I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Kenyataan yang mulai terungkap



Hari minggu pagi, Vivian sudah ada dirumah Hanniel, namun lelaki itu sedang tak berada dirumah. Rumah yang cukup megah itu terasa sepi, hanya ada Kania seorang diri yang terus berdiam diri di kamar. Sementara kedua orang tua Hanniel juga sedang pergi karena urusan mendadak.


Bi Ijah datang menghampirinya dengan ramah menawarinya buah-buahan. Vivian hanya mengambil sepotong buah semangka yang terlihat sangat merah.


"Bi, kamar Hanniel di kunci gak?" tanya Vivian.


"Sepertinya tidak, Non!" sahut bi Ijah.


"Kalau gitu aku ijin numpang rebahan sebentar ya, bi. " ucap Vivian sopan.


"Silahkan non silahkan.. Nona kan tunangannya tuan Hanniel.." seru bi Ijah.


Vivian pun berjalan ke arah pintu kamar Hanniel dan membukanya. Kamar itu terasa gelap karena jendela yang masih tertutup gorden padahal diluar matahari sudah cukup terik.


Gadis itu berjalan ke arah jendela dan membuka gorden kamar Hanniel. Suasana kamar berubah terang.


Sudut mata gadis itu menangkap sebuah laci meja bagian bawah yang berada di sudut kamar depan pintu masuk kamar Hanniel, terbuka sedikit. Entah hal apa yang tiba-tiba mendorong dirinya untuk menutup laci itu.


Vivian menengok sekilas kedalam laci, dan langsung ingin menutup pintu laci. Namun, dahinya tiba-tiba berkerut saat melihat sekilas barang-barang yang berada didalam sana.


Perlahan, tangannya masuk kedalam laci dan mengambil sebuah barang. Kotak musik berbentuk bola kristal. Terasa familiar baginya.


Vivian terlihat semakin penasaran. Gadis itu merogoh kembali kedalam laci dan mengambil sebuah amplop putih. Sebuah buku kenangan SMA bersampul hitam, sebuah undangan pernikahan dan sebuah ponsel jadul.


Debar jantungnya semakin cepat, tatkala membuka amplop yang kini berada di tangannya. Perlahan dan sangat cermat, Vivian membaca setiap untaian kata yang tertuang di sepucuk kertas notes kecil, beserta ada dua puluh dua lembar uang seratus ribu.


'Han, maaf sudah terlalu lama.. Ini uang yang ku pinjam saat kelas 3 SMA.. Ada tambahan uang dua ratus ribu untuk ganti pulsa yang sering kamu kasih ke aku.. Buat aku, apa yang aku pinjam harus aku kembalikan, sekalipun waktunya cukup lama.. Tidak ada maksud lebih dari ini.. Aku dan keluarga juga berterima kasih karena kamu sudah membantu.. Maaf kalau aku sering ngerepotin, maaf sudah sering mengganggu..


Sekali lagi, aku minta maaf dan terima kasih..


-Fani- '


Bukan main terkejutnya Vivian melihat kata terakhir di sepucuk kertas itu.


Dengan cepat Vivian mengambil buku bersampul hitam dan membukanya. Gadis itu terus memperhatikan setiap foto murid-murid yang berada disana.


"Fani.. Fani.." gumamnya pelan.


Telunjuknya kini tengah menunjuk sebuah foto gadis remaja yang tengah tersenyum.


Lalu, Vivian mengambil sebuah kotak musik dan membalikannya. Dilihatnya sebuah ucapan selamat ulang tahun tertera di bagian bawah.


'Selamat ulang tahun yang ke 17, Hanniel! Semoga panjang umur, sehat selalu dan semakin sukses! Fani'


"Ada apa dengan barang-barang ini?" gumam Vivian.


"Jangan-jangan.." Vivian tak melanjutkan kalimatnya. Dirinya begitu takut bahwa hal itu benar adanya.


"Bi, Vivian sudah datang belum?" tanya mama Hanniel yang terdengar samar di kamar Hanniel.


Vivian yang mendengar itu langsung memasukkan kembali barang-barang 'pribadi' milik sang tunangan kedalam laci dan menguncinya.


"Tante, om.." sapa Vivian sembari tersenyum.


"Hei, kamu sudah disini.. Apa sudah lama?" tanya mama Hanniel dengan senyum lebar pada sang calon menantu.


"Belum begitu lama kok.." jawab Vivian singkat. Hatinya entah mengapa sedikit tak enak.


