I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
"Aku terlanjur menyukainya.."



Malam semakin larut, namun Fani masih belum berada di kamarnya. Gadis itu memilih berdiam di halaman belakang rumahnya, duduk dan menatap langit malam yang saat itu tampak begitu gelap tanpa kehadiran bintang.


Dengan tatapan kosong, gadis itu terus mendongakkan kepala ke atas. Perbincangannya dengan Hanniel terus berputar di dalam kepalanya.


"Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Vivian.." ucap Hanniel dengan raut wajah serius.


Kalimat itu jelas membuat Fani langsung menatap laki-laki yang saat itu berada disampingnya. Hatinya tiba-tiba berkecamuk. Bingung, senang dan juga perasaan serba salah terus berputar.


"Ka-kamu.. Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Apa kalian berdua bertengkar?" tanya Fani seraya berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang semakin cepat.


"Tidak.. Sejak kedatangan kami berdua di kantor mu, aku dan Vivian belum sempat berbicara sama sekali.." terang Hanniel.


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk.." Fani tak melanjutkan kalimatnya, sementara Hanniel menatap dirinya lekat-lekat.


"Berarti Vivian belum tahu tentang apa yang barusan kamu bilang?" tanya Fani lagi.


"Dia sudah tahu.. Pagi ini dia di undang sarapan dirumah ku.. Mama ku sengaja mengundangnya untuk membicarakan masalah pernikahan.. Dan aku langsung menolak gagasan itu.." cerita Hanniel.


"Memang atas dasar apa kamu tidak ingin menikah dengan Vivian? Bukankah kalian sudah berpacaran sejak lama dan bahkan sudah bertunangan?" tanya Fani.


Hanniel menghela nafas dalam.


"Karena aku mungkin tidak menyukainya.." jawab laki-laki itu.


Jawaban itu sontak membuat Fani terkejut untuk kedua kalinya.


"Pada dasarnya aku dan Vivian dijodohkan oleh mama ku.. Waktu itu aku masih berpikir 'Oh ya, aku akan mencoba menerimanya'. Tapi tetap, kenyataannya aku tak bisa melakukannya.." ucap Hanniel.


Pernyataan Hanniel saat itu sungguh diluar dugaan. Fani tak pernah menyangka, hubungan Hanniel dan Vivian selama ini ternyata sebuah perjodohan.


"Awal hubungan ku dan Vivian baik-baik saja.. Sampai saat acara pertunangan, aku bertemu denganmu.. Bahkan saat pertemuan kedua kita, aku terus berpikir 'aku tidak bisa terus menerus seperti ini'. Aku tahu jelas, ternyata aku masih menyukaimu.." terang Hanniel.


"Hann...." Fani tak sanggup berkata-kata mendengar semua ucapan Hanniel saat itu.


'Aku tahu jelas, ternyata aku masih menyukaimu'. Kalimat itu terus berdenging di telinga Fani.


"Sayang, kenapa masih belum tidur? Ini sudah larut malam.." tanya mama Fani yang datang menghampiri anak gadisnya itu.


"Ada yang sedang aku pikirkan.." jawab Fani dengan wajah yang muram.


"Pasti tentang Hanniel.. Mama dengar sedikit dari Kania.. Lalu, apa kamu akan menerimanya?" tanya sang mama.


"Ma.. Aku tidak bisa sembarang menerima perasaan seseorang.. Terlebih Hanniel.. Sekalipun aku ingin menerimanya, tapi aku gak bisa.." jelas Fani.


"Apa karena Vivian?" tanya sang mama.


Fani menganggukkan kepalanya. "Aku gak mau dia merasakan hal yang menyakitkan sama seperti yang aku rasakan dulu.. Jika aku menerima Hanniel maka aku akan menyakitinya.."


"Jika kamu bicara seperti itu, seolah kamu sudah benar-benar melupakan Hanniel. Apa kamu baik-baik saja dengan hal itu?" tanya sang mama yang terlihat seperti sedang menggoyahkan pendirian putrinya.


Kali ini, giliran Fani yang menghela nafas dalam.


