
Evan menutup pintu kamar Fani pelan-pelan, tak ingin mengganggu gadis yang sudah jatuh tertidur pulas itu. Sementara di ruang keluarga, mama Fani masih menonton tv.
"Tante, saya pamit pulang dulu sudah jam setengah sepuluh malam!" seru Evan seraya hendak berjalan keluar dari sana.
Namun langkah kakinya terhenti saat mama Fani memanggilnya, "Nak Evan, tunggu!"
"Kenapa tante? Ada apa?" tanya Evan.
"Sebenarnya sudah lama sekali tante ingin bertanya tentang hal ini. Tante harap kamu jangan tersinggung ya."
Evan tersenyum ramah. "Tanya aja, tante. Saya mah orangnya santai kok!"
"Begini.. Tante ingin bertanya apa kamu memiliki perasaan terhadap anak tante?" tanya mama Fani.
"E-ehh itu.." Evan tergugup karena tak disangka mama Fani akan bertanya tentang hal itu.
"Jika memang kamu menyukai Fani, tante sangat mendukungmu!" seru mama Fani.
Mau tak mau Evan mengakui perasaannya. "Bagaimana tante bisa tahu?" tanya laki-laki itu pada akhirnya.
"Tante gak buta. Tante bisa melihat dengan jelas semua yang kamu lakukan untuk Fani. Bahkan setiap malam tante selalu berdoa agar kalian berdua berjodoh."
"Tante," seru Evan menghela nafas dalam-dalam. "Fani sudah sejak lama memiliki seseorang di dalam hatinya. Jadi peluang ku untuk bersamanya sangat kecil," lanjut Evan.
Raut wajah mama Fani berubah lesu. "Tante tahu, tapi tante memang gak bisa berkata apa-apa tentang masalahnya dan laki-laki itu. Makanya tante selalu khawatir setiap mendengar dia mengatakan tidak ingin menikah, padahal teman-temannya yang lain sudah menggendong anak."
"Sebenarnya, apa yang terjadi antara Fani dan laki-laki itu? Kalau boleh tahu mereka berpacaran berapa lama, tante?" tanya Evan penasaran karena Fani sama sekali tak pernah menceritakan secara mendetail tentang hal seperti itu padanya.
"Tante juga kurang tahu persis apa yang sebenarnya menjadi masalah di antara mereka. Mereka sama sekali gak berpacaran, hanya dekat saja. Tapi, hampir setiap malam mereka akan mengobrol sampai berjam-jam ditelepon. Pernah juga sewaktu kelas 3 SMA itu mereka sangat dekat sekali. Bahkan Hanniel pernah menjemput Fani di restaurant selesai acara ulang tahun teman kelasnya dan mengantar pulang dengan mobilnya," jawab mama Fani panjang lebar.
"Terus sewaktu tahun 2012 saat Fani masih duduk di kelas 3 SMA juga kalau tante gak salah ingat, pokoknya waktu itu kondisi ekonomi tante sedang hancur dan tak ada uang sama sekali. Fani meminjam uang pada Hanniel dan langsung diberi begitu saja. Bukan hanya itu, bahkan saat papanya Fani masuk rumah sakit di tahun 2014, Fani meminjam uang untuk kedua kalinya ke adiknya padahal kami masih belum membayar uang yang dipinjam sebelumnya. Nominal yang kami pinjam sedikit, tapi mereka mengirim uang dengan jumlah yang lumayan. Bahkan uang yang dikirim cukup untuk membiayai perawatan papa Fani selama dirawat di rumah sakit. Padahal saat itu kondisinya Fani dan Hanniel sudah tak saling berbicara selama dua tahun," lanjut mama Fani.
"Hanniel saat SMA sudah membawa mobil dan memiliki uang sendiri?" tanya Evan takjub.
"Sudah, toh laki-laki itu juga berasal dari keluarga kaya raya," sahut mama Fani.
"Lalu apa semua hutang-hutang itu sudah lunas, tante?" Evan semakin penasaran. Evan semakin mengerti alasan kenapa Fani sangat menyukai Hanniel, karena pada dasarnya tak ada alasan untuk membenci laki-laki yang sudah banyak membantunya.
"Sebulan yang lalu, Fani sudah kerumahnya memberikan undangan pernikahan kakaknya sekaligus membayar hutang yang pertama. Uangnya dititipkan ke adik perempuannya karena laki-laki itu sama sekali tak mau keluar menemui Fani padahal dia ada didalam rumah."
