I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Sikap aneh Fani



Fani membuka matanya dengan sangat berat, kepalanya juga terasa sakit. Mungkinkah semua itu efek tangisannya sepanjang malam?


Dengan berat, gadis itu turun dari tempat tidur dan menapakkan kaki ke lantai. Tidak boleh terlalu lama jatuh dalam keterpurukan. Toh, ini bukan yang pertama kali dirinya merasa kecewa.


Fani membuka pintu kamar dan langsung mencium wangi sedap masakan yang sedang dimasak kak Lein. Mata Fani menyasar ke seluruh ruangan mencari sosok Evan.


"Dia baru datang dan sekarang sedang mandi!" seru Lein seolah bisa membaca gerak-gerik Fani yang mencari adiknya.


"Dia baru datang darimana? Apa semalam dia tidak tidur dirumah, kak?" tanya Fani masih dengan wajah yang lusuh.


"Ehmm.. Kemarin dia menemani Kania yang kabur dari keluarganya.." terang Lein.


Tak lama, muncullah Evan dengan rambut yang basah sehabis keramas. Wajah laki-laki itu tampak lebih segar daripada sebelumnya.


Evan menghanpiri Fani yang tengah berada di meja makan. Dia menatap kedua mata Fani yang tampak sedikit membengkak.


"Sekarang, apa kamu merasa lebih baik?" tanya Evan lembut.


"Tentu! Jangan khawatir, aku baik-baik saja!" jawab Fani dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kemarin, apa yang terjadi dengan Kania?" tanya Fani.


"Kenapa kamu sampai tidak pulang?" tanya Lein.


"Zzzz.. Niatnya aku hanya ingin mengantar dia pulang kerumah, tapi dia gak mau, jadi aku mengantar ke hotel, gak tahunya dia gak mau ditinggal sendirian disana! Benar-benar menyusahkanku!" gerutu Evan dengan wajah kesal.


Lein menghampiri sang adik dengan wajah penasaran. "Jadi.. Semalam kalian tidur bersama?" tanya Lein membuat Fani juga ikut menyoroti Evan yang mulai merasa tersudut.


"Jangan berpikir macam-macam. Dia tidur di tempat tidur, aku tidur di sofa!" terang Evan sedikit kikuk.


"Oh.. Kakak pikir.. Hmmm..." Lein memasang wajah nakalnya guna menggoda sang adik yang tampak kesal.


"Kamu hari ini lebih baik libur saja!" seru Evan pada Fani.


"Loh kenapa? Hari ini justru aku bersemangat sekali!"


Evan menatap Fani dengan iba. Gadis itu pasti sangat patah hati sekali, namun tetap bersikap seolah tidak terjadi apa pun kemarin.


"Nanti tunggu aku sebentar, Van. Kita berangkat bareng!" pinta Fani seraya melahap seluruh sarapan paginya.


Tak butuh waktu lama bagi seorang gadis yang menyukai gaya alakadarnya untuk berangkat bekerja, sekalipun berdampingan dengan seorang bos. Fani lebih memilih menampilkan dirinya apa adanya.


Rambut sebahu yang di ikat rapih ke belakang, wajah yang hanya tertutup oleh bedak tipis, blouse berwarna cokelat muda serta celana panjang kain berwarna hitam dan tak lupa sebuah flatshoes kesukaannya.


"Haduh, mataku.." seru Fani sesaat setelah Evan melajukan mobilnya dijalan raya. Gadis itu terus menatap kedua matanya di cermin kecil dalam wadah bedak.


"Fan, masalah hmmm.. Itu.. Aku minta maaf!" seru Evan tak berani menyebut nama Hanniel. Dirinya khawatir Fani akan kembali menangis.


Fani tersenyum kecil mendengar kalimat penuh penyesalan itu. "Seandainya kamu memberitahuku tentang hal itu, aku juga akan tetap bersikeras untuk datang. Setidaknya, di acara itu aku bisa bertemu dan melihatnya. Lagipula, sudah sejak lama aku mempersiapkan hatiku untuk saat-saat seperti ini. Jadi kamu jangan khawatir!" ucap Fani.


"Dan semalam, aku mencari Kania karena Hanniel menghubungi ponselmu."


Fani langsung menolehkan kepalanya ke arah Evan dengan terkejut. Tak menyangka jika Hanniel yang sudah memblokir nomornya, semalam justru mencoba menghubunginya.


