I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Permulaan



Hanniel menyandarkan tubuhnya pada bagian atas tempat tidur, sementara kedua matanya masih belum ingin terpejam. Seluruh pikirannya mengambang pada obrolannya dengan Evan saat berada dirumah Fani.


"Selamat untuk pertunanganmu dan Vivian!" ucap Evan memberi selamat.


Hanniel menatap Evan dengan tatapan sinis.


"Kenapa? Aku mengatakannya dengan penuh ketulusan," ucap Evan lagi.


"Kalau begitu, maka aku akan menjawab 'terima kasih'. Apa kamu senang?" tanya Hanniel ketus.


"Aku berharap agar kamu dan Vivian cepat menikah!"


"Kita berdua tidak saling mengenal sebelumnya dan baru bertemu tiga kali. Tapi kenapa kamu 'mendoakan' ku dengan penuh 'ketulusan?' Sepertinya dibalik itu kamu memiliki hal yang ingin kamu capai, hah?" tanya Hanniel tepat sasaran.


"Ternyata kamu memang pintar! Kalau begitu aku akan berterus terang. Aku menyukai Fani sejak lama, bisa dibilang setelah kamu meninggalkannya begitu saja! Kisahmu dan Fani telah berakhir saat itu dimasa lalu. Kini kamu telah memiliki Vivian. Jadi, berhentilah membuat Fani terluka atau membuatnya berharap terlalu banyak padamu!" ucap Evan dengan wajah serius.


"Kenapa? Apa sekarang kamu menyalahkanku? Bukannya kamu yang membuat Fani menemuiku?"


"Itu karena aku ingin dia segera menyelesaikan urusannya denganmu! Dan berhentilah membuatnya bingung. Ingat jika dihidupmu sekarang ada Vivian! Cukup Fani saja yang pernah terluka, jangan buat Vivian merasakan hal yang sama!" tegur Evan.


Hanniel menatap sepasang mata Evan dengan tatapan sedikit kesal.


"Aku dan Vivian masih belum terikat tali pernikahan, itu tandanya aku masih memiliki kebebasanku!" ucap Hanniel.


"Kamu..." Evan tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Kenapa? Kamu kesal? Setelah pertemuan ku dan Fani kemarin ini, mendadak aku berubah pikiran. Bagaimana kalau kita bersaing secara adil?" usul Hanniel.


"Apa kamu tahu arti dari kalimat yang barusan kamu ucapkan? Itu tandanya kamu menduakan Vivian!" seru Evan geram.


"Bagaimana bisa dikatakan 'menduakan' jika sejak awal aku tak memiliki perasaan apa pun pada Vivian?" sahut Hanniel tegas tanpa keraguan.


Ucapannya itu membuat Evan mengerutkan kening tak percaya.


"Pertemuan ku dan Vivian sejak awal sudah di atur oleh mama ku. Aku bahkan tak pernah sekalipun mengatakan aku mencintainya atau melamarnya!" terang Hanniel.


"Astaga! Bagaimana kamu bisa mempermainkan hati perempuan seenaknya begitu? Jika kamu tidak menyukainya, lalu bagaimana kalian bisa pacaran sampai sekarang malah sudah bertunangan??" seru Evan sedikit berteriak.


"Kecilkan sedikit suaramu!" tegur Hanniel.


"Vivian yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Aku hanya diam dan tak pernah memberikan jawaban apa pun sampai sekarang. Namun, entah bagaimana semua berjalan sampai ke titik ini!" lanjut Hanniel.


"Hah??!!!!"


"Awalnya aku selalu berpikir bahwa menolak atau menjalaninya tak ada perbedaan. Toh pada akhirnya mama ku akan memaksa untuk berjalan disamping Vivian!" sahut Hanniel seraya termenung.


"Hei!" Evan menyenggol pelan tangan kiri Hanniel. "Kita berdua ini laki-laki yang sudah dewasa. Apa kamu tidak bisa mengambil keputusanmu sendiri? Apalagi ini menyangkut masa depanmu!" tegur Evan yang merasa sedikit kasihan.


"Aku sudah bilang, aku berubah pikiran! Bagaimana? Apa kamu mau bersaing dengan ku?" tanya Hanniel.


Evan menyunggingkan senyum tipis. Entah bagaimana obrolan mereka saat itu bisa sedikit memberi Evan rasa iba. Laki-laki itu bisa menilai bahwa Hanniel tidak sepenuhnya bersalah, dia hanya tidak berdaya.


"Baiklah.. Harus bersaing dengan adil!" ucap Evan penuh semangat.


