I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Hal yang masih tersembunyi



Sampai ditempat tujuan, Fani dan yang lainnya langsung bergegas keluar dari mobil. Hawa sejuk langsung menyergap mereka.


Sebuah Vila yang nampak sederhana namun terawat berdiri kokoh di hadapan kelima orang itu. Seorang pria berambut putih dengan kumis tebal dan seorang wanita paruh baya mengikutinya menghampiri Evan.


"Tuan!" sapa bapak berkumis itu ramah sembari tersenyum ke arah orang-orang yang berdiri disamping Evan.


"Bapak dan ibu sehat?" tanya Evan ramah, sikapnya langsung berubah kalem tak seperti saat berada di kantor.


"Sehat, tuan!" jawab bapak itu dengan tertawa kecil.


"Semuanya, kenalkan beliau adalah bapak Sudirman biasa dipanggil pak Dirman dan istrinya, ibu Diah! Beliau-beliau ini yang selama ini merawat tempat ini!" terang Evan sopan.


Kalimatnya itu langsung ditanggapi dengan uluran tangan pak Dirman dan sang istri yang menyalami mereka satu persatu.


"Tuan, kenapa mengabari begitu tiba-tiba?" tanya pak Dirman.


"Maaf pak, benar-benar mendadak. Baru rencana pagi ini! Sebelumnya tidak terpikir untuk datang kesini!" jawan Evan sambil tertawa kecil karena merasa sedikit bersalah mengharuskan mereka menyiapkan kebutuhan secara mendadak.


"Tapi yang saya minta sudah bapak siapkan?" tanya Evan was-was.


"Tentu! Semua sudah siap!" seru bapak Dirman.


"Oh sip kalau gitu mah!" sahut Evan.


Setelah mengobrol selama beberapa saat, kelima orang itu tampak sibuk menurunkan barang-barang dari dalam mobil. Hanya tertinggal Kannia yang berada di dekat Evan.


"Kamu tunggu sebentar! Kita perlu bicara!" seru Evan, membuat Kania menatapnya.


Namun tatapan gadis itu terasa sangat sinis, seolah mereka adalah seorang musuh. Padahal hari itu adalah kali pertama mereka saling mengenal.


"Apa kamu mengatakan tentang acara pertunangan kakak mu ke Fani?" tanya Evan tanpa berbelit.


"Kamu pikir aku bodoh?! Mana mungkin aku mengatakannya!" sahut Kania ketus.


"Kamu? Hei aku ini lebih tua dari mu. Harusnya kamu memanggilku kakak!" tegur Evan. Laki-laki itu tak menyangka bahwa adik Hanniel memiliki sikap yang buruk, tak seperti sang kakak.


"Ingin aku memanggilmu kakak?? Jangan harap! Weeee.." Kania menjulurkan lidahnya meledek Evan yang terlihat kesal sambil berlalu pergi.


Didalam vila, Fani, Riri dan Hansen tampak takjub melihat barang-barang didalam sana yang tampak rapih, bersih serta terawat. Vila itu terlihat sederhana namun nyaman.


Samping kanan vila itu terbuat dari dinding kaca dengan tirai putih menerawang di balut dengan tirai hitam tebal. Cahaya matahari bisa dengan bebas melangkah masuk kedalam.


"Wuah cantik banget!" puji Kania takjub saat baru masuk ke dalam vila.


"Terlihat sederhana tapi tetap memiliki kesan yang luar biasa. Pak bos kita hebat!" puji Riri.


"Kenapa tiba-tiba memujiku? Apa kirimannya kurang?" tanya Evan dengan nada bercanda.


"Cukup bos, tapi kalau mau ditambah ya gak apa-apa!" sahut Hansen.


Evan tertawa. "Hei, kalian suka gak sama tempatnya?"


"Sukaaaaa!" jawab ke empat orang itu serempak.


"Kalau gitu kalian pilih kamar sesuka kalian, atau kalau ada yang mau tidur diluar boleh buat tenda. Tendanya ada di gudang, tanya pak Dirman aja!" terang Evan.


Lagi, Evan tertawa menatap Fani.


"Han, bawa belanjaan yang kalian beli tadi ke dapur belakang. Biar bu Diah yang mengurusnya dan kalian bisa bersantai!" perintah Evan pada Hansen.


"Apa akan lama?" tanya Fani lagi.


"Kamu lapar sekali apa?" tanya Evan tak bisa berhenti tertawa.


