
Malam itu, Dev terbang di antara pepohonan dan bertengger di atas sebuah pohon dekat rumah Milena. Pukul satu malam tempat sekitar rumah gadis itu sudah sangat sepi sehingga Dev dengan santainya terbang melintasi rumah-rumah di sekitarnya dan meninggalkan kabut berwarna hitam kemerahan. Dari jauh Dev dapat mencium aroma-aroma daging segar di dalam rumah-rumah itu. Ketika sampai di atas genting kamar Milena, Dev menatap ke dalam dan langsung masuk menembus dinding rumah itu. Di sudut ruangan kamar Milena yang gelap karena lampu di kamar tersebut dimatikan, Dev melihat dengan matanya yang memancar kemerahan bahwa gadis itu sudah terlelap.
Dirabanya wajah cantik dengan rambut panjang itu, dengan jari jemarinya yang panjang dang berkuku tajam. Lidahnya keluar menjulur-julur menjilati bibir dan seluruh wajah Milena sehingga wajah cantik itu basah seketika. Mata Dev memancarkan cahaya kemerahan menembus ke dalam mata Milena. Saat itu juga Milena bermimpi bertemu dengan Dev dan berkencan dengan pria itu. Dalam mimpi Milena, Dev mencium dan menggerayanginya dengan lembut. Sehingga gadis itu terbuai dalam mimpi yang indah bersama pria yang ia sukai. Diluar mimpi, Dev menarik tali baju Milena dan terbukalah semuanya. Ketika melihat tubuh polos yang sangat menggiurkan baginya, ia langsung melakukan itu kepada gadis cantik yang tidak menyadari bahwa tubuhnya sedang dipermainkan oleh Dev.
"Hmmm,," suara Dev menikmati Milena.
Dari sentuhan pertama, tubuh yang terlihat segar bugar dan kenyal menjadi berubah setelah Dev menghisap semua tenaganya hampir tak tersisa. Kini tubuh Milena tampak pucat dan lesu. Wajahnya juga tampak seperti tidak sehat. Selesai menyapukan air liurnya ke seluruh tubuh Milena, Dev duduk di atas tubuh gadis itu dan memandanginya. Ia tersenyum puas sehingga tampak gigi tajam miliknya. Kemudian ia menghilang dan meninggalkan kabut berwarna kemerahan di seluruh kamar gadis itu.
...----------------...
Pagi datang menyisakan sedikit embun di kaca-kaca jendela rumah Angela. Rumah itu adalah rumah yang ke berapa kalinya ia datangi setelah rumah-rumah lain yang ia tinggalkan bersama ayahnya. Sebagai keluarga pemburu iblis, ia sebenarnya bosan jika harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk melacak jejak iblis yang berada di bumi. Dengan malas Angela menguap dan merenggangkan otot tubuhnya. Ia menyingkirkan selimutnya karena melihat jam dinding sudah beranjak pukul tujuh pagi. Lima menit kemudian ayahnya berteriak memanggil namanya.
"Angela ! Ayo berangkat ! Kita harus segera sampai di kampus sebelum jam delapan !!" suara ayah Angela terdengar begitu menggelegar di seluruh ruangan.
"Iyya Ayah. Aku sudah siap." balas Angela dengan teriakan yang tak kalah nyaringnya. Gadis itu berlari menuruni tangga sambil membetulkan dasinya.
Hari ini, adalah hari pertama ia masuk ke kampus. Ia sudah mendaftarkan diri secara online beberapa hari yang lalu. Sedangkan ayahnya bekerja sebagai Pilot yang pindah tugas ke bandara dekat dengan kota Neverland. Dengan tergesa-gesa mereka berdua berangkat tanpa sarapan dan langsung menancap gas dengan kencang.
BRUM ! BRUM !
Mobil ayah Angela sampai di pelataran universitas yang terlihat luas dan sedikit tua. Mereka berpisah dengan kecupan dipipi.
"Dah Ayah." suara Angela melambaikan tangan ke arah ayahnya yanbg bernama Johny.
