I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Sedikit berbeda



Vivian menghentak-hentakkan kaki kanannya ke lantai untuk mengusir rasa bosannya. Sudah satu jam berlalu sejak dirinya datang ke kantor Hanniel namun laki-laki itu tak ada disana. Bahkan seluruh ruangan disana tampak gelap.


"Vivian, kenapa kamu ada disini?" tanya Hanniel terkejut melihat kehadirannya.


Vivian yang tengah berdiri menyender di meja kerja Hanniel langsung menghampiri laki-laki itu.


"Apa Kania baik-baik saja? Suruh dia mengompres pipinya dengan es batu agar tidak bengkak!" ucap Vivian tanpa menghiraukan pertanyaan Hanniel.


"Jangan khawatir. Sudah ada orang yang mengurusnya. Dia pasti melakukan hal yang sama seperti yang kamu bilang barusan," terang Hanniel.


"Oh, syukurlah kalau begitu!" ucap Vivian tanpa bertanya siapa orang yang dimaksud Hanniel.


"Kamu tahu darimana tentang masalah Kania? Apa mama ku yang mengatakannya?" tanya Hanniel.


"Bukan. Apa kamu lupa kalau pacar kamu ini seorang psikolog yang menyamar sebagai sebagai seorang penulis? Tentu aku tahu dari reaksi mama kamu saat mengatakan bahwa kamu sedang 'sibuk bekerja'. Aku bisa membaca ada yang gak beres dari ekspresi wajah mama kamu. Jadi aku bertanya ke bi Ijah," terang Vivian.


"Aku gak bermaksud ikut campur. Tapi sebenarnya apa yang terjadi sampai mama kamu menampar Kania?" tanya Vivian yang kini duduk di sofa di ruang kerja Hanniel, sementara laki-laki itu duduk disebelahnya.


"Adik ku berkata sedikit keras. Sebenarnya itu hanya masalah sepele, tapi mama ku marah," cerita Hanniel.


Vivian termenung sejenak. Dia ingat semua detail yang diceritakan bi Ijah padanya.


'Non Kania dan tuan Hanniel sepertinya sudah bertengkar sebelum datang, karena sewaktu mereka sampai ke rumah sama sekali gak saling bicara. Sewaktu non Kania masuk ke kamar tuan Hanniel, bibi mendengar non Kania menyebutkan nama seorang perempuan, tapi bibi tidak mendengarnya dengan jelas. Sepertinya perempuan itu adalah mantan tuan Hanniel!' ucap bi Ijah.


Vivian menelan semua informasi yang didapatnya tanpa ingin bertanya lebih jauh pada sang pacar. Dia hanya berharap bahwa entah seberapa banyak mantan yang di miliki Hanniel di masa lalu, namun kini dimasa sekarang dan selanjutnya dirinya hanya akan menjadi satu-satunya untuk laki-laki itu.


"Kalau kamu sedang ada masalah atau kesulitan, kamu bisa memberitahuku! Karena ke depannya kita akan berbagi suka duka bersama!" seru Vivian seraya memeluk lengan Hanniel.


"Bagaimana dengan novel yang sedang kamu buat? Apa sudah ada kelanjutannya?" tanya Hanniel mengalihkan pembicaraan sekaligus menarik tangan kiri yang sedang dipeluk Vivian.


Vivian tampak kecewa dan mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu sering sekali bertanya tentang novel ini? Padahal novel yang ku buat sebelumnya, kamu terlihat tak tertarik sama sekali!"


"Aku hanya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Apa gak boleh?" Hanniel menatap Vivian.


Entah mengapa malam itu Vivian merasa Hanniel semakin berbeda. Gadis itu tahu bahwa Hanniel memang laki-laki yang dingin namun belakangan sikapnya seolah sedang menjaga jarak darinya.


"Tentu boleh. Aku hanya merasa sedikit aneh saja."


"Kapan kamu akan bertemu dengan narasumbermu itu?" tanya Hanniel.


Lagi, Vivian mengerutkan keningnya. "Entahlah. Aku belum sempat menghubunginya tapi sepertinya akan tertunda sebentar sampai pertunangan kita selesai."


"Oh." Hanniel tertunduk sembari menghela nafas dalam.


