
"Aku gak setuju.. Aku dan Vivian sudah sepakat tak akan cepat-cepat menikah!" seru Hanniel seraya bangkit berdiri. Raut wajahnya merah padam.
Vivian menatap lelaki itu dengan tatapan bingung dan sungguh tak menyangka bahwa lelaki yang sudah dekat dengannya dua tahun belakangan ini, begitu bersikeras menentang gagasan pernikahan mereka.
Sebelumnya, Vivian tak pernah melihat Hanniel dengan emosi yang begitu meluap. Laki-laki itu biasanya pandai mengelola emosi dengan baik.
Hal yang sungguh membuatnya heran adalah alasan apa yang membuat Hanniel begitu menentang pernikahan mereka. Saat itu Vivian baru menyadari, bahwa ada banyak hal yang belum dia pahami tentang sosok lelaki bernama Hanniel.
Dirinya hanya pernah menggenggam tangannya tanpa tahu tentang isi hatinya. Dirinya hanya pernah memeluk laki-laki itu sebentar tanpa tahu apa yang sebenarnya laki-laki itu inginkan. Vivian baru menyadari bahwa dirinya sebenarnya tak tahu apa-apa tentang Hanniel.
"Pokoknya kamu harus segera menikah dengan Vivian!" paksa sang mama tak mau kalah.
Sementara sang papa yang duduk disamping istrinya hanya bisa melempar pandang pada Kania. Pria paruh baya itu memberi isyarat pada putrinya agar membawa pergi Hanniel dari sana sebelum peperangan terjadi.
Papa Hanniel berbeda dengan sang istri. Pria paruh baya itu tahu betul siapa gadis yang dicintai putranya.
"Apa mama lupa dengan apa yang pernah ku katakan? Kalau begitu aku akan mengingatkan lagi.. Seandainya mama tetap memaksa, aku akan menemui orang tua Vivian dan membatalkan pertunangan sekaligus meminta maaf!" seru Hanniel dengan raut wajah dingin.
Kania yang terus di beri tatapan 'minta bantuan' oleh sang papa, mulai bergerak.
Tangan Kania terangkat memegang pergelangan tangan kanan Hanniel, seolah mengingatkan bahwa disana tidak hanya ada mereka berempat, namun masih ada Vivian yang sedari awal terus terdiam.
Tapi, tampaknya Hanniel tak memperdulikan keberadaan sang tunangan. Bagi laki-laki itu, jika tidak memperjelas hari ini maka jalan kedepannya akan semakin sulit.
"Jangan!" seru Vivian yang mulai bersuara.
"Tolong jangan batalkan pertunangannya. Aku gak masalah untuk penundaan pernikahan kok, tante.." lanjut Vivian yang masih tetap ingin mempertahankan Hanniel di sisinya.
Pada saat itu, Vivian seolah tersadar, bahwa selama ini tempat di dalam hati Hanniel bukanlah miliknya. Jika dirinya ada di hati lelaki itu, maka ucapan tentang pembatalan pertunangan mereka tak akan diucapkan semudah itu.
Mendengar ucapan 'calon kakak ipar', Kania menatap sang kakak.
"Kak, jadi pergi gak?" tanya Kania pelan.
Gadis muda itu dengan sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Kasih mama satu saja alasan kenapa kamu terus menentang pernikahanmu dengan Vivian? Apa yang salah dengan Vivian?" tanya sang mama.
Hanniel tersenyum kecut pada sang mama. "Kenapa masih bertanya jika mama sudah tahu jawabannya?"
Jantung Vivian berdegup cukup kencang. 'Tidak.. Tidak mungkin..' batin Vivian seolah mengetahui apa yang sedang dibicarakan antara Hanniel dan mamanya.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengannya lagi?" tanya sang mama dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Mama tidak perlu tahu segalanya. Yang perlu mama tahu hanya satu hal. Kali ini aku tidak akan melepasnya untuk kedua kalinya.." seru Hanniel tegas, membuat Kania sangat takjub dengan keberanian sang kakak.
Gadis muda itu menyadari bahwa di hari itu sang kakak terlihat lebih tegas dengan prinsip dan pilihannya.
