
"Hei, berani sekali kamu tadi. Kamu tidak takut mama ku akan mengusirmu?" tanya Hanniel seraya berjalan menghampiri Evan yang hendak berjalan ke luar gerbang rumah Hanniel.
"Kenapa harus takut? Toh mama mu tidak mungkin menelan ku hidup-hidup.." sahut Evan santai.
"Oh ya, aku penasaran. Sejak kapan kamu berpacaran dengan adik ku?" tanya Hanniel.
Kedua pemuda itu kini terlihat lebih seperti teman baik.
"Anggap saja beberapa menit yang lalu, saat aku mengatakannya.." jawab Evan asal.
"Berarti perasaan adik ku terbalaskan.." gumam Hanniel pelan.
Evan mengerutkan kening sembari pura-pura tak mendengarnya. Karena pada dasarnya dirinya sudah tahu perasaan Kania padanya sejak laki-laki itu menatap wajah Kania beberapa jam yang lalu.
"Oh ya.. Hubungan mu dan Vivian bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu?" tanya Evan tulus.
"Hmm sudah.. Setelah bertemu denganmu kemarin malam, aku langsung menemui Vivian. Aku sudah memutus hubungan ku dengannya.." jawab Hanniel.
Tapi, raut wajah Hanniel tampak lesu.
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal karena telah memutuskan Vivian? Kalau gitu biar aku berjuang sekali lagi untuk mendapatkan Fani.." goda Evan.
Hanniel melirik Evan tajam. "Bukan itu!" serunya.
"Aku hanya takut Fani tidak menerima ku. Apalagi dia sudah berjanji pada Vivian akan melepasku. Aku juga sudah terlalu banyak melukainya. Aku takut jika aku akan menjadi orang yang tidak tahu diri.." lanjut Hanniel.
"Aku pikir kamu akan lebih melukainya jika kamu tidak berjuang sama sekali. Dan lagi, Fani, dia tidak pernah membencimu.. Sama sekali tidak pernah membencimu.." sahut Evan.
"Ucapanmu barusan.. Apa itu tanda kamu sudah benar-benar menyerah?" tanya Hanniel.
"Sepertinya begitu.. Sepertinya aku hanya ditakdirkan sebagai teman baiknya.. Jadi, kedepannya jika kamu menyakitinya lagi, aku akan menantang mu berkelahi. Aku akan terus melindunginya sebagai teman yang paling dekat dengannya.." jelas Evan.
"Terima kasih.. Terima kasih karena kamu selalu ada untuknya, selama aku tidak ada disisinya.. Terima kasih.." ucap Hanniel tulus.
"Ah iya, satu hal yang kamu perlu tahu juga. Mungkin bisa jadi penyemangat buat kamu. Fani selalu menceritakan tentang kisah kalian berdua di masa lalu. Tentang bagaimana kalian bisa saling mengenal. Tentang bagaimana kamu sering menemaninya mengobrol lewat sambungan telepon hampir di setiap malam.." ucap Evan seraya kedua mata lelaki itu menerawang jauh.
"Aku bisa menyingkat keseluruhan cerita yang pernah ku dengar darinya hanya dengan dua kata. Kebahagiaan dan kerinduan. Dia selalu menceritakan kisah kalian dengan penuh semangat dan raut wajah bahagia. Dan setiap nama kamu terucap dari bibirnya, seolah ada semburat rindu yang cukup dalam. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa Fani membenci mu. Sama sekali tidak.. Aku tahu dia keras kepala.. Kamu hanya perlu berusaha sedikit lebih keras untuk mendapatkannya.." lanjut Evan seolah memberi mantan saingannya itu semangat.
"Baiklah aku mengerti. Lalu.. Bagaimana dengan adikku?" tanya Hanniel seakan meminta penjelasan.
"Masalah adikmu, untuk kedepannya biar aku yang menggantikanmu menjaganya.." sahut Evan penuh keseriusan.