Tak ada pembicaraan apa-apa diantara keduanya. Hanniel sibuk melamun sedangkan Vivian sibuk memandanginya.


Gadis itu mencoba menerka sebenarnya apa yang sedang di pikirkan laki-laki yang duduk disebelahnya itu. Bahkan perihal pertemuan keluarga sore tadi, Hanniel sama sekali tak bertanya, seolah tak tertarik atau memang tak ingin membahasnya.


"Ini sudah jam setengah dua belas malam, lebih baik kamu pulang!" seru Hanniel tiba-tiba.


"Hmm.. Kalau gitu aku pulang!" jawab Vivian seraya menatap Hanniel yang langsung bangkit dan berjalan ke meja kerjanya.


**


"Evan? Kenapa pagi-pagi sekali sudah disini?" tanya mama Fani bingung melihat kedatangan Evan yang mendadak.


"Tante, apa Fani baik-baik saja? Apa dia sakit lagi?" tanya Evan cemas.


Mama Fani mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan itu. "Dia baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Saya menerima pesan, dia bilang hari ini ijin gak masuk kerja. Saya pikir terjadi sesuatu dengannya!" jelas Evan.


Mama Fani tertawa kecil. "Jangan khawatir, dia benar-benar dalam kondisi yang baik. Sepertinya dia ijin gak masuk kerja karena ingin menemani adik Hanniel pergi jalan-jalan ke puncak karena kebetulan semalam menginap disini."


"Adik laki-laki yang dia sukai? Kenapa menginap disini? Bukannya mereka sudah tidak saling berkomunikasi?" tanya Evan lagi.


"Kania sedang ada masalah dengan keluarganya. Waktu Fani sakit juga Kania menginap disini, dan itu tiba-tiba. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, tante hanya berharap agar Fani baik-baik saja," ucap mama Fani.


"Kenapa masih pagi ribut sekali?" tanya Fani yang baru keluar dari kamar dengan mata yang masih menyipit menatap Evan.


"Kata mama kamu hari ini mau pergi jalan-jalan ke puncak?" tanya Evan sambil mendekat ke Fani.


Fani menaruh telunjuk di bibirnya, mengingatkan agar Evan berbicara dengan pelan karena Kania masih tidur lelap. "Kita pergi bersama saja!" usul Evan menurunkan nada bicaranya.


"Apa kamu sudah gak marah?" tanya Fani melihat balutan perban di tangan Evan.


Evan mengangguk. "Maafkan aku, kemarin aku hanya sedikit kesal."


"Apa terjadi sesuatu? Atau kamu sedang ada masalah?" tanya Fani bertubi-tubi.


"Hmm.. hanya masalah kecil.. Tapi sudah selesai. Bagaimana jadi aku bisa ikut dengan mu?" tanya Evan lagi.


"Pekerjaan mu bagaimana?" Untuk pertama kalinya Fani merasa sungkan.


"Pekerjaan ku bisa aku urus belakangan. Hmm... Menurutku kalau kamu mau lebih baik kita menginap disana malam ini. Anggap saja kita sedang liburan!" usul Evan lagi.


"Hanya bertiga? Apa gak terlalu sepi?"


"Mama mu bisa ikut juga!" seru Evan.


"Aku sudah tanya tadi malam, mama lebih memilih menonton sinetron kesukaannya!"


"Kalau begitu aku akan meminta Hansen dan Riri untuk ikut juga. Apa kamu senang?" tanya Evan.


Fani langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senang. Seolah itu memang adalah keinginannya.


"Tunggu. Bagaimana kalau mereka berdua gak mau ikut? Karena mereka pasti memikirkan pekerjaan mereka yang menumpuk!"


"Jangan khawatir. Apa kamu lupa kalau aku ini bosnya? Saat aku minta mereka untuk datang tentu mereka harus datang!" sahut Evan.


Saking akrabnya, terkadang Fani melupakan bahwa Evan bukan hanya sekedar seorang teman terbaik yang dimilikinya, namun laki-laki itu merangkap sebagai atasan tempatnya bekerja.


Mau tak mau Fani tertawa. Gadis itu mulai penasaran melihat wajah Hansen dan Riri nanti. Mungkinkah wajah keduanya penuh dengan keterpaksaan? Atau dengan senang hati mereka datang meramaikan suasana?