
Di markas para pemburu, Flos sedang mengoperasikan komputer mayanya. Di atas komputer itu ada alat semacam pemancar sinyal yang bisa mendeteksi keberadaan makhluk sejauh ±200km dari posisinya. Alat itu bergerak kesana kemari mencari sinyal-sinyal pergerakan dari makhluk yang berkeliaran. Flos mengamati dengan seksama layar komputernya. Sambil mengusap-usap dagunya, jari tangan kanan tetep menggeser mouse komputernya memeriksa setiap CCTV infra merah yang mereka pasang di tiap sudut kota. Ketika ia memeriksa CCTV pada distrik K-12 ada sebuah pergerakan pada jam 2siang tadi. Tampak ada dua jenis iblis api yang sedang bertarung.
"Brielle, kemarilah ! Lihat ini." ucapnya pada Brielle yang sedang membuat kopi. "Ada dua makhluk saling berkelahi."
"Dimana posisi tepat mereka?" tanya Brielle segera mendekati Flos.
"Aku rasa ini di daerah lapangan dekat Universitas Tokyo " jawab Flos memastikan.
"Beritahu Caleb setelah ia kembali nanti." Brielle menyodorkan segelas cappucino hangat untuk Flos.
...----------------...
Cuaca di sore hari ini tiba-tiba saja berkabut dan berangin kencang. Dev membuka matanya dan keluar dari kolam api. Ia berjalan begitu saja tanpa menghiraukan tubuhnya yang polos tanpa pakaian. Sambil meraba dadanya yang sudah kembali menutup, ia memanggil Levi. Dengan segera wanita itu datang kepadanya.
"Berikan aku makan malam yang lezat." ucapnya sambil melangkah ke ruangannya.
Levi mengikuti dibelakangnya. Dan berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Sesampainya di ruangan utama, ia menutup pintu dan mendekati tuannya yang tampak kelaparan. Tanpa berlama-lama Dev menikmati makan malamnya dan menghisap semua tenaga Levi. Saat Dev tengah sibuk dengan Levi, Casandra datang membuka pintu.
"Ouh ya ampun, aku salah masuk ruangan lagi. Kenapa aku selalu menyaksikanmu dalam situasi seperti ini?" ucap Casandra menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Lalu apa kau akan terus melihatku seperti ini?" ucap Dev menjilati jarinya yang basah.
"Baiklah, lanjutkan bersenang-senang. Oh ya, gadis manusia itu. Dia belum siuman sampai sekarang sejak ia ikut masuk kedalam bawah tanah." Casandra memberitahukan keadaan Angela.
"Siapa? Angela? Apa dia masih disini?" tanya Dev menghentikan gerakannya dan berlalu dari tubuh Levi. "Kau boleh pergi sekarang." ucapnya pada pelayannya itu.
Dev segera melangkah keluar ditemani Casandra. Wanita Iblis itu terus menatap bagian bawah tubuh Dev. "Mmm,,Kelihatannya kau belum selesai melakukannya." Casandra tersenyum-senyum melihat bagian itu.
"Aku akan berlama-lama dirumah atas. Kau jangan berani menggangguku." ucap Dev.
"Yaa,,yaa. Aku tahu, kau akan melakukannya pada anak manusia itu kan? Sudahlah sana, aku akan menikmati makan malamku disini." ucap Casandra.
...----------------...
Devian melangkah menuju kamar utama dan mengambil pakaiannya. Kemudian ia mendatangi Angela yang masih belum sadarkan diri. Ia melihat gadis itu masih terlelap dengan selimut menutupi tubuhnya. Ia begitu cantik dengan rambut tergerai dan sedikit berantakan. Dev mengusap kepala Angela sebentar. Lalu duduk di sisi gadis itu sambil memainkan gawainya. Sudah cukup lama Dev menemani Angela, iapun bangkit dan berjalan ke dekat jendela. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh halaman depan dan jalanan yang terlihat dari dalam kamarnya. Ia ingat ucapan Feldor saat pertarungan siang tadi. Keberadaan Angela sudah di amati makhluk itu. Jika makhluk itu juga menginginkan gadisnya. Itu artinya Dev mendapat masalah besar, ia harus menjaga Angela lebih ketat lagi.