"Kalau begitu, hutang kedua biar Evan yang bayar!" seru Evan merasa sedikit kesal mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan mama Fani.
"Jangan, nak Evan! Sebenarnya kalau Fani niat membayar semuanya sekaligus juga sudah sanggup, hanya saja Fani ingin mencicilnya. Dia selalu mengatakan kalau hutang itu membuatnya bisa tetap merasa memiliki keterikatan. Semacam itu. Tante juga gak bisa bilang apa-apa."
Evan mengangguk mengerti. Pada dasarnya Fani memang masih enggan untuk melepas semua kenangannya bersama Hanniel.
"Nak Evan ini, suka sekali merendah!" timpal mama Fani. Wanita paruh baya itu tahu bahwa laki-laki muda dihadapannya berasal dari keluarga pengusaha dan memiliki beberapa gedung pencakar langit di Jakarta.
Evan tersenyum kecil. "Kalau gitu, saya pamit pulang tante. Ehmm kalau kondisi Fani memburuk, tante telepon saya saja. Jam berapa pun gak masalah. Saya akan langsung datang kesini."
"Terima kasih banyak, nak Evan!" seru mama Fani.
Cukup lama keduanya berbicara di teras rumah, tanpa menyadari ada seorang gadis yang tengah berdiri di sudut luar gerbang mendengarkan obrolan keduanya sedari awal tadi.
Kania langsung berjalan menjauh saat tahu Evan menuju mobil sedan yang sedari tadi terparkir tepat didepan rumah. Gadis itu baru berani berdiri didepan rumah Fani saat mobil Evan sudah berbelok di gang menuju jalan raya.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya namun saat melihat kata 'mama' tertera di layar ponsel, Kania membiarkannya begitu saja. Beberapa detik berlalu getaran di ponselnya berhenti.
Namun, tak berapa lama panggilan lain muncul. 'Kak Hanniel' tertera di layar ponselnya. Lagi, gadis itu tak menjawabnya.
Kania mematikan ponselnya agar tak ada lagi orang yang berusaha menghubunginya. Entah mengapa suasana hatinya sejak pagi hari terasa buruk. Apalagi saat sang mama memintanya memilihkan tanggal pertunangan untuk sang kakak.
Tanpa disadari, kedua kaki Kania membawa gadis itu ke depan pintu rumah Fani. Perlahan tangannya terangkat, seperti bertahun-tahun yang lalu saat dirinya kabur dan memilih mendatangi rumah itu.
Tiga kali gadis itu mengetuk pintu dan tak butuh waktu lama, mama Fani langsung membuka pintu rumahnya. Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat kedatangan tamu tak terduga dimalam hari.
"Kania?" seru mama Fani. Kania hanya tersenyum kecil.
"Sini-sini masuk." Mama Fani langsung meraih lengan gadis muda itu dan mempersilahkan Kania masuk kedalam rumah dengan sangat ramah.
Kania terdiam menatap tangan mama Fani yang memegang lengan kirinya. "Ada apa? Kenapa datang kemari malam-malam? Apa keluarga mu tahu kamu datang kesini?" tanya mama Fani beruntun namun dengan nada bicara yang lembut.
"Tante, apa aku boleh memelukmu?" tanya Kania.
Mama Fani langsung menyetujui permintaan kecil itu. Kania langsung memeluk erat mama Fani dan menangis. Butuh beberapa menit hingga tangisan gadis itu berhenti.
"Apa kamu sedang ada masalah dan kabur dari rumah seperti waktu itu?" tanya mama Fani menerka-nerka.
Kania tak menjawabnya. Gadis itu justru bertanya hal yang lain. "Kak Fani apa sudah tidur, tante?" tanyanya sembari melihat ke arah pintu kamar Fani.
"Iya, dia lagi sakit. Pilek dan demam," jawab mama Fani.
Lama Kania terdiam, gadis itu tak tahu harus berkata apa lagi.
"Kalau memang kamu ingin menginap disini, menginaplah. Tapi dengan satu syarat, kamu harus memberitahu keluargamu. Jangan sampai keluargamu nanti khawatir mencarimu seperti dulu," ucap mama Fani seolah bisa menerawang kedalam pikiran Kania.
Kania mengangguk senang.