"Apa yang dia katakan?" tanya Fani.


"Dia tidak membicarakan apa -apa. Dia hanya menanyakan keberadaan Kania, karena Kania sama sekali tidak mau menerima telepon darinya!" terang Evan.


Gadis itu kecewa karena Hanniel menghubunginya untuk yang pertama kali setelah sembilan tahun lamanya mereka tak berbicara, dan laki-laki itu tak menanyakan kabarnya, tapi hanya mencari keberadaan sang adik.


"Fan, setelah kejadian kemarin, apa yang akan terjadi dengan akhir 'ceritamu' itu? Apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Evan. Dia berharap bila Fani akan segera 'melepaskan' Hanniel.


"Jangan khawatir, semalam aku sudah memikirkan akhir yang baik untuk cerita itu!" jawab Fani dengan lantang tanpa keraguan.


"Lalu... Bagaimana akhirnya?" tanya Evan lagi. Laki-laki itu penasaran ingin segera mendengarnya.


"Rahasia, nanti juga kamu tahu!" timpal Fani yang masih memilih untuk merahasiakan akhir kisah itu seorang diri, setidaknya untuk saat ini.


**


Hansen dan Riri tampak bertukar pandang terus menerus melihat sikap Fani yang terasa 'aneh' hari itu. Gadis yang sedang ditatap keduanya bahkan terus menerus sibuk dengan pekerjaannya sepanjang hari.


Dia bahkan sampai tak memperdulikan perutnya yang keroncongan karena siang tadi melewatkan waktu makan siangnya. Kini, langit sudah gelap pun Fani masih duduk ditempatnya menghadapi banyaknya naskah yang harus di baca olehnya.


"Kalian berdua belum pulang?" tanya Evan yang tiba-tiba muncul dibelakang Hansen dan Riri.


"Bos.." sapa Hansen singkat. Kini, ketiga orang itu berdiri menatap Fani dari dekat pintu masuk ruangan.


"Dia benar-benar menyedihkan. Aku merasa hari ini dia sengaja menyibukkan diri sendiri!" ucap Riri pelan.


"Apa maksudmu?" tanya Evan.


"Fani mengambil seluruh pekerjaan yang tertunda milik orang-orang diruangan ini!" terang Hansen.


"Maksud kalian, pekerjaan kalian juga dia yang mengerjakan?" Evan terkejut. Jika benar begitu, maka Fani sedang mengerjakan pekerjaan milik empat orang lainnya.


Hansen dan Riri mengangguk serempak.


"Kenapa kalian tidak menolaknya? Kalian mau gaji dan bonus kalian dipotong?" Evan semakin kesal.


"Kami berempat sudah menolak, bos! Tapi sewaktu jam makan siang, Fani mengambil semua naskah yang yang masih menganggur diatas meja kami semua. Kami minta kembali naskah kami, tapi dia bilang 'biar aku saja yang mengerjakannya!' Kami merasa serba salah!" seru Hansen.


"Bos, sikap dia yang seperti ini apa ada hubungannya dengan acara kemarin? Apa dia sudah bertemu Hanniel?" tanya Riri pelan.


Evan menjawab dengan sebuah anggukkan, tanpa bisa menceritakan setiap detail kejadian karena ponsel miliknya tiba-tiba bergetar.


Sebuah panggilan masuk, tertulis nama 'Hanniel'.


"Halo! Kita akan bertemu dimana?" tanya Evan seraya pergi meninggalkan Hansen dan Riri yang masih mematung menatap Fani.


"Baiklah aku akan segera kesana!" ucap Evan lagi.


Langkah kaki Evan tiba-tiba terhenti. Laki-laki itu berbalik dan berjalan melewati Hansen dan Riri menuju meja kerja Fani.


"Fan, ayo ikut aku!" ajak Evan sembari memegang pergelangan tangan Fani.


"Kemana? Pekerjaanku masih belum selesai." Fani sedikit terkejut dengan kemunculan Evan yang tiba-tiba.


"Nanti juga kamu tahu!" sahut Evan


Fani segera membereskan barang-barang miliknya dan mengambil beberapa naskah untuk dikerjakan malam nanti. Tanpa bertanya apa-apa lagi, Fani mengikuti langkah Evan dan hanya tersenyum pada Riri dan Hansen sembari melewati keduanya.