
setelah pertemuannya dengan arya seminggu lalu perasaan zahra masih tidak tenang, dia takut kalau suatu hari nanti arya datang mencarinya.
apa lagi kalau sampai arya tahu dia memiliki seorang putra dari zahra, zahra takut arya mengambil hamza dari sisinya.
zahra terus saja memikirkan hal itu sampai dia tidak sadar kalau ada yang mengetuk pintu ruangannya.
adrian yang dari tadi mengetuk pintu ruangan zahra memilih langsung masuk, adrian melihat zahra sedang melamun. dia pun masuk ke dalam ruangan itu dan mendekat ke arah zahra.
" zahra... "
tetapi zahra tidak mendengar panggilan dari adrian, sampai panggilan ke 4 zahra baru sadar kalau ada adrian disini.
" eh dokter adrian, maaf saya tidak tahu dokter datang.. ada perlu apa dok.. ? " tanya zahra
" kamu kenapa.. ? sampai kamu tidak tahu saya datang, dari tadi saya manggil - manggil kamu tapi kamu malah melamun.. ada apa..? apa kamu masih mikirin masalah waktu itu.. ? " pertanyaan adrian sangat tepat sasaran.
zahra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" enggak kok.. aku enggak kenapa - kenapa cuma agak sedikit enggak enak badan aja.. " alasan zahra
di saat mereka sedang mengobrol telepon zahra tiba - tiba berbunyi, zahra melihat siapa yang sudah menghubunginya.
zahra heran tidak biasanya bi ani menelponnya di jam kerja seperti ini.
zahra pun segera menekan tombol hijau di layar handphonenya.
" assalamualaikum bi ada apa.. ? "
" .... "
" apa, iya bi saya akan segera pulang bibi tolong jaga hamza sebentar ya.. "
" ..... "
" waalaikumsalam.. "
zahra pun segera bangkit dari duduknya dan mulai membereskan barang - barangnya.
adrian yang melihat tingkah zahra pun penasaran dan memberanikan diri bertanya.
" ada apa zah kok kamu seperti khawatir gitu..? "
" barusan bi ani ngasih tahu kalau badan hamza panas banget, jadi aku mau minta ijin buat pulang cepat hari ini.. "
" apa hamza sakit, ya sudah aku ikut sama kamu pulang aku juga ingin melihat hamza... "
zahra tidak menjawab perkataan adrian dia pun buru - buru pulang ke rumah, adrian meminta zahra untuk ikut bersama dirinya.
" kita naik mobil aku saja, biar nanti mobil kamu di antar sama supir ke rumah kamu.. "
zahra pun masuk kedalam mobil adrian, di sepanjang jalan adrian dapat melihat kekhawatiran zahra.
tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah zahra, zahra segera turun dari mobil dan berlari ke arah rumah.
sedangkan adrian sudah mengikutinya dari belakang,
zahra segera masuk ke kamar hamza dan melihat hamza sedang di gendong oleh bi ani,
zahra pun mengambil hamza dari bi ani.
dia menggendong anak semata wayangnya itu, dapat di rasa badan hamza sangat panas.
" apa sudah di beri obat bi.. ? " tanya zahra
" sudah neng tetapi panasnya belum turun juga.. " jelas bi ani
zahra menidurkan hamza di tempat tidur dia ingin memeriksa keadaan anaknya itu.
" bi tolong ambilkan peralatan saya di ruang kerja.. " pinta zahra
bi ani pun segera pergi dan kini di kamar itu tinggal mereka berdua.
adrian berjalan ke sisi lain tempat tidur hamza dan duduk di sampingnya dia mengelus rambut hamza.
" dia pasti akan segera sehat.. " kata adrian tanpa memalingkan wajahnya dari hamza.
zahra yang melihat itu sangat tersentuh, entah kenapa perasaannya sangat bahagia melihat adrian seperti itu terhadap hamza.
bi ani sudah kembali lagi ke kamar hamza dengan membawa peralatan zahra.
zahra pun mulai memeriksa hamza dengan sangat teliti, zahra juga mengukur suhu tubuh anaknya itu.
zahra melihat suhu tubuh anaknya sangat tinggi 40°c.
