I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Perihal pertunangan



Evan baru saja membuka pintu ruang kantornya dan melihat ada beberapa tumpukan berkas di atas meja. Laki-laki itu menghembuskan nafas dalam-dalam.


"Kenapa pekerjaanku rasanya gak selesai-selesai?" gumamnya pelan.


"Dorrrrr!!" teriak Fani yang baru keluar dari balik meja kerja Evan.


Evan tampak mundur ke belakang beberapa langkah karena terkejut melihat Fani yang pagi-pagi sudah berada diruangannya.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Evan sambil berjalan menghampiri Fani.


Fani terus tertawa melihat reaksi terkejut Evan tadi yang menurutnya lucu. Namun, tangan Evan tiba-tiba ingin menyentuh keningnya dan membuat gadis itu mundur satu langkah kebelakang.


"Hei, jangan berlebihan. Ini di kantor. Aku takut mereka salah paham!" bisik Fani menolak Evan.


"Kenapa kamu pagi-pagi sudah sibuk memikirkan pikiran orang lain? Apa kamu belum cukup sibuk? Kalau pekerjaannya kurang, nanti aku akan bilang pada manajermu untuk menambahnya!" timpal Evan tak mau kalah.


Fani memonyongkan mulutnya dengan sedikit kesal.


"Oh iya, kamu kenapa pagi-pagi sudah berada diruangan ku?" tanya Evan.


"Ini.." Fani menunjukkan sebuah pesan singkat di telepon genggam miliknya membuat wajah Evan berubah pucat.


"Vivian akan bertunangan tanggal 28 September ini? Kalau begitu kurang lebih seminggu lagi!" Evan terkejut bukan main.


Fani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya belakangan ini aku selalu mendapat dan mendengar hal yang baik. Lihatlah, kamu baru memberitahuku dua hari yang lalu kalau Vivian sudah memiliki calon tunangan dan seminggu kemudian mereka akan benar-benar bertunangan!" seru Fani girang.


"Pesan itu.." Evan tak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya terasa kelu.


"Kenapa dengan pesan ini?" tanya Fani.


"Apa pesan itu menandakan bahwa dia mengundangmu untuk datang ke acara pertunangannya?" tanya Evan cemas, berharap kalau Fani mengatakan 'tidak'.


Namun sayang, dengan cepat Fani langsung menganggukkan kepalanya. Evan langsung terduduk di kursi direkturnya dengan lemas.


"Kenapa kamu kelihatan terkejut begitu? Bukannya kamu tahu kalau Vivian memang memiliki calon tunangan?" tanya Fani yang heran melihat reaksi Evan saat itu.


"A-aku hanya terlalu senang, sampai tak menyangka kalau mereka akan bertunangan secepat itu!" Evan berbohong.


Evan terdiam. Pikirannya melayang kemana-mana. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana bila Fani datang ke acara pertunangan itu dan mengetahui jika laki-laki yang bertunangan dengan Vivian adalah Hanniel?


Selagi Evan sibuk dengan pikirannya, Fani yang berdiri disampingnya sibuk berceloteh.


"Mendapat berita baik ini, aku senang sekaligus iri dengannya. Dia bisa menemukan orang yang tepat. Sementara aku masih menunggu orang itu!" gumamnya pelan membuat Evan mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Sebenarnya, kamu juga bisa menemukan orang yang tepat. Tapi, kamu sendiri yang memutuskan untuk menunggu orang itu!" timpal Evan dengan nada yang sedikit tinggi.


"Ka-kamu kenapa terlihat seperti sedang marah?" tanya Fani sambil mengerutkan keningnya.


Evan menyadari bahwa dirinya sama sekali tak memiliki hak apa pun untuk berbicara tentang kehidupan gadis dihadapannya karena dia hanya sebatas sahabat baik.


"Aku gak marah! A-aku hanya.." Evan tak melanjutkan kalimatnya dan menunjuk tumpukan berkas di atas meja.


"Dan, kalau kamu sudah gak ada perlu disini lagi, pergilah. Aku harus bekerja!" seru Evan datar.


