
Hanniel menekan bel pintu apartemen Vivian beberapa kali, sampai akhirnya gadis itu membuka pintu.
"Kenapa memintaku datang kesini?" tanya Hanniel datar.
Dengan wajah bahagia, Vivian langsung meraih lengan kanan Hanniel, memeluknya dengan manja sembari berjalan ke arah sofa.
Disana, Hanniel bisa melihat beberapa katalog sedang berjejer berantakan di atas meja kaca. Tak perlu bertanya, dirinya bisa langsung tahu alasan kenapa malam itu Vivian meminta dirinya datang.
"Sayang, coba lihat! Mama mu tadi sempat datang kesini dan memberikan ini. Mama mu bilang, aku harus mulai melihat-lihat untuk acara pernikahan kita nanti!" seru Vivian senang.
Seluruh wajah gadis itu menyiratkan beribu kebahagiaan, berbanding terbalik dengan Hanniel yang hanya menatap kosong beberapa katalog pernikahan yang ditunjukkan sang tunangan.
"Lalu, mama ku bilang apa saja?" tanya Hanniel datar. Tak ada ekspresi bahagia, hanya ada rasa kecewa dan sedih yang dengan susah payah disembunyikannya.
"Mama mu bilang akan segera bertemu dengan orang tuaku untuk membahas masalah pernikahan kita. Terus mama mu juga bilang ingin cepat-cepat menimang cucu!" ucap Vivian sembari menatap Hanniel yang terus terdiam.
"Oh!" Hanya satu kata yang mampu Hanniel lontarkan. Laki-laki itu bahkan tak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya.
Pernikahan? Bagaimana mungkin itu terjadi sangat cepat? Mereka baru saja bertunangan kemarin.
Vivian menatap wajah Hanniel dari samping, laki-laki itu tampak tertunduk merenung menatap seluruh katalog di atas meja.
"Apa terjadi sesuatu? Kamu terlihat murung sekarang," tanya Vivian menyadari ada yang salah dengan sikap Hanniel.
Hanniel memang selalu bersikap dingin setiap saat, tapi kali ini berbeda. Vivian menyadari hal itu.
"Atau kamu memiliki pendapat lain tentang pernikahan kita?" tanya Vivian hati-hati.
Hanniel menarik nafas dalam-dalam dan menatap Vivian yang duduk disebelahnya. "Apa kita tidak bisa menunda pernikahan? Kita baru saja menggelar acara pertunangan kemarin. Kenapa harus buru-buru?" tanya Hanniel membuat Vivian sedikit terkejut.
"Itu... Apa kamu merasa keberatan jika pernikahan kita diadakan dalam waktu dekat?" tanya Vivian dengan nada kecewa.
"Aku hanya merasa dua tahun belum cukup untuk kita saling mengenal lebih jauh. Semua terkesan terburu-buru," ucap Hanniel.
"Jadi, sampai kapan kamu ingin menunda pernikahan kita?" tanya Vivian lagi. Raut bahagia mendadak sirna dari wajahnya.
"Sampai kita cukup saling mengenal dan memahami satu sama lain!" jawab Hanniel dingin.
"Bukankah aku sudah cukup mengenalmu? Aku tahu hal-hal yang kamu suka dan tidak kamu suka. Aku juga bisa menerima sikap dingin dan acuhmu. Aku juga tahu kalau menghubungi mu itu sangat sulit. Kamu juga pasti sudah hafal dengan sifat dan kebiasaanku. Kedua orang tua kita juga sudah sama-sama memberi restu. Lalu, kurang dimana lagi?" tanya Vivian tak paham mengapa malam itu Hanniel terasa asing baginya.
"Belum. Kamu belum mengenalku lebih jauh. Kamu belum tahu segala hal tentang ku. Makanya aku bilang, kita perlu saling mengenal lebih lagi. Pernikahan, kita bisa menundanya!" terang Hanniel yang dengan blak-blakan menolak pernikahannya sendiri.
