I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Pembelaan Evan



Setiba di depan rumah, Kania langsung turun dari mobil Evan. Selama perjalanan gadis itu terus terdiam, terlebih saat membaca pesan dari sang kakak, Hanniel.


'Apa kamu menginap di rumah Evan? Cepat pulang. Laki-laki kurang ajar itu sedang berada di rumah. Jangan menghindar. Kakak akan menjadi tamengmu, jadi lebih baik kamu akhiri hari ini juga.'


Nafas dan langkah kaki Kania terasa berat saat membuka pintu rumahnya sendiri. Dadanya mulai terasa sesak menghirup udara didalam rumah yang baginya 'berbau busuk'.


Belum lagi suara laki-laki yang beberapa waktu lalu mencoba melecehkan dirinya.


"Habis dari mana saja kamu sampai semalaman gak pulang???!!!" bentak sang mama saat melihat kedatangan Kania.


Kania dengan raut wajah kesal menatap sosok laki-laki bernama Jonas yang duduk tepat di samping mamanya.


"Apa ini rumahku? Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya? Aku pikir ini rumah orang lain.." nada bicara Kania meninggi.


"Lihat tante, sikap Kania seperti itu. Sangat tidak cocok dengan saya.. Bahkan beberapa waktu ada laki-laki yang gak jelas memukuli saya.." Jonas tampak mengadu.


"Kamu memang pantas di pukuli!" seru Hanniel dengan dingin.


"Kenapa sampai harus main tangan seperti itu? Memang apa alasannya?" tanya sang papa.


"Dia mau melecehkanku!" ucap Kania seraya melotot dan menunjuk ke arah Jonas.


Raut wajah sang papa berubah dingin menatap Jonas, membuat laki-laki itu sedikit menciut.


"Memang kenapa jika hal seperti itu terjadi? Toh kamu dan Jonas juga akan menikah!" seru sang mama.


Sungguh Kania tak menyangka jika mamanya akan membela laki-laki itu.


"Hei, sayang. Dia melecehkan putri kita, kenapa kamu masih membelanya? Dia jelas bukan pria baik-baik.." seru sang papa yang mulai angkat bicara.


"Jonas adalah pilihan yang tepat untuk Kania. Mama tahu itu.. Jadi papa diam saja.." sahut sang istri ketus seolah tak terima sang suami ikut campur.


Sementara di luar gerbang rumah Kania, Evan tampak memundurkan kembali mobilnya. Laki-laki itu turun dari mobil dan disapa oleh seorang satpam yang sebelumnya pernah bertemu dengannya.


"Saya ingin bertemu Kania, apa bisa pak?" tanya Evan sopan.


Dengan ramah, satpam itu langsung memperbolehkan Evan masuk ke dalam rumah sang majikan.


Begitu membuka pintu utama, suasana ketegangan mulai terasa, terlebih suara Kania yang cukup keras. Evan melihat kelima orang yang berada diruang keluarga seperti tengah berdebat. Laki-laki itu memilih berdiri menyender pada tembok sembari mengamati situasi, tanpa bersuara.


"Ma, aku sama sekali tidak menyukainya. Aku sudah mempunyai orang yang aku sukai!" ucap Kania tegas dengan sedikit berteriak.


"Orang yang kamu sukai?? Paling-paling seperti kakakmu. Sembarang memilih orang yang disukai.. Yang hanya mendekati karena kekayaan keluarga kita.." sindir sang mama.


"Ma, kenapa mama terus berkata buruk tentang Fani? Sejak kapan juga Fani seperti itu. Mama jangan asal bicara. Aku lebih mengenalnya daripada mama!" sahut Hanniel kesal.


"Memang sekarang belum terlihat, tapi mama yakin cepat atau lambat gadis itu akan menunjukkan taringnya. Pokoknya mama gak setuju dengan orang yang kalian berdua sukai. Kalian berdua harus menikah dengan keluarga yang satu level dengan kita! Contohnya Vivian dan Jonas. Latar belakang keluarga mereka baik!" timpal sang mama tak mau kalah dan masih terus keras kepala.


