
zahra mulai sadar dari pingsannya, dia melihat adrian sedang duduk di sampingnya sambil menundukan kepala.
dia melihat tubuh adrian bergetar, di usapnya rambut hitam sang suami. adrian merasa ada yang menyentuh rambutnya segera mengangkat kepala dan melihat ke arah zahra.
zahra juga sudah mulai menangis.
" bi hamza... dia pergi ninggalin kita bi.. " tangis zahra pun pecah
adrian segera menarik tubuh zahra dan memeluknya dengan sangat erat, zahra pun membalas pelukan adrian. mereka menangis bersama mencurahkan rasa sedih yang ada di diri mereka.
" kita harus kuat sayang, kamu tahu hamza sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi, dia sudah bahagia disana.. " kata adrian berusaha menenangkan zahra
" aku tahu bi.. tadi sebelum aku pergi keruangan hamza aku bermimpi bertemu dengan ayah dan hamza dia terlihat sangat bahagia, dia pun terlihat lebih ceria.. aku bisa melihat dia berlarian kesana kemari.. dan dia bilang aku tidak boleh nangis dan sedih lagi... " cerita zahra sambil terus menagis
" kita harus lebih tegar dan merelakan hamza.. ini yang terbaik untuknya.. " kata adrian
setelah acara pemakaman usai para pelayad mulai meninggalkan pemakaman kini tinggal zahra bersama adrian dan keluarganya.
arya juga ikut hadir di acara pemakaman itu, dia merasa sangat sedih dan kecewa, dia tidak sempat mengenal lebih lama anaknya itu.
☆ ☆ ☆ ☆ ☆
sudah seminggu semenjak kepergian hamza zahra dan adrian merasa ada yang kurang di rumah ini.
biasanya setiap pagi hamza akan berlari ke kamar mereka dan bermain di tempat tidur.
tawa hamza yang setiap hari selalu hadir di kehidupan mereka kini sudah tidak ada lagi.
sudah seminggu ini pula zahra mengurung diri di kamar hamza, adrian tahu zahra sangat sedih. begitu pun dengan adrian walau pun hamza bukan anak kandungnya tapi dia sudah mengisi hari - hari adrian yang kosong.
adrian sangat menyayangi hamza melebihi dirinya sendiri tapi adrian harus segera bangkit dia kepala keluarga di rumah ini.
adrian pun berjalan menuju kamar hamza, dia sudah ambil keputusan dan dia harap zahra mengikuti keputusan nya.
tok... tok.. tok..
tidak lama pintu terbuka, adrian melangkah masuk dia pandangi setiap sudut kamar putranya itu.
dia benar - benar merindukan hamza, adrian duduk di sisi tempat tidur dimana zahra kini sedang duduk.
adrian mengelus tangan zahra dan menggenggamnya.
" mi.. abi tahu ummi masih sangat sedih, abi juga merasakan hal yang sama.. tapi ummi juga harus memikirkan calon anak kita... " adrian sengaja menggantung perkataannya dan beralih mengelus perut zahra yang masih rata.
" ... ummi tahu hamza juga tidak akan suka kalau lihat kita terus - terusan bersedih seperti ini terutama ummi nya, hamza sekarang sudah bahagia disana dia tidak merasakan sakit lagi allah sangat sayang sama dia sampai mengangkat penyakitnya...
....kita harus ikhlas dan tabah menghadapi ini semua, abi tahu ini memang tidak mudah tapi kita juga harus bangkit dan meneruskan hidup kita... anak ini juga sama membutuhkan perhatian dan kasih sayang ummi nya.. " jelas adrian panjang lebar
zahra yang dari tadi hanya mendengarkan pun mulai menangis, dia tahu dia salah, seminggu ini dia hanya mengurung diri di kamar putranya ini.
tanpa memikirkan orang - orang sekitar termasuk suaminya dan calon anak mereka.
zahra memeluk tubuh suaminya itu, sudah seminggu ini dia tidak merasakan pelukan hangat darinya.
sungguh ini membuatnya merasa nyaman.
" abi maafin ummi... ummi tahu, ummi salah.. karena merasa kehilangan ummi menelantarkan abi dan bayi ini... maaf bi.. " zahra terus saja menangis adrian mencoba memberikan ketenangan dengan cara mengelus punggung zahra.
" nah sekarang mari kita mulai hidup yang baru, mari lupakan kesedihan kita.. bukan berarti abi menyuruh ummi melupakan hamza, tapi hamza sekarang sudah menjadi sebuah kenangan, kenangan yang sangat indah dan biar kenangan indah tersebut tersimpan rapi di diri kita..
...abi juga sudah berencana akan mengajak ummi pindah ke rumah baru, mungkin dengan cara ini perlahan kita bisa bangkit. karena abi takut bila kita masih disini kita akan tetap berada di dalam kenangan itu...
...ummi mau kan pindah rumah sama abi.. ? " tanya adrian yang masih memeluk tubuh zahra
zahra terkejut dengan perkataan suaminya itu, tapi tidak ada yang salah juga dengan perkataan adrian. kalau mereka masih di rumah ini mereka akan selalu mengingat kenangan mereka bersama hamza.
di setiap sudut ruangan ini terdapat banyak cerita antara mereka bertiga.
" baik bi.. ummi mau ikut abi pindah rumah, tapi ummi mohon abi jangan jual rumah ini ya.. " pinta zahra
adrian tersenyum dan mengecup kening zahra sekilas
" sayang abi tidak ada niatan untuk menjual rumah ini.. abi hanya akan menyuruh orang untuk mengurus dan tinggal disini.. sewaktu - waktu kita juga bisa berkunjung kemari.. "
zahra senang mendengarnya, senyum di wajah zahra yang sudah lama hilang kini sudah terlihat lagi dan adrian sangat merindukannya.
dia akan berusahan untuk mempertahankan senyum itu.