INCUBUS SNARES

INCUBUS SNARES
LAKUKAN ATAU TIDAK?



Malam itu, Dev akan memberi pelayan-pelayannya jatah makan. Para pelayan itu mendapatkan makanan mereka tiap satu minggu sekali. Di dalam penjara bawah tanah, Dev menyimpan beberapa binatang seperti kambing dan anakan sapi yang ia ambil dari peternakan penduduk atau dari hutan. Ia sudah menggantung satu kambing di sebuah ruangan yang biasa ia gunakan untuk memberi makan pelayannya. Dev menyuruh keenam pelayannya datang. Mereka pun berdatangan dan mulai berkumpul dan duduk bersimpuh di tanah sambil menjulurkan lidah mereka karena sudah merasa kelaparan. Masing-masing dari mereka membawa gelas tembaga untuk mengambil darah kambing sebagai minumannya.


Dev menyobek perut kambing hidup-hidup dengan ujung ekornya yang tajam. Sehingga kambing itu meronta-ronta dan mengembik keras. "Mbeeeekkk !!" Dev menusuk dan menyayat semakin dalam bagian-bagian daging kambing tersebut. Satu persatu pelayan menadahkan gelas dibawah tubuh kambing untuk menampung tetesan darah yang mengalir. Setelah penuh, mereka akan bergantian menadahkan gelasnya. Levi, sebagai makhluk baru mengikuti pelayan seniornya. Ketika semua sudah mendapatkan bagian mereka masing-masing. Dev mulai menyayat dan memotong daging beberapa bagian lalu melemparkan daging-daging itu kepada pelayannya. Sedangkan tulang-tulang yang tersisa akan dilempar begitu saja di tanah.


Ketika semua sedang menikmati makan malamnya, Dev melihat Levi belum menyentuh sedikitpun makanan atau minumannya. Iapun bertanya pada gadis itu.


"Apa kau tidak lapar ? Cepat habiskan makananmu ! " tanya Dev menatap tajam ke arah Levi.


"Ah? A,,aku,,tidaakk,,," Levi hampir saja mengatakan bahwa ia tidak lapar. Bianca menoleh dan memberi kode keras untuk mengingatkan Levi. Seketika Levi ingat dan mengerti. "Ba,,baik tuan." Levi mengangkat gelasnya.


Saat pertama mencoba minumannya, ia mual dan muntah-muntah. Begitu juga saat menggigit daging kambing mentah itu. Ia merasakan begitu mual dan ingin muntah. Tetapi ia melihat ke arah tuannya yang sedang menatapnya seperti hendak menelannya bulat-bulat. Akhirnya Levi memaksakan diri untuk menelan daging mentah itu. Alisnya terlihat turun karena ketakutan. Ia juga terpaksa menghabiskannya karena takut jika nanti tuannya akan murka.


"Bagus, setelah ini kau temui aku di kamar." ucap Dev pergi berlalu dari tempat itu.


Setelah tuan mereka berlalu, Levi menangis sesenggukan. Ia merasa takut sekali jika harus berhadapan dengan tuannya nanti. Mereka pun berpelukan menangisi nasib mereka.


"Aku takut sekali, bagaimana aku harus menemuinya? Melihat matanya saja aku tidak sanggup." Levi menangisi nasibnya.


"Kau harus melakukannya. Jika tidak tuan akan murka kepadamu." suara Clara lirih.


...----------------...


Levi melangkah amat pelan mendekati kamar tuannya. Ia mendorong pintu besar dan memasuki ruangan tersebut. Tampak beberapa obor ada di sisi dindingnya. Ia melangkah ke ruangan yang bertirai rangkaian tembaga. Sehingga saat ia melewatinya terdengar bunyi gemerincing. Seketika itu juga, Levi melihat tuannya sedang duduk di sebuah kursi batu menunggu dirinya.



Sementara itu, Dev menunggu wanita pelayan itu begitu lama. Hingga ia merasa bosan. Ketika ia mendengar suara gemerincing tirai kamarnya, ia langsung bisa mengetahui bahwa pelayannya itu sedang mendekatinya. Dev berdiri setelah melihat Levi bersujud memberi hormat kepadanya. Namun, wanita itu tidak juga beranjak dari duduknya.


"Bangun dan kemarilah." perintahnya pada pelayan itu.


