
Fani mengetuk pintu ruang kerja Evan lalu membukanya. Kedua netra gadis itu menatap sesosok yang tak disebutkan Hansen sedang duduk di samping Vivian.
Mencoba tetap bersikap biasa saja, sekalipun menyaksikan orang yang disukainya kini berada di hadapannya bersama dengan tunangannya. Fani pun mencoba melebarkan senyumnya, meski sedikit terpaksa.
"Kenapa memanggilku?" tanya Fani lirih pada sang atasan setelah menyapa Vivian dan Hanniel.
Baru Evan hendak membuka mulut, Vivian sudah mendahului menjelaskan maksud kehadirannya bersama Hanniel disana.
"Gini Fan, kemarin tuh tunanganku sempat tanya, apa novel yang sedang dikerjakan sekarang sudah memiliki sponsor atau belum? Dia berminat untuk menjadi sponsor.. Bagaimana?" terang Vivian.
Fani terdiam. Kedua matanya tampak memandang Hanniel dan Vivian bergantian. 'Tentu kamu ingin menjadi sponsor, toh Vivian adalah tunanganmu..'
"Hanniel sepertinya sosok calon suami yang baik. Begitu mendukung sang calon istri tercinta dalam berkarya.." seru Evan saat melihat Fani yang termenung.
Entah itu sebuah pujian atau bukan, yang pasti Hanniel memandang lurus ke wajah Evan dengan dingin. Sementara Fani sedikit bergeming namun tetap berusaha berdiri tegak.
"Baguslah kalau begitu, berarti kita tidak perlu mencari sponsor lagi.." jawab Fani pada akhirnya seraya tertawa kecil.
"Oh iya, kapan kalian akan menikah?" tanya Evan yang terlihat dengan sengaja ingin menyudutkan Hanniel, terlebih ditengah-tengah persaingan mereka.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Fani berubah sendu. Sementara Vivian, terlihat begitu riang. Seraya menggenggam tangan Hanniel, gadis itu menjawab dengan lantang, "Secepatnya.. Nanti kalian berdua juga akan di undang kok.. Jangan khawatir.."
Mendengar jawaban sang tunangan, membuat Hanniel merasa tak nyaman. Terlebih, sebelumnya mereka berdua sudah berunding untuk menunda pernikahan mereka.
"Ka-kalau begitu, aku pamit dulu.. Masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.." ucap Fani lesu sembari berlalu pergi meninggalkan ketiganya tanpa menoleh ke arah Hanniel yang dengan lekat menatapnya.
**
Sama seperti biasanya, Evan mengantar pulang Fani. Namun, suasana di dalam mobil kali ini cukup berbeda. Sunyi senyap tanpa ada obrolan ataupun candaan ringan.
Fani terus menerus menatap ke arah jendela tanpa sedikit pun melirik ke arah Evan yang sedari tadi menyadari sikap acuh gadis yang duduk disampingnya.
Bahkan setelah Evan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Fani, gadis itu hendak langsung membuka pintu mobil, tapi tangan Evan menahannya.
"Kita perlu bicara!" seru Evan tiba-tiba yang merasa tak tahan dengan suasana dingin itu.
Kali ini Fani menatap Evan dengan datar, menunggu pria itu berbicara.
"Apa kamu marah denganku?" tanya Evan lembut.
Fani terdiam.
"Apa karena ucapanku saat siang tadi? Ehmm tentang Hanniel dan Vivian?" tanya Evan lagi.
Fani tetap terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mulai bersuara.
Gadis itu menatap Evan lekat-lekat sembari tersenyum kecil. "Untuk apa aku marah? Bukankah yang kamu ucapkan adalah realita.."
"Baguslah jika kamu tahu itu.." timpal Evan.
Baru saja bibirnya terkatup rapat, sebuah mobil dari arah depan menyoroti sekilas ke arah keduanya. Evan baru menyadari bahwa kedua mata Fani tampak berkaca-kaca.
"Maaf.." ucap Evan pelan dengan merasa bersalah.
"Kenapa kamu minta maaf? Yang kamu bilang itu kenyataan. Aku punya hak apa untuk merasa keberatan apalagi sampai marah??" sahut Fani dengan air mata yang tak kuasa dibendungnya.
"Lalu kenapa kamu seperti ini?" tanya Evan yang merasa serba salah.