Fani tak berani bicara, seolah menyadari bahwa teman baiknya itu memang sedang kesal dengan alasan yang tak dirinya mengerti. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan Evan dengan penuh tanda tanya.


Selepas kepergian Fani, Evan meninju meja kerjanya dengan cukup keras. Bahkan, Fani yang masih berjarak empat langkah dari pintu bisa mendengarnya.


Andre yang memiliki meja kerja tepat di luar ruangan Evan, langsung berlari masuk kedalam saat mendengar suara gaduh untuk kedua kalinya. Andre sangat terkejut begitu membuka pintu ruang kerja sang bos dan mendapati tangan kanan bosnya itu penuh dengan darah. Bahkan, darah itu sampai menetes di atas meja.


Tak luput, Andre melihat sebuah cangkir teh yang pecah berkeping-keping d atas meja. Sekertaris muda itu tak paham sebenarnya apa yang sedang terjadi.


"B-bos.." panggil Andre takut-takut.


"Ambilkan aku kotak obat. Biar aku obati sendiri dan jangan biarkan siapapun menemuiku hari ini. Semua jadwal rapat ku juga tolong di batalkan, ganti ke hari lain!" seru Evan.


Andre langsung bergegas keluar dan mengambil kotak P3K di dalam laci meja kerjanya, sementara Fani ternyata masih belum pergi dari sana. Gadis itu bersembunyi di sebuah pojokan mengamati situasi yang terjadi.


**


Di tempat lain, siang itu Kania tengah duduk didepan sebuah gerai es krim yang berada di mall milik keluarganya sambil menatap sang kakak yang berada dikejauhan sedang melakukan sidak bulanan.


Pikiran gadis itu tampak kosong, mengingat obrolan semalam. Dimana kedua orang tuanya memanggil dirinya dan sang kakak untuk kemudian berbicara diruang keluarga.


"Mama dan papa sudah memutuskan pertunangan mu dan Vivian akan di adakan tanggal 28 bulan ini," seru sang mama dengan wajah senang.


"Hah??!!" Kania terkejut mendengarnya dan langsung menolehkan kepalanya melihat ke arah sang kakak yang duduk di hadapannya.


Hanniel hanya diam dan tak memberikan respon apa-apa. Justru Kania yang terlihat sedikit keberatan.


"Ma, pa! Kenapa cepat sekali? Kakak dan kak Vivian kan baru dua tahun saling mengenal!" tanya Kania.


"Semakin cepat semakin baik!" sahut sang papa.


"Benar, kakak mu dan Vivian itu sudah pacaran cukup lama. Jika terus mengulur waktu, mama dan papa akan semakin lama untuk menimang cucu. Sedangkan teman-teman arisan mama semua selalu bercerita tentang menantu dan cucunya, mama juga ingin seperti itu!" timpal sang mama sambil tertawa kecil.


"Ta-tapi.." Kania tak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya saat itu.


"Pssst.. Kenapa dari tadi kamu yang sibuk berkomentar? Lihat kakakmu bahkan tidak berbicara apa-apa!" seru sang papa.


"Sayang, menurutmu bagaimana?" tanya sang mama pada putra sulungnya.


Ketiga orang disana tampak menatap Hanniel bersamaan. Namun tatapan Kania memiliki arti yang lain. Gadis itu sangat berharap bahwa sang kakak akan menolaknya.


Hanniel menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. "Aku pikir, komentar ku sama sekali tidak penting. Lakukan saja apa yang mama dan papa sudah putuskan. Toh aku sama sekali tidak akan bisa merubahnya," jawab Hanniel dingin.


"Ka-kamu kenapa menjawab seperti itu?" tanya sang mama sedikit geram karena merasa sang putra tak terlalu tertarik membahas soal pertunangannya itu.


"Aku masih harus mengurus pekerjaanku." Hanniel langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan sang adik yang terlihat kecewa.


Gadis itu sungguh tak menyangka jika sang kakak menyetujuinya begitu saja. Namun, disisi lain Kania bisa melihat bahwa apa yang di ucapkan sang kakak menyiratkan sebuah 'keengganan'.