Dev bersandar didinding sebelah jendela mengamati Angela dari sana. Ia tidak akan menyerahkan gadis itu begitu saja pada Feldor. Apapun yang terjadi, ia akan melindunginya. Karena baru kali ini Dev merasakan jantungnya berdegup kencang saat berdekatan dengan seorang wanita. Baru kali ini pula ia merasakan kehadiran cinta didalam hatinya.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Angela tiba-tiba.
Dev mendongakkan kepala melihat ke arah gadis yang ada didepannya. "Kau sudah bangun? Syukurlah. Aku sudah pernah katakan padamu sebelumnya, kau jangan pernah menginjakkan kakimu keruang bawah tanahku. Disana minim oksigen, manusia tidak bisa bernafas lama disana." ucap Dev berentetan dengan nada keras. "Issh kau ini, membuatku khawatir saja." suara Dev sedikit melembut.
"Benarkah kau khawatir padaku?" tanya Angela tersenyum.
"Tentu saja." jawab Dev memalingkan muka.
Ah ! Gadis itu tidak tahu jika dirinya sedang dalam bahaya. Karena Feldor, iblis yang hidup dijaman awal kelahiran manusia muncul dan mengincar dirinya. Tiba-tiba Angela duduk disamping kiri Dev dan meggenggam tangan pria itu. Angela berpikir apa yang terjadi siang tadi membuat Dev terguncang dan ia harus menghiburnya.
"Apa luka di jantungmu sudah baikan?" Angela merasa khawatir dan mendekatkan mukanya ke depan Dev.
"Ya, aku sudah baikan." Dev menoleh dan menatap Angela yang semakin dekat dengan mukanya.
Jantung Dev berdegup melihat bibir gadis itu semakin dekat dengannya. Apa yang mau dilakukan Angela? Dev heran dan sedikit melongo.
Angela menempelkan bibirnya kebibir Dev yang sedikit terbuka itu. Ia mencium Dev dengan penuh perasaan. Karena baru kali ini Dev mendapat perlakuan seperti itu, tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak. Ia begitu menikmati apa yang diberikan Angela kepadanya. Saat kedua tangan Angela mulai meraih kepala Dev, pria itu semakin terbawa suasana. Dev merasakan tubuhnya semakin pulih dengan tenaga yang juga meningkat. Begitu Angela duduk di pangkuan Dev, ciuman mereka pun menjadi semakin memanas. Angela meraba dada Dev yang kemarin terluka, terasa olehnya ada bekas luka yang sudah tertutup. Tetapi ia melihat bahwa Dev tidak merasa kesakitan.
Semakin sering Angela berciuman dengan Dev, maka semakin sering pula ia memberi eneginya untuk Dev. Begitupun sebaliknya. Semakin sering Dev berciuman dengan Angela, semakin sering pula ia memberikan cairan makhluknya pada gadis itu. Dev membuka matanya dan melihat mata gadis itu masih terpejam namun begitu menjiwai setiap sentuhan lidahnya. Lain lagi diluar jendela, langit tampak semakin gelap. Menandakan malam datang lebih awal. Dengan angin yang menderu-deru menambah hening suasana.
Ketika ciuman Angela semakin panas dengan nafasnya yang terasa semakin dingin, Dev tahu bahwa gadis itu sedang kedinginan. Maka didorongnya tubuh gadis itu dengan pelan agar ciuman mereka terlepas. Kemudian Dev meraih tangan Angela dan mengajaknya pergi ke tempat tidur. Dev menyuruh Angela berbaring. Kemudian ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan rapat. Dan dengan cepat ia menyalakan penghangat ruangan. Bagi Dev, sedingin apapun cuaca tidak mempengaruhi tubuhnya. Karena memang ia sudah terbiasa. Tetapi beda dengan manusia, mereka tidak akan bertahan dengan suhu yang terlalu dingin.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu." ucap Dev mencium kening Angela.
...----------------...
👉Lanjutkan episode 21 😘
.
.
.
...----------------...