"Baiklah, kalau kamu ingin seperti itu, nanti aku akan mengatakannya pada mama mu!" seru Vivian.
**
Fani memasuki kamarnya dan langsung menghempas tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menatap sebuah boneka beruang yang sedang duduk di samping tempat tidur menatap dirinya.
"Haw-haw.." panggil Fani pada boneka itu.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya sang mama sembari mengetuk pintu kamar putrinya.
"Masuk aja, ma! Gak dikunci pintunya," seru Fani.
Sang mama masuk kedalam dan langsung duduk di tempat tidur putrinya. Fani masih membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya sang mama.
"Mama tahu masalah Hanniel? Apa Evan yang memberitahu?" tanya Fani.
"Iya, sebelum kalian pergi ke acara pertunangan, Evan memberitahu mama bahwa itu adalah acara pertunangan Hanniel. Lalu, apa dia mengatakan sesuatu?" tanya sang mama penasaran saat melihat ekspresi sang putri yang berubah sedih.
"Kemarin aku hanya menyapanya dan kami berpura-pura tak saling mengenal. Tapi sore ini, Evan mengajakku ke sebuah restaurant, disana aku bertemu Hanniel!"
"Apa dia masih menghindar?"
Fani menggeleng. "Dia mau bertemu denganku dan kami mengobrol sebentar. Hanya berdua, karena semua itu rencana Evan. Tapi.." Fani tak melanjutkan ucapannya.
Air mata menyeruak keluar dari kedua matanya. "Dia bilang, lebih baik untuk tidak membicarakan hal yang sudah berlalu.." ucap Fani seraya terisak.
Kedua tangannya menutupi sepasang mata yang sudah terlanjur basah. "Ma, kenapa menyukai seseorang bisa sesakit ini? Padahal, aku hanya ingin menyukainya dengan cara yang sederhana."
"Sini, bangun dulu.." pinta sang mama dan Fani mengikutinya. Kini gadis itu duduk tepat dihadapan sang mama.
Sebuah pelukan hangat dari sang mama merengkuh tubuh Fani. "Sayang, seperti itulah rasanya jika kamu benar-benar mencintai seseorang. Tapi jika kamu memilih untuk melepasnya, maka rasa sakit itu akan menghilang secara perlahan!"
"Ma, apa aku akan menjadi orang jahat jika aku dengan egois mengatakan bahwa akulah yang pertama menyukainya? Akulah yang pertama mengenalnya dan aku juga yang pertama dekat dengannya!" seru Fani sembari terisak.
"Aku masih belum rela tapi aku terpaksa harus merelakannya. Aku masih menyukainya tapi aku terpaksa harus berpura-pura tak mengenalnya. Kenapa aku harus begitu? Kenapa aku tidak bisa memiliki apa yang ingin aku miliki? Kenapa semua terasa begitu sulit?"
Fani tak berbicara apa-apa lagi setelah mengeluarkan seluruh keluh kesahnya, hanya isak tangisnya yang masih menggema dalam dekapan sang mama. Mama adalah tempat terbaik baginya. Satu-satunya orang yang mengerti dirinya.
"Karena dia sudah memiliki seseorang dalam hidupnya sekarang, lepaskanlah nak. Dia sudah menjatuhkan pilihannya, dan itu bukan kamu. Terimalah. Menurut mama, Tuhan pasti sudah merencanakan semua hal terbaik untuk mu. Jika kamu terluka sekarang, mama mengerti. Jika kamu sedih sekarang, mama tahu. Tapi kamu harus ingat, dia bukanlah satu-satunya. Kamu hanya perlu membuka kedua mata dan perasaanmu, maka kamu akan mengenali ada orang lain yang diam-diam selalu berusaha membuatmu tersenyum!" ucap sang mama.
Fani diam, dia sepertinya tahu siapa yang dimaksud sang mama. Tapi, mungkinkah hatinya bisa merelakan Hanniel begitu saja? Bisakah dirinya menerima perasaan orang lain sedang dirinya pun masih bimbang?