
"Jika kamu berfikir aku akan merasa tersiksa. Tidak! Tidak sama sekali.. Selama kamu tetap disampingku, aku merasa bahagia dan itu cukup untukku.. Jadi bisakah kamu terus berpura-pura melakukannya?" pinta Vivian seraya menangis dan setengah memohon.
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkannya. Kehidupan seperti yang kamu inginkan, bukanlah kebahagiaan.. Jika aku melakukan seperti yang kamu mau, maka aku adalah laki-laki yang tidak punya hati nurani.. Jadi, lebih baik akhiri sampai disini.." tolak Hanniel.
"Kenapa? Kamu khawatir gadis yang kamu suka terluka? Tapi kamu harus tahu yang punya perasaan bukan hanya dia, tapi aku juga!" nada bicara Vivian mulai meninggi.
"Harusnya kamu ucapkan kalimat itu untuk dirimu sendiri! Apa kamu sudah berfikir tentang hal yang kamu ucapkan barusan saat kamu menemui Fani?" tanya Hanniel dingin.
"Oh jadi dia mengadukan padamu aku datang menemuinya?" ucap Vivian menyeringai.
"Bukan dia! Dia sama sekali tak mengatakan apa pun padaku. Dan lagi sejak kami bertemu kembali dia seolah menjaga jarak dengan ku karena dia tahu aku sudah bertunangan denganmu.." timpal Hanniel.
"Kalau dia saja sudah menjaga jarak dengan mu, tidak bisakah kamu tetap bersamaku? Dan lagi, dia sudah berjanji padaku kalau dia akan melepasmu.. Dia tidak akan mengganggumu dan hubungan kita. Jadi.. Tetaplah bersamaku.. Aku mohon.." ucap Vivian dengan wajah memelas.
Hanniel menatap kedua netra Vivian dengan rasa kecewa. Gadis dihadapannya seolah bukan yang dia kenal selama dua tahun terakhir.
Hanniel bisa merasakan bahwa Vivian terlalu takut kehilangan dirinya, tapi jika hubungan mereka terus berlanjut, pada akhirnya akan sia-sia.
Perasaan Hanniel bukanlah untuk Vivian. Masa depan yang ingin mereka bangun tak sejalan.
"Vi, aku hanya akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya.." seru Hanniel dengan terus menatap Vivian yang berlinang air mata.
Tubuh gadis itu terlihat gemetar.
"Untuk kebaikanmu, dan kita semua.. Kita harus mengakhiri hubungan ini.. Dan, kamu adalah seorang perempuan. Sepertinya kurang pantas kamu merendahkan dirimu untuk laki-laki sepertiku.. Di luar sana, suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan yang jauh lebih baik dari ku. Laki-laki yang akan menemani kamu seumur hidup kamu. Laki-laki yang akan mencintai kamu lebih dari apa pun di dunia ini. Dan aku tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu untukmu. Karena dalam hati ku, aku sudah lama memiliki seorang perempuan yang ingin aku jaga.. Sekalipun aku pernah membuatnya terluka berkali-kali.. Aku bahkan pernah membuatnya menunggu karena keraguanku. Tapi kali ini aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi.. Kedepannya, aku akan menggenggam tangannya, tak peduli apa yang akan terjadi, aku akan terus berada disampingnya.. Aku harap kamu mau mengerti.." terang Hanniel panjang lebar, membuat bibir Vivian terkunci rapat.
Putus sudah jalan mimpi gadis itu untuk bersama Hanniel karena kebulatan tekad laki-laki itu.
"Oh ya, untuk masalah pekerjaan yang sedang kalian berdua kerjakan, aku harap kamu bisa menyelesaikan dengan profesional. Tanpa melibatkan urusan pribadi.." lanjut Hanniel seraya meninggalkan Vivian begitu saja.
Selepas Hanniel pergi dari hadapannya, Vivian jatuh terduduk di lantai dengan lemas. Air mata tak berhenti mengalir dengan deras.
**
Evan membuka kedua matanya dengan berat saat mendengar suara berisik di dalam rumahnya. Suara dua orang perempuan terdengar tengah bercanda dan sesekali tertawa.