"Maaf ya, buat kamu nunggu.. Tante dan om habis pergi ambil surat tanah yag ketinggalan di rumah kakaknya om.." Jelas mama Hanniel.


"Kalau Hanniel kemana ya, tante?" tanya Vivian yang tak tahu keberadaan Hanniel saat itu.


"Dia sepertinya sudah keluar pagi-pagi sekali untuk berolahraga.." terang mama Hanniel.


Yang dibicarakan baru saja tiba, dan terlihat cukup kaget melihat Vivian berada dirumahnya.


"Kamu sedang apa disini?" tanya Hanniel datar pada sang tunangan.


"Tante undang aku untuk sarapan bersama disini.." terang Vivian.


"Oh.." jawab Hanniel singkat seraya pergi kedapur mengambil minuman.


Jauh di dalam pikirannya, sudah terbersit apa yang akan terjadi sebentar lagi.


"Bi, Kania mana?" tanya Hanniel pada bi Ijah.


"Masih di kamar, tuan. Sepertinya masih belum bangun.." jawab bi Ijah.


Hanniel melirik jam di ponselnya. Sudah hampir jam delapan.


"Tok.. Tokk.. Tokk.." Hanniel mengetuk pintu kamar Kania dengan baju yang masih penuh keringat tanpa perduli atau menghampiri Vivian yang sedari tadi menatapnya sembari duduk di sofa.


"Masuk.." seru Kania dari dalam kamar.


Hanniel membuka pintu kamar adik kesayangannya dan terlihatlah seisi kamar yang masih gelap. Tangan kanan Hanniel meraba saklar listrik di samping pintu dan menekannya.


"Kamu baru bangun?" tanya Hanniel.


"Aku sudah bangun dari tadi.." jawab Kania seraya menggosok kedua matanya perlahan.


"Terus kenapa masih disini? Kayak ayam bertelur saja.." canda Hanniel.


Kania tak menjawabnya dan justru menyuruh sang kakak menutup pintu kamarnya.


"Sini kak!" pinta Kania.


"Kenapa?" tanya Hanniel seraya duduk disamping tempat tidur sang adik.


"Kak, kenapa perasaan ku seperti kurang enak ya? Kayak ada firasat buruk gitu.." ucap Kania dan Hanniel hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil.


Tak disangka, sang adik pun ternyata merasakan hal yang sama.


"Kamu ada rencana pergi kemana pagi ini? Biar kakak antar.." tanya Hanniel.


"Sebenarnya sih gak ada, tapi kalau memang mau pergi, lebih baik ke rumah kak Fani.. Gimana? Aku ingin numpang sarapan disana!" celetuk Kania.


Hanniel tersenyum lebar seraya mengelus-elus kepala sang adik. "Kalau gitu, cepat mandi terus kita langsung pergi! Aku juga mau mandi! Kamu siap-siapnya jangan lama!" seru Hannie seraya beranjak pergi dari sana.


"Han, kok kamu malah nganggurin Vivian?" tegur sang mama saat melihat Hanniel baru keluar dari kamar Kania.


"Aku masih bau keringat.. Mau mandi dulu.." jawab Hanniel yang sama sekali tak melihat ke arah Vivian.


Tak butuh waktu lama sampai lelaki itu kembali dengan tampilan yang lebih segar seraya memegang kunci mobil.


"Kan, masih lama gak?" tanya Hanniel pada sang adik dari ruang keluarga.


"Kamu mau pergi? Kemana?" tanya Vivian seraya menghampiri Hanniel.


"Hmm.." jawab Hanniel singkat.


Entah mengapa Vivian merasa sikap Hanniel berubah datar padanya semenjak mereka berdua pulang dari kantor Evan.


"Ayo, kak!" ajak Kania yang baru saja keluar kamar dengan rambut yang masih basah.


"Tunggu! Kalian mau pergi kemana?" tanya mama Hanniel.


"Aku dan Kania ada urusan pekerjaaan.." jawab Hanniel singkat, tak ingin berlama-lama dirumahnya sendiri.


"Ini hari minggu memang ada urusan pekerjaan apa yang sampai tidak bisa ditunda?" tanya sang mama yang mulai tak percaya.


"Harusnya mama dan papa lebih jelas dengan pekerjaan yang aku dan Kania kerjakan.." jawab Hanniel dingin.


"Kalau gitu, duduk dulu sebentar, ada yang ingin mama bicarakan selagi ada Vivian disini.." seru sang mama.