"Ma, yang akan menjalani kehidupan pernikahan bukan mama atau pun papa. Tapi aku dan kak Hanniel. Pernikahan tidak bisa begitu saja dipaksakan. Jika mama terus bersikeras ingin aku menikah dengan si brengsek ini, aku lebih memilih mati!" seru Kania seraya membalikkan tubuhnya.


Namun, satu sosok yang tengah menyender di dinding membuat Kania berdiri mematung. Barulah tersadar jika sedari tadi Evan berada disana.


Evan berjalan pelan menghampiri Kania. Menatap lembut gadis itu yang tampak mulai berkaca-kaca.


"Ponselmu ketinggalan di mobilku.." seru Evan seraya menyerahkan ponsel pada sang pemilik.


"Siapa kamu??" tanya mama Kania ketus.


Belum Evan sempat menjawab, Jonas sudah menimpali.


"Tante, laki-laki itu yang memukuliku sampai babak belur.." sahut Jonas.


"Hai, halo. Kita bertemu lagi.." seru Evan seraya melambaikan tangan pada Jonas.


Hanniel menatap Evan dengan penuh harapan agar laki-laki itu mau membantu adiknya.


Evan yang mengerti dengan isyarat Hanniel tiba-tiba memegang pergelangan tangan Kania dan turun merengkuh jari jemari gadis itu.


Dengan perlahan, Evan berjalan mendekati ke empat orang yang tengah menatapnya. Sedang Kania berjalan disamping Evan dengan membisu.


"Ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Evan. Saya teman Hanniel sekaligus pacar Kania!" ucap Evan tanpa ragu-ragu.


Begitu kalimat itu selesai di ucapkan, Kania mendongakkan kepala menatap Evan dengan tatapan tidak percaya.


"Tante jangan salah paham. Waktu itu saya memukuli laki-laki yang duduk manis di samping tante bukan tanpa sebab. Saya memukulinya karena kesal dia sudah bersikap kurang sopan pada pacar saya.. Jadi saya harap tante dan om mau memaklumi.." ucap Evan lagi.


"Siapa kamu berani-beraninya menganggap diri sendiri sebagai pacar anak saya?!" hardik mama Kania.


"Hmm.. Saya memang bukan siapa-siapa. Keluarga saya juga tidak sekaya keluarga tante dan om. Hanya saja, sebuah panggilan telepon dari saya akan membuat tante berpikir seribu kali untuk menerima laki-laki disamping tante untuk menjadi menantu.." seru Evan tenang seraya merogoh ponsel di saku celananya.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Jonas yang terlihat cemas.


"Bukannya saat terakhir kita berdua bertemu, aku sudah memberimu peringatan? Jadi jangan salahkan aku, karena aku sudah memperingatkan mu jauh-jauh hari!" jawab Evan dingin dan wajah yang ketus.


"Halo.. Ini aku, paman.. Tolong yang sempat ku kirim tadi segera di proses. Kalau bisa dalam waktu lima menit.. Aku tunggu konfirmasinya.. Terima kasih paman.." ucap Evan yang entah berbicara dengan siapa lewat sambungan telepon.


Tak lama ponsel Evan berdering pendek. Tanda sebuah pesan masuk.


Evan mengacungkan layar ponselnya pada ketiga orang disana.


"Lihat! Aku tidak main-main dengan ucapanku! Saat aku mengatakan akan menghancurkanmu, aku akan benar-benar melakukannya sampai ke akarnya.." ucap Evan sembari menatap Jonas dingin.


"Yang kamu tunjukkan itu apa?" tanya mama Kania tak mengerti.


"Oh, ini surat penyitaan properti dan penyelidikkan atas kasus korupsi. Sebentar lagi calon menantu yang tante banggakan hanya akan menjadi seonggok sampah di jalanan.." jawab Evan dengan senyum penuh kemenangan.


"Dan satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Saya harap kedepannya jika ada suatu masalah, tante tidak perlu main tangan. Saya sebagai pacarnya tidak akan tinggal diam.." lanjut EvN dengan nada penuh intimidasi.