**


"Fani!" Kepalanya langsung mendongak mencari sebuah suara yang memanggil namanya.


Dilihatnya Vivian tengah melambaikan tangan padanya seraya datang menghampiri. Raut wajah Vivian sama seperti biasa. Penuh dengan senyuman ramah tamah.


"Maaf membuat mu menunggu. Jalanan macet!" ucapnya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.


"Ehmm.. Gak apa-apa.. Aku juga baru datang kok!" Fani berbohong padahal dia sudah menunggu hampir setengah jam lamanya.


Fani menatap Vivian yang kini duduk dihadapannya. Wajah itu adalah wajah yang sama yang ditemuinya beberapa hari lalu di acara pertunangan Hanniel. Seorang gadis yang begitu terlihat serasi untuk berada disamping Hanniel.


"Kenapa menatap ku? Apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Vivian agak panik.


Fani menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.


"Bukan! Aku hanya teringat dengan acara pertunanganmu kemarin. Kamu terlihat begitu cantik! Dan..." Fani tak melanjutkan kalimatnya. Raut wajahnya berubah sedikit sendu.


"Dan apa?" Vivian penasaran.


"Kalian tampak serasi berdiri berdampingan!" lanjut Fani.


"Oh iya, saat acara itu aku melihatmu menangis. Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Vivian mencoba memuaskan rasa penasarannya.


Lagi, Fani menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya merasa sedikit iri padamu! Apa boleh?" seru Fani dengan hati yang terasa nyeri.


Dirinya tak tahu apakah kalimat yang baru saja di ucapkannya itu sebuah pujian ataukah ungkapan perasaan yang sesungguhnya. Nyeri namun tetap terpaksa menyunggingkan senyuman tipis.


Vivian tertawa kecil. "Jangan iri padaku! Aku yakin suatu saat kamu juga akan memiliki seseorang yang sama seperti Hanniel!" ucapnya tulus.


'Bagaimana jika yang kuinginkan adalah Hanniel dan bukan seseorang 'seperti' Hanniel?' batin Fani dalam kebisuannya.


"Oh ya, cukup membahas masalah tentang ku. Sekarang kita bahas kisahmu! Aku penasaran sekali kelanjutannya seperti apa! Sampai-sampai semalam aku tidak bisa tidur karena sibuk menerka alur cerita yang akan kamu ceritakan padaku!" ucap Vivian seraya tertawa kecil.


"Hmm sebenarnya aku lupa, aku terakhir bercerita sampai dimana ya?" tanya Fani.


"Sampai dia membuat mu menunggu di depan rumah mu. Kalau gak salah kamu sempat bilang kalau kamu berdiri dari jam empat sore sampai jam delapan malam didepan rumah. Menunggu dia datang, tapi dia ingkar janji!" terang Vivian.


"Ah iya.. Aku ingat sekarang.." seru Fani.


"Lalu setelah itu??" Vivian tampak antusias mendengar kelanjutan kisah masa lalu Fani.


"Dia akhirnya datang beberapa hari setelah janji yang dia ingkari. Dia bahkan menjemputku di acara ulang tahun teman sekelasku!" cerita Fani seraya mengenang masa-masa itu.


"Dia menjemputku dengan mobilnya dan dia sempat mengerjakan sebuah tugas sekolah dikamarku. Lalu, dia mengatakan kalau dia membutuhkan printer dan aku tak memiliki itu. Jadi kami berdua pergi berjalan kaki. Kami mencari sebuah warnet yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumahku." Fani terdiam sejenak.


Kenangan masa lalu terasa begitu menyesakkan dadanya.


"Sepulang dari warnet, kami berdua jalan kembali menyusuri gang yang tadi kami lewati. Saat itu dia tiba-tiba mengaduh karena sebuah batu kerikil kecil masuk ke dalam sendalnya. Dan dia memegang tanganku untuk mencari keseimbangan karena dia menjinjitkan satu kakinya. Itulah kali pertama kami berpegangan tangan!" lanjut Fani.


"Saat itu aku mungkin terlalu naif dengan berpikir bahwa hal manis semacam itu akan bertahan dan tak akan mungkin menghilang sampai aku melihat seorang gadis cantik berjalan memegang tangannya beberapa hari yang lalu. Saat itu aku baru tersadar bahwa sepertinya memang hanya aku yang menyukainya! Meski begitu menyesakkan, tapi aku belum rela untuk melepasnya. Aku masih ingin menggenggamnya sekalipun itu membuatku sakit!" ucap Fani seraya menatap Vivian dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kamu... Bertemu dengannya??" tanya Vivian sedikit terkejut dan Fani menganggukkan kepalanya.