" bi kenapa hamza tiba - tiba seperti ini perasaan tadi pagi baik - baik sajakan..? "
" sebenarnya kemarin hamza mengeluh kepalanya sakit, jadi bibi kasih obat.. tadinya bibi mau ngasih tahu neng zahra, tapi lihat hamza sudah seperti sedia kala lagi bibi enggak bilang takut neng zahra cemas dan khawatir dan tadi pagi saat neng zahra sudah berangkat hamza bangun dan bilang kalau kepalanya pusing lagi.. pas bibi pegang keningnya bibi ngerasa badan hamza panas. jadi bibi kasih obat tapi semakin siang panasnya semakin tinggi.. " jelas bi ani
" kita bawa hamza ke rumah sakit, aku takut hamza tipes... " kata adrian
zahra pun menyetujui perkataan adrian, karena zahra juga memikirkan hal yang sama. kini mereka sedang berada di jalan untuk ke rumah sakit.
zahra yang duduk di sebelah adrian terus memeluk dan sesekali mengelus kepala anaknya,
adrian yang melihat itu pun akhirnya membuka suara.
" kamu tidak usah khawatir hamza pasti baik - baik saja... "
zahra hanya tersenyum tanpa melihat lawan bicaranya.
adrian sesekali mengelus rambut hamza.
meraka pun kini sudah sampai di rumah sakit, adrian segera meminta seorang suster untuk menyiapkan sebuah kamar untuk hamza.
dia juga sempat menghubungi dokter anak yang berada di rumah sakit ini.
kini zahra dan adrian sedang menunggu dokter itu memeriksa hamza.
" hamza tidak kenapa - napa zah, kamu tidak perlu khawatir. dia hanya perlu di rawat beberapa hari disini sampai dia baikan.. " jelas dokter iva setelah memeriksa hamza.
dokter iva pun pamit dan sebelum itu zahra dan adrian mengucapkan terima kasih kepadanya.
zahra sebenarnya juga mengetahui kalau anaknya itu hanya sakit panas biasa tapi zahra tidak ingin mengambil resiko.
lebih baik hamza di rawat untuk sementara di sini dari pada di rumah.
setelah dokter iva pergi zahra pun berjalan ke arah kursi dan duduk disana, zahra menciumi tangan hamza dan sesekali mengelus rambutnya.
" kamu harus segera sembuh sayang, ummi sedih kalau lihat kamu seperti ini.. " kata zahra sambil mencium kening hamza
adrian pamit untuk pergi keruangannya sebentar karena ada yang harus dia kerjakan.
" zah aku mau ke ruangan ku sebentar nanti aku kembali lagi.. " ijin adrian
" iya nggak apa - apa.. " jawab zahra sambil tersenyum.
adrian pun meninggalkan kamar hamza.
tidak lama hamza membuka matanya dan melihat ummi nya sedang duduk di samping dirinya.
" sayang apa yang sakit bilang sama ummi.. ? " tanya zahra
hamza menggelengkan kepalanya,
" ummi abang kangen abi, abang pengen di peluk abi... ? " kata hamza yang sudah mulai menangis
deg
zahra berfikir apa hamza merindukan arya..?
setelah sekian lama hamza tidak menanyakan abinya kini dia mengatakan dia sangat merindukannya.
zahra pun mencoba menenangkan hamza dia menggendong hamza dan mulai mengelus punggungnya.
" sayang abi lagi kerja, nanti kalau abi sudah tidak sibuk dia pasti kesini.. " jawab zahra sambil menahan air matanya.
dia tidak ingin hamza melihatnya menangis, zahra terus saja menenangkan hamza yang sedang rewel.