debu yang tertiup angin.
Angela tahu betul jika iblis terluka parah seperti itu, artinya cepat atau lambat iblis itu akan hancur berkeping-keping dan lenyap selamanya dari muka bumi ini. Tetapi karena Dev memiliki kekuatan dan daya tahan tubuh yang bagus, ia tidak akan hancur semudah itu. Apalagi ia sudah menyatu dengan tubuh manusianya yang membuat dirinya semakin kuat untuk bertahan dari serangan senjata penghancur iblis.
"Ela, tolong aku?" suara Dev lirih.
"Tidak. Aku akan melenyapkanmu. Kau Incubi yang membuat resah para wanita selama ini." Angela berdiri dan meraih busur dan panah yang terletak di lemari penyimpanan di ruang tersebut.
Dengan mata yang berkilau, Angela mengarahkan ujung tajam anak panahnya ke arah Dev. Dev merasa sangat terkejut, ia berusaha menggeser tubuhnya yang sedang duduk untuk mundur perlahan. Dengan tatapan matanya yang mulai kabur, ia melihat Angela tepat ada beberapa meter saja didepannya dengan panah penghancur di tangannya. Jika saja gadis itu memanah tepat mengenai jantungnya, maka ia akan benar-benar lenyap dari muka bumi ini. Tanpa Dev sadari, air matanya mengalir ke pipi. Sebelumnya, Dev benar-benar tidak pernah mengalami yang namanya menangis atau meneteskan air mata. Namun kali ini, saat mengetahui ia akan tiada ditangan wanita yang baru-baru ini mencuri hatinya. Ia merasakan hatinya begitu pedih.
Sebenarnya ini gila, darimana Dev bisa merasakan sesuatu di dalam hatinya jika selama ini hatinya itu sudah mati, keras dan juga tak berfungsi. Akhirnya Dev memejamkan matanya dan menunggu gadis itu menembakkan anak panah tepat ke jantungnya. Namun sudah lima menit barlalu dan ia tetap tidak merasakan apapun pada jantungnya. Dev membuka matanya karena merasakan keanehan. Benar saja. Angela menurunkan tangannya yang tadi sempat mengarahkan panah ke arahnya. Rupanya gadis itu juga tidak tega menghabisi iblis yang ada didepannya.
Angela menjatuhkan dirinya duduk ke tanah dan menatap Dev dengan tatapan kosong. "Aku tidak bisa menghabisimu. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Tatapi bersyukurlah, karena aku memberimu kesempatan untuk hidup." Angela mengatakannya dengan gemetaran.
"Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu." ucap Dev sambil menahan sakit.
...----------------...
Tepat saat Dev masuk ke dalam tanah yang menyala terang seperti neraka, Angela mendengar suara langkah kaki ayahnya dari luar. Ayahnya juga memanggil-manggil putrinya karena ia mencium bau hangus makhluk dirumahnya. Angela menoleh ke tanah yang ternyata sudah menutup kembali. Ia mencoba menginjak tanah itu yang benar-benar kembali seperti semula. Karena merasa sudah aman, Angela masuk kedalam rumah dan menyambut ayahnya yang baru pulang dari kerjanya.
"Selamat malam ayah, bagaimana kerja ayah hari ini?" suara Angela dibuat-buat sesantai mungkin.
"Kau belum tidur? Apa yang terjadi sebelum ayah pulang?" tanya Johny khawatir.
"Tidak terjadi apa-apa ayah. Aku hanya terbangun karena mendengar suara atap yang rubuh di ruang tengah."
"Atapnya rubuh? Bagaimana bisa?"
"Mungkin sudah tua ayah, saat kita datang kemari rumah ini sudah lama ditinggalkan penghuninya bukan?" Angela mencoba menyembunyikan kenyataan dari ayahnya.
"Ya, itu mungkin saja bisa terjadi. Kalau begitu biar ayah periksa besok. Ayo kita istirahat sekarang Ela." Johny memeluk putrinya dan mengantarnya ke kamar. "Selamat malam sayang." ucap Johny mengecup kening Angela.
"Malam juga ayah." Angela masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ia mendengar langkah ayahnya yang berlalu dari depan kamarnya.
Angela mendekati jendela dan menyibak tirainya. Ia menatap keluar jauh kesana. Ia mengingat kembali kejadian malam ini, dimana akhirnya ia melihat wujud sebenarnya dari pria yang bernama Dev. Pria yang akhir-akhir ini selalu hadir di dalam mimpinya. Dan membuatnya jatuh cinta.
...----------------...
πLanjut baca episode 12 ya π
Jangan lupa tinggalkan like & ratenya,,,
ditunggu kritik dan sarannya...π
..