"Dan ini hidup ku! Akulah orang yang berhak menentukan siapa yang akan menjadi pendampingku! Jika aku terus menuruti ucapan mama, mungkin aku akan memiliki rasa penyesalan seumur hidup. Aku tidak ingin hidup seperti itu! Aku ingin memperjuangkan gadis yang aku suka!" jelas Hanniel.
Bagi Vivian, kini semua sudah jelas. Alasan mengapa Hanniel selalu 'menjaga jarak' jika sedang bersamanya, bahkan sejak awal mereka saling mengenal.
Jika di ingat ke belakang, Hanniel sama sekali tak pernah mengucapkan kata-kata 'aku menyukaimu' atau pun 'maukah kamu menjadi pacarku?' kepadanya.
Lagi, Vivian mencoba menenangkan hatinya.
"Dia itu bukan gadis baik-baik! Dia mendekatimu hanya karena kamu memiliki semua hal yang dia gak punya!" lanjut sang mama.
"Harta maksud mama?" timpal Hanniel seraya tersenyum dingin.
"Benar! Buktinya gadis itu selalu minta uang ke kamu!" sahut sang mama membuat Vivian cukup terkejut.
"Maksud mama uang dua juta yang sewaktu SMA itu? Astaga.. Sudah berulang kali aku bilang dia hanya pinjam! Dia bahkan sudah mengembalikan semuanya!" terang Hanniel.
"Pokoknya mama gak suka dengan dia. Titik!" timpal sang mama.
"Aku juga gak bisa maksa mama untuk suka sama dia. Jadi terserah mama saja! Yang pasti aku tahu dia dengan baik. Dia bukan gadis seperti yang mama pikirkan!" ucap Hanniel kesal.
"Jadi kamu mau menentang mama? Sudah gak mau dengar nasihat mama lagi?" tanya sang mama.
"Seandainya kali ini aku tidak menentang, maka seumur hidup aku akan merasa dipenjara! Kalau mama tetap berpikir bahwa dia tidak berada di level yang sama dengan kita, maka aku akan menyerahkan seluruh perusahaan kembali ke tangan mama dan papa. Biar aku yang menyamakan 'level' dengannya!" terang Hanniel tegas.
Setiap kalimat yang terlontar dari bibir laki-laki itu seolah telah dipikirkan matang-matang. Dan setiap kalimat yang di ucapkan Hanniel tanpa sadar telah melukai seluruh perasaan Vivian.
Kania dengan perasaan sedikit bersalah menatap Vivian yang terus diam mematung dengan sesekali menyeka air mata yang mulai menyeruak.
Menyadari hal itu, Hanniel menatap Vivian sebentar. "Maaf.." ucap laki-laki itu seraya berlalu pergi dan di ikuti Kania yang mengekor di belakang.
**
"Kania?!" seru Fani yang tampak cukup terkejut melihat Kania berdiri di depan pintu rumahnya.
Nampaknya belakangan ini gadis muda yang cantik itu cukup sering datang berkunjung ke rumahnya.
"Sini masuk ayo.." ajak Fani mempersilahkan Kania masuk kerumahnya.
Namun Kania tiba-tiba memegang pergelangan tangan kanan Fani.
"Kak.." panggilnya pelan.
"Kenapa? Ada apa? Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Fani yang mulai khawatir melihat raut wajah Kania dengan ekspresi yang sulit diterka.
"Kak Fan, kakak ku sedang ada di mobil.. Tolong temui dia sebentar.." pinta Kania.
"Baiklah.. Kalau gitu kamu masuk sana, mama ku sedang membuat kue.." seru Fani.
Sementara Kania masuk kedalam rumah, Fani berjalan menghampiri mobil SUV berwarna hitam dan membuka pintu mobil bagian depan.
"Masuklah!" seru Hanniel.
Dengan patuh, Fani duduk disamping Hanniel. Wajah laki-laki itu terlihat begitu tenang.
"Kenapa kamu gak turun?" tanya Fani yang sejak beberapa hari lalu sudah mulai bisa mengendalikan debar jantungnya.
"Ada yang ingin ku bicarakan.." ucap Hanniel sembari menatap Fani.
"Apa itu? Kenapa terlihat seperti serius sekali?" tanya Fani seraya tertawa kecil guna mengusir rasa canggung.
"Aku akan membatalkan pernikahan ku dengan Vivian.." ucap Hanniel membuat Fani tersentak.