
Kania menggertakan giginya berulang kali menahan amarah saat laki-laki yang duduk dihadapannya terus berkata manis sembari berusaha memegang tangannya. Membuatnya ingin sekali meninju wajah laki-laki itu.
"Kita berdua kan dijodohkan oleh orang tua masing-masing dan nanti akan menikah, apa tidak lebih baik kita pergi kesuatu tempat yang lebih sepi?" ucap laki-laki itu.
"Hah?!" Kania menanggapinya dengan sinis.
Gadis itu tak menyadari bahwa di restaurant itu ada satu sosok yang tengah mengamatinya. Kania tersentak kaget saat sebuah tangan asing memegang pergelangan tangan laki-laki yang mencoba merangkul pundaknya, memelintirnya cukup keras sampai laki-laki yang sedang bersamanya mengerang kesakitan.
"Kamu????" seru Kania melihat Evan berdiri didekatnya. Rona wajahnya berubah bahagia.
"Bicara gunakan mulut, bukan dengan tangan. Bersikaplah sopan pada seorang gadis!!" tegur Evan ketus.
"Kamu siapa? Kenapa ikut campur?" tanya si laki-laki mesum itu dengan amarah.
"Aku? Aku teman kakaknya. Namaku Evan dan ini kartu namaku!" Evan menyelipkan selembar kartu nama pada saku jas laki-laki itu lalu menariknya berdiri dan menendang pantat laki-laki itu.
"Ka-kalian awas, aku akan melaporkannya pada mama mu!" ancam laki-laki itu seraya berlalu pergi.
"Hei, kamu kenapa bisa disini?" tanya Kania penasaran.
"Aku sedang bertemu klien dan tak sengaja melihatmu. Ngomong-ngomong laki-laki tadi siapa?" giliran Evan yang bertanya.
"Dia laki-laki yang dipilihkan mama ku!" jawab Kania kesal.
Evan hanya diam mendengarnya. Rasa-rasa sudah tak mengherankan lagi mengingat cerita Hanniel waktu itu.
"Hmm kamu kesini bawa mobil sendiri atau gimana?" tanya Evan mengalihkan pembicaraan.
"Gak! Aku gak bawa mobil!" jawab Kania cepat membuat Evan mengerutkan keningnya melihat tingkah Kania yang sedikit aneh.
"Baiklah kalau gitu aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam juga. Mobilku ku parkir di parkiran belakang!" Evan langsung bergegas berjalan bersama Kania yang mengekor di belakangnya.
Kini kedua orang itu sudah berada didalam mobil. Evan langsung melajukan mobilnya keluar dari area restaurant.
"Apa mama mu semacam punya hobi menjodohkan orang?" tanya Evan membuka obrolan agar tak terlalu sepi.
Kania langsung menengok kesebelah kanan menatap Evan dengan tatapan bingung.
"Kakakmu sudah menceritakan kisahnya dan Vivian!" seru Evan menjelaskan.
"Hmm.. Kan aku sudah pernah bilang kalau setelah kakak ku maka giliranku.." sahut Kania.
"Aku benar-benar tak menyangka di zaman modern seperti ini masih ada orang tua yang seperti itu. Sungguh unik!" ucap Evan.
"Unik? Kata aneh sepertinya lebih pas. Grhhhh... Aku benar-benar capek menjadi anak mereka! Mama ku itu gila kontrol. Aku dan kak Han nyaris harus selalu menuruti keinginannya. Kalau aku membangkang atau membuatnya kesal, dia akan menamparku!" ucap Kania penuh rasa kesal.
Evan menghembuskan nafasnya berat. Laki-laki itu mengerti keluh kesah Kania.
"Hei, mau sekesal apa pun kamu dengan mama mu, dia tetap akan menjadi orang tua terbaik untuk anak-anaknya. Dia mungkin hanya bertindak terlalu keras."
"Orang tua yang baik gak akan menjodohkan putrinya dengan laki-laki mesum seperti si Jonas tadi!" gerutu Kania.
"Oh namanya Jonas." seru Evan seraya tertawa kecil.
"Kenapa malah tertawa?!" protes Kania geram.
"Gak apa-apa. Hanya saja aku ingin memberi nasihat. Selelah apa hidupmu sekarang, akan lebih lelah saat orang tuamu sudah tidak ada. Percaya padaku. Aku sudah merasakannya!" ucap Evan.