"Mama tahu betul perasaan kamu ke Hanniel seperti apa. Mama tidak meminta kamu untuk menyakiti hati siapa pun. Hanya saja, untuk sesekali coba pikirkan tentang perasaanmu sendiri. Berjuang untuk hatimu.. Toh, pada dasarnya kamu dan Hanniel sama-sama saling menyukai.." seru mama Fani memberi putrinya nasihat.


"Sebenarnya, bukan hanya karena Vivian. Tapi, aku gak berani suka dengan Hanniel lagi, ma.." ucap Fani seraya menundukkan kepalanya.


Dengan lembut sang mama menggenggam tangan putrinya. "Kenapa sayang?"


"Ya, mama hanya berharap kamu dapat memilih hal yang baik sesuai dengan keinginanmu.. Karena kamu juga berhak untuk bahagia.." seru sang mama.


**


Matahari sudah berada di atas kepala saat jam makan siang tiba. Saat Fani hendak keluar dari ruangannya bersama Hansen dan Riri, nampak seorang gadis berdiri di depan pintu kaca menatapnya.


"Vi-vian?" seru Fani yang tak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya mengingat pembicaraannya dengan Hanniel beberapa hari yang lalu.


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Vivian masih ramah seperti biasanya.


"Enggak.. Kebetulan sedang jam makan siang juga.." jawab Fani seraya tersenyum kecil menyembunyikan kecanggungannya.


"Apa bisa kita berdua berbicara sebentar?" tanya Vivian lagi.


Entah bagaimana, hari itu meski Vivian tampak biasa-biasa saja, tapi tetap wajahnya terlihat sedikit murung.


"Baiklah.. Kita bicara di balkon atas saja.. Oh iya Hansen, Riri.. Kalian duluan saja ya.." ucap Fani seraya meninggalkan keduanya dan berlalu pergi bersama dengan Vivian.


**


Sesampai di balkon atas, keduanya masih berdiri berhadapan tanpa sedikit pun berbicara. Suasana itu membuat Fani merasa bingung.


"Apakah kamu masih menyukainya?" tanya Vivian tiba-tiba membuka percakapan seraya menatap Fani.


"Hah?" seru Fani nampak tersentak. Dirinya sungguh tak menyangka Vivian akan bertanya langsung padanya.


"Apakah kamu masih menyukainya? Laki-laki yang berada dalam kisah mu itu?" tanya Vivian dengan mengulang kalimatnya tadi.


"A-akuuu.." Fani tak melanjutkan kalimatnya. Sungguh bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Jika dirinya berkata jujur mungkin akan menyakiti Vivian.


Vivian tiba-tiba tertawa kecil. Entah hal apa yang membuatnya tertawa seperti itu. Namun tak lama, sebuah bulir air mata jatuh di pipinya.


Fani menahan nafas dalam-dalam dan mencoba memposisikan dirinya lebih dekat dengan Vivian. Dengan pelan-pelan, Fani meraih tangan Vivian dan menggenggamnya lembut.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Fani.


Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja. Padahal jelas-jelas dirinya tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi sang penulis cantik itu.


Jika di ibaratkan, cinta seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuatmu bahagia, sedangkan di sisi lainnya bisa membuatmu terluka.


"Bisakah kamu memberikan dia padaku? Aku menyukainya.. Aku sungguh-sungguh menyukainya!" ucap Vivian seraya terisak.


Pertanyaan yang sempat diucapkan oleh Vivian benar-benar tertuju padanya. Mungkinkah Vivian telah tahu kenyataan dibalik kisah yang sedang dia buat.


Fani terdiam mematung.


"Aku sudah terlanjur menyukainya. Tidak bisakah kamu merelakannya untukku? Waktu yang ku habiskan dengannya memang tak selama waktu yang kalian habiskan di masa lalu. Kenangan ku dengannya juga mungkin tak semanis kenangan kalian dulu. Tapi, aku benar-benar sudah menaruh seluruh rasa ku hanya untuknya.." ucap Vivian seraya terisak.


"Jika seandainya kalian kembali bersama.. Lalu, bagaimana denganku?" lanjut Vivian.


"Vi.. aku.." Fani benar-benar tak bisa berkata-kata.


Dirinya pernah membayangakan jika hal seperti ini akan segera tiba, namun tak pernah terbayang jika akan sesulit itu.