Tetapi pelayan itu tidak juga berdiri. Ia justru semakin menunduk ketakutan. Karena sedari tadi Dev sudah kesal, ia mendekat dan mengangkat dagu pelayan itu dengan kuku tajamnya. Levi semakin ketakutan, ia tidak berani berdiri menghadapi tuannya dengan tubuh yang telanjang.


"Bangun." Dev menyuruh Levi berdiri. Karena wanita itu hanya menangis, ia membentaknya dengan keras. "Berdiri atau kau ingin dilempar kedalam api !" ucap Dev marah.


Levi semakin gemetaran, dan matanya terus menangis. Ia berdiri dengan perlahan sambil tetap menunduk dan menutupi dada dan lipatan sensitifnya. Dev segera meraih tubuh Levi dan melemparnya dengan kasar ke atas batu yang lebar dan datar sebagai ranjangnya. Wanita itu kesakitan dan berusaha duduk. Ketika Dev semakin mendekatinya, ia menggeser duduknya mundur menjauh. Ia semakin takut ketika melihat tuannya juga melepas pakaiannya dan berubah menjadi sesosok iblis besar. Dengan tergopoh-gopoh, Levi berusaha berlari menghindar.


Ketika Dev mengibaskan ekornya, tubuh Levi ditangkap dan dililitnya dengan kuat. Kemudian dengan keras ia menjatuhkan dan menekan tubuh wanita itu ke atas batu. Lalu dengan ekornya pula, Dev mencekal kedua tangan Levi sehingga terangkat ke atas. Wanita itu menggeliat kesana kemari berusaha untuk melepaskan diri. Namun semua itu justru membuat iblis itu semakin menginginkannya.


...----------------...


"Ka,,kau mengapa berdiri disini?" tanya Dev kaku.


"Apa aku tadi mendengar erangan seseorang?" Angela balik bertanya.


"Lupakan itu. Ayo kembali keatas." ucap Dev menggandeng tangan Angela supaya keluar dari bawah tanah.


Di tempat itu Angela bisa saja kehabisan nafas karena pasokan oksigen sangat terbatas dibawah sana. Setelah berada di rumah atas, Dev mengajak Angela duduk dan minum teh. Gadis itu segera mengutarakan maksud kedatangannya itu.



"Beberapa pemburu mendatangi ayahku siang ini. Mereka mengatakan akan memancingmu keluar dari persembunyian. Dan malam ini mereka akan berpencar mencarimu ke seluruh sudut kota." ucap Angela tanpa jeda.


"Terima kasih sudah memberitahukan itu padaku." ucap Dev.


"Kau tahu, kau harus membayarnya suatu saat nanti." Angela menatap Dev. "Aku ingin tahu, mengapa kau masih melakukannya? Disaat para pemburu ada di kota ini?" tanya Angela begitu penasaran.


"Apa?"


"Kau,,,,. Levi, putri dari ketua pemburu. Kau mengganggunya dan membawa dia lari. Benar begitu?" tanya Angela lagi.


Dev diam dan termenung. "Ya, itu benar. Aku melakukannya. Aku ingin membuat perhitungan dengan Pemburu itu." ucap Dev serak. "Apapun yang ia lakukan, putrinya tidak akan pernah bisa kembali kepadanya. Karena ia sudah tiada." terang Dev.


"Lalu, jika alasannya untuk balas dendam, mengapa kau tidak melakukan itu juga kepadaku?" pertanyaan Angela begitu menohok perasaan Dev.


"Aku tidak bisa mengatakannya. Yang pasti, aku melakukan semua itu karena ada alasannya." Dev memalingkan muka dari mata Angela.


Angela merasa alasan Dev tidak melakukan itu kepadanya adalah karena pria itu tidak ingin menyakiti dirinya. Seperti dirinya yang juga tidak ingin Dev terluka. Angela merasa sangat takut jika ayahnya dan para pemburu lain berhasil menemukan Dev. Ia tidak ingin kehilangan pria itu.


"Dev, dengarkan aku. Untuk saat ini. Tahan dirimu untuk mendatangi wanita buruanmu. Kali ini para pemburu itu tidak main-main mencarimu." suara Angela sedikit bergetar.


...----------------...


***Lanjut baca episode 15 juga ya 😄


Terima kasih sudah membaca***..........


...----------------...