"Orang tua kamu..." Kania tak melanjutkan ucapannya dan terus menatap Evan.
Ucapan Evan langsung menyadarkan Kania, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya kedepan.
"Oh iya, aku rasa aku perlu memberitahumu. Aku dan kakakmu sudah sepakat untuk bersaing." seru Evan.
Kania langsung menolehkan kepalanya menatap Evan kembali.
"Apa itu tentang kak Fani?" tanya Kania lesu. Raut wajah serta nada bicara gadis itu menyiratkan kekecewaan.
"Hmm.. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu terlihat sedih begitu? Bukannya sebelumnya kamu bersemangat sekali mendukung kakak mu itu?" tanya Evan.
Kania menundukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa. Gadis itu memilih diam sampai Evan memarkirkan mobil di depan rumahnya.
"Terima kasih!" ucap Kania yang langsung turun dari mobil Evan dengan wajah lesu.
Kania langsung berjalan melewati pintu gerbang yang dijaga seorang satpam tanpa berbalik melihat mobil Evan yang sudah berlalu pergi.
Gadis itu terus berjalan masuk ke kamar tanpa mempedulikan sang mama yang bertanya tentang pertemuannya tadi.
Sesampai dikamar, Kania menghempaskan seluruh tubuhnya di atas tempat tidur. Menangkup seluruh wajahnya diatas bantal.
Tak lama dua ketukan di pintu kamarnya terdengar. "Ini aku, apa boleh masuk?" tanya Hanniel.
"Hmmm masuk aja, gak di kunci kok!" sahut Kania yang langsung duduk menyandar pada dinding tempat tidur.
Hanniel menghampiri Kania dan duduk disamping tempat tidur. Untuk beberapa saat laki-laki itu mengamati wajah adik kesayangannya.
"Kamu sore tadi bukannya pergi membawa mobil? Kenapa tiba-tiba Evan yang mengantarmu pulang? Mobil kamu dimana? Apa terjadi sesuatu?" tanya Hanniel beruntun.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di restaurant dan aku meninggalkan mobilku disana. Kak, besok tolong suruh orang untuk mengambilnya! Please...." mohon Kania dengan wajah memelas.
"Baiklah. Sekarang coba ceritakan pada kakak, kenapa kamu muram sekali? Dan bagaimana dengan laki-laki yang namanya Jonas itu?" tanya Hanniel penuh dengan rasa penasaran.
"Dia benar-benar laki-laki mesum! Aku heran apa yang mama pikirkan sampai menjodohkan ku dengan orang seperti itu!" ucap Kania geram.
Firasat Hanniel terbukti benar, bahwa ada hal yang membuat adiknya kesal.
"Lalu, apa ada hal lain yang membuatmu muram seperti sekarang?"
Kania terdiam menundukkan kepalanya. Gadis itu tahu bahwa tak ada hal yang bisa dia sembunyikan dari sang kakak.
"Kak.. Apa kakak sudah berubah pikiran? Evan bilang, kalian berdua sepakat untuk bersaing. Apa benar?" tanya Kania dan Hanniel menjawab dengan anggukkan kepala.
Mendapati jawaban itu, Kania semakin lesu.
"Kenapa? Apa kamu menyukainya?" tanya Hanniel tanpa basa-basi membuat Kania terkejut dengan kehebatan sang kakak.
"Bagaimana kakak tahu?" tanya Kania seolah membenarkan.
"Apa kamu lupa kalau aku ini kakakmu? Aku tentu tahu. Hanya saja, kamu juga pasti tahu kalau dia menyukai Fani. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hanniel yang mengkhawatirkan perasaan adiknya.
"Kak.. Aku tahu itu sudah lama.. Tentu aku baik-baik saja, toh aku baru menyukainya sebesar ini!" sahut Kania seraya mengacungkan jari kelingking kanannya pada sang kakak.
"Maka dari itu kakak harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kak Fani.. Semangat!" lanjut Kania membuat Hanniel tertawa.
Laki-laki itu tak menyangka jika adik kecilnya sekarang ternyata sudah tumbuh besar. Sudah mengerti tentang cinta dan hal-hal disekitar itu.