
"Apa maksud kakak dengan tatapan itu?" tanya Evan dengan perasaan yang tidak enak.
"Hei apa kamu sama sekali tidak sadar jika Kania begitu peduli denganmu?" tanya Lein balik.
"Kebaikan dia itu karena rasa terima kasihnya padaku sudah pernah membantunya.." terang Evan singkat.
"Oh, membantu memukuli calon tunangannya ya?" sindir Lein.
"Kakak tahu??!!" pekik Evan terkejut.
"Tentu.. Aku dan Kania sudah mengobrol banyak hal saat kamu masih tidur.." jawab Lein.
"Jangan salah paham loh ya.. Aku memukuli calon tunangannya bukan tanpa alasan.. Aku memukulinya karena laki-laki itu benar-benar pantas untuk di pukuli.." Evan mencari alasan.
"Oh gituu.. terus alasan apa yang membuat mu ikut campur dan peduli dengan urusan Kania? Mau calon tunangannya bermasalah, kakak pikir itu juga gak ada hubungannya sama kamu.." timpal Lein.
"Bukan gitu kak.. Aku hanya tidak suka melihat dia merendahkan Kania.." jawab Evan pelan, seolah laki-laki itu menyadari ada yang salah dengan ucapannya.
"Lihat-lihat.. Kamu peduli dengan Kania, bisa jadi kamu menyukainya!" seru sang kakak seraya tertawa kecil.
"Kakak ini bicara apa sih? Adikmu ini baru ditolak beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin aku sudah berpindah ke lain hati.."
"Eits, jangan salah.. Bisa jadi perasaan kamu ke Fani hanya sebatas kekaguman tapi kamu menyalah artikan perasaan itu sebagai perasaan suka.. Dan bisa jadi orang yang sebenarnya kamu suka adalah Kania, tapi kamu sama sekali gak sadar akan hal itu.." jelas Lein.
Evan terdiam seraya menundukkan kepalanya.
"Bicara dengan mu malah membuat ku semakin pusing.." gerutu Evan yang disambut gelak tawa oleh sang kakak.
Saat kedua kakak beradik itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing, terdengar suara jeritan dari dapur. Suara Kania memekik membuat Lein dan Evan terkejut.
Evan langsung berlari ke dapur di ikuti oleh Lein dibelakangnya.
"Ada apa?" tanya Evan yang tak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.
"Ta-tangan ku kecipratan minyak.." jawab Kania gugup melihat reaksi Evan yang menurutnya sedikit manis.
Lein yang berada di antara keduanya hanya diam menyaksikan gelagat sang adik yang rupanya 'sangat perhatian'.
Evan langsung meraih tangan Kania dan melihat kulit gadis itu sedikit memerah bekas terciprat minyak panas.
"Tunggu disini, aku pergi keluar sebentar.." seru Evan seraya berlalu pergi dari dapur.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Lein setengah berteriak.
"Beli obat untuk luka bakar.." sahut Evan sembari menutup pintu rumahnya.
Mendengar jawaban itu, sang kakak lantas melemparkan pandangannya pada Kania seraya tersenyum kecil. Tangan Lein kini sibuk mengangkat ayam goreng dan mematikan kompor.
Tak berselang lama, Lein langsung menarik lengan kiri Kania dan mengajak gadis itu duduk disofa.
Lein terus menatap Kania dengan wajah bahagia.
"Menurutmu adikku itu bagaimana?" tanya Lein tanpa basa-basi.
"Hah?!" Kania terkejut.
"Maksudku.. Apa kamu menyukai adik ku?" tanya Lein lagi.
Kania mengangguk pelan dengan ragu.
"Yessss akhirnya.. Ada juga orang yang menyukai adik ku itu.." seru Lein gembira.
"Tapi kak, bisa tolong jangan beri tahu orangnya?" pinta Kania.
"Loh kenapa?" Lein bingung.
"Aku hanya tidak ingin menjadi canggung. Dan lagi dia sepertinya tidak menyukaiku. Didalam hatinya sudah ada seseorang.." terang Kania.
"Hmm.. baiklah.. Tapi kakak hanya ingin sekedar mengingatkan.. Sekalipun bibirmu bisa menyembunyikan banyak hal, tapi kedua sorot matamu tidak bisa melakukan hal yang sama.." sahut Lein.
Lagi, Kania terdiam.
"Sorot matamu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. Aku saja bisa melihatnya. Hanya adikku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya. Tapi, aku pikir kalian berdua berbagi perasaan yang sama. Jika tidak, tidak mungkin Evan akan sekhawatir itu denganmu, nona cantik.. Dia hanya masih bingung dengan perasaannya sendiri.." ucap Lein.
Ucapan itu terdengar seperti dipenuhi oleh harapan. Ya, masih ada sedikit harapan bagi Kania untuk mendapatkan hati Evan. Sekalipun gadis itu tidak ingin memaksakan apa pun. Hanya ingin semua berjalan sesuai dengan keharusannya.
"Kamu sudah kembali? Cepat sekali.." seru Lein saat melihat Evan membuka pintu dan melangkah menghampiri mereka berdua.
"Kemarikan tanganmu.." ucap Evan seraya meraih tangan Kania.
Sementara Lein meninggalkan keduanya. "Kakak siapkan sarapan dulu, nanti kalau sudah selesai kita sarapan bersama.."
"Mungkin akan sedikit perih, coba ditahan ya.." ucap Evan sembari mengoleskan salep berwarna bening yang baru saja dibelinya.
Laki-laki itu berjongkok menaruh lutut kanannya di lantai.
Wajah Kania mengernyit, berjaga-jaga jika terasa nyeri. Namun, tidak sesuai pikirannya. Sama sekali tidak sakit.
Kania memperhatikan wajah Evan yang terlihat sangat serius saat mengobatinya. Sesekali laki-laki itu meniup pelan. Evan benar-benar memperlakukannya dengan sangat lembut.
"Apa sudah puas menatapku? Jika belum, apa mau ku beri waktu tambahan? Tapi kamu harus membayarnya. Aku tidak akan memberi padamu secara cuma-cuma.." goda Evan yang sedari tadi memang sudah menyadari bahwa Kania terus menatap dirinya.
Mendengar itu, Kania tampak salah tingkah. Gadis cantik itu melempar pandang ke arah lain menghindari tatapan Evan yang berjarak cukup dekat dengannya.
Evan terus menatap wajah Kania, terlebih kedua mata gadis itu.
"Siapa juga yang mau menatapmu.. Aku hanya sedang melihat luka ditanganku.. Hanya kebetulan saja wajahmu sejajar.." Kania berkilah.
Biar bagaimanapun, dia seorang perempuan. Rasa-rasanya gengsi jika harus mengakui perasaan terlebih dahulu.
Evan tak langsung menjawab dan terus memperhatikan Kania, membuat gadis itu sedikit tak nyaman. Lalu Evan tersenyum kecil, seolah telah mendapatkan jawaban setelah sesaat mengamati.
"Ayo sarapan.." ucap Evan sembari berlalu meninggalkan Kania yang masih berusaha mengatur degup jantungnya.
Wajah gadis itu terlihat sedikit merona.
"Wajahmu kenapa merah begitu?" tanya Lein seolah memperjelas situasi dengan sengaja.
"Ha-hanya terasa cukup panas.." jawab Kania asal seraya mengibas-ngibaskan jemari tangan ke dekat wajahnya.
"Cepat duduk.. Selesai sarapan aku akan mengantarmu pulang.." seru Evan.
Tampak semburat rasa kecewa di wajah Kania. Jauh di dalam hati, Kania masih ingin berada di dekat Evan sedikit lebih lama.