I LOVE YOU ZAHRA

I LOVE YOU ZAHRA
57



kini adrian, zahra dan bi ani telah pindah kerumah baru. karena zahra sedang hamil dan kandungannya lemah adrian sengaja memperkejakan 2 orang lagi asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan bi ani.


zahra juga sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit, karena kandungan zahra yang sangat lemah membuat adrian merasa khawatir.


adrian membawa zahra untuk melihat kamar mereka di lantai dua.


setelah sampai kamar zahra dapat melihat kamarnya lebih besar dari kamar mereka sebelumnya.


zahra menuju ke balkon dan dia dapat melihat pemandagan yang sangat indah, dia dapat melihat langsung pemandangan gunung yang menjulang tinggi dan di bawah balkon itu ada sebuah taman dengan banyak jenis bunga yang sedang bermekaran.


halaman yang sangat luas bagi zahra,


" bi kamu enggak salah beli rumah.. ? " tanya zahra penasaran.


" enggak.. memangnya kenapa apa kamu nggak suka sama rumah ini.. ? " kata adrian sambil memeluk zahra dari belakang


" bukan begitu maksud aku bi, rumah ini sangat besar bahkan dua kali lebih besar dari rumah lama kita, sedangkan yang berada di sini cuma kita berlima.. " tanya zahra penasaran


" kamu tahu kenapa abi membeli rumah ini, karena abi percaya kamu bisa memberikan banyak anak untuk abi.. abi ingin rumah ini di isi dengan banyak kebahagian dari keluarga kita... tawa riang mereka, dan kamu lihat taman itu setiap hari mereka akan berlarian disana.. " jelas adrian sambil tersenyum bahagia


zahra membalikan tubuhnya, sehingga kini mereka saling berhadapan, zahra mengelus pipi suaminya itu.


" terima kasih.. " kata zahra sambil mencium pipi adrian.


mereka tersenyum bersama.


 


☆ ☆ ☆ ☆ ☆ ☆


 


sudah sebulan ini mereka tinggal di rumah baru mereka, kini usia kandungan zahra sudah memasuki usia tiga bulan.


kehamilan zahra kali ini sangat berbeda dengan kehamilan hamza, waktu zahra hamil hamza dia tidak pernah merasakan hal - hal aneh atau bahkan ngidam.


tapi di kehamilannya yang sekarang selalu ada saja yang di inginkan dan untungnya adrian selalu mengabulkan keingginan zahra.


seperti pagi ini zahra ingin sekali memakan buah delima, dia pun membangunkan adrian yang masih tertidur lelap, sudah kebiasaan selepas sholat subuh mereka tidur kembali.


" bi.. bi bangun aku pengen makan buah delima.. abi iih bagun... " rengek zahra sambil menggoyang tubuh adrian


adrian mulai membuka mata


" kenapa mi.. " jawab adrian dengan suara khas orang baru bangun tidur


" ummi pengen makan delima.. abi cariin ya.. "


" delima.. ? dimana pagi - pagi gini abi harus cari mi.. "


" ooh abi jadi enggak mau nyari ya sudah enggak apa - apa.. " zahra pun segera berbaring dan memunggungi adrian seluruh badannya sengaja zahra tutup pakai selimut.


adrian tahu kalau zahra seperti ini dia akan susah di bujuk kecuali menyanggupi keinginannya.


adrian segera bangun dan duduk dia mencoba membuka selimut yang di pakai zahra.


" ya sudah abi cari tapi abi enggak mau lihat ummi kaya gini sekarang buka selimutnya dan kasih abi senyuman yang sangat manis.. " kata adrian


zahra pun membuka selimutnya dan memandangi wajah adrian lalu tersenyum


" nah gitu dong kan jadi lebih cantik, ya sudah abi mau siap - siap dulu baru cari delimanya ya.. " adrian mengecup kening zahra lalu bangkit dari tempat tidur dan mulai berjalan menuju kamar mandi


swalayan sampai pasar tradisional sudah adrian datangi penjual buah yang berjualan di pinggir jalan pun adrian datangi tapi hasilnya nihil,


adrian binggung harus mencari kemana lagi, adrian membelokan mobilnya ke sebuah perumahan dia melihat pohon - pohon yang ada di sekitaran rumah disini siapa tahu salah satunya mempunyai pohon delima.


dan benar saja lama adrian mencari ada satu rumah yang terdapat pohon delima dan sedang berbuah.


adrian mulai memarkirkan mobilnya dan dia mulai turun, dia melihat - lihat keadaan sekitar, adrian pun membuka gerbang rumah tersebut dan mulai berjalan menuju ke arah pintu.


tok.. tok.. tok..


tidak lama pintu terbuka, keluar seorang wanita paruh baya menemui adrian


" ya ada apa.. ? " tanya wanita itu


" maaf sebelumnya kalau saya menggangu waktu istirahat ibu.. oh iya perkenalkan saya adrian.. "


" martha.. "


" begini bu istri saya sedang hamil dan dia menginginkan buah delima, saya dari pagi sudah mencari kemana - mana tapi tidak menemukannya, kebetulan saya lewat daerah sini dan melihat pohon delima di halaman rumah ibu.. dan jika boleh saya ingin membeli buahnya beberapa saja.. " jelas adrian


ibu martha pun tersenyum mendengar penjelasan adrian,


" oh istri bapak sedang ngidam.. ya boleh silahkan ambil saja dan tidak perlu membelinya anggap saja itu sebagai hadiah atas kehamilan istri bapak.. " kata martha


" tapi saya serius bu saya akan membelinya.. "


" tidak perlu pak, saya juga seorang wanita dan saya juga pernah hamil dan merasakan yang namanya ngidam, jadi saya tahu gimana perasaan istri anda.. "


" ... jadi sekarang silahkan bapak ambil buahnya dan segera berikan pada istri anda dia pasti sudah menunggu.. " tambah martha sambil tersenyum


" baiklah kalau begitu terima kasih banyak bu, saya tidak akan lupa kebaikan ibu.. "


" ya sama - sama.. "


adrian pun mulai melangkahkan kakinya mendekati pohon delima itu, adrian mengambil tiga buah delimanya dan segera menunjukannya kepada bu martha.


" kalau masih kurang nanti pak adrian bisa kembali lagi kesini.. " kata bu martha


" iya bu terima kasih, kalau begitu saya pamit pulang dulu.... "


setelah berpamitan dengan bu martha adrian segera melajukan mobilnya menuju ke arah rumah, dia sangat senang karena sudah mendapatkan apa yang di mau oleh istri dan calon anaknya itu.


sesampainya di rumah adrian segera berlari ke dalam rumah dia menanyakan zahra kepada bi ani yang kebetulan lewat.


adrian masuk ke dalam kamarnya dan melihat zahra sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca buku.


adrian pun mendekat dan mengecup kening zahra, adrian duduk di samping zahra dan memberikan buah delima pesanannya.


" nih abi sudah dapat buahnya, mau dimakan sekarang atau bagaimana.. ? "


zahra melihat sekilas kepada adrian,


" simpan saja di meja, nanti saja ummi memakan buahnya.. " pinta zahra


adrian pun segera menyimpannya di meja yang tidak jauh dari posisi zahra, adrian kembali duduk di samping zahra.


zahra meletakan buku yang sedang di bacanya dan memeluk tubuh suaminya itu.


adrian mengelus rambut panjang zahra, kebiasaan zahra kalau hanya di dalam kamar mereka dia tidak memakai jilbab dan adrian menyukainya jadi hanya dia yang dapat melihat keindahan rambut zahra.