Dengan langkah kaki yang pelan dan mata yang masih menyipit, Evan cukup terkejut melihat Kania tengah bersama sang kakak.
"Kamu sedang apa disini pagi-pagi?" tanya Evan bingung.
"Hah?" Evan tampak semakin bingung.
Laki-laki itu melempar pandang ke arah Kania. Jujur, dirinya sama sekali tak ingat bagaimana caranya bisa sampai dirumah.
"Semalam kak Han menelepon ku. Dia minta bantuanku untuk menjemputmu di bar, karena kamu mabuk berat.." terang Kania.
"Kamu mabuk? Apa ada masalah?" tanya kak Lein cemas. Pasalnya dia tahu betul jika sang adik bukanlah penyuka minuman keras.
Evan yang tadi sempat terdiam, mulai menyadari ada yang salah dalam perkataan Kania.
"Kamu.. Kamu.. Kamu.. Hei aku ini lebih tua darimu.. Panggil aku kakak.." seru Evan kesal sementara Kania hanya menjulurkan lidah meledek dirinya.
"Pertanyaanku belum kamu jawab. Apa terjadi sesuatu?" tanya Lein pada sang adik.
Evan tak langsung menjawab, laki-laki itu justru berjalan ke arah sofa dan duduk seraya menyilangkan kedua kakinya. Lein mengekor sang adik dan duduk tepat disebelahnya. Sementara Kania berjalan ke arah dapur karena kompor sedang menyala, gadis muda itu melanjutkan pekerjaan memasak yang tadi di kerjakan Lein.
"Hei ada apa?" tanya Lein pada sang adik untuk ketiga kalinya.
"Fani.. beberapa hari yang lalu aku mengutarakan perasaanku dan ditolak.." seru Evan lemas.
"Hmm sudah kuduga.. Kakak kan sudah pernah bilang, masa lalu dia belum selesai.. Ditambah lagi pertemuan Fani dan Hanniel di masa sekarang, hmm menurut kakak sih persentase Fani akan nerima kamu jadi pacarnya itu sangat kecil, nyaris tidak mungkin malah.." terang Lein dengan percaya diri.
"Hei kak.. Kamu ini kakak kandung ku atau bukan sih? Kenapa justru berbicara seperti itu. Menyebalkan.." protes Evan kesal.
"Lah apa hubungannya dengan aku ini kakak kandung mu atau bukan? Kan yang kakak katakan itu fakta sebenarnya.. Tanpa kakak bilang pun kamu pasti sudah bisa menebaknya bukan?" Lein membela diri.
"Iya sih.. Hanya saja aku tetap kesal.. Aku sudah memperlakukan dia dengan baik tapi kalah dengan perlakuan Hanniel yang begitu saja pergi meninggalkannya tanpa kabar.. Sebenarnya kurangnya aku itu dimana?" tanya Evan pada sang kakak.
"Kurangnya kamu itu disini.." jawab kak Lein seraya menyentuh dada sang adik.
"Apa maksud kakak?" tanya Evan tak mengerti.
"Adik ku yang ganteng, sebagai manusia, kita di beri dua jenis mata.. Yang satu mata lahiriah dan yang satu mata batiniah.. Mata lahiriahmu bisa melihat dan kagum dengan Fani tapi mata batiniah kamu tertutup karena mata lahiriah mu terus berfokus pada satu hal itu.." terang Lein membuat Evan mengerutkan keningnya.
"Maksud kakak.. Coba jangan terlalu fokus dengan apa yang bisa kamu lihat secara langsung.. Sekali-kali cobalah melihat dengan hatimu.. Coba rasakan sekelilingmu.. Hmm misalnya seperti ada seorang gadis yang diam-diam menyukaimu, tapi kamu sama sekali tidak menyadarinya.." terang Lein membuat sang adik semakin bingung.
Lein menatap Kania yang tengah sibuk mengaduk sayur di dapur. Gadis itu terlihat sangat manis dan cukup serasi untuk Evan. Setidaknya begitu pemikiran Lein.