"Aku pagi sarapan cuma sedikit!" sahut Fani.


Evan melirik jam tangannya. "Kalau gitu tunggu tiga puluh menit ya!" seru Evan seraya berlalu pergi ke arah belakang mengikuti Hansen yang sudah terlebih dahulu pergi.


Dua puluh menit berlalu begitu cepat saat ke empat orang itu mengobrol dan tertawa namun Evan tak ada bersama mereka. Berulangkali Fani melirik ke arah belakang, sosok Evan tak juga kembali.


"Han, dapurnya disebelah mana sih?" tanya Fani pada Hansen.


"Itu dibelakang. Kamu lurus saja!" jawab Hansen.


"Kalau gitu kalian lanjut mengobrol aku mau melihat Evan dulu!" ucap Fani seraya beranjak pergi.


Kania yang mendengarnya langsung memasang wajah tak suka. Gadis itu mulai merasa bila Fani dan Evan terlalu dekat.


Fani terus berjalan mengikuti ucapan Hansen tadi. Sampai dimana gadis itu melihat sosok Evan tengah sibuk di dapur bersama bu Diah dikejauhan.


Gadis itu tak melanjutkan langkah kakinya dan memilih berdiri disana. Kedua matanya menatap Evan, laki-laki yang nyaris setiap hari ditemuinya.


"Kakak melihatnya sambil tersenyum begitu, apa kakak menyukainya?" tanya Kania yang sudah berdiri disamping Fani.


"Bukan begitu. Aku sudah lama mengenalnya hanya saja ini pertama kalinya melihat dia memasak seperti itu!" jawab Fani.


"Kalau begitu biar aku mengganti pertanyaanku. Bagaimana kalau orang yang berdiri disana adalah kakak ku? Apa jawaban kakak?" tanya Kania.


"Bukannya kamu sendiri tahu jawabannya?" Fani balik bertanya.


Dengan cepat Kania menggelengkan kepala. "Aku gak tahu jawaban kakak, makanya aku bertanya." Kania hanya ingin mendengar secara langsung dari Fani tentang perasaannya terhadap sang kakak.


"Kania, dengar baik-baik!" Fani memiringkan tubuhnya menatap Kania serius. "Aku masih menyukai kakakmu bahkan setelah empat belas tahun sejak perkenalan pertama kami. Aku masih tetap menyukainya. Apa kamu puas setelah mendengarnya?" lanjut Fani.


"Lalu.." Kania tampak ragu melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana jika seandainya kakak ku ternyata sudah memiliki seseorang dalam kehidupannya sekarang?" tanya Kania.


Fani terdiam menatap kedua mata Kania. Tak pernah terbayangkan pertanyaan itu akan benar-benar ditanyakan oleh orang lain padanya. Biasanya hanya dirinya sendiri yang ragu tentang hal itu.


"Jika aku terus memilih menggenggamnya padahal dia sudah memiliki seseorang maka aku adalah orang bodoh yang jahat. Jadi, seandainya itu benar terjadi, aku hanya akan memastikan satu hal!" ucap Fani tak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu menghembuskan nafasnya berat.


"Aku akan memastikan apa benar dia menyukai perempuan itu atau dia menjalani hubungan dengan penuh keterpaksaan! Jika dia benar menyukai perempuan itu maka aku akan merelakannya. Tapi jika tidak, maka aku akan terus menggenggamnya." lanjut Fani.


Kania terdiam sesaat setelah mendengar hal yang ingin didengarnya. Tangan kanan gadis itu meraih tangan Fani dan menggenggamnya. "Kak, jika suatu hari nanti kakak tahu bahwa aku menyembunyikan satu hal dari kakak. Dan jika pada akhirnya kakak tahu tentang hal yang ku sembunyikan. Apa kakak akan membenciku?" tanya Kania.


Fani tersenyum. "Mana mungkin aku bisa membencimu. Jika itu terjadi, maka kamu harus memberitahu ku alasannya. Aku akan mendengar dan mencoba mengerti!" jawab Fani mantap.


"Jika yang ku sembunyikan adalah tentang kakak ku. Apa kakak akan tetap bisa bersikap seperti itu?" tanya Kania lagi.


"Tentu! Aku akan bersikap sama entah hal apapun itu!" Fani menjawab tanpa tahu jika pertanyaan itu mungkin akan menjadi masalah yang akan dia hadapi di kemudian hari.