"Aku hanya kesal. Aku tahu mereka sepasang kekasih. Aku tahu itu. Kenapa kamu harus memperjelasnya? Apa aku terlalu bodoh untuk mengerti perihal pertunangan mereka kemarin dan rencana pernikahan mereka kedepannya?" jawab Fani yang mulai meluapkan unek-unek di hatinya yang sedari tadi dipendam.
"Benar, aku salah. Aku tak memperhatikan perasaanmu saat itu. Tapi, apa kamu pernah mencoba memahami perasaanku. Sekali saja.." timpal Evan dengan raut wajah yang mulai serius.
"Aku tak pernah menganggapmu bodoh. Aku bahkan tahu, kamu pasti menyadari kalau aku menyukaimu. Kamu hanya mencoba menyangkalnya dan tak memperdulikan perasaanku. Berulangkali kamu selalu begitu.. Apa terlalu sulit untuk mencoba menerima perasaanku dengan banyaknya waktu yang telah kita lalui bersama?" jelas Evan panjang lebar membuat Fani terdiam.
Gadis itu menyadari akhirnya saat-saat seperti itu terjadi juga, padahal dirinya selalu ingin menghindar.
"Van, aku.."
"Kamu masih menyukainya! Benar bukan? Kamu hanya mengatakan kamu sedang berusaha untuk merelakannya, tapi kenyataannya? Kamu masih tetap mempertahankan Hanniel di hati kamu, Fan! Kamu bahkan masih menatap kedua matanya dengan penuh perasaan. Mau sampai kapan??" sahut Evan.
"Van, bukan begitu. Aku menganggapmu sebagai teman, teman yang sangat baik.. Dan aku gak mau kedepannya hubungan kita ternoda oleh hal-hal seperti cinta atau semacamnya.." jelas Fani lembut.
"Kenapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku tadi kamu belum menjawabnya. Dan, Fan.. Teman? Apa kamu serius? Apa bedanya aku dan Hanniel. Kami sama-sama berada di sampingmu. Yang berbeda hanyalah dia masa lalu mu dan aku berada di waktu sekarang. Tapi, kenapa kamu bisa menginginkan lebih pada Hanniel yang jelas-jelas gak menghargai perasaanmu? Kenapa bukan aku?" ucap Evan menggebu-gebu.
Laki-laki itu seolah sedang meluapkan perasaannya yang sudah lama tersimpan rapat. Entah keberanian itu berasal dari mana.
"Van.. Aku tidak ingin membandingkan kamu dan Hanniel. Kamu dan Hanniel sama-sama orang terbaik yang ada dalam hidupku. Hanya saja.." Fani terdiam sejenak tak melanjutkan kalimatnya.
Kedua tangan gadis itu memegang tangan kiri Evan dan menggenggamnya lembut.
"Hanya saja, sepertinya waktu yang telah mempermainkan perasaanku.. Seandainya kamu adalah orang yang pertama ku kenal, mungkin aku sudah menyukaimu.. Tapi meski kamu bukan yang pertama, aku juga tetap akan menyukaimu sebagai teman.. Tidak bisakah kita berdua tetap seperti sebelumnya? Jika berteman denganku terlalu sulit dan menyakitkan, apa kamu tidak ingin melihatku lagi?" lanjut Fani.
Kalimat terakhir yang di ucapkan gadis cantik itu membuat Evan mengerutkan keningnya.
'Mana mungkin aku tidak ingin melihatmu?' batin Evan.
"Kamu ini benar-benar.." seru Evan seraya menghela nafas dalam-dalam.
Kali ini sebuah senyuman tersungging di bibir Fani. Gadis itu langsung menarik tangan kiri Evan yang sedari tadi digenggamnya dan memeluknya dengan erat.
"Makasih.." bisik Fani pelan.
Mau tak mau Evan pasrah. Biar bagaimana pun, dirinya tak mungkin memaksa Fani untuk menyukai atau menerima perasaannya. Baginya, tetap berada disisi Fani sebagai seorang teman adalah hal yang terbaik.
"Fan.. Kamu perlu tahu, meski kedepannya kita mungkin hanya akan berteman, tapi kamu akan selalu menjadi orang yang istimewa untuk ku. Jadi, jika kamu membutuhkanku, kamu harus memberitahuku.." ucap Evan pelan.
"Aku mengerti.." sahut Fani.
"Ya sudah sana masuk kerumahmu, sudah malam juga. Istirahatlah.." seru Evan lembut seraya menepuk pelan punggung tangan Fani.