Hanniel merasa lega setelah mendengarnya. Dia tahu bahwa Evan adalah laki-laki yang baik dan ucapannya bisa dipegang.
"Kalau gitu aku balik ya.." seru Evan seraya berjalan ke arah mobil miliknya.
Baru saja Evan membuka pintu mobilnya, Kania sudah memanggilnya.
"Kak Evan!" seru Kania yang langsung menghampiri Evan dan berjalan begitu saja melewati Hanniel yang masih berdiri mematung disana.
Hanniel yang sadar diri hanya tersenyum kecil lalu berbalik masuk kedalam rumah.
"Kamu tadi panggil aku apa?" tanya Evan sembari mengerutkan kening.
"Aku hanya tidak terbiasa mendengarnya.." timpal Evan seraya melihat kedua mata Kania yang tampak sembab.
"Kamu ada apa mencariku?" tanya Evan.
"A-aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan ponselku yang tertinggal.." ucap Kania.
"Hmm.. Aku mengerti.. Kamu memang sedikit merepotkan.. Kalau sudah, sana masuk.. Aku mau pulang.." timpal Evan santai.
"Sudah mau pulang?" seru Kania tampak tak setuju.
Evan mengerutkan keningnya.
"Jelas pulang, aku tidak mungkin menginap disini.." timpal Evan lagi.
Kania masih berdiri mematung, sampai akhirnya Evan mengusirnya.
"Sudah sana masuk. Nanti besok kalau ada waktu aku akan menghubungimu.." ucap Evan seraya masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.
**
Di tempat lain, Fani tampak menyibukkan diri menata beberapa tanaman yang baru saja dibelinya di pasar pagi tadi.
Kedua telapak tangan gadis itu tampak hitam terbalut tanah. Raut wajahnya terlihat sudah membaik tak sesedih kemarin.
Menyibukkan diri adalah hal yang kini menjadi kewajiban untuk dilakukan olehnya. Jika tidak, senyuman palsu di wajahnya mungkin tidak bisa terurai.
"Kamu masih belum selesai juga?" tanya sang mama yang datang membawa minuman dingin untuk putrinya.
"Ehmm.. Masih ada sepuluh tanaman lagi yang belum di pindah rumahkan.." jawab Fani dengan semangat, seolah tangisan di hari kemarin tak pernah terjadi.
Di lubuk hatinya, gadis itu hanya tidak ingin membuat khawatir sang mama. Persoalan percintaannya, biarlah dia sendiri yang mengurusnya. Toh, dirinya sudah cukup dewasa untuk memilah mana yang baik dan buruk.
"Sebenarnya ada apa dengan semua tanaman ini? Apa terjadi sesuatu? Semalam, mama perhatikan kamu juga tidur sangat larut sekali. Ada apa? Kamu bisa cerita sama mama.." ucap mama Fani lembut.
"Aku baik-baik saja.. Mama jangan khawatir.." jawab Fani singkat.
"Mendengar jawaban kamu, mama semakin yakin pasti telah terjadi sesuatu bukan?" tanya sang mama lagi.
Kini wanita paruh baya itu duduk di kursi kecil tepat disamping Fani. Dengan lembut, tangan wanita itu memegang pergelangan tangan putrinya. Seketika itu juga pertahanan hati Fani runtuh.
Senyum yang sejak kemarin sore ia paksakan, kini telah lenyap berganti dengan air mata.
"Aku hanya kecewa.." seru Fani lirih.
"Kecewa kenapa?" tanya sang mama.
Fani terdiam sejenak seraya menatap tanaman yang berada di dalam pot, namun masih belum penuh terisi tanah.
"Aku kecewa dengan diriku sendiri." ucap Fani lagi disela isak tangisnya.
Sang mama merengkuh tubuh putrinya sembari duduk berdekatan. Wanita itu sadar, pelukannya mungkin tak bisa menyembuhkan luka di hati putrinya, tapi setidaknya bisa memberi tempat untuk bersandar.