"Semangat Angel, sekolah barumu pasti menyenangkan." ucap Ayah gadis itu.
"Yaaa,,semoga begitu. Begitupun dengan ayah, semoga hari ayah menyenangkan." ucap Angela memonyongkan bibirnya. Sambil ia berlalu dari hadapan ayahnya.
Dari kejauhan Dev melihat Angela, gadis yang penuh semangat itu membuat matanya bersinar. Ia menatapnya lama sekali karena ia merasa baru kali ini melihat dan mencium aromanya. Ia segera tahu bahwa gadis itu adalah mahasiswi baru. Karena ia begitu penasaran dari mana gadis itu datang, akhirnya ia masuk ke kampusnya dan menuju kelas paginya. Rupanya gadis itu ada di kelasnya dan mengambil jurusan yang sama dengannya. Mata Dev mengeluarkan kilat, ia merasa itu adalah keberuntungan baginya karena ada gadis baru yang akan masuk ke daftar nama-nama korbannya.
"Hay, namaku Angela. Aku baru pindah ke kota ini sekitar tiga hari yang lalu. Yaa,, ayahku bekerja sebagai pilot dan itulah yang membuatku mengikutinya berpindah-pindah tempat. Kadang aku kesal dengan sikap ayahku yang tiba-tiba saja menyuruhku mengemasi barang." ucap Angela dengan tertawa renyah. "Tetapi akhirnya aku menerima keputusan itu juga. Bagaimanapun ayahku adalah pejuang hebat. Disaat ibuku tiada, ia rela berjuang keras untukku." sambung Angela.
"oh iya, aku suka makanan disini. Hot Cheese disini sangat lezat. ahahaha." ucapnya sedikit tertahan karena melihat Dev menatapnya begitu tajam.
...----------------...
Setelah kelas mereka selesai, ruangan itu dipenuhi dengan mahasiswa dan mahasiswi yang ingin berkenalan lebih dekat dengan Angela. Gadis itu bercerita banyak tentang pengalamannya tinggal di beberapa kota dan negara. Semua mendengarkan dengan seksama dan takjub sambil mengerumuninya. Hanya Dev yang masih tetap duduk di kursinya. Ia tidak perlu dekat dengan mereka karena telinganya bisa mendengar semua yang dibicarakan mereka walaupun mereka mengobrol sambil berbisik-bisik.
Angela mencuri pandang ke arah Dev karena merasa hanya pria itulah yang tidak ingin mengenalnya. Ketika semua sibuk memperkenalkan diri padanya, pria itu tetap menulis dan membaca bukunya. Siapa dia? Dingin sekali. Pikir Angela.
"Ohya, siapa laki-laki itu?" tanya Ela pada teman-temannya.
"Oh,dia? namanya Dev. Dev mahasiswa dengan nilai tertinggi disini. Dia juga banyak penggemar, tapi sayangnya dia sangat dingin. Hanya sekali-kali saja berbicara dengan teman-temannya." jawab Grace.
"Sepertinya dia membenciku, ya?" ucap Ela lirih.
"Tidak, dia hanya tidak biasa mengajak kenalan seorang gadis terlebih dahulu." jawab Mona. "Coba saja kau ajak dia kenalan lebih dulu, kalau dia menerima kehadiranmu berarti dia tidak membencimu." lanjut Mona memberikan arahan.
Angela menatap Dev lagi. Kali ini ia melihat Dev mulai membereskan buku-buku dan memasukkannya kedalam tasnya. Kemudian Dev beranjak pergi dari kursinya dan melangkah santai melewati Angela tanpa melihat ke arahnya. Semua orang merasa begitu, padahal kenyataannya Dev menatap tajam ke arah Ela dari mata sampingnya. Ia merasa tidak nyaman dengan aroma daging segar milik Ela yang membuatnya sesak nafas dan merasa pusing.
...----------------...
* Baca juga Incubus Snares episode 3,,,,😄
...----------------...